
Candani Paramita membiarkan Lintang Samudera bersandar di pangkuannya. Laki-laki itu terlelap kelelahan. Setelah menghilangkan lelah dan marahnya, Lintang Samudera terbangun.
"Jelaskan," pintanya masih dengan suara kesal.
"Tongkat Kakang memiliki rahasia yang besar. Cobalah Kakang pelajari sendiri, dan dalam diri Kakang juga tersimpan kekuatan yang besar pula. Kenalilah diri Kakang sendiri. Jika aku yang membuka semua rahasia di dalam diri Kakang, maka Kakang tidak akan belajar, hanya akan menuruti permintaanku. Tidak ada maksud sama sekali untuk mempermainkan suami sendiri." Candani Paramita mencoba menjelaskan.
Lintang Samudera terdiam mendengar penjelasan istrinya. Perlahan dia bisa menerima penjelasan istrinya itu. Tapi rasa kesal di hatinya belum reda. Diraihnya wajah istrinya, sepasang suami istri itu kembali bercumbu kasih disaksikan kerlipan sinar bintang yang bertebaran di langit. Setelah menyelesaikan hasratnya Lintang Samudera memeluk istrinya dengan penuh kasih.
"Kakang, ayo kembali ke pondok bergabung dengan yang lainnya," ajak Candani Paramita.
Diraihnya tubuh istrinya, lalu dibaringkannya tubuh istrinya di pangkuannya. "Tidur di pangkuanku."
"Aku mau mencari pasak yang lain dari lembah ini."
"Besok aku temani. Sekarang tidurlah, malam sudah larut," jawab Lintang Samudera memaksa dengan tangan yang terus memeluk erat tubuh Candani Paramita.
Candani akhirnya tertidur pulas dalam pangkuan suaminya. Saat dirinya sudah terlelap, Lintang Samudera membopongnya ke pondok, pamer kepada Apsara.
Saat melihat ratunya terlelap dalam bopongan Lintang Samudera, Apsara terdiam tidak perduli. Sebenarnya dirinya menyaksikan pertarungan Lintang Samudera dengan para pengintai, seperti kata ratunya, bahwa Lintang Samudera sosok yang mampu dan layak. Walaupun di hatinya masih panas melihat ada orang yang seenaknya menyentuh tubuh ratu junjungannya. Tapi dirinya akan mencoba berdamai menerima keadaan, bahkan Baluh Jingga sampai turun tangan memperingatkannya. Jika dirinya sepanas ini, tentu bala tentara Segaralaya yang lainnya akan sama panas hatinya seperti dirinya. "Lintang Samudera berjuanglah, semoga kau bisa menaklukkan kami pasukan Segaralaya."
Saat pagi hendak turun, saat embun mulai menyapa dedaunan, Candani Paramita terpental hebat ke sudut pondok. Saat dirinya keluar meninggalkan pondok, dirinya kembali terlempar beberapa hasta jauhnya, sehingga menimbulkan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya. Perisai pancaka palastri bergolak hebat. Sampai mendatangkan angin ribut dan kilat yang memancar menggelegar. Lama-kelamaan petir dan angin itu menyerang. Candani langsung duduk sila kedua tangan diangkat ke atas dengan posisi telapak menghadap langit. Ditutupnya pintu-pintu nafsu, dibentuknya kekuatan yang berasal dari alam kesadaran. Keringat dingin mengalir deras, kekuatan batinnya diserang dengan sangat hebat, perisai yang dibuatnya menghantam balik dirinya. Perisai pancaka palastri terus bergolak dengan hebatnya, rusak di semua sisi, bunyi deru angin semakin keras disertai kilatan petir menyambar. Petir itu menyerang mengarah ke dirinya. Candani Paramita berusaha memusatkan kekuatan alam bawah sadarnya, melawan serangan dahsyat yang bisa merenggut nyawa.
