
Di sebuah ruangan, Elvira memimpin rapat bersama para staf pengurus yayasannya membahas mengenai program kerja lanjutan mereka.
Elvira lalu menampilkan slide presentasi sebuah foto rumah panti asuhan yang baru ditemukannya, semua orang terlihat memperhatikan penjelasannya Elvira yang mengatakan jika ia ingin tempat tersebut dimasukkan dalam salah satu program kerja mereka.
Dengan harapan membantu lebih mensejahterakan tempat tersebut dengan pengadaan fasilitas yang mungkin kurang serta pemberdayaan anak-anak di sana.
“Pergi lah ke sana untuk survei tahap awal dan segera laporkan hasilnya kepada saya,” titah Elvira yang langsung disetujui mereka.
Setelah rapat selesai, Elvira yang baru keluar dari ruang rapat mendapati Asty yang kini sudah menunggunya.
“Kakak di sini? Kenapa tidak mengabari ku?” sapa Elvira.
“Kakak sudah menelepon kamu tapi sepertinya kamu sedang sibuk.”
Elvira lalu mengecek ponselnya, detik berikutnya ia langsung menyengir di depan kakaknya.
“Iya yah. Ya sudah, masuk ke ruangan ku yuk,” ajak Elvira.
“Sebenarnya ada sesuatu yang masih mengganjal di pikiran Kakak,” ujar Asty yang kini sudah duduk di sofa.
“Tentang apa Kak?” Elvira pura-pura tidak peka maksud dari Asty.
“Tentang pertanyaan Kakak tadi malam.”
“Oh itu, iya. Memang benar dia tinggal di rumah,” jawab Elvira terdengar lesu kala mengingat tentang Anya. Ia kini ikut duduk di samping Asty.
“Terus bagaimana hubungan kalian? Maksud Kakak bagaimana dia tinggal di rumah kalian? Apa kamu tidak merasa asing?”
“Dia bekerja untuk mama mertuaku, Kak. Jadi tidak ada masalah,” pungkas Elvira berharap Asty tidak akan melanjutkan pertanyaan lagi.
“Kakak sebenarnya tidak ingin penasaran tentang ini, tapi Kakak tidak bisa berhenti untuk memikirkannya. Kamu tahu apa yang terjadi dengan Bu Anya?”
“Maksud Kakak?”
“Elvira, Kakak melihat dia memiliki surat hasil pemeriksaan dokter dan sebuah foto hasil USG. Tadi waktu Kakak ke rumah sakit hendak menemui Raldy, Kakak bertemu dia yang baru keluar dari ruang dokter kandungan. Kamu yakin tidak terjadi sesuatu dengannya? Meskipun ini bukan urusan Kakak sih.”
Mendengar penuturan dari Asty membuat Elvira sejenak berpikir, ia tidak mau Asty menyimpan curiga bahkan sampai mengetahui semuanya.
Ia juga sebenarnya sangat ingin menceritakan semuanya, tapi ia tidak bisa dan tidak ingin melibatkan kakaknya dalam permasalahannya.
“Kamu tahu sesuatu?” tanya Asty yang melihat Elvira terdiam.
“Aku tidak tahu, Kak. Mungkin saja dia sedang sakit.”
“Elvira, Kakak memang belum pernah menikah dan hamil. Tapi Kakak tahu itu foto hasil USG rahim.”
“Kak, aku dulu juga pernah melakukan pemeriksaan rahim meski saat itu tidak sedang mengandung,” jawab Elvira.
“Tapi dia belum menikah. Ah sudah lah, mungkin saja seperti yang kamu bilang, mungkin dia memiliki masalah kesehatan.”
“Sudah lah tidak usah terlalu dipikirkan.”
“Jadi, apa mungkin kamu cukup dekat dengannya?"
“Hmm, tidak juga, Kak."
“Kakak sebenarnya juga mau kasih tahu sesuatu sama kamu.”
“Apa?” Elvira penasaran menyadari wajah Asty tengah berbinar.
