CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
SANDERA


__ADS_3

Keadaan hening menimpa semua orang. Kepergian Puteri Pambayun meninggalkan goresan yang mendalam di hati raja Citraloka. Seandainya Puteri Pambayun lebih berhati terbuka seperti puteri bungsu, tidak akan seperti ini kelanjutan perjalanan hidupnya. Banyak pangeran dari kerajaan tetangga yang meminang Puteri Pambayun, tapi nasi sudah jadi bubur, penyesalan tidak berguna lagi.


"Raja Citraloka, maafkan aku." Lintang Samudera menunduk merasa bersalah dengan terperosoknya Pambayun pada jalan sesat.


"Sudahlah. Mungkin semua ini sudah menjadi takdir hidup Pambayun." Raja Citraloka mencoba berdamai dengan diri sendiri. "Kau tidak perlu merasa bersalah. Setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri."


Raja Citraloka mendekati raja muda ular. "Titip puteri bungsu, jaga ia dengan sepenuh hati. Nimas Ayu memang manja tapi selalu patuh dan tidak pernah merepotkan." Ditepuk-tepuknya pundak menantunya, raja muda ular. "Cepatlah lahirkan anak keturunan."


Raja muda ular tersenyum hambar. "Baik ayahanda. Tapi anak keturunan yang terlahir dari rahim Nimas Ayu hanyalah seekor ular, apa Ayahanda Raja tidak akan malu?"


"Malu. Untuk apa malu. Seekor ular juga merupakan ciptaan Sang Pencipta, jadi janganlah mengingkari apa yang sudah diciptakan. Sekarang Puteri Bungsu sudah menerimamu apa adanya. Jadi nikmatilah hidup. Tutup semua kepedihan mu, dan isi kembali hidupmu dengan bahagia dan sukacita."


Raja Citraloka kembali menepuk-nepuk pundak menantunya. Bukan hal yang mudah menjadi raja sejak usia muda. Masa kecilnya, saat bermainnya, semua menghilang. Bahkan harus menghadapi pertarungan politik yang kejam, itu sudah pasti sangat berat.


Raja muda ular memandang mertuanya dengan berkaca-kaca. "Aku akan sangat menyayangi Nimas Ayu. Terimakasih karena sudah merelakan puteri kesayangan ayahanda, untuk seekor ular sepertiku."


Setelah berpamitan, raja Citraloka berlalu pergi diiringi pengawalnya.


🔸🔸🔸🔸🔸


Selang beberapa waktu, setelah keadaan tenang kembali, mereka pun bersiap pergi.


"Berhenti atau mati. Pasukan pemanah sudah mengelilingi daerah ini," hardik seorang prajurit pemimpin pasukan pengepung.


"Siapa kalian, pun kami ditangkap, kami harus tahu siapa yang sudah melakukan penangkapan?" Raja muda ular memberi waktu kepada Candani untuk membaca situasi.


"Tidak perlu tahu. Ikut saja," jawab pemimpin pasukan.


Sekitar dua ratus prajurit pemanah siap dengan busur dan anak panah yang sudah direntangkan. Setiap mata memandang ke satu titik sasaran, Candani Paramita dan teman-temannya. Sekali sasarannya melawan maka sudah dipastikan hujan anak panah akan terjadi.


Melihat gelagat perlawanan yang muncul dari sasarannya, pemimpin pasukan pengepungan kembali berseru, "Jangan melawan, atau kami langsung membunuh kalian semua. Di belakang pasukan pemanah masih ada pasukan prajurit pilihan. Diam di tempat atau mati!"

__ADS_1


"Aku merasa terhormat mendapat sambutan yang luar biasa dari prajurit Kerajaan Abyudaya. Siapa yang mau kalian tangkap? Aku, dia, dia, atau dia, pilihlah, dan bawalah, biarkan yang lain pergi." Lintang Samudera memperhatikan arah pandang pemimpin pengepungan. Pandang mata pemimpin itu mengarah pada raja muda ular, berarti raja muda ular lah sasarannya.


"Kita bunuh saja semua prajurit pengepung itu, bukankah mudah bagi kita untuk membunuh mereka semua," Senopati Jaladhi memberikan saran demi keselamatan mereka semua.


"Jangan Jaladhi. Ini bukan peperangan. Jika harus membunuh mereka semua, sama saja dengan pembantaian. Tidak terhormat membunuh pasukan yang hanya sekedar melakukan pengepungan." Candani mengedarkan pandangannya ke seluruh prajurit yang mengepung.


"Lalu bagaimana?" tanya Senopati Jaladhi. "Apakah ikut saja dan bersedia menjadi sandera mereka?" lanjutnya.


"Kita ikuti saja permainan mereka. Nanti kita akan tahu siapa di balik rencana pengepungan ini. Raja muda ular sepertinya kau yang menjadi sasaran pengepungan?" Candani mengalihkan pembicaraan pada raja muda ular.


"Sepertinya ini berhubungan dengan gunung Wadas Putih. Jangan harap mereka bisa membunuhku, pewaris ku belum terlahir, dan seenaknya saja Ki Estungkara ingin menjadikanku tumbal di gunung Wadas Putih." Wajah raja muda ular memerah marah, urusannya dengan keturunan Mpu Adhigana belum usai.


