
Raut wajah penuh kemarahan tak tersembunyikan lagi dari wajah Elvira saat menatap Gio. “Lancang sekali kamu! Beraninya menuduh keluargaku tanpa kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi!” Elvira berucap dengan geram.
“Lalu apa? Aku sangat mengenal bagaimana adikku, tapi dia tiba-tiba berubah semenjak tinggal di rumah kalian! Kalian pasti telah melakukan sesuatu terhadapnya!”
“Kamu memang menganggap sangat mengenal adik kamu itu, tapi tanpa kamu ketahui kalau dia telah menipu kamu!”
Nevan yang sejak tadi berada di sekitar sana mencuri dengar tiba-tiba menyahut pembicaraan mereka membuat keduanya segera menoleh ke arahnya yang kini berjalan menghampiri mereka.
“Nevan?” Elvira sangat terkejut karena Nevan ternyata membuntuti mereka. Ia bahkan tidak menyadari hal itu sebelumnya.
Nevan menyunggingkan senyum sinis mengingat betapa tuduhan dari Gio kepada keluarganya sangat tidak berdasar, melainkan asal tuduh saja karena diri Gio sudah dipenuhi amarah yang membara merasa ada yang menjahati adiknya.
“Kamu hanya merasa terlalu percaya terhadap adik kamu. Justru adik kamu yang selama ini datang dan mengusik kehidupan keluargaku.”
Mendengar itu, Gio tidak terima dan hendak menyela perkataan Nevan. Akan tetapi Nevan sepertinya tidak akan memberinya kesempatan untuk menyela ucapannya.
“Adik kamu, merayu dan berselingkuh dengan kakakku yang tidak lain adalah suami dari Elvira. Dia tiba-tiba datang masuk ke keluargaku dengan mengaku telah mengandung anak dari kakakku dan memanfaatkan kondisinya karena ingin mendapatkan hak untuk anak yang dikandungnya!” jelas Nevan dengan nada marah.
“Apa?! Tidak mungkin!” bantah Gio tak terima.
“Apa lagi? Dia mengincar kekayaan keluargaku dengan terus berlindung dibalik keadaannya saat ini! Kamu tanyakan saja sendiri langsung kepadanya. Kamu harusnya malu dengan semua yang dilakukan adik kamu terhadap Elvira! Kehadirannya di keluarga kami sudah menghancurkan hidup Elvira, asal kamu tahu itu! Kamu harusnya marah dengan diri kamu sendiri yang tidak bisa mengendalikan kelakuan adik kamu!” celetuk Nevan yang lagi-lagi masih terbawa emosi.
Nevan menoleh ke arah Elvira yang kini terdiam menyimpan emosi. “Ayo, kita pulang sekarang,” ajak Nevan menarik tangannya hingga kini keduanya telah pergi menjauh dari Gio.
“Aku tidak bisa percaya ini. Anya, apa yang sudah kamu lakukan?” Gio merasa sangat kecewa setelah mendengar penjelasan dari Nevan tadi.
Kekecewaannya kali ini sungguh teramat dalam sehingga ia seakan tidak bisa mengendalikan perasaan marahnya.
Terutama terhadap dirinya sendiri karena telah gagal dalam menjaga serta melindungi adiknya dengan baik, kenyataan ini sungguh terasa menyesakkan baginya.
...🍃🍃🍃...
Beberapa saat berlalu, mobil Nevan sudah tiba di depan teras rumah. Ia menoleh ke arah Elvira yang sejak tadi masih berdiam diri sembari melemparkan pandangan keluar jendela mobil.
Ia bahkan nampaknya belum tersadar dari lamunannya sampai belum bergerak sendiri pun dari posisinya padahal saat ini mobil yang ia tumpangi sudah berhenti.
Apa yang terjadi tadi membuat Elvira masih menyimpan kegelisahan, belum lagi memikirkan amarahnya yang sekejap mampu membuatnya melayangkan tamparan ke wajah Gio.
Tiba-tiba tangan Nevan kini mendarat di kepalanya seraya membelai rambutnya membuat Elvira bergidik seketika langsung menoleh ke arahnya dan mendapati tatapan penuh perhatian dari Nevan.
“Apa yang kamu lakukan?” reaksi Elvira tampak datar, Nevan segera menjauhkan tangannya.
__ADS_1
Elvira nampaknya masih turut menyimpan kemarahan terhadapnya.
“Cepat lah masuk. Masalah yang tadi tidak usah terlalu dipikirkan, kamu lebih baik istirahat.”
Elvira segera membuka pintu mobil lalu keluar begitu saja tanpa memedulikannya lagi.
...🍃🍃🍃...
Keesokan harinya, Gio mendatangi kantor Meisya dan kebetulan memang selalu ada Anya di sana bersamanya.
Seseorang lalu mengikuti Gio dari belakang sambil terus melarangnya masuk karena Gio telah berani masuk ke ruangan ini tanpa izin.
Sementara saat ini tatapan marah Gio sudah mendapati wajah keduanya tampak sangat terkejut dan membuat Meisya bereaksi segera berjalan menghampirinya.
“Maaf Bu Meisya, orang ini memaksa ingin masuk,” kata seorang pria paruh baya yang sepertinya salah satu staf dari Meisya.
“Tidak apa-apa, biarkan saja,” ujar Meisya sehingga pria itu langsung melipir keluar dan menutupkan kembali pintu ruangan.
“Ada perlu apa sampai harus memaksa masuk ke ruangan saya tanpa izin? Di mana etika kamu!” ketus Meisya menyambutnya.
Sepertinya Gio enggan menanggapinya, melainkan ia langsung melayangkan pandangan kekecewaan terhadap Anya yang kini melangkah perlahan turut menghampirinya.
