Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 106-- Sisa Kekecewaan


__ADS_3

Gio tersentak, lalu segera berdiri dari duduknya. “Elvira?” sapanya, tak percaya perempuan itu kembali datang kesini.


“Aku hanya terus kepikiran. Tidak peduli tentang yang dikatakan Ibu Rani kemarin, aku kesini hanya membawa niat untuk menjenguk Anya.” Elvira menjelaskan, seolah memberi jawaban dari pertanyaan yang tersirat dalam sorot mata Gio.


“Untuk apa? Kamu tidak perlu melakukannya.”


“Aku tidak ada alasan khusus, aku benar-benar hanya ingin melihatnya. Aku berharap dia akan baik-baik saja.”


Gio tampaknya sedang berpikir keras untuk sejenak.


“Elvira, bisa kah kita bicara sebentar?” pintanya tiba-tiba. Elvira mengangguk setuju.


Mereka lalu pergi ke sebuah taman di sekitar rumah sakit, Gio mengaku perlu tempat khusus untuk membicarakan sesuatu dengannya.


Mereka duduk di satu kursi taman, perlu beberapa saat bagi Elvira menunggu Gio untuk memulai pembicaraan, entah apa yang sedang ada dalam pikiran pria itu.


Tiba-tiba Elvira dikejutkan oleh sesuatu yang diperlihatkan Gio, matanya tercengang melihat benda yang diletakkan Gio di antara celah mereka, sebuah pisau berbungkus plastik.


“Itu adalah barang bukti yang ditemukan di tempat kejadian kemarin, benda yang digunakan Anya untuk mencelakai kamu. Tidak apa-apa jika kamu mau melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian, kamu berhak melaporkannya atas tindakan percobaan pembunuhan.”


Elvira tertegun mendengar penuturan Gio. “Apa yang kamu pikirkan?”


“Karena kamu berhak melakukannya. Aku pun sebenarnya saat itu melihat langsung dari kejauhan, bagaimana adikku berusaha mencelakai kamu. Aku akan bersedia menjadi saksi, atau, apa perlu aku yang melaporkannya?”


Elvira menatapnya tak percaya. “Apa yang kamu lakukan? Dia adik kamu sendiri.”


“Justru karena dia adikku, dia harus mendapat ganjaran atas perbuatannya. Setiap perbuatan, bukan kah harus ada pertanggung jawabannya?”


Elvira masih bungkam, tidak bisa percaya semua ini. Ia bahkan tidak sampai memikirkan ke arah sana.


“Kamu lupa siapa aku? Aku adalah orang yang bekerja di bidang penegakan hukum. Tidak peduli dia adikku sekalipun, aku juga akan memperlakukannya sebagaimana mestinya. Mungkin hanya ini yang bisa ku lakukan, aku pasti akan mendidik dan menjaganya lebih baik lagi.”


“Tidak, aku tidak akan melakukan ini!” tegas Elvira. “Aku sudah memaafkannya, dan mengikhlaskan semuanya.”


“Lalu bagaimana jika saat itu dia berhasil mencelakai kamu?!” tanya Gio dengan sedikit penegasan. Elvira terdiam.


Gio lalu tertunduk, semburat kesedihan tergambar jelas di wajahnya. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, mengeluarkan bulir air di sudut matanya.


Menahan segenap penyesalan, serta rasa malu dan rasa bersalah di hadapan Elvira.


Elvira mengusap pundaknya seraya berkata, “Sudah ku katakan, tidak apa-apa. Yang sudah terjadi, biarkan saja. Gio, Anya bahkan harus kehilangan anak sekaligus rahimnya. Tak terbayangkan bagaimana perasaannya.”


Gio menyeka air matanya, lalu memberanikan diri menatap Elvira. “Kenapa? Kenapa kamu harus sebaik ini? Kami tidak pantas menerima semua kebaikan kamu. Akan jauh lebih baik jika kamu membenci kami, kami pantas menerimanya.”


Aku hanya tidak bisa melakukannya, batin Elvira yang tak kuasa ia utarakan.


...❅❅❅...


Keduanya berjalan bersama, namun tak saling bicara. Tanpa Elvira sadari, Gio menoleh memandangi ke arahnya.

__ADS_1


Gio benar-benar tidak mengerti terbuat dari apa hati perempuan satu ini. Seketika, ia menjadi sangat segan terhadapnya.


Menurutnya Elvira adalah orang yang memiliki kekayaan serta kekuasaan, mungkin akan bisa dengan mudahnya menjebloskan Anya ke penjara atas perbuatannya.


Elvira menahan langkahnya, segera disadari oleh Gio yang turut berhenti. Mereka melayangkan pandangan kepada dua orang yang saat ini sudah berada di depan ruang rawat Anya, sepertinya baru tiba.


“Oma?” sapa Elvira, terkejut melihat kehadiran Dewanti yang datang bersama Meisya.


Elvira menoleh ke arah Gio, sorot matanya menyiratkan banyak pertanyaan. Ia merasa belum memberitahu mereka apapun.


“Maafkan aku Elvira, sebenarnya aku yang menghubungi dan memberitahu semuanya pada Ibu Dewanti,” ungkap Gio mengaku.


“Apa?!”


“Oma sudah tahu semuanya.” Dewanti bersuara, sembari melayangkan pandangan sekilas kepada Gio.


Meisya yang dari tadi sudah dalam keadaan gusar, langsung masuk ke dalam ruangan, segera diikuti Elvira dan Dewanti.


Dua orang yang ada di dalamnya tampak tercengang, terutama Anya yang sedang duduk di atas ranjang rawat ditemani Rani.


Sedangkan Rani langsung berdiri dari kursinya, menyambut kedatangan Meisya, yang bahkan belum ia kenal.


