
Asty saat itu terlihat berjalan dengan terburu-buru setelah keluar dari ruang kelas mahasiswanya.
Setibanya di depan gedung fakultas tempatnya mengajar, ia sudah melihat dari kejauhan ada mobil Raldy sedang terparkir sedang menunggunya membuat Asty melempar senyum semangat dan segera menghampirinya.
Raldy sedang menjemputnya karena beberapa saat yang lalu ia sudah dihubungi oleh Widya yang ingin menemui mereka di sebuah restoran, keduanya penuh tanda tanya karena hal ini tiba-tiba saja namun pada akhirnya menurut saja.
Setibanya di lokasi tempat pertemuan, Raldy dan Asty dikejutkan oleh kehadiran orang tua dari Raldy yang sudah duduk bersama dengan Widya.
“Mama? Papa?” sapa Raldy yang seolah tidak percaya jika orang tuanya hari ini datang akan tetapi malah memintanya untuk menemui mereka di sini.
Selama ini orang tua Raldy tinggal di luar kota karena sibuk berkarir, papanya berprofesi sebagai pengacara sedangkan mamanya juga seorang dokter sama sepertinya.
“Kenapa berdiri di situ saja, ayo sini ikut duduk,” ajak Surya, papanya Raldy.
Mereka pun menurut saja walau dengan masih penuh tanda tanya di benak mereka.
“Papa sama Mama kenapa tidak bilang kepadaku kalau hari ini kalian datang?”
“Haruskah Papa melapor ke kamu dahulu kalau mau menemui putra Papa?” sahut Surya.
“Setidaknya kalian mengabari.”
“Papa sama Mama sudah membicarakan ini dengan Bu Widya. Mau sampai kapan kalian berdua bersama tanpa ada hubungan yang jelas? Kami bermaksud untuk meresmikan hubungan kalian,” ujar Surya yang disetujui oleh Shanty, mamanya Raldy.
“Meresmikan bagaimana?” tanya Raldy pura-pura tidak tahu. Sementara ia melihat ke arah Asty yang tak kalah terkejutnya sepertinya.
“Apa lagi, Papa sama Mama mau melamar Asty untuk kamu.”
“Papa benar, Raldy. Kalian kan saling mengenal dan berteman sudah lama, akan lebih baik jika ada kejelasan dari hubungan kalian,” timpal Shanty.
“Iya, Ibu setuju.” Widya menyahut sembari menatap Asty.
Widya benar-benar bisa bernapas lega karena ia sangat terharu juga bahagia karena akhirnya keinginannya selama ini mempersatukan Asty dengan Raldy sudah menemui titik terang.
Sejak dulu Widya sudah mengetahui jika Asty diam-diam menyimpan perasaan terhadap Raldy.
Namun dalam penglihatan Widya, selalu ada Elvira yang berada di tengah-tengah menjadi penghalang mereka. Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan Widya selalu menyudutkan Elvira karena terus mau merebut kebahagiaan Asty.
Sedangkan Asty hanya berusaha tenang di tengah kegelisahannya saat ini menghadapi situasi semacam ini, sebenarnya ia sangat senang karena sampai saat ini perasaannya masih bertahan untuk Raldy.
Namun di sisi lain ia juga meragukan jika Raldy akan setuju untuk menerimanya.
Di seberang meja, Raldy juga turut memikirkannya bagaimana ia akan bisa memulai hubungan yang lebih serius dengan Asty yang selama ini selalu bersamanya sebagai seorang teman.
Raldy juga meragukan jika Asty akan merasa tidak nyaman dengan perjodohan ini.
Sementara Surya dan istrinya, serta Widya memperhatikan keduanya yang berdiam diri terlihat berpikir keras setelah mendengar penuturan dari mereka tadi.
“Kalian jalani saja dulu, tidak salahnya kan dicoba?” saran Surya.
__ADS_1
...----------------...
Sepulangnya dari pertemuan tadi, Asty dan Raldy kini dalam perjalanan untuk mengantarkan Asty kembali ke kampus karena ia masih jadwal mengajar setelah ini. Saling diam tanpa sepatah kata pun, mereka terlihat canggung.
“Asty.” Raldy mencoba membuka pembicaraan.
“Ya?”
“Sesuai saran dari papa aku, kamu mau tidak kalau kita mencobanya?”
“Ya?” tanya Asty lagi meminta Raldy untuk mengulangi, membuat Raldy tersenyum kecil.
“Kamu kenapa jadi tiba-tiba tidak fokus begini? Maksud aku, kamu mau tidak mencoba menjalani hubungan ini bersamaku?”
Asty terlihat masih diam saja memikirkan jawabannya.
“Kalau kamu tidak mau, ya sudah, tidak apa-apa.” Raldy meralat ucapannya.
“Aku mau,” jawab Asty.
Detik berikutnya Raldy tersenyum bahagia, sedangkan Asty terlihat masih malu-malu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat jam pulang kerja, Anya yang sedang bersama Meisya baru keluar dari gedung kantor dikejutkan oleh kedatangan Gio yang tiba-tiba menemuinya. Meisya yang merasa asing dengan Gio turut terkejut melihatnya.
“Anya,” panggil Gio.
“Siapa?” tanya Meisya kepada Anya yang terlihat panik.
“Jadi Ibu atasannya Anya?” tanya Gio.
