
"Pergilah dari tempat ini! Kami tidak akan membunuh kalian berdua. Tinggalkan tempat ini. Tapi jika suatu saat aku mendengar kalian melakukan kejahatan lagi, aku tidak akan sungkan untuk mencabut nyawa kalian berdua."
Pinggala dan gadis Ramaniya berlalu pergi. Gadis itu membawa seribu luka. Cintanya hanya sia-sia.
"Ramaniya lupakan Lintang Samudera. Lebih baik kita kembali ke negeri asal kita berada. Ratu Samudera pasti bersedia membantu, lautan merupakan wilayah kerajaan nya, pasti dengan mudah mampu mengembalikan kita ke negeri asal," bujuk kaket tua Pinggala kepada cucu satu-satunya.
"Tidak, Kakek. Aku akan terus mengejar Kakang Lintang Samudera, sedikit pun tidak akan aku lepaskan. Aku akan menggunakan cara apapun untuk bisa merebut kembali Lintang Samudera." Ramaniya mengepalkan kedua tangannya. Menanam benci dan dendam yang begitu besar pada Candani Paramita. Kedudukan dirinya begitu rendah tidak sebanding dengan seorang ratu. Maka akan direbutnya Lintang Samudera dengan cara lain. "Akan aku tempuh semua cara untuk mendapatkan Lintang Samudera."
"Ramaniya, sadarlah. Jangan gila karena cinta. Lupakan. Banyak laki-laki yang mengagumimu, untuk apa mengejar cinta yang tidak berguna, carilah laki-laki lain!" Pinggala tidak habis pikir dengan cara berpikir cucunya.
"Tidak, Kakek. Tidak. Aku hanya mau Lintang Samudera. Aku akan mencari seorang guru ilmu hitam yang sakti. Kepadanya aku akan berguru. Mau itu demit, siluman, atau apapun itu, aku harus berguru padanya. Aku tidak terima disingkirkan dengan cara seperti ini. Aku mau Lintang Samudera. Aku mau dia."
"Ramaniya. Tapi Lintang Samudera tidak mencintaimu, cintanya hanya untuk istrinya. Sadarlah cucuku!" Kakek tua Pinggala tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Tidak kakek. Aku mau Lintang Samudera. Pun dia mati, dia harus mati di sisiku."
"Ramaniya. Sejauh itu jalan salah yang kau pilih." Kakek tua Pinggala menunduk menyesal karena dari awal sudah salah dalam mendidik gadis Ramaniya.
🔸🔸🔸🔸🔸
__ADS_1
Raja muda ular pamit untuk kembali ke kerajaan ular. Dibawanya serta istrinya. Seperti pesan pelindung sejati Buraksa, setelah memiliki Nimas Ayu seutuhnya sebagai seorang istri, harus secepatnya kembali ke kerajaan ular. Tinggallah Candani Paramita dan Lintang Samudera di tempat itu. Suami isteri pemilik tempat indah itu meminta Candani dan Lintang Samudera untuk tinggal lebih lama. Sebagai bentuk penghormatan, Candani dan Lintang pun bersedia.
🔸🔸🔸🔸🔸
Raja muda ular dan Nimas Ayu Palupi membawa lari kudanya dengan kencang. Mereka begitu terburu-buru untuk cepat sampai di kerajaan ular. Peringatan dari pelindung sejati ular Buraksa tidak bisa diremehkan. Dan raja muda ular tidak sampai hati untuk minta bantuan kepada Candani Paramita dan Lintang Samudera. Raja muda ular ingin menyelesaikan masalah kerajaan nya sendiri. Jika tidak mampu barulah berlari minta bantuan.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu purnama, sampailah raja muda ular dan Nimas Ayu di perbatasan alam lelembut dan alam manusia. Begitu sampai di kerajaan nya, raja muda ular segera menggelar pertemuan besar di Balairung istana. Mendengarkan laporan para punggawanya.
Saat malam tiba tepat bulan purnama di langit. Raja muda ular memeluk erat istrinya, Nimas Ayu Palupi. Dipeluk, dicium, dan dijelajahinya leher istrinya. Merasakan hawa tubuh Nimas Ayu yang begitu memabukkan hasratnya. Bibir mereka saling beradu, saling menyentuh, dan saling merasa. Menikmati keindahan yang terpampang di hadapannya.