Lintang Samudera terbangun terhantam terjangan amukan angin. Kilat petir dari langit menerjang istrinya tiada henti. Candani sedang bertaruh nyawa. Lintang Samudera tidak perduli lagi dengan keselamatannya, ditangkisnya petir yang terus-menerus menyambar Candani Paramita dengan tongkatnya. Dilemparkannya kilatan petir itu ke segala sisi sehingga menimbulkan suara ledakan yang sangat memekakkan telinga, tanah berhamburan, batuan di sekitar hancur lebur jadi debu. Sebuah kilatan petir yang sangat besar muncul dari langit, bersiap-siap meledakkan apapun yang dikenainya. Tanpa melepas posisinya Candani Paramita mengurai selendang yang selalu tersampir di pundaknya. Dihempaskannya selendang itu ke arah langit, sejajar dengan arah tongkat Lintang Samudera. Petir itu bertabrakan dengan dua senjata yang luar biasa dahsyat, sebuah ledakan besar membahana memecah udara, menghadirkan percikan api.
Apsara terlonjak kaget. Dan apa yang sedang disaksikannya Ratu junjungannya dan suaminya sedang bertaruh nyawa. Lintang Samudera mati-matian bertarung melawan petir dan angin. Tongkatnya berputar ke segala arah berusaha melindungi Candani Paramita. Pertarungan luar biasa. Disaksikannya kekuatan dahsyat dari dua senjata beradu melawan gelegar kekuatan yang seolah-olah dikirimkan dari pintu langit. Dua senjata itu bertarung melawan serangan kekuatan dahsyat itu, percikan api berubah menjadi sebuah kebakaran besar di udara. Selendang milik Candani Paramita terus meliuk meredakan api dan hawa panas, tongkat Lintang Samudera terbang menuju sisi selendang, melawan petir-petir susulan yang tidak begitu besar.
Saat kilatan petir sudah mulai mereda dan angin mulai berhembus pelan, Lintang Samudera menancapkan tongkatnya ke bumi. Dibangunnya perisai Mandira. Kedua perisai yang melindungi lembah Chedana mulai terbentuk dengan sempurna.
🔸🔸🔸🔸🔸
Baluh Jingga dan Nimas Ayu Palupi saling berpelukan dengan tangan saling berpegangan erat. Sebuah adegan pertarungan dahsyat sedang berlangsung di hadapannya. Tangan mereka gemetar. Saat kilatan petir mengarah ke badan mereka berdua, tongkat Lintang Samudera menghadang kilatan petir itu. Kilatan petir itu terlempar jauh ke pepohonan di batas lembah. Pohon itupun hancur disertai suara ledakkan. Kayu dari pohon yang meledak itu berputar kembali menyerang Baluh Jingga dan Nimas Ayu Palupi. Baluh Jingga mengeluarkan cambuk pemberian ibunya. Cambuk itu menerima serangan serpihan kayu, dan melemparkan serpihan dan balok-balok kayu ke tengah lembah. Dengan gagah Baluh Jingga ikut bertarung melawan kekuatan kasat mata. Putaran cambuk begitu kencang, bebatuan yang terbawa angin hancur terkena cambuknya.
Apsara tidak sampai hati melepas istrinya melompat dan meloncat ke berbagai sisi sambil terus mencambuk hamburan bebatuan dan melawan serangan petir susulan. Dirinya pun ikut terjun ke kancah perkelahian itu. Diambilnya cambuk istrinya, dan diangkatnya istrinya ke samping Nimas Ayu Palupi. Cambuk Baluh Jingga yang sudah berpindah ke tangan Apsara menari indah menghalau percikan-percikan api. Sebuah batu besar terlempar ke arahnya, tanpa disadarinya dari arah yang lain muncul selendang Candani Paramita melemparkan batu sebesar gajah itu. Batu itu terlempar jauh, sebelum menyentuh tanah kilatan petir menghantam batu besar itu, membuatnya hancur berkeping-keping.
Nimas Ayu begitu terkagum-kagum melihat pertarungan yang ada. Baru sekali ini disaksikan pertarungan yang sangat luar biasa. Ilmunya dan semua pengawalnya belum apa-apa dibanding orang-orang yang sedang bertarung itu. Bahkan Baluh Jingga yang selama ini hanya sekedar memasak memiliki ilmu kanuragan yang luar biasa. Nimas Ayu tercengang, mulutnya terkatup dan terbuka secara bergantian. Beberapa kali serpihan kayu dan batu menerpa dirinya tapi tetap membuatnya tidak berkutik.
