
Elvira menghela napas lega karena merasa telah berhasil menghindari kemungkinan tabrakan.
“Kak Asty, nanti kita sambung lagi.” Elvira segera menutup sambungan telepon dan bergegas turun dari mobil.
Ia segera berlari ke depan untuk memeriksa apa yang terjadi dan saat melihat seorang anak kecil perempuan yang sudah tersungkur sepertinya tadi ia jatuh tepat di depan mobil Elvira.
Anak itu menangisi luka pada lengannya,seperti ada goresan kemungkinan habis tergores aspal jalan dan hal itu membuat Elvira panik.
“Kamu tidak apa-apa?” Elvira menghampiri dan memeriksanya.
“Ya ampun, Delisha. Kan Ibu sudah bilang jangan lari-larian di jalanan, bahaya!” seru Rani dari jarak tidak terhitung jauh yang mengenal anak ini.
Wanita paruh baya berparas cantik yang belum Elvira kenal itu tergesa menghampiri mereka.
Kehadirannya turut diikuti oleh seorang anak perempuan lain yang sebaya dengan anak yang bernama Delisha tersebut.
Rani segera meletakkan tentengan kantong belanjaan yang bermerk sebuah toko swalayan terkenal lalu segera memeriksa keadaan anak itu.
“Sini Ibu periksa. Wah, lukanya tidak terlalu parah kok. Nanti kita obati di rumah ya,” kata Rani terdengar lemah lembut.
“Bu, saya minta maaf,” ucap Elvira.
“Tidak apa-apa, tadi saya lihat dia yang berlari ke arah mobil kamu karena bercanda dengan temannya,” jawab Rani dengan ramah.
“Mari saya antar untuk mengobati lukanya, kita ke klinik atau rumah sakit terdekat,” ajak Elvira.
“Tidak perlu, Nak. Ini hanya goresan ringan, bisa Ibu obati nanti di rumah saja nanti.”
“Ya sudah kalau begitu saya antar kalian pulang ya.”
“Tapi, Nak. Rumah kami tidak ke arah sana,” ujar wanita tersebut menunjuk ke depan jalan arah mobil Elvira.
“Tidak apa-apa, anggap saja ini sebagai rasa tanggung jawab saya karena tadi anak Ibu jatuh di depan mobil saya.”
“Baik lah kalau memang tidak merepotkan kamu. Oh ya, panggil saja saya ibu Rani.” Wanita itu memperkenalkan dirinya.
“Saya Elvira,” balasnya. Lalu ia membantu mereka untuk masuk ke mobilnya.
...----------------...
Tidak lama kemudian, mereka sudah tiba di depan sebuah rumah yang menurut pandangan Elvira sangat sederhana.
Saat melihat ada pelang papan yang bertuliskan informasi mengenai tempat sederhana ini yang ternyata merupakan sebuah panti asuhan membuatnya tertegun memandangnya beberapa detik.
“Nak Elvira, ayo masuk. Mampir dulu,” ajak wanita yang murah senyum itu.
“Iya Bu.”
Elvira turut masuk ke sebuah ruang tamu yang sederhana dan ia memperhatikan Rani mengobati luka pada lengan anak yang berusia kisaran sepuluh tahun lebih tersebut.
Tiba-tiba menyusul anak-anak lain yang terdiri dari perempuan dan laki-laki berjumlah belasan orang dengan rentang usia yang berbeda-beda datang menghampiri temannya yang terluka itu.
“Delisha, kamu ingat kan apa yang Ibu ajarkan? Tadi menurut kamu, saat berlarian sembarangan di jalanan itu bahaya apa tidak?” tanya Rani kepada anak itu.
“Bahaya,” jawabnya polos.
“Terus, kamu merasa salah apa tidak karena hampir saja tertabrak mobil tadi?”
__ADS_1
“Salah Bu.”
“Kalau salah apa yang harus di lakukan?”
Anak itu langsung menatap ke arah Elvira dengan sedikit ragu.
“Maaf kan Delisha ya, Kakak cantik,” ucapnya sedikit takut karena masih merasa asing dengan Elvira.
