Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 101-- Ke Panti


__ADS_3

“Bu Rani!” sapa Elvira yang memanggil namanya dari kejauhan.


Wanita itu segera menoleh dan membalas senyuman Elvira.


“Kamu kenal?” tanya Widya tampak sangat bingung.


“Iya Bu. Beliau salah satu pemilik panti asuhan yang kebetulan pernah dibantu oleh yayasan ku.” Elvira menjelaskan.


Rani yang tadi langsung memutuskan untuk menghampiri Elvira setelah melihatnya, rupanya langkahnya segera tiba di dekat mereka. Elvira dan Widya segera berdiri dari kursi mereka.


Elvira menyambutnya dengan ramah. “Apa kabar, Bu?”


“Baik, Nak. Kamu bagaimana?” tanya Rani balik.


“Seperti yang Ibu lihat, saya juga baik.”


Sementara mereka berbincang, Widya masih saja merasa heran melihat keakraban yang ditunjukkan mereka.


Sapaan hangat dari Rani kepadanya lalu terdengar oleh Widya, membuatnya segera menepis lamunan.


Melihat wajah itu secara langsung, bagi Widya mengingatkannya seperti melihat Kirana. Meski sebuah peristiwa sudah berselang sangat lama, kecantikan wajah wanita itu tak tergores zaman.


Namun kenyataan pada situasi yang tercipta saat ini, menunjukkan ini pertama kalinya mereka bertemu.


“Oh ya, ini ibu saya,” ujar Elvira memperkenalkan Widya.


“Halo, Bu. Saya Rani.” Wanita itu mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


Meski sempat ragu, Widya akhirnya menyambut tangannya.  Ia turut memperkenalkan diri. “Saya Widya.” Lalu ia segera melepas tangannya.


Widya kembali memandangi wajah itu, matanya belum mampu teralihkan, membayangkan pertemuan mereka pada masa silam.


Satu kenyataan yang harus ia terima, inilah wajah yang ternyata dicintai oleh suaminya. Bukan salah wanita itu sepenuhnya, sebenarnya Widya lah yang hadir di tengah mereka.


Widya tahu Kirana adalah cinta pertama suaminya, dan kehadirannya telah menjadi hambatan bagi hubungan mereka berdua, karena perjodohan kedua orang tuanya dengan orang tua Hilman.


Widya pikir ia bisa menjadi pengganti untuk Hilman, namun ternyata hanya wanita itu yang ada di hati suaminya, hingga keduanya harus menjalin hubungan di belakang Widya.


Memang, dalam kisah ini bukan hanya Widya yang merasa tersakiti. Ia juga sadar setelah mencoba berdamai dengan keadaan saat ini, bahwa ia juga merasa menyesal karena banyak menghabiskan waktu untuk membenci wanita itu.


Hal inilah yang ingin ia utarakan kepada Elvira, ia tidak ingin menggiring kebencian lagi untuk Kirana. Karena selama ini Elvira hanya mengetahui, jika ibu kandungnya lah yang telah menjadi perusak dalam kehidupan Widya dan Asty.


Tanpa Widya sadari, wajahnya yang menekuk dengan pikiran membangkitkan ingatan masa lalu, kini di perhatikan oleh Rani. Mencuatkan rasa penasaran di hatinya yang lebih peka, namun Rani segera menepis rasa keingintahuan lebih lanjut.


Ia lalu berinisiatif membuka pembicaraan. “Ehm, saya sebenarnya dari kemarin mencari tahu tentang alamat toko kue ini. Tapi akhirnya baru bisa pergi kesini hari ini.”


Lamunan Widya kembali terlerai. Meski pikirannya mengambang, ia masih bisa dengan jelas mendengar perkataan Rani.


“Oh begitu?” Widya menyahut sekenanya.


“Iya, kebetulan waktu itu anak saya banyak banget membeli kue disini. Saya sangat suka, rasanya enak sekali, Bu. Makanya saya ingin membeli lagi, beruntung saya mengingat nama brand toko Ibu yang ada di kemasan.”


