
Elvira memberikan seutas senyuman seperti biasanya jika bertemu dengan Meisya meski ia tahu tidak akan pernah mendapat balasan serupa.
“Kamu berhadir disini?” tanya Meisya yang cukup terkejut akan kehadirannya.
“Iya, Ma.”
“Jangan bilang kamu berhadir kesini hanya untuk ingin tampil di media, secara acara hari ini banyak sekali kedatangan para wartawan,” tuduh Meisya terdengar menohok.
Sedangkan Anya yang turut melihat perlakuan Meisya terhadap menantunya sendiri hanya diam sambil sesekali tersenyum sinis, ia selalu merasa senang melihat Elvira mendapat perlakuan serupa dari Meisya yang tidak pernah ramah kepadanya.
“Tidak seperti itu, Ma. Aku tahu acara ini sangat penting buat Mama, aku datang untuk melihat betapa meriah dan mengagumkannya acara ini. Maaf tadi aku belum sempat menemui Mama karena aku pikir Mama pasti sangat sibuk.”
“Tidak perlu banyak alasan! Kehadiran kamu tidak akan mengubah apa pun. Beda halnya kalau kamu bisa membawa kembali putraku--Daffin ke hadapanku!” pungkas Meisya, lalu ia merasa harus segera berpaling dari menantunya ini.
Namun diluar dugaan Meisya ternyata saat ini banyak wartawan dari berbagai media tengah bergegas menghampirinya karena merasa tertarik untuk meliput kebersamaan Meisya dengan menantunya.
Mereka segera mendekat, memotret dan sekedar melempar pertanyaan sederhana mengenai acara hari ini.
Merasa sedang diperhatikan, Meisya meraih tangan Elvira dan berlakon layaknya mertua yang memiliki hubungan sangat harmonis dengan sang menantu. Sedangkan Elvira mengikut saja sandiwara yang diciptakan oleh Meisya, ia pun kini turut tersenyum ramah kepada Meisya.
Meski merasa tidak nyaman, Meisya harus tetap melakukannya karena untuk menjaga citra baik dirinya yang selama ini sudah susah ia bangun.
Sementara Anya yang kini harus tersingkir dari kebersamaan keduanya, membuatnya panas dingin sendiri melihat sandiwara mereka. Walau ia tahu jika itu hanya sebuah sandiwara untuk memperindah citra diri Meisya di depan publik, tetapi rasanya Anya tetap saja merasa tidak terima karena saat ini jelas sekali tercipta perbedaan status sosial mereka. Hal itu membuat kebenciannya terhadap Elvira semakin menggebu-gebu.
Anya pun tidak mengerti dan merasa benci mengapa ia harus merasa teramat iri seperti ini dengan apa yang dimiliki Elvira dalam hidupnya. Sudah cinta dari Daffin yang tidak bisa ia miliki, status yang dimiliki Elvira pun juga tidak bisa ia dapatkan.
Memikirkan bagaimana kesalnya ia saat ini membuatnya terlihat gusar sendiri dan rasa kekecewaan terhadap nasibnya sendiri tidak dapat tersembunyikan dari raut wajahnya.
Setelah selesai dengan para wartawan tersebut, senyum semringah dari wajah Meisya langsung lenyap saat ia kembali menatap Elvira.
“Bukan kehadiran kamu yang memberikan citra baik bagiku. Tapi, keberadaanku mensejajarkan diri dengan kamu yang membuat kamu mendapatkan perhatian dari orang-orang. Jangan pernah lupakan siapa diri kamu dan dari mana kamu berasal, kamu bukanlah siapa-siapa tanpa nama keluarga Arkatama.”
Lagi-lagi perkataan Meisya terdengar sangat menusuk seakan mampu menghujam jantung Elvira yang mendengarnya langsung dengan nada penuh cemoohan.
Ia hanya bisa menebar seutas senyum untuk mama mertuanya itu seperti biasa hanya untuk menutupi hatinya yang tergores.
“Iya, Ma. Terima kasih karena Mama mau melakukan ini untukku,” ucap Elvira.
Meisya pun segera pergi meninggalkannya yang segera dibuntuti oleh Anya. Sedangkan Elvira yang masih mengendalikan perasaannya tiba-tiba mendapati sorotan dari sepasang mata di kejauhan yang saat ini memandangnya dengan penuh rasa cinta sekaligus bangga.
