
Elvira tidak akan pernah mau berpasrah. Pantang menyerah ia berusaha melepaskan cengkeraman Anya darinya. Hingga akhirnya ia bisa menepis jeratan Anya, dan mendorong perempuan itu hingga terjatuh.
Tidak memedulikan lagi bagaimana keadaan Anya yang tengah mengandung itu, Elvira memilih bergegas membawa diri untuk berdiri. Ia berlari ke sembarang arah, sebisa mungkin menghindar, dan mencari jalan untuk keluar dari tempat ini.
“Elvira!!” Suara Anya memekik di udara, ia mendesis kesal karena gagal.
Seakan sudah terlanjur dengan niatnya, Anya merasa tanggung jika harus berhenti tanpa ada hasil yang diharapkannya. Belum lagi jika Elvira berhasil lolos darinya setelah ini, Elvira pasti akan melaporkan perbuatannya.
Pandangannya sudah seperti orang yang kehilangan akal sehat, Anya segera bangkit, lalu menyusul Elvira.
Sementara itu Gio yang sedang di perjalanan mengemudikan mobilnya, pikirannya masih mengambang, memikirkan soal kasus yang tengah ia tangani.
Namun tiba-tiba saja pikiran tantang Elvira terlintas di pikirannya, ia jadinya penasaran bagaimana keadaan Elvira setelah kejadian hari itu.
Sedangkan saat itu Elvira masih terus berlari, mencoba mencari-cari arah tempat parkir mobilnya tadi. Namun pikirannya terhambur, karena sembari berlari memikirkan cara meloloskan diri.
Sialnya, sejauh ini ia belum menemukan keberadaan orang lain disini. Apakah Anya sudah merencanakan ini? batinnya.
“Mau kemana kamu, Elvira?!” Suara lantang dari Anya, membuatnya semakin gugup. Ia menoleh sebentar ke arah belakang, benar saja Anya sudah menyusulnya.
Elvira tidak akan pernah mau berhenti, ia terus membawa diri pergi. Ponselnya berbunyi, masih dalam keadaan panik, Elvira mengambil ponsel dalam tasnya.
Ia tidak memeriksa lagi siapa yang menelepon, hanya langsung menjawab. Beruntung ia tadi sempat melihat nama jalan daerah sini, saat pertama kali tiba disini.
“Jalan area taman Mathilda! Siapa pun tolong saya! Seseorang sedang ingin melukai saya!” ujar Elvira yang sudah terengah-engah, karena sambil terus berlari.
Mendengar suara orang yang diteleponnya terdengar sangat panik, Gio jadinya menyimpan rasa kekhawatiran.
“Halo?!! Elvira?!” Gio semakin cemas, karena suara Elvira tidak terdengar lagi, melainkan hanya suara-suara yang tidak beraturan.
Niat awalnya menelepon menanyakan tentang keadaan Elvira, malah berujung dengan rasa kekhawatiran. Gio segera menambah kecepatan mobil, karena ia merasa dekat dengan jalan yang tadi di sebutkan Elvira.
Elvira terkejut karena Anya sudah berada di dekatnya, dan langsung ingin melukainya, beruntung Elvira sigap menahan tangan Anya, dan berhasil meloloskan diri lagi, setelah kembali membuat perempuan itu terjatuh.
Elvira kembali berlari, meski dengan deru napas yang sudah terasa berat. Hingga ia berhasil menemui jalan keluar dari kawasan taman itu, namun karena tadi asal berlari saja tanpa tahu arah tujuan, ia tidak menemukan mobilnya. Rupanya ia keluar dari arah yang berbeda.
Ia sedikit lega setidaknya ia sudah menemui jalan utama, sembari melangkah mencari keberadaan lokasi mobilnya, ia berharap barangkali ada seseorang yang lewat disini.
Sementara itu, Gio baru menghentikan mobilnya saat melihat mobil Elvira terparkir. Gio turun dari mobil, namun tak menemukan keberadaannya. Ia menelepon lagi, namun tak menemui jawaban.
Elvira yang tengah berlari, namun kakinya tersandung hingga ia terjatuh, dan ponselnya terjatuh. Elvira mendesis merasakan sakit pada kakinya yang terkilir.
__ADS_1
Sedangkan saat ini Anya sudah menghampirinya dengan senyum jahat, merasa Elvira sekarang sudah berada dalam kekuasaannya.Ia tentu tidak akan melepaskannya begitu saja.
Anya melirik ke arah ponsel yang dalam keadaan tertelungkup di jalan, sedang berdering. Elvira yang turut menyadarinya, langsung hendak mengambil ponselnya yang masih berjarak darinya.
Namun ia tertahan karena Anya mendekatinya, perempuan itu langsung menginjak kakinya yang sedang terkilir. Hingga Elvira merasakan sakit yang bertambah berkali lipat.
