
Olla mengambil ponselnya yang ia simpan dalam tas dan mencoba menghubungi nomor Elvira, akan tetapi tetap tidak tersambung.
“Apa yang terjadi dengannya?” Olla menggumam sendiri, rasa kekhawatirannya tak bisa ia sembunyikan.
“Kalau begitu akan mencoba mencarinya,” ujar Olla hendak berpamitan.
“Tunggu,” tahan Sakti membuat Olla menghentikan langkahnya. “Kamu tahu tempat-tempat yang biasa dia datangi?”
“Tidak juga sih, tapi aku akan coba mendatangi tempat-tempat yang dulu biasa aku kunjungi bersamanya. Siapa tahu aku bisa menemukannya disana.”
“Mau mencari bersama?” ajak Sakti, membuat Olla mengerjap menatapnya. Lidahnya terasa kelu untuk bisa langsung menjawabnya.
“Oma Dewanti sangat mengkhawatirkannya, mereka memintaku segera menemukan dan membawanya kembali pulang. Aku pikir kita bisa bekerja sama mencarinya,” pungkas Sakti.
“Baiklah.” Olla setuju begitu saja, rasanya ia bagai terhipnotis hingga lidahnya dengan ringannya berucap mengiyakan.
“Kamu bisa ikut denganku, kita satu mobil saja. Dara, saya pergi dulu. Kalau ada informasi mengenai bu Elvira, beritahu saya.”
“Iya, Pak. Semoga ibu Elvira dalam keadaan baik-baik saja,” harap Dara.
...✼✼✼...
Sementara itu, Elvira yang baru terbangun dari tidur panjangnya masih terlalu lesu untuk bisa bangkit dari posisinya. Ia menghela napas sebentar seraya menatap langit-langit kamar yang tampak sederhana ini.
Jelas jauh sekali jika dibandingkan dengan kamar besar dan mewahnya di kediaman keluarga Arkatama, namun berada disini ia malah merasa nyaman dan tentram.
Untuk sejenak ia melupakan segala permasalahan yang terjadi dan seolah menjadikan tempat ini sebagai tempat pelarian yang paling aman, ia bahkan bisa tidur dengan pulas dalam kisaran waktu yang cukup lama.
Detik berikutnya, Elvira segera bangkit dan melirik ke arah jam digital di atas meja yang terletak tepat di samping tempat tidur. Matanya mendelik saat menemukan waktu menunjukkan sudah siang.
“Berapa lama aku tidur?” tanyanya pada diri sendiri.
Sebuah ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. Terlihatlah Widya masuk begitu pintu itu dibuka dari arah luar.
“Kamu sudah bangun?” tanya Widya.
“Bu, untuk sesaat rasanya aku menghilang dari kenyataan.”
“Kamu tidur sangat pulas, juga tidak bangun-bangun. Ibu sampai berpikir kamu pingsan, apa koma. Oh ya, ini hp kamu. Kemarin Ibu menemukannya di meja dekat TV, sudah Ibu isikan dayanya.” Widya menyerahkan benda pipih tersebut.
“Aku sampai lupa dengan hp-ku sendiri.” Elvira menyambut benda tersebut.
“Bagaimana keadaan kamu sekarang?”
“Sudah jauh lebih baik, Bu. Aku seperti baru mengisi energi lagi,” jawab Elvira sembari meletakkan ponselnya di atas meja.
“Kamu masih belum menyalakannya?” tanya Widya melirik ke arah ponsel tersebut.
“Hanya dengan mematikannya aku baru bisa menghilang dari kenyataan, Bu.” Elvira berucap terdengar seperti sebuah gurauan.
“Sekarang kamu sudah bangun. Nyalakan hp kamu, kembali lah hadapi kenyataan. Maka kamu akan bisa berdamai dengan diri kamu sendiri,” saran Widya.
Elvira hanya mengangguk ragu.
“Sayang, mereka pasti sedang mencemaskan kamu. Kamu tidak merindukan oma Dewanti? Pergilah kesana dan lihat keadaan oma. Bukan kah kamu pernah bilang saat kamu kesini, oma sudah dalam keadaan sadarkan diri?”
“Iya sih, Bu.”
“Temui oma Dewanti dan selesaikan permasalahan kamu dengan keluarga mereka. Bagaimanapun juga, mereka selama ini kan sudah menjadi keluarga kamu juga. Kalau kamu memang tidak bisa lagi tinggal disana, paling tidak kamu harus pergi baik-baik. Bukan dengan kabur seperti ini.” Widya menasehatinya.
