Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 100-- Pengunjung Toko


__ADS_3

Elvira memperhatikan Dewanti yang tampak sedang berbicara di telepon. Karena saat ini ia melintas di dekat Dewanti, Elvira memilih menunggunya sebentar untuk berpamitan pergi ke kantor.


Hingga saat Dewanti sudah kembali meletakkan ponselnya di atas meja, baru ia menyadari keberadaan Elvira. “Eh, Sayang. Kamu dari tadi?”


“Mm, tidak juga, Oma.” Elvira menjawab seraya ikut duduk di samping Dewanti.


Matanya membulat melihat sebuah tajuk berita pada koran yang terletak di atas meja, di bawah judul berita juga terdapat foto sebuah lokasi dan disampingnya ada foto seorang pria paruh baya. Elvira jadi teringat saat kejadian waktu itu, yang hampir membuat jantungnya terlepas dari tempatnya.


Dewanti lalu mengambil kembali koran yang tadi sempat ia letakkan karena fokus berbicara di telepon. Ia menyadari Elvira tadi sekilas melihat berita tersebut. Tapi bisa sedikit lega, karena ia tahu Nevan pasti sudah mengurus ini dengan baik.


“Ini hasil kerja dari anak buahnya pak Hasto. Mereka baru berhasil menggerebek rumah produksi narkoba, yang ternyata merajai pasar di banyak kota selama ini,” ujar Dewanti memberitahu.


Dewanti lalu menunjuk foto pria itu. “Dia ini salah satu residivis yang sempat kabur, dia termasuk yang menjaring banyak kelompok pengedar. Tapi syukurlah sudah ditemukan, walau dalam keadaan tewas.”


“Iya Oma, syukurlah.”


“Oma tadi habis telepon sama pak Hasto sebentar, dia memang suka menanyakan kabar. Dulu dia sangat akrab sama mendiang papa mertua kamu,” ungkap Dewanti.


Elvira tampaknya hanya mendengarkan saja dan mengiyakan.


“Oh ya, kamu ada komunikasi dengan Gio?”


“Tidak ada, Oma.”


“Dia mungkin akhir-akhir ini agak sibuk kayaknya. Tadinya Oma pikir kalian berteman, loh.”


“Mm, sebenarnya tidak juga.”


“Elvira, tidak apa-apa jika kamu ingin berteman dengan seseorang. Oma tidak akan melarang kamu. Lagi pula Oma pikir Gio itu pria yang baik, dia juga sangat sopan dan ramah.”


“Siapa? Gio?” Suara Nevan tiba-tiba terdengar dari arah belakang membuat mereka menoleh.


“Nevan, kamu ke sini Sayang?” tanya Dewanti yang terheran pagi seperti ini cucunya ini sudah datang.


“Iya Oma. Tapi tunggu, Oma tadi bahas tentang siapa?” tanya Nevan tidak bisa menyimpan rasa keingintahuannya, apalagi setelah mendengar sebuah nama yang terdengar familiar di telinganya.


“Itu, Gio. Dia seorang yang sudah menolong Elvira waktu itu. Oma juga sudah bertemu dengannya,” ungkap Dewanti.


“Bertemu? Kapan?” tanya Nevan lagi semakin penasaran.


“Oma sengaja mengundangnya makan malam bersama, waktu itu kamu masih diluar kota.”


“Apa? Jadi Oma sudah bertemu dengannya. Apa Oma tahu kalau dia--"


“Umm, Nevan!” Elvira langsung sigap menyela perkataannya.


Ia sudah tahu kalau Nevan saat ini sangat kesal dan pasti akan membahas tentang Gio yang sebenarnya.


“Oma tidak tahu siapa dia? Dia itu--”

__ADS_1


“Nevan! Kamu bukannya kesini mau membahas sesuatu denganku, kan?” cegat Elvira yang kini mendekatinya dan mencari-cari alasan.


“Apanya?” Nevan membingung.


“Iya, bukan kah kita harus membahas sesuatu ... soal pekerjaan.” Elvira sedikit menekankan perkataannya.


Ia memberi isyarat dengan gerakan mata, mengharap kerjasama dari Nevan. Pria itu nampaknya semakin tidak mengerti dengan situasi.


“Kita bicara sebentar ya,” ajak Elvira sembari menarik tangannya.


“Sebentar!” tahan Nevan.


“Udah ayo! Biarkan Oma bersantai dulu menikmati minumannya. Kami tidak akan mengganggu Oma,” pungkas Elvira.


Elvira menarik lengan Nevan memaksanya berjalan keluar hingga saat ini mereka sudah berada di area teras rumah.


“Apa maksudnya kamu mempertemukannya dengan Oma?” selidik Nevan.


“Bukan aku, tapi oma yang memintanya.”


“Oh ya?”


“Aku memang menceritakan soal kejadian itu, aku juga tidak menyangka jika Oma malah minta bertemu dengannya.” Elvira menjelaskan.


“Lalu kenapa kamu melarang ku membahas tentang dia? Apa oma belum tahu siapa dia sebenarnya?”


“Itu ... ya pokoknya jangan bahas ini. Aku tidak ingin oma mengetahuinya.”


“Bukan begitu, aku hanya tidak ingin masalah ini akan jadi tambah runyam nantinya.”


“Tambah runyam bagaimana? Bukannya malah bagus jika oma tahu tentang kakak dari perempuan itu?” bahas Nevan.