Anya lalu menyerangnya lagi, beruntung Elvira dengan sigap menahan tangannya. Ia berusaha sekuat tenaga, mendorong Anya hingga pisau yang sudah tepat di depan matanya, terlempar ke tengah jalan. Sedangkan Anya turut terjatuh di dekatnya.
"Arrrgghhhhh!!!!"
Anya berteriak kesal seperti orang kesetanan, karena Elvira selalu berhasil mempertahankan diri menggagalkan rencananya.
“Aku tidak akan mengampuni kamu!!” pekiknya.
Matanya menatap tajam, lalu segera menoleh ke arah pisau yang tergeletak, hasrat menjalankan niatnya masih saja merasuk dalam pikirannya.
“Kita akan mengakhiri disini!”
Usai berucap, Anya segera bangkit lalu berjalan ke tengah jalan untuk mengambil benda tersebut.
Di saat yang bersamaan, Elvira melihat dari kejauhan ada sebuah motor yang tengah melaju kencang. Diperhatikannya lagi, pemotor itu dalam hitungan sepersekian detik, kemungkinan akan melintas di dekat Anya.
Mata Elvira membulat panik, ia lantas menyerunya. “Anya!!!!! Awas!!”
“Anya!” Terdengar suara Gio yang memekik dari kejauhan. Elvira turut melihatnya yang tengah berlari menghampiri.
Elvira membekap mulut melihat keadaan Anya yang tergeletak di jalan, wajahnya sudah bersimbah darah dan tidak sadarkan diri.
Sedangkan pemotor yang tadi menyerempetnya, kini terlihat berhenti. Akan tetapi saat ia melihat keadaan korbannya, orang itu langsung menancap gas, kabur meninggalkan lokasi.
...✥✥✥...
Di rumah sakit.
Gio terlihat duduk dengan tidak nyaman, pikirannya masih terus mengkhawatirkan keadaan Anya, yang saat ini masih dalam tindakan dokter di ruang operasi.
Elvira yang turut memperhatikan tingkah Gio, hanya bisa terdiam dengan pikirannya yang turut menyimpan rasa khawatir untuk Anya.
Waktu sudah berlalu cukup lama, tapi belum juga ada tanda-tanda dokter keluar dari ruangan operasi. Dilihatnya di sampingnya saat ini ada Elvira. Gio hanya bisa terdiam, setelah mendengar semua penjelasan Elvira beberapa saat yang lalu.
Elvira membalas pandangannya, ia sangat memahami jika pikiran Gio saat ini hanya dipenuhi tentang keadaan adiknya.
__ADS_1
Elvira mencoba menenangkannya, ia mengusap punggung Gio memberi dukungan moril. Tampaknya pria itu mulai bisa sedikit lebih tenang.
“Bagaimana kaki kamu? Apa masih sakit?” tanya Gio segan.
“Sudah jauh lebih baik.”
Tak berselang lama, kedatangan Rani dan Arga yang terlihat tergesa, mengalihkan perhatian mereka.
Rani langsung menghampiri Gio, mempertegas keingintahuan lebih tentang hal yang tadi disampaikan Gio, saat menghubunginya soal Anya yang mengalami kecelakaan.
Matanya sudah berkaca-kaca, saat ini ia sepertinya hanya mampu berbicara melewati tatapan yang nanar. Mulutnya terlihat bergetar betapa ia tak sanggup mengutarakan kata-kata lagi, mengetahui yang telah terjadi pada putrinya.
Melihat di depan mereka saat ini adalah ruang tindakan operasi, semakin membuat Rani merasakan sebak di dada. Pikiran serta rasa khawatir tentang keadaan Anya, mendominasi semua relung hatinya.
Elvira yang tadi hanya diam memperhatikan, kini berjalan menghampiri Rani.
“Nak Elvira?” Sapaan penuh tanya yang tersirat dari Rani, sepertinya menunjukkan jika ia belum mengetahui sepenuhnya yang terjadi.
Elvira memahami rasa keingintahuan dari Rani tentang keberadaannya disini. Ia juga merasa serba salah bagaimana menjelaskannya.
“Bu, sebenarnya Elvira adalah orang yang bersama Anya tadi.” Gio berusaha menjelaskan.
Ia lalu menatap ke arah Elvira, pandangannya menyiratkan, jika ia berniat akan memberitahukan semuanya.
“Aku akan jelaskan semuanya sama Ibu,” ujar Gio.
“Sebenarnya ada apa, Gio? Bagaimana bisa adik kamu mengalami kecelakaan?” tanya Rani.
“Sebenarnya ....” Ucapan Gio menggantung, ia terlihat bingung memulai dari mana menceritakannya. “Sebenarnya Anya telah mencoba—“
“Suster!” panggil Rani.
Suaranya terpaksa menghentikan perkataan Gio karena pandangannya langsung teralihkan, saat seorang perawat baru keluar dari ruang operasi.
Semuanya tampak antusias menghampiri perawat itu, sepertinya ada suatu hal penting yang ingin ia sampaikan.
Bersambung...
__ADS_1