“Kakak sama Raldy akan meresmikan hubungan kami,” ungkap Asty.
“Yang benar Kak? Ya ampun, ini adalah berita bahagia yang sudah lama aku nantikan.”
__ADS_1
“Iya benar.”
“Aku senang banget dengarnya, selamat ya. Jadi kapan?”
“Kapan apanya? Ya belum lah, kami akan menjalaninya terlebih dulu.”
“Kalau begitu aku tunggu kabar bahagia selanjutnya. Oh ya, Kakak sudah makan? Aku traktir makan deh karena hari ini aku dapat kabar yang bahagia ini,” ajak Elvira.
“Belum sih, ayo. Mau makan dimana?”
“Kita ke tempat dulu biasa kita datangi aja, aku sudah lama tidak ke sana bersama Kakak.”
“Ayo.”
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya mengalihkan perhatian mereka.
“Permisi Bu, ada Pak Sakti,” ujar Dara memberitahu, detik berikutnya Sakti sudah masuk ke ruangannya.
“Ada apa?” tanya Elvira.
Tepat setelahnya ponselnya bergetar, terlihat panggilan telepon masuk dari nomor Nevan.
“Perasaanku tidak enak,” gumam Elvira lalu segera menjawabnya.
“Iya?”
“Apa Sakti sudah sampai? Aku menyuruhnya menjemput kamu, ikutlah dengannya.”
“Aku ada urusan, tidak bisa,” bantah Elvira.
“Aku tunggu sekarang, datanglah kesini.” Nevan langsung memutus sambungan teleponnya tanpa memperhatikan penolakan Elvira.
“Tunggu! Halo? Nevan?!” Elvira mendengus kesal karena sikap Nevan yang bersikap arogan terhadapnya.
“Tapi, Kak.”
“Tidak apa-apa, urusan kamu lebih penting.”
“Pak Nevan sudah menunggu, Bu.” Sakti turut bersuara, Elvira rasanya tidak memiliki pilihan.
“Aku janji nanti kita akan pergi ke sana lagi,” ucapnya kepada Asty yang langsung diiyakan oleh Asty.
Dari awal berangkat hingga di perjalanan, Elvira masih menyimpan kekesalan terhadap Nevan.
“Awas saja jika dia memaksaku kali ini untuk hal yang tidak penting,” gerutunya sebal.
Tidak lama kemudian, mereka sudah tiba di depan sebuah restoran berbintang. Sakti mengiringinya untuk menunjukkan jalan hingga ia sampai di depan pintu sebuah ruangan VIP.
Para pelayan membukakan pintu untuknya, Elvira segera masuk dan terkejut sudah ada Nevan bersama Pak Jaya dan Bu Indri yang menyambutnya.
“Bu Elvira, selamat datang,” sapa Jaya.
Sedangkan bu Indri langsung memberi sambutan dengan sebuah pelukan ringan.
“Lama tidak bertemu, bagaimana kabarnya Bu?” tanya Indri.
“Iya, saya baik.”
“Mari silahkan duduk, kami dari tadi sudah menunggu kedatangan Bu Elvira,” ujar Indri.
Elvira lalu duduk di sebelah Nevan dan mereka duduk berhadapan pasangan suami istri itu.
“Kami sengaja mengundang Pak Nevan dan Bu Elvira untuk makan siang, ya anggap sebagai perayaan kerja sama kami yang akhirnya terjalin, dan itu semua berkat bantuan Bu Elvira,” ungkap Jaya.
__ADS_1
“Oh begitu?” Elvira baru tahu karena Nevan sebelumnya tidak pernah memberitahunya melainkan membawanya ke sini dengan dadakan.
“Kakak ipar saya ini sekarang memiliki banyak kesibukan, karena itu sangat sulit bisa menemuinya seperti ini,” sahut Nevan membicarakan tentang Elvira.
“Ini suatu kehormatan untuk kami. Mari, silahkan dinikmati hidangannya.” Jaya mempersilakan mereka.
