
...Di sebuah unit bangunan area Universitas Arkatama....
Meisya baru keluar dari gedung kantornya karena ia sedang mengantarkan tamu pentingnya hari ini setelah mereka mengadakan pertemuan kerjasama. Meski masih dilanda kedukaan, Meisya harus tetap profesional dalam melakukan pekerjaannya.
“Bu Meisya, saya turut berduka cita ya atas kepergian pak Daffin,” ungkap seorang tamu tersebut kepada Meisya.
“Iya, Pak. Terima kasih.”
“Kalau begitu saya permisi dulu.”
Meisya dengan ramah melepas kepergian beberapa orang tersebut hingga mereka sudah pergi dengan sebuah mobil.
Dari kejauhan sudah ada Anya memperhatikannya, ia melihat bagaimana raut wajah Meisya yang sopan dan betapa ia sangat disegani orang-orang di sekitarnya.
Sebelumnya Anya juga sudah mencari-cari pemberitaan maupun artikel yang menulis tentang Meisya yang merupakan wanita terpandang dengan segudang prestasi dalam karir kepemimpinannya.
“Wanita yang sepertinya gila hormat, dia pasti sangat menjaga reputasinya,” gumam Anya mengomentari sosok Meisya yang dilihatnya.
Tak berselang lama, saat Meisya sudah berada di ruangannya, ia dikejutkan oleh seseorang yang izin masuk ke ruangannya.
“Permisi, Bu Meisya. Ada yang ingin bertemu?”
“Siapa? Saya tidak ada janji temu lagi hari ini. Tapi, tidak apa-apa. Suruh saja dia masuk barangkali ada hal yang mendesak,” perintah Meisya yang langsung diiyakan oleh orang tersebut.
Saat mengetahui siapa yang hari ini bertamu di tempat kerjanya membuat Meisya terkejut.
“Kamu?”
“Ini saya, Anya, Bu.” Anya mengingatkannya kembali.
“Ada apa lagi kamu menemui saya?”
“Saya rasa Bu Meisya harus mengetahui sesuatu.”
Meisya masih belum menanggapi dan sepertinya ia ingin terus mendengar perkataan Anya lebih lanjut.
“Terus terang saja, kepergian pak Daffin juga membuat saya merasa sangat kehilangan. Bagaimanapun juga dia adalah orang yang sangat saya cintai hingga saya rela menyerahkan semuanya kepadanya, bahkan masa depan saya sekalipun,” tutur Anya memasang raut wajah sedih.
“Apa maksud dari perkataan kamu?” Meisya merasa sulit mencerna ucapan dari Anya.
Meisya mengira harusnya Daffin sudah mengakhiri hubungannya dengan perempuan ini.
“Ini.” Anya menyerahkan sebuah amplop kecil yang memiliki kop dari sebuah rumah sakit kepada Meisya.
__ADS_1
Meisya dengan ragu mengambilnya, detik berikutnya ia mengangkat alis saat mengetahui itu sebuah surat dari rumah sakit.
Meisya membuka selembar kertas yang ada di dalamnya dan sangat terkejut saat membacanya karena itu surat keterangan hasil pemeriksaan dari dokter kandungan dan pada lampiran di kertas tersebut terdapat foto kecil hasil dari pemeriksaan USG sebuah janin.
“Kamu hamil?” tanya Meisya, perasaan Meisya mulai tidak enak.
“Ya, dan itu adalah anak pak Daffin.” Pernyataan Anya membuat Meisya lebih terkejut dari sebelumnya.
“Tidak mungkin!”
“Maafkan saya Bu, saya sebenarnya tadinya tidak ingin mengungkapkan hal ini. Tapi saya pikir Ibu Meisya harus mengetahuinya,” kata Anya polos.
Meisya segera bangkit dari kursi kebesarannya dan segera menghampiri Anya dengan tatapan tidak percaya.
“Kamu?! Bagaimana bisa?”
Melihat reaksi tidak terima dari wajah Meisya membuat Anya segera berlutut di hadapannya.