“Apa yang telah kamu perbuat terhadap Elvira?” tanya Gio kepada adiknya itu.
“Apa yang sudah kamu sembunyikan dari Kakak? Kamu hamil dengan suami dari Elvira?” Pertanyaan dari Gio seketika membuat Meisya dan Anya lagi-lagi dibuat terkejut.
“Kak.”
Anya yang kini menatapnya nanar lalu mencoba untuk meraih lengan Gio namun langsung ditepis Gio dengan kasar sehingga membuat Anya tersentak kaget.
“Apa yang sudah kamu perbuat, Anya? Keterlaluan sekali kamu, perbuatan kamu sungguh memalukan! Dimana kamu meletakkan kehormatan kamu?!” Gio memarahinya dengan nada bentakan.
“Kak, aku tidak sengaja melakukannya.” Anya kini memohon ampun berlutut di kakinya terlihat penuh penyesalan.
“Bagaimana bisa kamu mengatakan jika merayu pria yang telah beristri adalah hal yang tidak disengaja?! Jangan membela diri! Bagaimana bisa kamu berbuat hal serendah itu, Anya?! Kakak tidak tahu harus bagaimana lagi mengatasi kamu!”
“Kak, maafkan aku,” lirih Anya yang hanya bisa meminta maaf di depannya.
Gio kemudian melihat ke arah Meisya yang saat ini masih menyimak dengan raut wajah yang belum bisa diartikan oleh Gio.
“Ibu macam apa Anda? Yang terang-terangan mendukung perselingkuhan anaknya, Anda bahkan membawa perempuan yang telah mengusik rumah tangga anak Anda sendiri untuk tinggal di rumah Anda. Mertua macam apa Anda yang dengan teganya menyiksa batin menantunya sendiri?” ujar Gio menyindir Meisya secara terang-terangan tanpa mau menunjukkan rasa hormat terhadapnya.
__ADS_1
Jelas saja perkataan menohok dari Gio tersebut mampu memunculkan api kemarahan yang membara dari Meisya apalagi Gio secara terang-terangan melukai kehormatan diri serta martabatnya.
“Kamu berbicara seolah merasa paling benar. Jangan asal bicara mengenai sesuatu yang kamu pun tidak tahu apa-apa. Bukan saya yang memaksa adik kamu. Asal kamu tahu, dia sendiri yang datang kepada saya memohon agar saya menerima anak yang dikandungnya itu sebagai cucu di keluarga saya! Harusnya kalian berterima kasih karena saya mau berbaik hati akan memberikan hak untuk anak itu nantinya!” celetuk Meisya membalasnya.
Sedangkan Gio sekarang terdiam mencerna setiap perkataan Meisya tadi.
“Lebih baik kamu keluar dari ruangan saya sekarang sebelum saya panggil tim keamanan untuk mengusir kamu dengan paksa!” Meisya memperingatkannya.
“Lalu apa kamu masih mau berada di sini?” tanya Gio kepada Anya yang masih belum bangkit dari posisinya.
Gio menunggu beberapa detik, namun sepertinya Anya menunjukkan sikap jika ia tidak ingin beranjak dari sini melainkan tetap ingin berada di sisi Meisya.
“Tunggu apa lagi? Keluar sekarang!” titah Meisya meninggikan nada suaranya.
Detik berikutnya Gio pun segera meninggalkan ruangan tersebut dengan masih menyimpan kemarahan besar terhadap Anya.
Meisya melangkah dengan cepat menuju meja kerjanya dan langsung menghentakkan telapak tangan dengan keras pada permukaan meja tersebut sontak membuat Anya terkejut.
“Apa yang kamu lakukan? Bagaimana kamu membiarkan kakak kamu mengetahui semuanya? Dia mungkin sudah bertemu dengan Elvira! Bagaimana kamu bisa sampai lengah?!”
Meisya menggerutu masih dalam keadaan api amarah yang membara karena ada orang lain lagi yang mengetahui tentang apa yang sedang terjadi dalam keluarganya.
“Maaf kan saya, Bu.”
“Maaf, maaf. Kamu bisanya hanya minta maaf! Bagaimana kamu akan mengatasi keluarga kamu sekarang? Hah! Ingat Anya, kalau sampai hal ini tersebar ke publik, saya akan pastikan kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu inginkan! Dan kamu tidak akan bisa lagi tinggal di rumah saya,” ancam Meisya.
Mendengar itu, Anya segera beranjak pindah posisi menghampiri Meisya dan memeluk lututnya untuk memohon.
“Bu Meisya tolong maaf kan saya. Saya janji akan mengatasi hal ini juga keluarga saya. Tolong jangan usir saya, saya akan melahirkan anak ini untuk keluarga Arkatama.”
“Pokoknya saya tidak mau tahu, kamu bereskan urusan dengan keluarga kamu. Kalau sampai mereka menyebarkan hal ini, kamu akan tahu akibatnya.”
“Iya Bu, saya akan lakukan apapun yang Bu Meisya perintah kan.”
“Lepas!” Meisya segera mengalihkan kakinya dari tangan Anya, ia mengambil tasnya lalu segera pergi meninggalkan ruangannya.
Sementara saat ini, Anya yang tadi sempat meneteskan air mata langsung mengusapnya. Ia tidak akan rela jika perjuangannya sampai sejauh ini agar bisa mendapatkan hak untuk anaknya akan berantakan begitu saja.
Walau di satu sisi hatinya merasa tertekan karena harus menerima kemarahan dari Gio, tapi karena api dendamnya serta keserakahan akan keinginan mendapatkan hidup bergelimang harta seperti yang Elvira miliki, membuatnya akan tetap pada pendiriannya meski dengan harus menentang kakaknya.
__ADS_1
Bersambung ...