"Apa maksudmu raja muda ular? Apa setelah aku melahirkan anakmu, kau seenaknya mau mendaftarkan diri kepada dewa kematian? Kau mau mati, mau meninggalkan aku?" Nimas Ayu mengeluarkan gejolak hatinya, marah.


"Tidak, tidak adindaku, permaisuri ku. Cintaku , permata hatiku, tentu tidak. Aku akan terus menemanimu. Maaf sudah salah bicara."


"Kalau begitu hidup, jangan memilih mati, aku tidak mau jadi janda muda," jawab Nimas Ayu dengan tatap mata tegas.


Raja muda ular diam tidak berkutik.


"Sandera yang istimewa," kelakar Lintang Samudera.


Iring-iringan prajurit membawa sanderanya ke Kotaraja Abyudaya. Tatkala melihat iring-iringan prajurit, para penduduk menunduk hormat, berdiri berjajar rapi. Pasukan kelana yang memisahkan diri dari Jaladhi ikut serta membaurkan diri bersama para penduduk.


Dan di sinilah kini mereka berada, di sebuah ruangan batu berbentuk segi empat, dengan air yang terus menetes di sebuah belumbang kecil.


"Ini ruang rahasia bawah tanah," Lintang Samudera memecah sepi.


"Tepatnya penjara bawah tanah." Candani Paramita mengecek setiap sisi dinding.


"Makanan dan kebutuhan kita dipenuhi semua. Tahanan istimewa." Raja muda ular dengan santainya menikmati makanan yang disediakan.

__ADS_1


"Apakah itu tidak beracun?" tanya Nimas Ayu, panik.


"Tidak, cobalah!" Raja muda ular menawarkan makanan yang sedang dikunyahnya. "Tenang, sudah aku pastikan tidak ada racunnya. Kita tamu istimewa, jadi sepertinya diperlakukan secara istimewa juga."


🔸🔸🔸🔸🔸


Suara langkah kaki terdengar jelas. Mendekat selangkah demi selangkah.


"Sanura," ucap seorang wanita kaget. "Mimpi aku mendapat anugerah ini, bisa menangkap ratu laut Segaralaya? Tujuanku hanya menangkap raja ular muda, tidak disangka dapat hadiah tangkapan tambahan." Seorang wanita cantik tertawa girang dengan hasil yang diberikan prajuritnya.


"Gasita Anjali," ucap Candani Paramita atau Ratu Laut Sanura.


"Ingatanmu ternyata masih bagus. Karena kau, aku tersasar di kerajaan ini, terusir dari Kerajaan Segara Pitu. Kalau bukan kakakku Suteja Thani yang menyelamatkan ku, habis semua nama baikku." geram Gasita Anjali.


"Baguslah bisa selamat," Candani tersenyum sinis. "Bukankah bagus. Di sini kau bisa jadi permaisuri seorang raja. Di kerajaan laut, menjadi seorang selir pun kau tidak pantas dan tidak akan pernah bisa."


Gasita Anjali mendengus marah. "Kau?" bentaknya.


"Kenapa, mau aku ungkit semua daftar kekasih gelap mu di sini, atau aku sampaikan juga semua kebusukan mu?" Sanura menjawab dengan tenang. Tidak ada yang perlu ditakuti, kalau dirinya mau, sekarang pun bisa kabur menyelamatkan diri. Kalau sekedar main kabur-kaburan itu hal yang sangat mudah.


Gasita Anjali tiba-tiba tertawa keras. "Ah sudahlah. Semua itu masa lalu, tidak usah diungkit. Lagipula sekarang aku menduduki tempat kehormatan sebagai seorang permaisuri Kerajaan Abyudaya."


Gasita Anjali mendekati Sanura atau Candani Paramita, lalu berbisik pelan: "tentu saja setelah aku bunuh permaisuri yang sebelumnya, kalau dia tidak mati, selamanya aku tetap menjadi selir yang tidak berharga, hanya dianggap sebagai sampah yang tidak ada nilainya."


"Prajurit bawa semua sandera ke Gunung Anaga," perintah Permaisuri Kerajaan Abyudaya Gasita Anjali.


"Gusti Permaisuri, cukup membawa raja muda ular, itu perintah Ki Estungkara. Untuk yang lainnya, jika Gusti Permaisuri ada urusan sendiri, selesaikan saja di sini." Dua orang tetua ilmu hitam mengingatkan Gasita Anjali. "Jangan bawa yang lainnya, berbahaya Gusti Permaisuri ."


Dua tetua ilmu hitam bergidik ngeri. Dengan mata kepalanya sendiri telah menyaksikan dahsyatnya ilmu sirep yang dikerahkan oleh wanita yang bernama Candani Paramita atau Sanura. Mereka yakin, wanita yang menyebarkan sirep waktu itu mampu membebaskan dirinya dan teman-temannya tanpa harus terluka sedikitpun.


"Aku harus membawa semuanya. Terutama perempuan ini!" Gasita Anjali menunjuk Candani Paramita. "Aku harus balas dendam atas rasa malu dan pengusiran yang sudah aku terima."

__ADS_1


"Tapi Gusti Permaisuri...."


"Tutup mulut kalian. Ikuti saja perintahku!" Gasita Anjali mempertegas perintahnya. "Untuk Puteri Bungsu Nimas Ayu Palupi perlakukan dengan baik, aku tidak mau kakanda raja Akusara Baswara Patangga menjadi murka."


__ADS_2