Asty, walau hanya bisa memandang adiknya dari kejauhan, tapi ia sudah merasa sangat senang karena sejak tadi ia memperhatikan dari kejauhan Elvira yang nampak bersama dengan sang mertua dan terlihat sangat harmonis saat melakukan wawancara di depan awak media.
Tanpa Asty ketahui saat ini Elvira berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja. Posisi yang dulu ia idam-idamkan kini membuatnya merasa lelah untuk menyandangnya.
Bagaimana tidak, status sosial yang tercipta di antaranya dengan keluarganya sendiri membuat Asty seakan memiliki pagar pembatas yang teramat tinggi untuk bisa meraih Elvira.
Elvira teringat dengan ponselnya, ia segera mengambilnya dari dalam tas jinjing mahalnya dan mendapati sebuah pesan yang telah dikirim orang kantornya. Sebuah nomor telepon orang yang Elvira minta.
Ia pun segera memanggil nomor telepon tersebut dan mendapat jawaban setelah terdengar nada beberapa kali.
“Halo.” Suara Gio menyapa.
“Ini aku,” ujar Elvira yang suaranya langsung dikenali oleh Gio.
__ADS_1
Mereka lalu berbincang sebentar dalam sambungan telepon dan merencanakan sebuah pertemuan hari ini.
...----------------...
Setelah mendapat izin dari Dewanti untuk meninggalkan acara lebih awal, Elvira tiba di depan sebuah tempat makanan sederhana sesuai instruksi dari Gio.
Ia merasa tidak masalah harus mendatangi tempat seperti ini, yang pastinya di lokasi ini Elvira mungkin akan merasa privasinya lebih terlindungi karena bisa bahaya jika ada orang yang mengenalnya melihat ia bertemu dengan seorang pria.
Baru saja Elvira menyelesaikan masalah kesalahpahaman yang terjadi dan beruntung Dewanti masih mempercayainya, bagaimana pun juga saat ini ia merasa tidak ingin terlihat dekat dengan pria mana pun apalagi suaminya baru saja tiada.
Gio yang melihat kedatangan Elvira yang kini sudah melewati pintu masuk tempat tersebut melambaikan tangannya dari kejauhan.
Elvira melayangkan pandangannya sebentar ke sekeliling tempat ini, di depannya kini terdapat beberapa susunan meja dan kursi yang tidak banyak.
Tempatnya cukup nyaman dan menarik, tidak berisik karena saat ini hanya ada beberapa pengunjung yang terdiri dari dua pasang laki-laki dan perempuan muda serta dua orang pria yang tampak menikmati makanan mereka.
Elvira segera menghampiri Gio dan duduk di seberang meja berhadapan dengannya.
“Kamu mau pesan sesuatu? Karena kamu yang memintaku memilih tempat pertemuan kita, maka aku lebih suka pergi ke sini,” ujar Gio yang masih asyik sembari menikmati makanannya.
“Tidak apa-apa,” sahut Elvira singkat, lalu ia meletakkan tasnya di atas meja.
Dari sebuah arah area dapur, tampak dua orang sedang memperhatikan ke arah mereka.
“Bu, itu temannya Mas Gio ya? Cantik banget ya, coba Ibu lihat deh,” kata seorang perempuan muda kepada wanita paruh baya yang kini terlihat sibuk di sampingnya.
“Mungkin saja. Iya ya, Ibu baru melihatnya datang kesini.”
“Ya ampun, ini mah bukan manusia, tapi lebih ke spek bidadari, Bu. Lihat saja kulitnya tampak sangat halus, rambutnya tergerai indah. Pakaiannya juga sangat bagus dan sepertinya sangat mahal.” Perempuan itu masih terus memandanginya dengan penuh decak kagum.
Perempuan itu mengiyakah lalu dengan bersemangat menghampiri Elvira. Ia dibuat terkagum berkali lipat saat mendapat senyuman dari Elvira.
“Permisi, mau pesan sesuatu?” tanyanya kepada Elvira terdengar grogi karena melihat kecantikan Elvira dari dekat.
Gio melirik ke arah Elvira seraya berkata, “Yang pastinya disini tidak ada menu restoran bintang lima.”
“Teh hangat manis,” ujar Elvira.
“Ya ampun, Neng cantik suka minum teh ya?” tanya perempuan itu lagi polos, Elvira mengiyakan hanya dengan mengangguk.
“Kalo makanannya?”
“Tidak, saya pesan minum saja.”