__ADS_1
Tangan Candani Paramita masih dalam posisi di atas, berusaha mengembalikan tenaga dalamnya yang ikut bergolak hebat karena serangan yang telah mengoyak perisai pancaka palastri. Setelah kekuatan tenaga dalamnya tenang kembali dan perisai pancaka palastri terbentuk sempurna. Candani Paramita bertarung melawan sosok bayangan yang menerjangnya tiba-tiba. Terus dikejarnya bayangan itu. "Kakang Lintang, aku pinjam tongkatnya," pintanya di sela deru nafas yang memburu. Tanpa menunggu jawaban sang pemilik, tongkat sudah berpindah ke tangan Candani. Selendang dan tongkat saling susul menyusul memberikan serangan balik ke sosok bayangan. Bayangan itu terus berusaha menghindar. Dengan kekuatan penuh dilemparkannya selendang ke arah langit dan dihentakkannya tongkat ke arah bumi. Bayangan itu terpental terlempar keluar lembah Chedana.
Lintang Samudera membiarkan istrinya bertarung. Disaksikannya kelihaian istrinya dalam memadukan selendang dan tongkat. Saling membelit dan saling mengisi memberikan perlindungan kepada seluruh wilayah lembah Chedana.
Candani Paramita masih dalam posisi siaga dengan selendang di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri. Tidak disadarinya keberadaan Lintang Samudera di sampingnya.
Lintang Samudera menyentuh pundak istrinya lembut, berusaha memberikan rasa tenang. "Sudah berakhir. Pertarungan sudah selesai," ucapnya kepada istrinya. Candani dengan wajah pucat dan nafas yang naik turun menyerahkan tongkat kepada pemiliknya. Mereka pun berjalan beriringan ke arah pondok.
Wajah-wajah tegang masih tersisa di semua orang yang ada di pondok. Terutama Nimas Ayu. Sedangkan Baluh Jingga berdiri dengan terus mengusap perut buncitnya.
"Ayo Kakang, kita cari empat pasak yang lain."
"Sebentar, jawab pertanyaanku dahulu. Siapa yang telah merusak kekuatan perisaimu dan melakukan serangan dahsyat tadi?"
"Orang itu musuh Guru Jagratara. Kemampuan orang itu hampir setingkat dengan ilmu Guru Jagratara. Ayo Kakang, kita harus bergegas." Ajak Candani terburu-buru.
Sebelum pergi Candani menemui Baluh Jingga dan Nimas Ayu Palupi.
"Baluh dan Nimas Ayu, tolong bantu Kang Mbok Candani menemukan pasak bumi dari lembah ini. Kemungkinan besar pasak yang kelima ada di dalam pondok ini."
Apsara pun diminta membantu dengan diberi penjelasan singkat. Semuanya memencar mencari sesuai permintaan Candani Paramita.
Candani menuju ke lereng tempat semalam ia dan Lintang Samudera beristirahat dan memadu kasih. Dicarinya di sekeliling tempat itu. Karena lelah mencari Candani pun duduk terdiam, direbahkannya badannya. Diingatnya masa lampau saat ia masih belajar ilmu jaya kasantikan di lembah Chedana. Gurunya sering mengajaknya bermain lingkar batu di bagian lereng ini.
"Batu dilingkar disusun jadi lima. Dalam air batu berbuih, di lereng bukit batu memencar terbelah menjadi dua selatan dan utara, di pepohonan batu tertanam berdiri tegak, di pusat bumi batu bersembunyi."
Itu bait syair yang selalu gurunya dendangkan saat bermain lingkar batu dengannya. "Di lereng bukit batu memencar menjadi dua selatan dan utara." Ini adalah lereng bukit bagian utara, harusnya pasak itu ada di sekitar sini, bentuknya pastilah sebuah belahan. Candani kembali memutari lereng bukit. Dirinya menyandarkan diri pada sebuah batu besar berwarna abu kehitaman. Batu itu besar dan tampak di bagian sampingnya ada bekas belahan. Candani terpekik dengan ingatannya sendiri. "Ya benar, di lereng bukit di sebelah selatan ada batu seperti ini juga, hanya saja berwarna putih," ucapnya dalam hati.
Candani terlonjak kaget saat ada tangan yang melingkar di perutnya. Hampir saja dikibaskannya tangan itu.
