
Elvira berada di sebuah bar. Ia memang pernah beberapa kali pergi ke restorannya, tetapi baru kali ini ia mencoba mendatangi tempat kelabnya.
Masih sangat jelas terdengar bunyi musik yang sedang dimainkan oleh disk jokey ditemani kelap kelip lampu disko di area yang tidak jauh darinya saat ini.
Elvira memilih tak mau mendekati keramaian itu, melainkan ia lebih memilih duduk di sebuah bar yang terletak berseberangan dari sana.
Sambil menenggak segelas minuman, Elvira seolah tidak memedulikan orang-orang di sekitarnya.
Meski sudah menghabiskan waktu dan uang untuk bersenang-senang hari ini, ternyata Elvira masih belum mampu mendamaikan hatinya.
Elvira lalu memijat dahi karena kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Ia hanya merasa putus asa melenyapkan segala kedukaan.
"Sendiri saja? Boleh ku temani?" sapa seorang pria yang merasa tertarik mendekatinya.
“Pergilah,” ujar Elvira tanpa mau menengok ke arahnya.
Merasa diabaikan, pria tersebut langsung saja berlalu pergi darinya.
Tidak lama setelahnya. "Elvira?”
Sebuah suara menyebut namanya dari seorang pria mengalihkan perhatian Elvira dari gelas minumannya.
Detik berikutnya matanya langsung terbelalak karena bertemu seseorang yang pernah dikenalnya, dia rekan kerjanya dahulu yang pernah mengejarnya. “Ares?”
Seketika ingatan tentang sosok karyawan pria di kantornya dulu yang terkenal playboy itu kembali teringat di pikiran Elvira.
“Benar, kamu memang Elvira. Aku tidak menyangka kita akhirnya bisa bertemu disini.”
Pria bernama Ares itu lalu menengok ke arah beberapa orang berdasi yang tadi berjalan bersamanya.
“Pak, saya ada urusan dulu ya,” pamitnya kepada salah seorang pria yang turut pergi bersamanya.
Entah siapa, Elvira menengok sebentar namun sama sekali tidak mengenali orang-orang yang pergi bersama Ares saat ini.
Melirik ke arah Elvira, teman-temannya itu pun langsung mengerti dan segera berlalu pergi meninggalkan Ares.
Seketika Ares sudah duduk di samping Elvira, sementara Elvira membuang muka. Ia merasa malas sekali karena bertemu dengan pria ini lagi.
“Kamu sedang apa disini sendirian? Lagi minum? Kenapa? Apa suami kamu berselingkuh?” tebak Ares yang terdengar sangat menyebalkan bagi Elvira. Seolah-olah pria itu tahu apa yang terjadi di hidupnya.
“Kenapa diam saja? Apa tebakanku benar? Melihat dari raut wajah kamu, sepertinya aku tidak salah tebak. Kenapa? Apa kamu dicampakkan?” ledek Ares membuat Elvira meletakkan gelas kaca di tangannya dengan kasar.
“Pergilah!”
“Sini, biar aku temani. Kamu sepertinya lagi kesepian. Dulu saja kamu selalu menolak ku karena lebih memilih suami kamu yang kaya itu.”
Sambil menatap sebal, Elvira yang memilih tidak mau menanggapi ocehan Ares akhirnya memutuskan untuk segera beranjak dari kursinya berniat hendak meninggalkan pria itu.
Baru selangkah ia berjalan, Ares langsung menangkap tangannya dan memegangnya dengan kuat sambil memberi senyuman manis.
“Mau ke mana?”
“Lepaskan aku!” bentak Elvira.
“Kamu masih saja kasar seperti dulu, tapi aku masih sangat menyukai tatapan mata itu. Kamu tahu kan betapa aku sangat menginginkan kamu, apalagi sekarang kamu tambah cantik seperti ini.” Pria itu memandangi tubuh Elvira dengan seringai nakal.
“Lepas!”
Elvira terus mencoba melepaskan tangannya tapi cengkeraman tangan kekar Ares terlalu kuat hingga ia hanya menyakiti tangannya sendiri jika terus berontak.
__ADS_1
“Karena bertemu kamu di sini, mana mungkin aku sia-siakan kesempatan ini.”
Elvira mulai merasa terancam karena menyadari Ares sepertinya sedang mabuk ditambah ia tidak memiliki kekuatan lebih untuk melepaskan diri darinya.
“Ayo Sayang.” Ares bangkit dan membawa Elvira dengan menarik tangannya.
“Jangan berani kurang ajar kamu! Ares, aku bilang lepaskan aku!” teriakan Elvira rasanya hanya sia-sia karena di tempat sepertinya orang-orang saling acuh tak acuh.
“Orang-orang di sini tidak akan peduli dengan teriakan itu, Elvira. Ayo kita buat kenangan indah malam ini.”