Elvira menghela napas. “Begini ya. Gio memang kakaknya, tapi dia tidak terlibat soal kelakuan adiknya. Dia juga sudah minta maaf karena tuduhannya waktu itu, dan aku memaafkannya. Aku pikir dia orang yang sangat berbeda dari adiknya. Dia pria yang baik."


“Oh ya?” Suara Nevan nyaris terdengar tidak senang, apalagi Elvira terdengar memuji pria lain saat bicara dengannya.


“Iya, pokoknya aku minta tolong sama kamu, jangan kasih tahu oma ya soal Gio. Please.”


Elvira memohon kepadanya dengan tatapan mata penuh harap dan tentu saja hal itu membuat Nevan sedikit luluh.


“Ya sudah, aku pergi sekarang ya,” pamit Elvira, lalu ia segera menuju mobilnya meninggalkan Nevan yang melengos kesal sendiri.


Nevan segera kembali masuk ke dalam rumah, ia menemui Dewanti dan ikut duduk bersamanya. Dewanti lalu memperlihatkan tajuk berita di koran yang tadi ia lihat bersama Elvira.


Nevan terlihat santai saat membaca tentang berita itu, dalam pandangan Dewanti tampaknya Nevan sudah pasti mengetahui tentang itu.


“Oma cukup kaget saat pak Hasto memberitahu soal lokasi kejadian penembakan itu, yang ternyata berada di lahan yang terdaftar atas nama Arkatama Grup,” ujar Dewanti membuka pembicaraan.


“Oh itu, aku sudah menerima pemberitahuan dari mereka soal olah TKP. Oma tenang saja, semuanya bisa diatasi.”

__ADS_1


“Nevan. Pertanyaan Oma, kapan kamu mengakuisisi lahan itu? Terus, untuk apa? Itu bahkan bekas taman bermain yang sudah lama sekali tidak beroperasi. Arkatama Grup bahkan memiliki ribuan hektar lahan yang jauh lebih bernilai untuk bisnis.”


“Sebenarnya, aku cukup menyukai tempatnya,” jawab Nevan polos.


Ia bahkan tidak memiliki alasan yang spesifik saat mulai tertarik untuk membeli lahan tersebut, hanya karena tempat itu menyimpan kenangan bagi Elvira.


“Nevan, Oma tidak bercanda ya.”


“Oma tenang saja. Kalau Oma tahu, tempat itu dulunya menjadi tempat rekreasi yang paling diminati sebelum pengelolanya dinyatakan bangkrut. Aku pernah pergi kesana, tempatnya bagus. Hanya saja perlu dikelola lebih baik.”


“Lalu?”


“Aku yakin tempat itu memiliki banyak kenangan bagi orang-orang, aku berpikir hanya ingin membangkitkan kembali kenangan-kenangan itu. Lokasinya juga strategis, tidak jauh dari pemukiman. Jika dikelola dengan baik, pasti juga akan bernilai bisnis bagi perusahaan. Setelah mengurus perizinan, aku akan mengelola tempat itu.”


Dewanti mendengarkan penjelasannya sembari mencerna setiap perkataannya, tampaknya tidak ada bantahan dari raut wajah wanita tua itu.


...❉❉❉...


Elvira baru masuk ke toko dan langsung disambut oleh Widya. Wanita itu segera menyuruhnya duduk dan menunggu sejenak, karena Widya akan membuatkan minuman untuknya.


Tidak menunggu lama, Widya segera kembali dengan membawakan dua cangkir minuman. Meski Elvira sudah melarangnya bahwa ibunya tidak harus repot-repot, namun tampaknya Widya hanya ingin menunjukkan kasih sayang serta perhatiannya.


“Kalau kakak kamu sudah berangkat mengajar, tidak ada yang merepoti Ibu. Tidak masalah Ibu sedikit repot untuk putri kedua Ibu,” gurau Widya.


“Iya, mulai sekarang aku kayaknya bakal sering merepotkan Ibu, deh.”


“Oh ya, Elvira. Maaf ya Ibu ganggu waktu kamu, karena menyuruh kamu datang.”


“Ya ampun, Ibu kok ngomongnya gitu? Tidak masalah kapanpun Ibu mau aku datang, aku pasti akan selalu usahakan waktuku untuk Ibu.”


Widya tersenyum mendengarnya, ia rasanya seperti baru menemukan hidup yang baru, karena saat ini Elvira sudah berada di sisinya lagi.


Sebelumnya Widya banyak merenung setelah apa yang ia dapati hari itu, ia rasanya tidak bisa menyembunyikan apapun dari Elvira. Widya akan menjelaskan semua hal yang belum pernah ia ceritakan sebelumnya, yang selama ini ia pendam terkait mendiang ibu kandung Elvira itu.


“Elvira, sebenarnya ada yang ingin Ibu katakan,” ujar Widya terdengar ragu.


“Ada apa, Bu?”


“Mengenai ....”


Seseorang terlihat baru masuk ke toko, dan langsung terdengar sapaan selamat datang dari salah satu karyawan toko.


Widya yang hendak berkata tiba-tiba tertahan, karena perhatiannya terburu teralihkan kepada pengunjung toko tersebut.


Matanya membulat tak percaya, lidahnya langsung terasa kaku melihat wajah itu.


Elvira merasa aneh melihat perilaku ibunya, yang tiba-tiba berubah secepat terpaan angin, seperti melihat sesuatu yang mengejutkan.


Elvira lalu mengikuti arah pandangan Widya, ia juga cukup terkejut dibuatnya setelah melihat siapa yang datang.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2