"Bagaimana sudah ketemu pasak di lereng bukit ini?" tanya Lintang Samudera sembari menciumi rambut istrinya yang basah karena keringat.
"Sudah, ini." Tunjuk Candani ke batu yang sedang dipegangnya.
Candani mengikis lumut yang mengelilingi batu itu. Dan benarlah ada ukiran seperti tiang yang ada di dalam telaga.
__ADS_1
"Kakang Lintang, ini, lepaskan dulu pelukannya, nanti Apsara dan yang lainnya melihat."
"Tidak mungkin. Apsara masih mencari di sekitar pepohonan. Hanya sebentar, biarkan aku memelukmu. Bukankah kejadian dini hari tadi hampir merenggut nyawamu." Lintang Samudera memeluk Candani Paramita semakin erat.
"Kau selalu menempuh bahaya. Apakah kau berniat meninggalkan suami-mu selamanya?"
"Tidak, tentu tidak." Jawab Candani Paramita berdebar-debar, nafas hangat Lintang Samudera berhembus pelan di tengkuk dan rambutnya.
"Jika kau mencintaiku ceritakan semua yang menjadi musuhmu dan musuh gurumu. Jangan biarkan aku terus-terusan harus melihatmu bertarung sendiri bermain nyawa. Paham?" ucap Lintang Samudera dengan suara parau.
"Iya paham. Tapi bisakah lepaskan dulu pelukanmu ini. Nanti ada yang melihat. Aku sudah meminta semuanya untuk berkumpul di sini, dan sebentar lagi mereka pasti datang," pinta Candani khawatir. Dan suaminya tidak memperdulikan perkataannya, malah semakin mempererat pelukannya.
"Kang Mbok Candani, pasak yang di pondok belum ditemukan." Teriak Nimas Ayu memecah kemesraan. Melihat adegan mesra sepasang suami istri itu Nimas Ayu langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangan, cemas di wajah Nimas Ayu memudar digantikan rasa malu. Tidak lama setelah kedatangan Nimas Ayu, Apsara pun tiba bersama Baluh Jingga.
Candani Paramita sungguh malu. Bahkan dengan hadirnya orang-orang di sekelilingnya, Lintang Samudera masih enggan melepas pelukannya. Dia masih terus menempel di punggung Candani yang basah kuyup oleh keringat.
"Kakang Apsara, peluk aku!" rengek iri Baluh Jingga.
"Kakang Lintang lepaskan Kang Mbok Candani. Malu dilihat banyak orang," tegur Nimas Ayu masih dengan menutup matanya.
Candani akhirnya mengabaikan rasa malunya. "Apsara berikan hasil pencarianmu?"
"Di pintu masuk lembah yang berupa dua pohon tua yang besar dan menjulang tinggi, di tengah pohon itu ada sebuah pohon jati yang bentuknya melingkar tidak lazim, di pohon jati tersebut terdapat ukiran yang agak sama dengan yang ada di dalam telaga." Selesai menyampaikan hasil pencariannya, Apsara melirik Lintang Samudera dengan jengah. Dan lihatlah sekarang Baluh Jingga ikut bergelayut manja di pundaknya. Tapi jika diingatnya pertaruhan nyawa yang baru saja terjadi membuatnya bergidik ngeri. Dan sikap Lintang Samudera ini sedikit mencairkan ketegangan.
Lintang Samudera melepas pelukannya. Lalu diajaknya Apsara untuk turun. Tinggallah ketiga wanita itu di lereng bukit.
"Kang Mbok, kenapa Kakang Lintang?" tanya Nimas Ayu.
"Tidak apa-apa. Ayo turun."
🔸🔸🔸🔸🔸
Barisan bidadari mengulum senyum, menyambut hadirnya Sang Ratu. Sebuah keindahan hakiki dari alam semesta. Keindahan yang tidak mampu tersentuh karena terbalut dalam kesucian.
🔸🔸🔸🔸🔸
__ADS_1
Jangan lupa berikan like dan vote nya ya, masukkan juga ke bacaan favorit para readers semua. Penulis juga sangat berterimakasih jika semua pembaca bersedia memberikan komentar karena komentar para readers merupakan apresiasi yang sangat besar bagi penulis. Poin dan koin juga boleh, penulis akan menyambutnya dengan senang hati. Terima kasih ya.