“Tidak apa-apa, Kakak juga minta maaf ya,” sahut Elvira tersenyum ramah kepadanya.
Melihat keramahan dari Elvira membuat gadis kecil itu seketika tampak merasa nyaman saat berada di dekatnya, sontak ia langsung memeluk Elvira.
“Kalau begitu, kita bisa berteman kan? Tanyanya lagi membuat Elvira sangat gemas dengan kepolosannya.
“Tentu saja, kita akan jadi teman yang baik.”
“Kalau begitu Kakak cantik akan sering main kesini kan?” tanya anak itu lagi seraya melepas pelukannya.
“Mm, iya Sayang. Nanti Kakak akan ke sini lagi menjenguk kamu,” jawab Elvira.
“Asyikkkk!” serunya sangat bergembira.
“Kalian main di dalam ya,” pinta Rani, detik berikutnya anak-anak tersebut langsung berhamburan pergi meninggalkan Rani dan Elvira.
“Ibu mengelola panti asuhan ini?” tanya Elvira penasaran.
“Iya, Nak. Itu hanya sebagian dari jumlah mereka, setengahnya lagi mungkin sedang melakukan kegiatan rutin lainnya bersama pengasuh lainnya.”
“Oh begitu.”
Rani mengiyakan lalu menawarkan sesuatu. “Ibu buatkan minum dulu ya.”
“Oh begitu? Terima kasih ya tadi udah mengantar kami pulang,” ucapnya ramah.
“Iya Bu, sama-sama.”
“Sepertinya Delisha langsung menyukai kamu. Mungkin karena kamu mengingatkan dia kepada salah satu kakaknya. Ibu punya seorang putri mungkin sebaya dengan kamu, tapi karena pekerjaannya yang sibuk jadinya dia termasuk yang jarang berkunjung kesini,” ungkap Rani.
Elvira hanya mendengarkan dengan penuh perhatian penuturan singkat dari Rani, setelahnya ia segera permisi.
Saat baru keluar dari pintu beberapa langkah, ia bertemu lagi dengan Gio yang membuatnya seperti mendapat kejutan. Laki-laki ini? Bagaimana bisa ia tiba-tiba muncul lagi di hadapannya.
“Kamu?” Elvira mengingatnya adalah laki-laki yang waktu itu membuatnya naik darah.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Gio yang tidak kalah terkejutnya dari Elvira karena pertemuan kedua mereka ini.
“Gio, kamu datang?” sambut Rani.
Ia melirik ke tangan Gio yang sudah menenteng kantong plastik belanjaan seperti biasanya jika ia datang ke sini selalu saja ada yang dibawanya untuk anak-anak, terutama makanan dan camilan untuk untuk mereka.
Rani lalu memperhatikan tatapan penasaran dari putranya itu saat melihat Elvira. “Oh ya, kenalkan, ini Elvira. Tadi tidak sengaja ketemu Ibu di jalan dan ia mengantar Ibu pulang. Nak, Elvira. Ini Gio, putra Ibu,” Rani mengenalkan mereka.
“Putra Ibu?” Elvira mengernyit heran setelah mendapat informasi barusan.
“Iya.”
Elvira rasanya masih ingin mengungkapkan kekesalannya terhadap pria ini namun mengingat sikap dari Rani yang baik dan ramah kepadanya membuatnya meredamkan amarah saat melihat Gio lagi kali ini.
__ADS_1
Gio yang merasa kehadiran Elvira saat ini bukan hal penting baginya hanya bersikap cuek dan segera melipir masuk ke dalam rumah.
Elvira melengos kesal karena perlakuannya, seharusnya ia yang melakukan hal itu kepada laki-laki itu.
Elvira kemudian menengok sebentar ke arah dalam rumah dan melihat kehadiran Gio yang sudah disambut hangat oleh anak-anak dan melihat bagaimana kehadiran laki-laki itu memberi suasana keceriaan bagi mereka.
Mengindahkannya, Elvira pun segera berpamitan lagi kepada Rani untuk ke sekian kalinya.
“Hati-hati di jalan ya, Nak.”