“Ibu Meisya?!” sapa Anya bercampur perasaan kaget.


“Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kamu bertindak seceroboh itu?! Pantas saja kamu selalu bertindak semaunya sendiri. Lihat saja hasil perbuatan kamu sendiri, kamu bahkan tidak bisa melindungi anak Daffin!” celetuk Meisya.


“Ma!” Elvira menghampirinya, tampaknya Meisya hanya bersikap acuh tak acuh terhadapnya.


“Sudah cukup, perbuatan kamu sangat memalukan! Untuk urusan ini, saya tidak mau terlibat apapun lagi dengan kamu. Mulai sekarang jangan menunjukkan wajah kamu lagi di hadapan saya!”


Meisya memperingatkan dengan pandangan penuh kebencian. Kini, Anya layaknya seorang yang tak berguna lagi di matanya.


Usai puas meluapkan isi hati dan kekecewaannya, Meisya segera memutuskan meninggalkan ruangan, tanpa memedulikan apa-apa lagi.


“Bu Meisya!” Anya menyeru namanya, namun tak digubris oleh sang empunya nama.


Anya yang tampak menyedihkan, kini hanya bisa menangis sambil berada dalam pelukan Rani. Menangisi nasib diri yang kini layaknya bagai orang terbuang.


“Bu,” lirihnya dalam isakan tangis penuh penyesalan. “Aku sudah kehilangan anakku! Sekarang aku juga menjadi wanita tanpa rahim, Bu.”


Rani tak kuasa berkata-kata, ia hanya bisa terus memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.


Mencoba menenangkan jiwa Anya yang sedang terguncang, dengan memberi sepenuhnya dukungan batin.


Keduanya berpelukan dengan perasaan berbalut lara, tak memedulikan lagi keberadaan orang lain di tempat itu.


Elvira yang turut sedih melihatnya, kini dikejutkan oleh tarikan tangan dari Dewanti yang mengajaknya keluar ruangan.


Dewanti menahan langkah saat berhadapan dengan Gio, yang sejak tadi hanya memilih mematung diluar ruangan.

__ADS_1


“Saya menghargai kejujuran kamu memberitahukan semua yang belum saya ketahui, bahkan dari cucu saya sendiri. Tapi perbuatan adik kamu sudah sangat keterlaluan, dia lupa akan berurusan dengan siapa. Akan selalu ada hal yang dipertanggungjawabkan akibat dari sebuah perbuatan.”


“Oma.” Elvira mencoba melerai emosi Dewanti.


“Diam, Elvira!” tegas Dewanti yang tampak marah.


Elvira bungkam seketika. Sedangkan Gio tampaknya turut terdiam, melainkan hanya mendengarkan setiap perkataan wanita yang penuh wibawa itu.


“Kita sudah tidak terlibat urusan apa-apa lagi, sebaiknya urus adik kamu dengan baik. Mulai sekarang saya tidak akan membiarkan kalian mendekati keluarga kami lagi.” Dewanti menghela napas menjeda perkataannya.


“Saya juga tidak menutup mata tentang kebaikan yang pernah kamu lakukan terhadap Elvira. Namun tampaknya, menjaga jarak di antara keluarga kita, akan jauh lebih baik,” pungkas Dewanti.


Tanpa perlu menunggu tanggapan dari lawan bicaranya, Dewanti segera menarik tangan Elvira mengajaknya pergi.


...❅❅❅...


Meisya tampak masih kecewa atas kenyataan yang ia hadapi, hancur berantakan semua rencananya.


Matanya menyorot tajam, bahkan deru napasnya saja, menyimpan kegusaran. Sekarang tampaknya ia sudah harus mengaku kalah, membiarkan Elvira turut bertahta di keluarganya.


Hingga saat ini Meisya masih saja bersikap acuh tak acuh pada Elvira, rasanya egonya terlalu tinggi untuk dengan mudah diruntuhkan begitu saja. Ia juga belum mau menampakkan diri keluar dari kamarnya.


Sementara itu di sebuah ruangan.


“Kamu sudah jauh lebih baik sekarang?” tanya Dewanti tampak khawatir, ia memperhatikan Elvira baru meletakkan kembali secangkir minumannya di atas meja.


Elvira mengangguk.


“Oma mengerti bentuk kekecewaan Meisya, dia pasti sangat mengidamkan anak dari mendiang Daffin. Walau Oma juga turut sedih, entah kenapa Oma rasanya agak lega saja.” Dewanti mengungkapkan isi hatinya. “Terutama melihat kamu dalam keadaan baik-baik saja.”


“Iya Oma. Maaf ya kalau aku sering menyembunyikan sesuatu di belakang Oma, aku tidak bermaksud melupakan Oma dalam urusanku. Aku hanya ….”


Elvira menahan ucapannya, bingung bagaimana menjelaskannya jika ia hanya tidak ingin membuat Dewanti khawatir.


“Tidak apa-apa, Elvira.”


“Oma, aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi. Jadi aku pikir, harusnya masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi.”


“Jika itu keputusan kamu, Oma akan mengikut saja. Tapi mulai sekarang, Oma janji akan berusaha lebih melindungi kamu.”


Pembicaraan mereka terhenti tiba-tiba, karena keduanya langsung mengalihkan perhatian ketika seseorang baru masuk, diiringi oleh Mirah yang mengarahkan jalan menuju ruangan ini.


“Ibu?” sapa Elvira begitu menyadari kedatangan dari Widya.


Elvira langsung berdiri dari posisinya, hendak menyambut kedatangannya. Namun ada hal yang berbeda, tatapan Widya sungguh dingin.


Raut wajahnya menyiratkan rasa marah dan kekecewaan, entah apa yang telah terjadi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2