
Menyadari kehadiran mama mertuanya dengan raut wajah penuh amarah, Elvira sudah tahu jika Meisya pasti akan memakinya lagi.
“Kenapa kamu masih berada di sini setelah apa yang sudah kamu lakukan, kamu puas sekarang? Dulu kamu membuat aku kehilangan sosok putraku yang penurut karena dia lebih memilih menikahi kamu, sekarang kamu membuat ku kehilangan putraku untuk selamanya!” sergah Meisya dengan nada tinggi penuh emosi.
“Ma, aku juga sangat kehilangan mas Daffin.”
“Pergi kamu dari sini! Aku tidak mau lagi melihat wajah kamu ada di rumah ini!” usir Meisya tiba-tiba.
“Meisya! Apa-apaan kamu!” sela Dewanti yang mendengar kerasnya suara Meisya.
Saat tadi melihat Meisya berjalan dengan terburu membuat Dewanti yang turut melihatnya dari arah sudut ruangan lain merasa ingin menegurnya, namun ternyata Meisya kembali memarahi Elvira.
“Ma, semua gara-gara dia aku kehilangan putraku! Aku tidak ingin melihatnya ada di rumah ini lagi.”
“Meisya, sadar! Tidak ada yang perlu disalahkan. Elvira bukan penyebab dari semua ini,” bela Dewanti.
“Ma, dia sudah membuat aku kehilangan putraku! Kita tidak tahu apa yang sedang direncanakannya. Aku mau dia pergi dari sini, untuk apalagi mempertahankannya di sini?!”
“Bagaimana kamu bisa mengatakan hal demikian tanpa pernah tahu apa yang telah terjadi dengan anak-anak kamu? Apa kamu tahu karena kecelakaan itu Elvira juga harus mengalami keguguran? Dia kehilangan calon anaknya, calon cucu kamu! Apa kamu pernah peduli? Apa kamu pernah tahu apa yang telah diperbuat Daffin terhadapnya?” celetuk Dewanti yang mampu membungkam Meisya.
“Cukup!” teriak Elvira yang sudah jengah melihat Dewanti dan Meisya yang selalu berdebat karena dirinya.
“Ma, Mama pernah mau memikirkan tidak? Aku juga sangat menderita karena kehilangan mas Daffin dan anakku. Kalau Mama menginginkan aku pergi dari rumah ini. Baik, aku akan pergi, karena memang dari dulu aku merasa harusnya aku sudah meninggalkan rumah ini,” ujar Elvira yang sudah sangat putus asa.
“Iya, lebih bagus jika kamu pergi sekarang juga!” sahut Meisya.
“Tidak Elvira! Tidak ada yang akan pergi dari rumah ini!” tahan Dewanti.
“Biarkan aku pergi, Oma,” lirih Elvira.
“Tidak! Kamu tidak boleh pergi dari sini. Kamu menantu di rumah ini, selamanya akan tetap menjadi bagian dari keluarga ini,” tegas Dewanti.
“Tapi, Ma. Bagaimana bisa dia tetap di sini ?” Meisya tetap ngotot tak terima.
“Kamu masih punya perasaan atau tidak? Kamu tahu kan Elvira hanya hanya memiliki kita sebagai keluarganya? Sejak hari kepergian Daffin, Mama sudah berjanji pada diri Mama sendiri kalau Mama akan menjaga Elvira selayaknya cucu Mama sendiri.”
“Mama! Bagiku dia bukan lagi bagian dari keluarga kita!” bantah Meisya yang emosinya sudah tak terkendali lagi.
“Apa? Kamu belum bisa terima kenyataan? Daffin sendiri yang memilihnya untuk menjadi bagian dari keluarga ini. Sekarang walaupun Daffin sudah tiada, Elvira akan tetap berada di sini. Tanpa seizin ku, tidak ada yang bisa mengusirnya sekalipun itu kamu, Meisya.”
Puas memperingatkan Meisya, Dewanti lalu mengajak Elvira pergi meninggalkan Meisya yang masih diselimuti amarah yang membara.
Tanpa mereka sadari, ternyata dari tadi Nevan yang baru memutuskan untuk pulang ke rumah langsung disuguhkan oleh pertengkaran mereka.
...----------------...
Meninggalkan perdebatan yang menguras emosi, kini Elvira dan Dewanti sedang bersantai di taman hijau belakang rumah mereka.
Dewanti dengan senyum ramahnya menatap Elvira dengan penuh perhatian sembari memegang tangan Elvira untuk menguatkannya setelah apa yang terjadi.
