
Anya yang sudah bersiap dengan baju kerjanya memperhatikan ke arah Dewanti yang sedang duduk sendiri sembari membaca koran. Ia merasa harus mendapatkan maaf dari Dewanti.
Namun saat ia hendak melangkah tiba-tiba sudah ada Elvira yang lebih dulu menghampiri Dewanti.
“Oma, aku berangkat ke kantor ya,” ujar Elvira.
“Iya, Sayang. Hati-hati.”
“Oma, Elvira.” Anya menyapa mereka dan langsung mengalihkan perhatian keduanya.
“Masih berani kamu menunjukkan diri di hadapan Elvira?” ketus Dewanti.
“Aku benar-benar minta maaf atas perbuatan ku, aku mengaku salah. Aku sebenarnya hanya ingin mendapat perhatian saja seperti kalian memperhatikan Elvira,” tutur Anya dengan wajahnya yang polos, berbanding terbalik saat ia berhadapan hanya dengan Elvira.
“Tidak perlu membela diri,” sahut Dewanti.
“Elvira, tolong maafkan aku.”
“Sudah lah, tidak apa-apa.” Lalu Elvira segera pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seorang wanita paruh baya tiba-tiba membuka sebuah pintu kamar yang memang tidak dikunci membuat seorang perempuan yang ada di dalam kamar tersebut merasa terganggu karena ia masih saja ingin lanjut tidur.
“Melody!” panggil Hannah--mamanya sambil menarik selimut yang saat ini membalut tubuh putrinya tersebut.
“Mama kenapa sih menggangguku, aku masih ingin tidur,” gerutu Melody dengan rambutnya yang masih berantakan.
Ia membawa diri untuk segera duduk karena kesal telah diganggu.
“Ini sudah jam berapa? Mama menyuruh kamu kembali bukan untuk tidur bermalas-malasan!”
“Terus mau Mama apa? Menyuruhku mendengar ocehan Mama tentang papa sambung ku itu?!”
__ADS_1
“Kamu tidak lihat wajah Mama stres hampir setiap hari menghadapi kelakuannya. Mama mulai jengah, Melody,” ungkap Hannah yang kini duduk di tempat tidur putrinya.
“Terus Mama menyuruhku pulang hanya untuk mendengarkan curahan hati Mama setiap saat?”
“Kamu ya! Mama menyuruh kamu ke Paris untuk bekerja dan berkarir, bukan malah sibuk berfoya-foya menghamburkan uang,” omel Hannah.
“Mama yang memaksa aku untuk ke sana, aku sama sekali tidak berkeinginan untuk bekerja di sana. Jadi bukan salahku jika aku akan terus meminta uang ke Mama untuk membiayai hidupku di sana.”
“Melody, kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan? Kalau bukan Mama yang membersihkan perbuatan kamu, Mama tidak tahu apa yang akan terjadi kepada kamu selanjutnya.”
Mendengar perkataan mamanya membuat Melody terdiam sejenak mengingat sesuatu.
Memori pikirannya lalu membawanya ke sebuah peristiwa yang terjadi sekitar lima tahun lalu tentang kematian kakak tirinya yang bernama Suci.
Sebelumnya Hannah baru beberapa tahun menikahi Tora yang merupakan seorang pengusaha kaya. Tora memiliki seorang putri bernama Suci yang selisih usia tidak jauh lebih tua dari Melody. Suci merupakan anak Tora dari pernikahan sebelumnya.
Karena ketamakan Hannah dan Melody yang menikmati hidup bergelimang harta membuat mereka akhirnya berkeinginan untuk menguasai harta dan mengambil alih perusahaan Tora.
Namun suatu ketika perempuan yang bernama Suci mendengar rencana mereka tersebut jadi marah besar karena harta yang mereka nikmati saat itu merupakan peninggalan dari mendiang ibunya yang berhasil di ambil alih oleh Tora.
Suci yang memperhatikan sembari merekam pembicaraan mereka lalu langsung melabrak keduanya hingga terjadi pertengkaran hebat.
Saat itu, Melody yang geram dengan bentakan dan makian Suci terhadap mereka langsung merebut ponsel milik Suci yang berisi rekaman pembicaraan mereka tersebut, hingga terjadi perebutan di antara keduanya.
Tanpa sengaja Melody mendorong Suci hingga terjatuh dari tangga rumah yang tinggi sampai akhirnya mereka mendapatinya yang sudah berlumuran darah dan sudah dalam keadaan tidak bernapas.
