CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
SUASANA MENCEKAM


__ADS_3

Selama empat bulan lamanya perjalanan ke Gunung Adwaya sudah dijalani. Letak gunung itu begitu jauh, dan medan yang harus dilalui tidaklah mudah. Ditambah membawa seorang bayi, semakin memperlambat perjalanan mereka Lintang Samudera dan Candani Paramita


Suatu hari di suatu malam yang sangat sepi di saat bulan sabit sedang muncul, terdengar jeritan dari seorang perempuan. Dia menjerit-jerit minta tolong.


"Tolong, tolong, siapapun tolong aku. Selamatkan aku. Toloooooong," jeritan itu kembali terdengar.


Lintang Samudera dan Candani Paramita langsung berlari.


Lintang Samudera memukul orang yang menyeret wanita itu. Perkelahian pun langsung terjadi tanpa bisa dihentikan. Candani mengamati perkelahian itu dengan jarak aman, dia hanya menunggu di tepi bersama seorang wanita yang masih menangis ketakutan.


Lintang Samudera dikeroyok sekitar sepuluh orang. Perkelahian terjadi dengan sangat seru. Para penculik itu meskipun tingkat ilmunya tidak tinggi tapi gerak perkelahian mereka begitu tertata dan teratur. Suara senjata tajam saling berdenting memecah malam.


Sebuah tombak menjulur ke bagian dada Lintang Samudera. Lintang Samudera pun membungkukkan badannya. Tiba-tiba dari arah samping kiri sebuah pedang dan golok memburu bagian pinggangnya. Tak ayal lagi Lintang Samudera menarik diri ke sebelah kiri, dari bagian kiri senjata lain kembali menghadangnya. Beberapa kali dia berguling saat semua senjata lawannya menyerang bagian atas tubuhnya secara bersamaan. Saat posisi Lintang Samudera di bawah, para penculik itu mengarahkan semua senjata mereka ke bawah. Saat senjata musuh saling terbelit Lintang Samudera pun memanfaatkan kesempatan itu untuk berdiri dan melompat menjauh.


Jika sebelumnya tenaga yang digunakan hanya sebagian kecil, maka untuk berikutnya Lintang Samudera tidak ingin dikejar terus-menerus oleh senjata musuh yang sangat menggangu itu. Dia melompat tinggi, dipukulnya satu persatu lawannya dengan kepalan tangannya, ditendangnya tubuh mereka tanpa ampun. Direbutnya satu persatu senjata lawan-lawannya tersebut. Lalu dilemparkannya senjata itu jauh-jauh.


Kini mereka sama-sama tangan kosong. Lintang Samudera berkelahi dengan dahsyatnya. Kaki menendang dengan dahsyat, tangan memukul dengan kekuatan terpusat. Satu persatu lawannya tumbang menyisakan luka-luka di tubuh tiap lawannya


Tiba-tiba terdengar suara menderu yang sangat keras, dari arah yang tidak disadari datanglah gumpalan bola api dari dua sudut menuju dirinya. Gumpalan api panas itu terus mengejarnya. Jika disentuh maka tangan dan tubuhnya akan terbakar, jika tidak disentuh api itu terus mengejarnya. Perputaran api belum selesai, sekarang datang pusaran angin disertai paku-paku panas mengejarnya. Paku-paku itu mengarah untuk memasuki tubuhnya. Bola-bola api dan paku-paku panas itu dikendalikan dari jarak jauh oleh tuannya.


"Candani lemparkan tongkatku," perintah Lintang Samudera.

__ADS_1


Candani Paramita pun melemparkan tongkat yang sedang dipegangnya.


Lintang Samudera meraih tongkat itu. Dihempaskannya pusaran angin yang berisikan paku-paku panas, diterjangnya dua bola api yang terus-menerus menyerangnya. Paku-paku panas dan bola api itu berbalik arah kembali ke tuan yang telah mengirimnya. Dan sudah dipastikan siapapun yang sudah mengirim bola api dan paku-paku panas itu pasti mati, atau jika dia bisa bertahan maka akan mengalami luka yang cukup berat dikarenakan teluh yang dikirimnya berbalik menyerang dirinya.


"Bagaimana keadaanmu Kakang?" tanya Candani Paramita.


"Aku tidak apa-apa, semuanya sudah selesai," Lintang Samudera menjawab dengan nafas yang masih memburu. Rasa geram masih ada di wajahnya.


Para penculik itu sudah menghilang. Saat bola api dan pusaran paku-paku panas datang, mereka langsung melarikan diri. Sepertinya tuan mereka berusaha menyelamatkan nyawa mereka yang sudah di ujung tanduk.


Wanita yang diculik itu sudah terlihat tenang, tapi belum bisa diajak bicara. Saat Candani mengatakan akan mengantarkannya pulang, dia pun hanya menjawab dengan anggukan saja.