“Oma, maafkan aku ya. Sejak kehadiran aku di keluarga ini, Oma jadi sering berantem sama mama Meisya,” ucap Elvira.
“Ini bukan salah kamu, sejak dulu Meisya memang pembawaannya keras dan agak susah jika dibilangi. Tapi kamu harus tetap sabar ya, Oma tidak mau kamu meninggalkan rumah ini. Jadi jangan pernah lagi berpikir untuk pergi dari sini. Setidaknya pikirkan lah Oma.”
“Oma, terima kasih ya, Oma sangat baik sama aku. Maaf karena aku tidak bisa melindungi mas Daffin, gara-gara aku dia harus pergi untuk selamanya,” sesal Elvira.
__ADS_1
“Sayang, sudah. Jangan menyalahkan diri kamu, Oma sudah tahu semuanya. Sakti sudah cerita sama Oma. Meski Oma juga sangat kehilangan Daffin, tapi Oma bangga dia menjadi pria sejati di akhir hidupnya karena dia lebih rela kehilangan nyawanya sendiri demi menyelamatkan kamu, istri yang sangat dicintainya. Terlepas dari kesalahan yang pernah dia lakukan sama kamu, Oma mohon, tolong maafkan dan ikhlas kan dia.”
“Iya Oma. Aku tidak akan pernah melupakan segala yang telah dia berikan untukku.”
“Kamu harus bisa dengan lebih baik, jangan sia-siakan hidup kamu. Segala kedukaan yang paling menyiksa hati sekali pun pasti akan segera berlalu seiring berjalannya waktu. Cukup simpan dia dalam hati kamu dan biarkan dia pergi dengan tenang.”
“Iya Oma.”
Elvira sangat terharu karena Dewanti begitu menyayanginya, ia benar-benar bersyukur masih memiliki oma Dewanti dalam hidupnya.
“Oma tinggal dulu ya, kamu nikmati saja waktu bersantai di sini. Ingat, bersedih boleh, tapi jangan sampai putus asa. Jangan pernah lagi berpikir untuk meninggalkan Oma, mengerti?”
Elvira mengangguk paham.
...----------------...
Sementara itu di ruangan lain, Meisya terkejut melihat Nevan yang baru saja menuruni anak tangga rumah sambil membawa sebuah koper.
“Nevan, kapan kamu pulang?” tanya Meisya yang tidak melihat kedatangan putra bungsunya itu ke rumah.
“Sebenarnya dari tadi, Ma,” jawab Nevan.
Lalu Meisya memperhatikan di tangan Nevan yang membawa koper tersebut.
“Kamu mau ke mana?”
“Aku mau ke apartemenku, Ma. Aku sudah memesan tiket keberangkatan besok ke Amerika.”
“Apa? Kamu mau meninggalkan Mama lagi? Tidak Nevan! Jangan pergi lagi.” Meisya memegangi tangan Nevan mencoba menahannya.
“Tidak bisa, Ma. Aku harus kembali ke sana. Aku mungkin akan merasa jauh lebih baik jika tinggal di sana.”
“Mama tidak akan izinkan kamu, kamu kan sudah berjanji tidak akan kembali ke sana. Nevan, Mama mohon. Jangan tinggalkan Mama lagi,” lirih Meisya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Ma, aku ...”
“Mama tidak mau dengar apapun, Mama hanya mau kamu tetap di sini. Tolong jangan pergi, ya.”
Melihat Meisya bertingkah seperti itu membuat Nevan merasa tidak tega. Setelah kepergian kakaknya, ia seperti tidak memiliki alasan lain lagi untuk tetap tinggal di sini.
“Nevan, kamu mau ke mana?” tanya Dewanti yang mengerutkan kening saat melihat Nevan dengan kopernya itu.
“Ma, aku mohon. Tolong jangan biarkan Nevan pergi,” pinta Meisya kepada Dewanti.
“Kamu mau kembali ke Amerika?” tanya Dewanti kepada Nevan.
“Iya, Oma.”
“Kamu sudah cukup membuat Oma khawatir beberapa hari ini karena tidak memberi kabar, lalu sekarang kamu pulang ke rumah hanya untuk mengemasi barang dan hendak pergi lagi? Bagaimana bisa kamu pergi? Oma tidak akan izinkan. Tetaplah di sini, Oma mohon.”
Melihat ekspresi dari Dewanti tambah membuat Nevan semakin tidak tega untuk tetap pergi.