Saat itu Melody yang memegang kepala Suci langsung histeris saat melihat tangannya sudah berlumuran dengan darah hingga ia merasa sangat ketakutan dan frustasi karena hasil perbuatannya membuat kakak tirinya kehilangan nyawa.
Sejak itu, Hannah memikirkan cara untuk menutupi perbuatan mereka dan memanipulasi kejadian seolah Suci terjatuh sendiri dengan menghilangkan semua bukti yang memungkinkan.
Namun karena melihat keadaan Melody yang tidak bisa mengendalikan diri akhirnya membuat Hannah memutuskan untuk mengirimnya ke luar negeri karena bisa saja dari sikap Melody tersebut akan memancing orang untuk curiga kepada mereka.
“Ma, sudah ku bilang aku tidak sengaja melakukannya. Arrghh, sial! Itu sudah berlalu lima tahun yang lalu, tapi aku masih saja merasa ketakutan setiap mengingatnya! Kenapa Mama malah menyuruhku kembali!” umpat Melody merasa sangat kesal.
__ADS_1
“Sudah jelas, keuangan Mama tidak sanggup lagi untuk membiayai hidup kamu selama di sana. Lagi pula, ini kan sudah lima tahun. Mama pikir tidak masalah jika kamu kembali lagi ke sini.Kamu harus membantu Mama untuk mengatasi papa kamu.”
Melody lalu mengacak rambutnya dengan kasar, tersirat rasa penyesalan dari raut wajahnya kala mengingat perbuatannya di masa lalu yang sampai saat ini jika ia masih bisa membayangkan peristiwa itu dengan jelas, dan itu membuatnya sangat frustasi.
“Melody, Sayang. Kamu harus bisa bersikap lebih tenang, orang-orang tidak akan mengingat lagi kasus yang telah lama. Kamu harus mengendalikan diri kamu.” Hannah merangkulnya mencoba menenangkan.
“Ma, aku tidak ingin ada orang yang mengetahui yang sebenarnya terjadi pada peristiwa itu, aku takut.”
“Kamu tenang saja, Mama sudah membersihkan semuanya. Satu-satunya saksi adalah Taslim, tapi dia orang kepercayaan Mama. Kamu tenang saja.”
“Kak Suci, astaga, dia bahkan sudah lama tiada tapi aku malah seakan tidak bisa hidup dengan tenang,” gumam Melody begitu mengingat wajah perempuan itu.
“Sayang, sekarang, bersikaplah seperti biasanya. Kamu ingat kan bagaimana harusnya kamu bersikap di depan orang-orang? Kamu adalah perempuan yang baik, ramah, dan penuh keceriaan. Kamu harus ingat itu, bersikaplah seperti itu seterusnya. Kamu mengerti?”
“Iya, Ma.”
“Hannah! Di mana kamu?!” terdengar suara teriakan dari seorang pria dari arah luar kamar Melody.
“Aku benar-benar sudah tidak tahan melihat kelakuan pria itu! Hampir setiap hari dia selalu saja minum-minum,” gerutu Hannah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gio menatap nanar ke arah sebuah makam yang ada di depannya saat ini, sudah lama sekali rasanya ia merasa kesepian setelah sepeninggal orang yang sangat dicintainya itu.
Ia membelai batu nisan berukiran nama Suci Adelina di atasnya dengan penuh kasih sayang sembari membayangkan wajah cantik dari perempuan tersebut saat mereka masih bersama dahulu.
Pikirannya lalu menerawang betapa ia merasakan sesak di dadanya tatkala menerima kabar tentang kepergian kekasihnya tersebut secara mendadak saat ia masih menyelesaikan pendidikan lanjutannya sebagai perwira polisi di luar daerah.
Bahkan sampai saat ini masih saja merasakan pahitnya kehilangan dan rasa sesal karena tidak bisa menemui Suci lagi untuk selamanya.
“Maaf ya, aku baru saja datang ke sini. Aku kangen banget sama kamu.” Suara Gio terdengar lirih.
Sejak kepergian Suci lima tahun yang lalu ia bahkan belum bisa melupakannya dan hanya bisa bertahan sembari menata hati yang hancur berkeping-keping.
__ADS_1
“Sekarang aku sudah kembali lagi ke sini, aku pasti akan sering-sering datang ke sini,” ujar Gio tersenyum seolah sedang berbicara dengannya.
Bersambung ...