“Oh, iya. Terima kasih,” ucap Widya.

__ADS_1


“Saya kayaknya mau beli agak banyak, sekalian buat anak-anak di panti. Nanti saya pasti akan rekomendasikan kepada teman-teman saya juga.”


Widya hanya mengiyakan, merasa masih harus menguasai diri dari berbagai gejolak perasaan yang berkecamuk dalam dada. Siapa sebenarnya wanita ini? batinnya.


Widya lalu menoleh ke arah putrinya.


“Elvira, mengobrolnya nanti saja ya. Ibu lupa masih ada yang harus Ibu kerjakan,” dalih Widya. “Kamu juga bukannya harus bekerja, kan?”


Sebenarnya ia merasa cukup syok hari ini, rasanya hanya ingin buru-buru untuk mengisolasi diri.


“Ya sudah, tidak apa-apa, Bu. Nanti aku kesini lagi,” sahut Elvira. “Tapi Ibu jangan sampai kelelahan, ya.”


Widya segera meninggalkan mereka. Sedangkan Elvira tampak masih berbincang santai dengan Rani.


“Ibu sendirian aja?” tanya Elvira.


“Iya, Nak.”


“Kalau gitu, gimana nanti biar saya antar saja?” tawar Elvira. “Saya juga rasanya sudah lama tidak berkunjung kesana. Kangen juga sama anak-anak.”


“Apa tidak merepotkan?”


“Ah, tidak kok Bu. Di kantor juga sedang tidak banyak kerjaan.”


“Kebetulan suami Ibu lagi ada di rumah, nanti sekalian Ibu kenalkan ya. Dia pasti sangat senang karena berkenalan dengan Nak Elvira.”


Beberapa saat kemudian, Elvira dan Rani sudah keluar dari toko dengan banyak tentengan tas belanja di tangan mereka. Mereka segera pergi dengan mobil Elvira.


Anya yang saat ini sedang mengikuti mereka, merasa kesal sendiri karena ia baru melihat Elvira pergi bersama Rani. Kehadiran Rani di toko itu juga tak terduga oleh Anya.


Awalnya sejak Elvira baru meninggalkan kediaman Arkatama, Anya yang sudah stand by di dalam mobil taksi memutuskan untuk mengikutinya.


Tadinya ia berpikir untuk menemui Elvira, karena masih memiliki kekesalan yang harus diungkapkan.


Saat tiba di kediaman Widya pun, Anya masih memikirkan cara untuk membalas Elvira. Ia bahkan sudah keluar dari taksi hendak menemui ibu dan anak itu bersamaan.


Hanya untuk mengungkapkan tentang dirinya yang selama ini disembunyikan Elvira dari Widya. Berharap ia akan bisa menimbulkan keributan bagi hubungan baik Widya dengan keluarga Arkatama.


Namun saat melihat Rani baru keluar dari sebuah taksi, Anya mengurungkan niatnya.


Kini kekesalannya bertambah setelah mendapati kebersamaan ibunya dengan Elvira. Padahal Anya sudah memperingatkan Elvira agar menjauhi keluarganya.


Ternyata benar saja seperti dugaan Anya, Elvira mengantar Rani ke rumah panti. Elvira juga terlihat masuk ke dalam rumah dan tampak disambut anak-anak dengan raut penuh kegembiraan di wajah mereka.


“Elvira!!!” desis Anya menyebut nama itu dengan sejuta dendam.


Melihat kehidupan Elvira yang penuh perhatian dari orang-orang, membuat kebenciannya tak terbendung lagi.


Bahkan saat ini, kehadiran Elvira seolah menjadi cahaya bagi kehidupan keluarganya. Sedangkan dirinya di keluarga Arkatama, seperti sudah tidak memiliki tempat lagi.


...𖠇𖠇𖠇...