“Tapi Oma, aku nanti pasti akan ke sini menjenguk kalian sesekali. Kita juga bisa sering memberi kabar lewat telepon.”
“Tidak, Oma tetap tidak bisa lagi membiarkan kamu pergi. Ada apa dengan kalian hari ini? Setelah kepergian Daffin, Elvira juga hendak memilih pergi, sekarang kamu juga. Kalian mau meninggalkan Oma?”
__ADS_1
“Tidak seperti itu, Oma.”
“Pokoknya, jangan pergi,” pinta Dewanti dengan lirih.
Nevan menghela napas, lalu ia tampak merenung sejenak. “Baiklah, aku akan tetap di sini. Tapi, aku mohon izinkan aku untuk tinggal di apartemen saja.”
“Kenapa Nevan?” tanya Oma.
“Tidak apa-apa, itu akan jauh lebih baik. Mama tahu kalau kamu pasti tidak akan mau kan satu atap sama kakak ipar kamu itu? Mama izinkan kamu tinggal di apartemen yang penting kamu jangan kembali ke Amerika,” kata Meisya. Dewanti pun akhirnya menerima saja alasan itu.
“Oma anggap alasan kamu lebih memilih tinggal di apartemen karena kamu menghargai kakak ipar kamu, bukan membencinya,” pungkas Dewanti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat terpisah, saat itu Asty yang sedang duduk ditemani Raldy di rumahnya terlihat masih saja gelisah memikirkan tentang Elvira karena ia belum mendapat kabar apapun darinya.
Asty turut ikut merasakan kesedihan yang dialami adiknya yang baru saja kehilangan suaminya itu.
“Pasti sekarang Elvira lagi sangat bersedih,” tebak Asty.
“Dia pasti akan baik-baik saja.” Raldy mencoba menenangkannya.
“Raldy, aku tahu bagaimana adik aku itu. Dia tidak sekuat kelihatannya. Aku berharap keluarganya saat ini bisa menjaganya dengan baik.”
Widya yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka dari kejauhan hanya memilih berdiam diri saja.
Meski Asty sering memberitahukan kabar tentang Elvira yang sering Asty pantau dari sosial media, Widya memang berusaha bersikap sewajarnya saja walaupun tidak bisa ia bohongi jika ia memang sesekali pernah memikirkan anak itu dan turut bersedih atas apa yang menimpanya.
Ia hanya selalu berharap agar Elvira dalam keadaan baik-baik saja dan selalu kuat dalam menghadapi permasalahan apapun dalam hidupnya. Mungkin ini adalah hal kecil yang bisa ia lakukan untuk putri angkatnya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah kamar indekos.
Anya duduk merenung di ujung tempat tidurnya yang terlihat berantakan, setelah kehilangan harapannya untuk bersama Daffin membuatnya menutup diri menyesalkan yang telah terjadi.
Ia tak ubahnya seperti seorang yang sedang depresi terlebih karena kini ia dalam keadaan mengandung.
Bagaimana bisa menghadapi kenyataan seperti ini, orang-orang di sekitarnya seperti keluarga dan teman-temannya bahkan mengenalnya sebagai perempuan yang belum menikah. Sementara perlahan tapi pasti perutnya akan mulai membuncit, bagaimana juga ia akan terus menutup diri dari keluarganya.
Meninggalkan perusahaan besar seperti Arkatama grup tak lantas membuat Anya senang karena selama ini ia membangun karir dan mimpinya di sana. Akan tetapi kali ini tujuan hidupnya seakan berubah haluan setelah apa yang terjadi kepadanya.
Anya lalu melirik ke atas kursi yang terletak di dekat tempat tidur, terdapat selembar kertas yang bertuliskan hasil pemeriksaan dari dokter kandungan yang baru dikunjungi beberapa hari lalu untuk mengetahui perkembangan tentang keadaan janin yang dikandungnya saat ini.
Anya pun mulai memikirkan sesuatu, ia lalu menyeka bulir air mata yang sudah menggenang sejak tadi di pelupuk matanya.
“Istrinya mungkin masih bisa hidup dengan layak setelah kepergiannya, lalu bagaimana dengan aku? Kenapa harus aku yang menderita seperti ini?” Anya merenung dalam keputusasaannya.
Kepergian Daffin untuk selamanya sudah cukup menghancurkan hidupnya, sekarang ia hanya memikirkan bagaimana caranya memperjuangkan hak anak yang ada di dalam kandungannya.
Bersambung ...
__ADS_1