Rasa cinta dan sayangnya yang begitu besar pada istrinya, membuatnya selalu rindu dan rindu. Raja muda ular sudah tidak mampu menahan dirinya lagi. Dirinya pun kembali ke bentuk aslinya, seekor ular besar berwarna hitam dan kuning, dililitnya tubuh istri tercintanya, digulungnya dengan tubuh ularnya, kepala ularnya terus bergerak menjelajah. Dan saat semuanya sudah tuntas, tubuh ularnya terkulai lemah di samping istrinya.
Nimas Ayu tidak mengerti, mungkin ini cinta, tapi bukan terpaksa atau sebuah paksaan. Yang utama dirinya sangat menghargai suami ularnya apa adanya. Suami ularnya yang saat berubah wujud, sudah tidak terbaca lagi tampan atau tidak. Dirinya tidak pernah ketakutan lagi saat raja muda ular selalu berubah wujud menjadi seekor ular saat mereka sedang memadu kasih. Seolah itu menjadi hal yang lumrah.
"Kakang Raja Muda Ular ada apa ini?" tanya Nimas Ayu kaget.
"Tidak ada apa-apa. Aku keluar dulu melihat rakyatku. Tunggulah di sini!" jawab raja muda ular.
"Tidak mau. Aku ikut."
__ADS_1
"Nimas tunggu di istana saja ya. Atau ke taman bambu, jangan ikut keluar ya?" bujuk raja muda ular lembut.
Mendengar bujuk rayu yang lembut dari raja muda ular, Nimas Ayu pun patuh dan memilih ke taman bambu.
Raja muda ular bergegas mendatangi suara keras itu. Tampak di depan matanya di batas pintu masuk wilayah kerajaan nya, Ki Estungkara dan orang-orangnya berbaris memaksa memasuki perisai pelindung sejati ular.
Di samping Ki Estungkara berdiri dengan kokoh sosok iblis yang sangat menakutkan. Berbadan cukup besar dengan benjolan-benjolan di seluruh tubuhnya, disertai beberapa bulu-bulu hitam yang tajam, mata yang satu begitu besar tapi yang satunya agak kecil, rambutnya memanjang hingga batas kaki. Ular-ular kecil ketakutan melihat sosok itu dan bersembunyi di balik tubuh ibu-ibu mereka.
Dengan kekuatannya, iblis Pratangga memaksa menembus perisai pelindung sejati.
Pelindung sejati ular Buraksa dengan gagahnya berada di garda depan diantara semua kawula ular. Seluruh rakyat ular dimintanya untuk menyelamatkan diri.
"Iblis Pratangga apa masalahmu dengan bangsa ular? Apa kau sekarang sudah menjadi budak Estungkara?" suara ular Buraksa menggema di semua penjuru.
"Hahahaha....Buraksa, aku bukan budak siapapun, dan aku tidak disuruh oleh siapapun. Aku hanya suka melakukannya. Menghancurkan kedamaian dan ketentraman yang telah susah payah dibuat oleh kerajaan khayangan. Dendam ku tidak akan habis, kecuali alam semesta menjadi hancur lebur oleh kehancuran." Suara iblis Pratangga menggelegar keras membuat bumi kerajaan ular bergoyang-goyang seperti diterjang gempa bumi yang besar.
"Hentikan suara busuk mu itu. Suaramu sangat buruk. Bumi pun enggan mendengar mu."
"Jaga mulutmu Buraksa. Dulu wajahku sangat tampan, suara ku pun merdu, idaman banyak wanita. Kalau bukan khayangan yang merusak rupa tampanku, tentu bentuk ku tidak akan seperti ini," jawab iblis Pratangga murka.
__ADS_1
"Ketampanan mu itu bagian dari masa lalu mu, untuk apa dibahas. Bahas yang sekarang. Wajah jelek mu, suara buruk mu," Buraksa tertawa keras menyindir iblis Pratangga.
"Kurang ajar kau Buraksa. Aku hancurkan apa yang kau lindungi. Estungkara menyingkir, biar aku yang menghancurkan apa yang dilindungi Buraksa!" perintah iblis Pratangga.