Elvira terus mencoba melepaskan diri dari Ares namun tenaganya tak sebanding dengan pria itu, hal ini membuatnya hampir putus asa dan sangat ketakutan memikirkan jika seandainya Ares melakukan sesuatu terhadapnya.
Sedangkan Ares terus membawanya tanpa memedulikan penolakan dari Elvira.
Hingga mereka sudah berjalan mendekati pintu keluar ruangan tersebut, sebuah pukulan keras dari sebuah tangan menghantam wajah Ares sampai membuatnya jatuh tersungkur ke lantai dan otomatis melepaskan tangan Elvira.
“Nevan!” mata Elvira terbelalak melihat kehadiran Nevan yang muncul tiba-tiba menolongnya.
Elvira membekap mulut terkejut seraya membayangkan betapa kerasnya pukulan itu sampai membuat Ares seakan tak berdaya.
“Jika kamu berani menyentuhnya lagi, akan ku patahkan tanganmu!” ancam Nevan dengan tatapan dinginnya yang mengintimidasi Ares yang sedang kesakitan memegangi hidungnya yang sudah keluar darah.
Detik berikutnya tatapan netra itu langsung mengarah ke Elvira yang membuatnya ketakutan, baru kali ini Elvira melihat raut kemarahan yang terpancar dari wajahnya. Nevan langsung menarik tangan Elvira dan segera membawanya keluar dari tempat itu.
“Tunggu, berhenti!” Elvira melepaskan tangannya dari tangan Nevan. “Bagaimana kamu bisa tiba-tiba ada disini?”
“Apa pertanyaan itu penting sekarang? Apa kamu tahu apa yang mungkin orang itu lakukan kepada kamu? Lagipula kamu kenapa pergi ke tempat itu?” Nevan balik menghujaninya dengan pertanyaan membuat Elvira terdiam.
Tiba-tiba Nevan mendekatinya sontak membuat Elvira terkejut. “Kamu minum-minum?”
Nevan mencium bau alkohol dari Elvira, ia berpikir tidak mungkin akan membawa Elvira pulang ke rumah dalam keadaan Elvira seperti sekarang.
“Mana kunci mobil kamu,” pinta Nevan sambil menadahkan tangannya.
“Untuk apa?” tanya Elvira.
“Sini kunci mobilnya!” pinta Nevan sekali lagi dengan menegaskan perkataannya, Elvira menuruti saja permintaannya.
Setelah itu, mereka langsung pergi dengan menggunakan mobil Elvira. Elvira menatap ke arah Nevan yang sedang diam seribu bahasa sambil fokus membawa laju mobil.
Ia lalu melihat ke ponselnya yang dalam keadaan mode hening, ternyata ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Dewanti dan dari Nevan. Elvira membelalakkan matanya begitu melihat waktu menunjukkan sudah tengah malam.
Rupanya tadi ia terlalu asyik menyendiri minum di bar itu sampai ia lupa waktu. Ia juga tersadar betapa hari ini ia mementingkan egonya sendiri sampai-sampai tidak lagi menyadari jika ada orang yang selalu peduli dan mengkhawatirkannya seperti Dewanti.
“Makasih ya, untung tadi kamu datang,” ucap Elvira yang tidak digubris oleh Nevan.
Merasa diabaikan oleh Nevan, Elvira pun memilih untuk tetap diam. Ia lalu memijat kepalanya yang masih terasa pusing karena habis menenggak minuman yang tidak biasa ia minum.
...----------------...
Tidak lama kemudian, mobil yang ditumpangi mereka pun sudah sampai di sebuah basemen gedung besar, Nevan langsung menggandeng tangan Elvira untuk masuk dan menaiki lift.
“Tempat apa ini?” tanya Elvira yang masih tidak sadar mereka berada di mana.
“Ikut saja,” jawab Nevan sambil terus membawanya hingga mereka tiba di depan pintu sebuah ruangan.
“Kenapa kamu bawa aku kesini?” protes Elvira sambil melepaskan tangannya dari pegangan Nevan.
Nevan yang sedari tadi sudah membuka kunci pintu apartemennya tersebut lalu menarik tangan Elvira lagi untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
“Aku tidak mungkin bawa kamu pulang dalam keadaan setengah sadar seperti ini, Oma pasti sangat khawatir.” Kali ini suara Nevan terdengar lebih halus dan terlihat sekali dari sorot matanya jika ia juga mengkhawatirkan Elvira.
Elvira menyadari tatapan penuh simpati itu. “Kenapa menatapku seperti itu? Tatapan macam apa itu, apa aku terlihat begitu menyedihkan? Sial, aku tidak pernah mau terlihat menyedihkan di depan siapa pun.”
Elvira menghela napas, sementara Nevan masih memperhatikannya dalam diam.
“Aku hanya mencari kebahagiaan untukku sendiri, aku bersenang-senang sepanjang hari; anggap saja untuk menghibur diriku. Tapi ternyata dengan berada disana tidak bisa membuatku lebih baik,” ungkap Elvira seolah menjawab pertanyaan Nevan saat mereka bertemu di kelab tadi.