“Iya Bu.” Elvira segera masuk ke mobilnya.
Saat melihat Rani sudah masuk ke dalam, Elvira mengambil ponsel dan mengambil foto bangunan tersebut beberapa jepretan dengan kamera ponselnya sebelum akhirnya menginjak pedal gas mobilnya.
...----------------...
Sementara itu di dalam sebuah ruangan, Gio sudah duduk di sebuah sofa. Rani pun masuk ke ruangan dengan membawakan minuman untuknya.
Wanita tersebut ikut duduk bersama Gio dan ia menjelaskan kepada Gio mengenai bagaimana pertemuannya dengan Elvira tadi.
“Lalu bagaimana keadaan Delisha sekarang?” tanya Gio.
“Dia baik-baik saja, paling juga lagi istirahat atau lagi main di kamar. Oh ya, apa kamu mengenal nak Elvira? Ibu lihat tadi kamu sangat terkejut saat bertemu dengannya. Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?” tanya Rani tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
“Kami pernah bertemu sekali waktu itu,” ungkap Gio saat mengingat wajah cantik Elvira yang terkesan angkuh.
“Oh ya? Dimana kamu pernah bertemu dengannya? Ibu jadinya penasaran.”
“Kami pernah bertemu di jalan waktu itu saat menolong seorang yang mengalami kecelakaan.”
“Melihat dari penampilannya, dia sepertinya bukan dari kalangan orang biasa, sepertinya dia dari keluarga kaya raya. Dia sangat cantik juga sangat ramah. Dia mengingatkan Ibu pada seseorang yang sangat Ibu rindukan,” ungkap Rani kala mengingat kembali tentang Elvira.
“Sepertinya. Oh ya Bu, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan.” Gio merasa ingin langsung mengalihkan pembicaraan.
“Ada apa, Nak?”
“Akhir-akhir ini aku sering kepikiran tentang Anya. Aku menemuinya di tempat kerjanya saat dia bersama dengan atasannya, tapi Anya sepertinya tidak suka jika aku menemui atasannya.”
“Memangnya kenapa?”
“Bu, aku hanya khawatir dengannya. Bagaimana bisa dia memilih tinggal serumah dengan atasannya padahal kan dia bisa tetap tinggal di kos nya saja. Dia juga mulai berubah sekarang dan itu membuatku jadi tidak tenang.”
Gio bercerita sembari tidak bisa menyembunyikan raut kecemasan di wajahnya.
“Gio, kamu hanya berpikir berlebihan saja. Mungkin saja pekerjaannya mengharuskan dia terus dekat dengan atasannya itu.”
“Dia juga tiba-tiba mengundurkan diri dari Arkatama grup, padahal Ibu tahu kan bagaimana dulu dia berjuang belajar hingga akhirnya bisa bekerja di perusahaan itu. Dia selalu bilang mimpinya adalah bekerja di perusahaan besar seperti itu.”
Gio menghela napas sejenak, lalu melanjutkan perkataannya.
“Tapi dia mengatakan mengundurkan diri hanya karena ingin pekerjaan yang lebih santai? Lalu ikut tinggal dengan atasannya tersebut yang merupakan keluarga dari pemilik perusahaan Arkatama grup? Aku tidak habis pikir,” tutur Gio panjang lebar mengungkapkan kegelisahannya.
“Kamu hanya terlalu mengkhawatirkannya, Gio. Anya anak yang baik dan penurut kok. Ibu yakin dia memang benar-benar bekerja dengan baik di sana. Sudah lah Nak, dia kan masih muda, biarkan dia memutuskan sendiri pilihannya. Dia pasti bisa bertanggung jawab dengan apapun keputusannya.”
Gio kembali menghela napas penat mencoba menenangkan diri dengan memikirkan pendapat Rani.
“Barang-barang Anya masih ada kok yang dia simpan di kamar kos nya, dia menitipkan kuncinya ke Ibu, katanya kalau-kalau kamu perlu ke sana untuk mengambil barang-barang kamu yang kamu titipkan sebelum keluar kota.”
__ADS_1
“Iya Bu.”
Bersambung ...