__ADS_1
“Iya Bu, hari ini aku akan kesana. Aku harap Oma akan mengomeli ku saja daripada marah dalam diamnya.”
“Ya sudah, kamu mandi dulu. Kamu tidak apa-apa kan kalau harus memakai baju kakak kamu? Ukuran kalian kan hampir sama. Tapi Asty tidak punya dress bagus seperti yang kamu punya.”
“Ishh, Ibu. Aku bisa pakai baju apa saja. Aku akan pilih sendiri di lemari kakak nanti.”
“Tapi ingat, jangan di acak-acak. Dia bisa mengomeli kamu saat dia pulang nanti kalau dia menemui lemari pakaiannya berantakan.”
“Pokoknya aman, Bu.”
“Ibu tunggu di bawah ya, nanti kita makan bersama. Ibu sudah masak yang banyak.”
“Iya, Bu.”
...✼✼✼...
Sebuah mobil masih terus melaju memecah keramaian jalan raya kota, Sakti yang masih fokus menyetir dan Olla yang kini duduk di kursi penumpang sampingnya masih belum juga bisa menemukan titik terang keberadaan Elvira.
Sejak tadi mereka sudah mendatangi beberapa tempat kafe yang biasa Olla dan Elvira datangi dulu.
“Kita sepertinya tidak bisa menemukannya di tempat seperti itu deh,” pikir Olla.
“Lalu menurut kamu?”
“Dia bukan tipe orang yang senang nongkrong di kafe sendirian kecuali bersama seseorang, apalagi kafe kan tempatnya ramai. Dia itu tidak terlalu suka keramaian. Memangnya apa yang sudah terjadi sih?” tanya Olla tiba-tiba karena ia masih sangat penasaran dari tadi Sakti belum juga mau bercerita.
“Kamu yakin tidak pernah mengetahui apa-apa?”
“Iya. Makanya aku ingin mendengar dari kamu.”
Sakti lalu menceritakan sedikit tentang Elvira yang selama ini merahasiakan tentang asal usul serta keluarganya. Hal itu tentu saja sangat mengejutkan Olla karena ia pun tidak pernah mengetahui tentang keluarga Elvira, karena memang Elvira tidak pernah mau terbuka soal keluarganya selama berteman dengannya.
“Elvira selama ini tidak pernah berbagi tentang masalah pribadinya,” curhat Olla.
“Dia sepertinya tidak mau melibatkan orang lain dalam permasalahannya.” Sakti menimpali.
“Dia sepeduli itu sama orang lain, apalagi dengan orang yang dekat dan disayanginya. Dia satu-satunya orang yang paling mau mendengar segala keluh kesah ku, makanya aku sangat menyayanginya meski dia pernah kabur dariku.”
Sakti tersenyum sambil terus fokus melihat ke arah depan jalan.
“Kenapa?” tanya Olla heran dengan sikapnya.
“Kamu pasti selalu merepotinya dengan bercerita tentangku. Ya sedikit banyaknya, dia tahu tentang kita. Dia bahkan hampir menghajar ku setelah tahu kalau pria yang selama ini kamu ceritakan adalah aku.”
Mendengar penuturan Sakti membuat Olla merasa kalah telak, ia bungkam seketika menyadari kebodohannya selama ini di dalam kesalahpahaman.
“Ehm, jadi sebaiknya apa kita pergi ke tempat lain?” Sakti lalu mengalihkan pembicaraan.
“Kalau Elvira menghilang karena ada permasalahan, kita akan sedikit lebih sulit menemukannya. Setahu aku dia suka menyendiri ke tempat-tempat yang tidak biasa, jadi dia tidak mungkin pergi ke tempat yang biasa kami datangi seperti kafe, salon, bioskop. Apa mungkin dia pergi ke taman kota ya?” tebak Olla yang pikirannya mulai mumet saat ini.
“Taman kota kan tempat ramai,” bantah Sakti.
“Kamu sendiri masa tidak tahu dulu dia sering pergi kemana saat bersama suaminya, mungkin saja dia mengunjungi tempat itu lagi.”
“Kamu benar, kenapa aku tidak pernah kepikiran.” Sakti langsung mendapat bayangan sebuah tempat ketika Olla mengingatkannya tentang Daffin.
“Oh ya?”