“Baik lah, tunggu sebentar ya.” Perempuan yang tidak Elvira ketahui namanya itu segera melipir ke arah dapur.
“Jadi, kamu mengenal Anya dan ingin meminta bantuan ku untuk bisa bertemu dengannya?” tanya Elvira.
“Iya.”
Elvira mentapnya dengan penuh selidik. “Memangnya kenapa kamu sampai kesulitan untuk bertemu dengannya? Mungkin kah kalian memiliki semacam sebuah hubungan dekat?”
“Aku sangat ingin menemui adikku karena dia beberapa hari ini tidak mau menjawab telepon dariku,” ungkap Gio.
__ADS_1
“Maksud kamu? Adik?” Elvira terheran.
Rupanya ia telah salah menduga, ia pikir tadinya Anya telah memiliki seorang kekasih.
“Apa yang kamu pikirkan? Dia Anya Giani Saraswati, adikku satu-satunya.” Gio memberi penjelasan yang lebih terperinci.
“Tunggu, tunggu.” Elvira lalu memikirkan sesuatu, jika Anya adalah adik dari Gio.
Ia mendapat sat kesimpulan jika mereka berdua adalah anak-anak dari ibu Rani. Kenyataan macam apa ini, Elvira benar-benar tidak habis pikir dengan takdir yang telah mendekatkan mereka.
Jika seperti ini, bagaimana ia akan tega mengungkapkan yang telah dilakukan Anya kepadanya sedangkan ia mengenal Rani dengan baik dan sangat menghormati wanita itu.
Hal yang membuat Elvira lebih tidak habis pikir adalah bagaimana bisa seorang wanita yang baik seperti Rani bisa memiliki anak perempuan seperti Anya.
“Permisi.”
Seorang perempuan tadi kini datang menginterupsi dengan membawa segelas teh hangat sesuai permintaan Elvira dan ia meletakkannya tepat di depan Elvira, lalu segera pergi lagi.
Elvira yang menggerutu dalam hatinya sembari melamun kini tangannya sudah meraih gagang gelas kaca tersebut dan segera meminumnya, alih-alih untuk menenangkan perasaannya.
Namun detik berikutnya saat bibirnya telah menyentuh minuman tersebut, ia seketika terkesiap setelah merasakan air panas membuat lidahnya terasa mati rasa dalam sekejap.
Setelah meletakkan kembali gelas tersebut, Elvira buru-buru mengambil minuman es jeruk milik Gio untuk meredakan efek air panas pada lidahnya.
“Apa yang dia berikan?!” pekik Elvira kesal.
Sedangkan Gio tampak menahan diri untuk mentertawakan tingkah Elvira seperti itu yang jelas saja menghilangkan raut keangkuhan di wajah cantiknya.
Sementara itu di dapur, sang ibu yang merupakan pemilik tempat makan tersebut menegur putrinya terkait minuman yang tadi sudah dibuatnya.
“Loh, teh panas Ibu yang sudah Ibu buat di sini tadi mana?” tanyanya saat mendapati hanya ada segelas teh hangat.
“Hah? Ya ampun! Tadi berarti sudah ku berikan ke temannya mas Gio itu,” sahutnya terlihat panik.
“Kamu bagaimana sih? Kok bisa tertukar?”
“Ya habisnya tadi aku lihat ada dua gelas teh, aku pikir keduanya sama-sama teh hangat.”
“Kamu ini! Apa tidak diperiksa dulu? Kenapa ceroboh sekali. Cepat minta maaf sana!” perintah sang ibu.
“Tapi Bu, aku takut. Bagaimana kalau dia akan memarahiku?”
“Itu resiko kamu, cepat sana!”
Perempuan polos itu segera bergegas menghampiri Elvira.
“Maaf ya, Neng. Saya tidak sengaja salah memberikan gelas minumannya. Maaf ya. Saya sangat ceroboh, harusnya tadi saya pastikan dulu,” ucapnya penuh penyesalan.
“Ya sudah, tidak apa-apa,” ujar Elvira yang sudah berlapang hati.
“Maaf ya, kalau begitu saya akan buatkan yang baru.” Perempuan itu segera mengambil minuman Elvira membawa kembali ke dapur.
Tanpa mereka sadari ternyata sedari tadi sudah ada dua pasang mata yang memperhatikan ke arah Elvira dari meja mereka yang terletak di bagian pojok.
__ADS_1
Bersambung ...