Melihat Nevan terus menatapnya seperti itu membuat Elvira tidak kuat lagi untuk menahan air matanya, tersadar betapa menyedihkannya ia saat ini. Elvira juga tidak mengerti kenapa setiap di depan Nevan ia malah terlihat cengeng.
“Menyedihkan. Kamu tahu betapa hancurnya hatiku saat melihat sesuatu yang kecil itu tumbuh di rahim perempuan itu. Seorang anak dari suamiku! Padahal aku juga bisa memberinya anak, walaupun anakku masih berbentuk kecil sekali, tapi aku tidak bisa menjaganya,” curhat Elvira membayangkan foto hasil USG itu.
Ia menerawang pandangan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa pasrah dan menerimanya seolah aku senang karena juga akan menjadi seorang ibu baginya. Iya, aku juga akan menjadi seorang ibu dari anak suamiku kan?” tanya Elvira yang terdengar lirih.
Sembari menggerutu Elvira menyeka air matanya. Sedangkan Nevan masih memaklumi Elvira meracau karena hanya mengungkapkan bagaimana perasaan sedihnya walau masih dalam pengaruh alkohol.
“Aku merasa lelah, aku ingin pergi dari keluarga ini dan meninggalkan semuanya. Aku bahkan sudah mengatakan hal ini kepada suamiku saat aku meminta cerai darinya. Aku akan melepaskan semua yang telah dia berikan kepadaku. Aku rasa itu akan jauh lebih baik, aku akan pergi ke suatu tempat di mana seorang pun tidak akan bisa menemukanku lagi.”
Elvira terus meracau sambil sesekali tersenyum sinis meledek kisah hidupnya, ia tak ubahnya seperti pelakon cerita di sebuah panggung yang sedang bermonolog mengekspresikan segala rasa kegundahan.
“Kenapa kamu diam saja?!” tanya Elvira tiba-tiba kesal karena Nevan hanya membiarkannya berdialog sendirian.
“Lalu kamu maunya apa?” tanya Nevan balik yang menatapnya nanar setelah mendengar curahan hati kakak iparnya itu.
Ia turut bersimpati karena Elvira terlihat seperti orang yang kehilangan semangat hidup.
“Ya kamu kan bisa lakukan sesuatu untuk menghiburku! Kenapa kamu hanya membiarkanku bicara sendiri! Asshh ....” Elvira mendesis sembari memijat dahinya.
Tanpa Elvira sadari pria di hadapannya ini sudah menambah satu langkah lebih dekat lagi kepadanya, sehingga saat ini mereka hanya berjarak beberapa inchi.
Saat Elvira menyadarinya ternyata Nevan sudah mendaratkan sebuah kecupan ringan pada bibirnya.
Elvira merasakan desiran pada aliran darahnya seketika menyeruak, kejadian singkat itu membuatnya mematung memandang wajah Nevan yang sangat dekat di hadapannya.
Pria itu sudah melepas bibirnya namun belum mau menjauhkan wajahnya, tatapan matanya menghujam menguasai wajah Elvira.
Sedangkan Elvira belum bisa mengartikan apa yang ia rasakan saat ini, rasanya ia hanya mulai larut dalam suasana yang tercipta begitu saja. Begitu hening, hanya menyisakan debaran dalam dada yang mulai menggelora.
Tanpa sadar, Elvira membawa tangannya bergerak meraba dada bidang itu. Ia benar-benar tidak bisa berpaling dari pesona pria di hadapannya ini, tatapan Nevan sungguh menjeratnya.
Melihat ada pergerakan dari wajah Nevan yang kian mendekat seraya meraih pinggangnya membawa ke dalam pelukan, Elvira turut berpasrah memejamkan matanya hingga sentuhan lembut bibir itu kini kembali menguasainya.
Kali ini dengan ritme gerakan lebih lambat dan lebih lama sehingga turut mengeluarkan hasrat yang ada dalam diri Elvira, ia turut mengimbangi memberikan perlawanan yang menunjukkan sedikit sisi agresifnya.
Hal itu membuat Nevan terpancing gairah sehingga enggan melepasnya seraya terus mengimbangi Elvira.
Beberapa saat bibir mereka saling bertaut menikmati sensasi yang tidak biasa, keduanya yang sempat larut dalam suasana kini saling melepaskan dengan perasaan yang sudah bercampur aduk.
Elvira mengerjap seperti baru tersadar mendapati diri dalam pelukan adik iparnya. Hal itu nampaknya turut di rasakan Nevan, namun ia bisa terlihat sedikit lebih santai.
Nevan menangkap tatapan Elvira yang terkejut setelah sadar apa yang mereka lakukan, ia hanya menyunggingkan sebuah senyuman penuh arti.
“Kamu yang memintaku,” bisiknya yang langsung membuat sekujur tubuh Elvira merinding dibuatnya.
Bersambung ...
__ADS_1