“Makam suaminya.”
__ADS_1
Sakti langsung membanting setir untuk menuju lokasi tempat tersebut.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua nampak hanya membingung di tempat tersebut karena tidak juga menemukan keberadaan Elvira hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan kembali menuju parkiran mobil.
Sedangkan Olla kini melayangkan pandangannya ke berbagai arah dimana di sekitarnya sejauh mata memandang terdapat banyak makam yang penampakannya justru terlihat seperti sebuah taman dengan hamparan rerumputan halus menghijau yang terawat dengan baik. Ia yang pertama kali mengunjungi tempat ini malah tadinya berpikir ini bukan tempat makam.
“Ada apa?” tanya Sakti.
“Tempatnya bagus, seperti bukan area pemakaman biasa.”
Mereka berdua bahkan sejauh ini tidak sadar bisa bersama dalam satu waktu dan ruang seperti ini, keduanya bahkan mengobrol layaknya dua orang yang saling akrab.
Sesekali Olla menyadari Sakti memandanginya seraya masih terus berjalan berdua seperti ini, namun Olla segera menepis segala kecanggungannya. Ia mencoba tetap bersikap seperti tidak ada perasaan yang berkecamuk dalam dadanya.
...✼✼✼...
Di kediaman Bu Widya.
Elvira baru saja menyelesaikan makannya ditemani Widya yang sejak tadi memandangi penuh cinta karena Elvira makan dengan lahap.
“Kak Asty pulang jam berapa, Bu?” tanya Elvira.
“Hari ini, mungkin sekarang masih di pesawat. Kamu mau berangkat sekarang?”
“Iya, Bu. Aku sudah banyak merenung. Ibu benar, aku harus bisa berdamai dengan keadaan. Tapi, apa aku boleh bertanya sesuatu?”
“Iya, kamu mau bertanya apa?”
“Apa Ibu tahu dimana makam ibu kandung aku? Boleh kah aku pergi kesana?” tanya Elvira sedikit ragu.
Widya terdiam sejenak memikirkan perkataan Elvira, detik berikutnya Widya mengangguk penuh arti.
“Pergilah ke sana, bagaimanapun juga dia adalah perempuan yang telah melahirkan kamu. Kamu tidak boleh membencinya. Seberapa pun kamu menyesalkan takdir, tolong lapang kan hati kamu agar kamu bisa menerima semuanya dengan ikhlas.”
...✼✼✼...
Beberapa saat kemudian.
Setelah mendapat informasi dari Widya, Elvira kini sudah berada di depan sebuah makam yang bertuliskan nama Kirana sesuai petunjuk yang diberikan Widya yang ternyata makam ibu kandungnya ini tidak berjauhan dari area makam ayahnya.
Elvira duduk di sampingnya sembari memegangi batu nisan tersebut tak kuasa menahan tangisnya.
“Maaf kan aku, Bu,” ucap Elvira penuh dengan sesal karena ia sempat membencinya.
Masih dengan isak tangisnya, Elvira lalu menyandarkan kepalanya pada tulisan nama tersebut. Merenung beberapa saat, meresapi penyesalan serta membangkitkan rasa rindu pada sosok wanita yang bahkan ia tidak pernah melihat bagaimana parasnya.
...✼✼✼...
Nevan yang saat ini tengah melakukan pertemuan bisnis dengan beberapa perusahaan, masih berusaha tetap fokus memperhatikan beberapa perwakilan perusahaan lain menyampaikan presentasi di depannya.
Berkali-kali ia melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sampai detik ini ia belum juga mendapat kabar baik dari Sakti. Ia masih belum bisa melepaskan Elvira dari pikirannya. Nevan merasa gelisah karena waktu saat ini terasa bergerak lambat baginya.
Hingga beberapa saat kemudian, Nevan yang baru keluar dari ruangan pertemuan yang telah usai tampak pergi terburu-buru.
Saat sudah masuk ke mobil dan segera menjalankan laju mobilnya meninggalkan gedung perusahaan. Nevan memandangi sebentar ke arah ponselnya yang saat ini masih ia pegang lalu mencoba menekan kembali panggilan ke nomor Elvira.
Sorot matanya langsung berubah saat menyadari nomor yang dituju kini telah bisa dihubungi kembali, namun panggilan yang tersambung sepertinya belum juga mendapat jawaban dari sang pemilik nomor.
__ADS_1
Bersambung ...