Mereka memasuki sebuah perkampungan. Pintu-pintu setiap rumah tertutup rapat. Suasana mencekam menguasai perkampungan itu. Satu pun tidak ada lampu yang menyala. Gelap gulita. Bahkan lampu yang di dalam rumah mati semua. Seolah-olah sudah tidak ada kehidupan di perkampungan itu. Setelah masuk lebih dalam, wanita itu langsung berlari ke sebuah pintu. Digedor-gedornya pintu itu sambil menangis


Pintu langsung terbuka. Tampak seorang lelaki membuka pintu, begitu melihat wanita yang ternyata istrinya, mereka pun saling menangis berpelukan. Dua anak mereka ikut menangis keras di pojok rumah.


"Nyai kau kembali. Syukurlah. Bagaimana aku harus menjalani hidup jika kau pergi meninggalkanku dan anak-anak." Suami wanita itu menangis penuh dengan rasa takut dan haru.


Wanita itu menarik suaminya mendekat ke arah Lintang Samudera dan Candani Paramita.


"Merekalah yang sudah menolongku."

__ADS_1


"Terima kasih tuan, terima kasih bantuannya. Terima kasih karena sudah menyelamatkan istriku," ucap suami wanita itu.


Suami istri itu mempersilahkan Lintang Samudera dan Candani Paramita untuk masuk ke rumah mereka. Para penduduk mulai berdatangan. Dan lampu-lampu jarak mulai dinyalakan. Kepala pedukuhan dari pedukuhan itu bahkan ikut serta. Masih tampak rasa ketakutan di wajah para penduduk.


"Bapak sebenarnya ada kejadian apa di sini?" tanya Lintang Samudera penuh dengan rasa penasaran.


"Tuan di pedukuhan ini telah terjadi penculikan. Yang diculik tidak pandang umur, dari anak kecil hingga anak dewasa, tua, muda, bahkan bayi yang baru lahir juga diculik. Bahkan yang sudah mati di hari-hari tertentu mayatnya pun diambil. Kadang di malam-malam tertentu saat mereka sedang beraksi untuk melakukan penculikan, bola-bola api beterbangan mengelilingi perkampungan. Pernah salah seorang penduduk yang anaknya diculik berusaha menghalau bola-bola api itu, tapi malah penduduk itu yang terbakar dan mati seketika. Dan malam ini bola-bola api itu mengelilingi desa kami. Saat bola-bola api itu datang maka salah seorang penduduk pedukuhan ini menghilang. Pernah sekali salah seorang dari penculik itu berhasil kami tangkap, tiba-tiba ada beberapa paku panas yang memasuki tubuh salah seorang penduduk yang berhasil menangkap salah seorang penculik itu," jelas kepala pedukuhan panjang lebar.


"Dimana orang yang terkena paku panas itu?" tanya Lintang Samudera.


"Ada Tuan, tapi keadaannya sangat memprihatinkan," jawab kepala pedukuhan.


"Bawa aku ke rumah orang itu," pinta Lintang Samudera.


Para penduduk pun berbondong-bondong mengantar Lintang Samudera dan Candani Paramita ke rumah orang yang terkena paku tersebut.


Terlihat seorang yang masih muda terdiam kaku di ranjang. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Setiap berusaha untuk memakan sesuatu maka makanan itu akan keluar disertai dengan muntahan darah. Wajah pemuda itu sangat pucat. Bibirnya mengering, matanya merah nanar menatap setiap orang.


Lintang Samudera meminta setiap penduduk untuk keluar dari kamar pemuda itu. Bahkan Candani Paramita dan bayi Nadi Tirta ikut keluar, meskipun Lintang Samudera tidak memintanya untuk ikut keluar.


Di ruangan itu hanya tinggal Lintang Samudera dan pemuda itu. Lintang Samudera mengambil air putih yang disediakan pemilik rumah sesuai dengan permintaannya. Dia membaca sesuatu dengan pelan, lalu diminumkannya air itu kepada pemuda yang sedang terbaring lemah. Setelah pemuda itu meminum air putih sampai habis, diletakkannya tongkatnya ke dada pemuda itu. Secara perlahan paku-paku yang ada di badan pemuda itu keluar, dan terbang kembali ke asalnya.

__ADS_1


Beruntung paku-paku itu belum lama bersemayam di tubuh pemuda itu, jadi nyawa pemuda itu masih bisa diselamatkan. Jika paku-paku itu sudah terlalu lama bersemayam di tubuh pemuda itu, pun pakunya sudah dikeluarkan belum tentu pemuda itu bisa selamat, dikarenakan keberadaan paku-paku di dalam tubuhnya akan merusak anggota tubuh bagian dalam dari pemuda itu.


__ADS_2