“Bu Meisya pulang saja terlebih dahulu ya,” saran Anya.
Tanpa ingin membalas tatapan dari Gio, Meisya langsung saja masuk ke mobilnya dan segera pergi.
“Kak Gio kenapa ke sini?” tanya Anya terdengar resah dengan kedatangannya.
“Kakak masih memikirkan tentang kamu yang memutuskan untuk tinggal dengan atasan kamu itu. Anya, Kakak pikir ini tidak perlu, untuk apa? Kakak merasa tidak nyaman jika kamu harus tinggal bersama orang lain, pikiran Kakak tidak tenang,” tutur Gio yang mengkhawatirkannya.
“Kak, kan aku sudah bilang ini karena pekerjaan.”
Anya mulai takut jika kakaknya penasaran lebih jauh karena ia tidak ingin Gio mengetahui apa yang telah terjadi padanya.
Ia rasanya sudah terlanjur basah untuk masuk ke dalam keluarga Arkatama dan tidak akan berhenti begitu saja sebelum tujuannya tercapai.
“Kan tidak harus seperti ini, apa kamu bekerja selama 24 jam bersama dengannya? Tidak kan? Mereka orang kaya yang terpandang, bagaimana bisa kamu berbaur tinggal bersama mereka?”
“Kak, cukup! Ini keputusan aku. Aku sudah besar dan berhak memutuskan untuk jalan hidup aku sendiri.Sebaiknya Kakak tidak usah mencampuri urusanku lagi.”
__ADS_1
“Anya, kenapa kamu seperti ini? Ayo kita pulang sekarang.” Gio menarik tangannya namun Anya menolak dan melepas tangannya.
“Tidak, aku akan pulang ke rumah bu Meisya. Aku harus pulang ke sana sekarang. Satu lagi, aku mau Kakak jangan lagi memunculkan diri di depan Ibu Meisya seperti tadi, dia tidak akan suka. Kakak juga tidak perlu mengkhawatirkan ku.”
Anya yang merasa terdesak karena tidak ingin Gio menemuinya pun merasa terpaksa harus mengatakan hal demikian karena ia tidak mau rencananya jadi berantakan karena Gio.
Anya pun langsung berlalu pergi meninggalkan Gio setelah puas mengatakan perkataan yang membuat Gio merasa sedih.
Gio kini merasa gelisah karena tidak bisa menahan adiknya, ia hanya menatap punggung Anya yang sudah semakin menjauh darinya.
Ia merasa adiknya itu sekarang sudah berubah, padahal dulu Anya adalah adik yang baik, patuh dan sangat menghormatinya bahkan dalam hal mengambil keputusan pun Anya selalu meminta saran dan pendapat dari Gio selaku orang yang paling dekat dan penting dalam hidupnya.
Di sebuah sudut lain yang tidak terlalu jauh dari posisi mereka tadi, sudah ada Asty yang masih mencerna setiap perkataan yang Gio dan Asty ucapkan.
Kebetulan tadi Asty hendak melintas di sekitar sana, namun ketika ia tidak sengaja mendengar pembicaraan kakak beradik itu membuatnya terhenti.
Betapa terkejutnya ia sangat mengetahui jika Anya tinggal satu rumah dengan Meisya, hal itu sekaligus menunjukkan berarti Anya juga tinggal serumah dengan Elvira dan otomatis Elvira pasti mengenal Anya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari itu, Asty masih terlihat sibuk membaca sebuah buku yang lumayan tebal di kamarnya.
Ia sudah berusaha menepis pikiran untuk ingin lebih tahu lagi tentang hal yang sempat ia dengar tadi, namun rasa penasaran Asty membuatnya jadi merasa tidak nyaman jika ia tidak menghubungi Elvira untuk menemukan jawaban dari rasa penasarannya.
Asty lalu menutup bukunya dan segera meletakkan di atas meja belajar, ia lantas mengambil ponsel dan menekan panggilan untuk nomor telepon Elvira.
Saat itu Elvira sedang menyetir mobilnya dalam perjalanan hendak pulang, ia mendapati ponselnya berdering karena ada panggilan dari Asty.
“Iya Kak?”
“Elvira, kamu di rumah?” tanya Asty di sambungan telepon.
“Belum Kak, aku masih di jalan pulang.”
“Kamu pulang malam?” Asty langsung khawatir.
“Iya, tadi ada sedikit pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Ada apa Kak?” tanya Elvira sambil terus fokus menyetir.
“Elvira, Kakak mau tanya sesuatu sama kamu. Apa kamu mengenal Anya? Dia asistennya mama mertua kamu kan? Apa benar dia tinggal di rumah kalian?” tanya Asty meluapkan rasa ingin tahunya.
Mendengar rentetan pertanyaan tersebut membuat Elvira tertegun, ia terlihat berpikir sejenak untuk menjawabnya.
Akan tetapi tiba-tiba Elvira melihat seorang anak kecil yang berlari di depan mobilnya sontak membuatnya segera menginjak rem mendadak.
Setelah mobil dipastikan sudah berhenti total, Elvira terlihat panik dan hal itu disadari oleh Asty yang masih aktif di seberang telepon.
“Elvira, kamu kenapa?! Kamu tidak apa-apa kan?” tanya Asty terdengar mencemaskannya.
__ADS_1
Bersambung ...