“Mas,” panggil Rani yang menemui suaminya sedang sibuk dengan beberapa peralatan tukang.

__ADS_1


Pria itu segera menghentikan kegiatannya yang tampaknya sedang memperbaiki sesuatu.


“Sudah pulang?” sapa Arga pada Rani.


Pandangannya langsung tertuju pada Elvira, yang terlihat dari kejauhan sedang bercengkerama dengan anak-anak.


“Iya, Mas. Bagaimana? Sudah selesai?” tanya Rani melihat sekilas, sebuah meja kayu yang ada di dekat Arga.


Arga turut memperhatikan benda yang tadi dalam pengerjaannya, lalu ia segera berdiri. “Sudah hampir selesai. Kerusakannya tidak terlalu parah, untungnya masih bisa diperbaiki,” jawabnya. “Oh ya, Bu. Siapa?” tanya Arga melirik ke arah Elvira.


“Oh, dia yang sering aku ceritakan tempo hari, nanti aku kenalkan sama Mas.”


...𖠇𖠇𖠇...


Elvira menyambut Rani dan Arga yang baru saja menemuinya. Saat ini mereka sudah duduk bersama di sebuah ruang tamu khusus, pada ruangan pribadi Rani.


Sajian teh hangat serta beberapa jenis kue, turut menjadi saksi kehangatan suasana yang tercipta disini.


Elvira dengan ramah menyambut tangan Arga yang mengajaknya bersalaman, saat mereka saling memperkenalkan diri.


“Saya banyak mendengar dari istri saya tentang Nak Elvira, yang sudah banyak membantu panti ini. Saya benar-benar senang bisa bertemu, dan mengobrol langsung dengan Nak Elvira,” ungkap Arga terkesan segan.


“Saya juga senang bisa mengobrol dengan Bapak, saya selalu merasa jika orang-orang disini rasanya sudah seperti keluarga bagi saya.”


“Kalau begitu, anggap saja disini juga keluarga bagi Nak Elvira.” Rani turut menyahut.  


Elvira mengiyakan seraya memberinya senyum simpul. Pandangannya tiba-tiba teralihkan pada sebuah foto yang terpajang rapi di salah satu sudut dinding.


Elvira terpaku sejenak melihat hal yang menarik perhatiannya. Sedangkan Rani turut mengikuti arah pandangannya.


“Itu foto Ibu dengan saudara kembar Ibu, baru kemarin Ibu pajang disana.” Rani menjelaskan, seolah mengerti hal yang mungkin akan dipertanyakan Elvira.


“Oh gitu?” Elvira merasa cukup terkejut dengan hal yang baru ia ketahui.


“Tapi, kakak dari Ibu itu sudah lama sekali meninggalkan dunia,” ungkap Rani. "Baru-baru ini sebenarnya peringatan hari kepergiannya, makanya Ibu jadinya terkenang saja. Ternyata sudah lama sekali dia meninggalkan kami."


Guratan sisa kesedihan mulai tergambar di wajahnya. Nampaknya mengingat tentang saudaranya itu, selalu menimbulkan rasa penyesalan di hatinya.


Melihat wajah sendu istrinya, Arga berinisiatif mengubah arah pembicaraan.


“Ya sudah, kalau begitu silahkan Nak Elvira, teh nya diminum dulu,” ajak Arga mempersilakan, mencoba membangkitkan kembali suasana hangat kebersamaan mereka.


...𖠇𖠇𖠇...


Sebuah mobil melaju di keramaian arus lalu lintas, Elvira kembali mengendarai mobilnya, membelah jalanan setelah selesai berkunjung dari panti.


Terdengar bunyi notifikasi pesan dari ponselnya, yang mengalihkan perhatiannya. Ia mengambil ponsel yang terletak di dasbor, matanya fokus pada nomor sang pengirim pesan.


Temui aku, ada hal yang harus kita bicarakan.


 


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2