“Ngomong-ngomong. Kalau dilihat-lihat. Pak Nevan dan Bu Elvira ini sekilas tidak seperti adik dan kakak. Apa karena kalian mungkin seumuran? Kalian terlihat lebih cocok menjadi pasangan,” ujar Indri membuat Elvira tersedak saat menikmati minumannya.
“Ma,” tahan Jaya kepada istrinya dan hal itu mengingatkan Indri karena Elvira baru saja kehilangan Daffin.
“Maaf kan saya ya Bu Elvira, saya hanya bercanda.”
“Iya, tidak apa-apa. Sebenarnya saya dengan mendiang mas Daffin memiliki selisih rentang usia enam tahun, dan dengan Nevan selisih satu tahun. Meski saya lebih muda dari Nevan, tapi dia tetap adik bagi saya.” Elvira menjelaskan.
“Oh begitu.”
Saat sudah selesai menikmati hidangan penutup, Indri lalu memberikan sebuah kotak yang berukuran cukup besar kepada Elvira.
“Bu Elvira, tolong terima ini ya. Anggap saja ini sebagai hadiah dari saya karena perusahaan kita akan membangun kerja sama dan saya ingin kita tetap berhubungan baik. Buka lah,” kata Indri.
Elvira mengiyakan dan membukanya di hadapan mereka, ternyata isinya sebuah tas dengan merk ternama dan Elvira sudah mengetahui kisaran harganya yang cukup mahal.
“Saya tahu mungkin ini hanya sebagian kecil dari koleksi milik Bu Elvira yang jauh lebih bagus.”
“Oh tidak seperti itu. Ini bagus sekali, Bu. Saya sangat menyukainya, terima kasih Bu Indri,” ucap Elvira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah acara makan selesai, mereka mengantar Pak Jaya dan Bu Indri hingga mereka masuk ke mobil dan sudah meninggalkan lokasi. Elvira menatap kesal ke arah Nevan.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih dulu?” tanya Elvira mengomel.
“Kamu pasti akan langsung menolak jika ku beritahu lebih dulu,” jawab Nevan.
“Haruskah kamu bersikap arogan terhadapku? Gara-gara kamu melakukan ini, aku jadinya harus membatalkan urusanku.”
“Memangnya sepenting itu kah urusan kamu? Sampai marah-marah seperti ini, ini juga penting. Kamu juga dapat tas mahal kan?” Nevan membela diri.
“Jelas urusanku jauh lebih penting dari ini! Gara-gara kamu, aku harus membatalkan janji dengan ... seseorang.” Elvira sempat menahan ucapannya karena ia mengingat tentang Asty.
“Seseorang? Siapa?” tanya Nevan penasaran.
Ia selalu sensitif terhadap Elvira yang memiliki seseorang lain dalam hidupnya.
Sedangkan Elvira yang tadi hampir keceplosan mengatakannya, ia tidak bisa lagi menarik ucapannya. Ia tidak ingin Nevan mengetahui tentang keluarganya yang selama ini Elvira sembunyikan dari mereka.
“Adalah pokoknya.”
Mereka lalu melihat Sakti yang tadi pergi mengambil mobil kini sudah tiba untuk menjemput mereka.
“Ya sudah, aku antar ke kantor lagi deh. Jangan marah ya,” kata Nevan yang kini membukakan pintu mobil untuknya.
Elvira segera masuk ke mobil. Namun saat Nevan hendak menyusulnya masuk, ia mendapati sebuah pesan di ponselnya dari Melody.
“Kamu pulang di antar Sakti saja ya, aku tiba-tiba ada urusan.”
Lalu Nevan menutupkan pintu mobil kemudian memberitahu Sakti dan mereka berpisah di tempat itu.
“Tiba-tiba saja? Tumben dia ada urusan tidak mengajak kamu?” tanya Elvira kepada Sakti yang kini sibuk menyetir di depan.
“Saya kan mau mengantar Ibu kembali ke kantor.”
Bersambung ...
__ADS_1