“Ampuni saya, Bu Meisya. Kalau saja saat itu saya menolak pak Daffin, hal ini tidak mungkin akan terjadi.” Anya memohon sambil terisak.
“Tidak mungkin! Jangan berbohong kamu Anya!” bentak Meisya yang tak terima.
“Maafkan saya, Bu. Kalau Bu Meisya menolak anak ini, saya tidak apa-apa jika harus membesarkannya sendiri. Bagaimanapun ini adalah buah cinta saya dengan pak Daffin, saya memutuskan akan tetap mempertahankannya. Kalau Bu Meisya tidak percaya, Bu Meisya bisa menanyakan langsung kepada Bu Elvira, karena dia juga mengetahuinya,” lirih Anya yang menjatuhkan air matanya.
Ia lalu menghela napas sejenak untuk menenangkan diri sembari berpikir. Ia sudah melihat air mata dari wajah Anya yang mengharap belas kasihnya, Meisya mulai sedikit luluh karena ia melihat bagaimana perasaan cinta yang Anya tunjukkan sebagai seorang ibu yang ingin mempertahankan anaknya.
Sedangkan Anya yang masih menunduk memohon pengampunan dari Meisya langsung menyeka air matanya. Ia melirik sebentar ke arah Meisya yang tampak serius berpikir.
“Ibu Meisya tidak akan menyuruh saya untuk menggugurkannya kan?” tanya Anya dengan khawatir.
“Tidak, saya memang kecewa karena harus mendapatkan cucu dengan cara seperti ini. Tapi saya juga tidak setega itu. Saya tidak mau kamu jadi pembunuh terhadap anak kamu sendiri. Akan lebih baik jika kamu tetap menjaganya,” ujar Meisya yang sudah meredam emosinya.
“Saya tidak menyangka jika Bu Meisya sangat baik dan berhati lembut. Saya janji, saya akan menjaga anak ini dengan baik. Saya bersyukur karena masih memiliki dia meski pak Daffin sudah tiada,” kata Anya yang sudah berdiri di hadapan Meisya.
“Apa keluarga kamu mengetahui hal ini?” tanya Meisya.
“Saya tidak berencana untuk memberitahu keluarga saya. Saya sudah mengundurkan diri dari perusahaan, Bu. Akan terlalu beresiko jika saya masih bekerja di Arkatama grup mengingat kondisi saya, apa kata orang-orang di sana nantinya jika mereka tahu saya hamil anak pak Daffin,” jawab Anya.
“Kamu ya! Kalau kamu mau saya menerima anak itu, jangan sampai hal ini diketahui oleh orang lain. Kamu bisa bekerja dengan saya saja.”
Bagaimanapun hal yang satu ini tak kalah pentingnya untuk Meisya pikirkan, karena ia merasa ini adalah sebuah aib bagi keluarganya.
Ia tidak akan membiarkan orang-orang mengetahui hal ini, untuk itu ia merasa harus bisa mengendalikan Anya dan salah satu caranya dengan membuat Anya bekerja untuknya.
__ADS_1
Sementara Anya merasa sangat senang di dalam hatinya karena Meisya sudah masuk dalam perangkapnya, ia yakin dengan cara yang ia lakukan tadi akan mudah mendapatkan simpati Meisya terlebih Anya memiliki satu senjata ampuh untuk melunakkan hati Meisya.
Ia yakin Meisya harus berbuat baik terhadapnya jika tidak ingin hal ini terungkap ke publik.
“Baiklah, kamu pulang saja sekarang. Masalah pekerjaan, nanti kita bicarakan lagi.”
Meisya merasa harus segera menyuruh Anya pergi karena ia ingin menenangkan diri, saat ini tekanan darahnya terasa mulai naik dan ia perlu waktu untuk beristirahat.
...----------------...
Sore itu Elvira baru pulang dari kantornya, setelah menjalani hari-hari dengan keterpurukan kini ia sudah mencoba untuk bangkit kembali.
Bagaimanapun juga, sama seperti Meisya, ia pun turut memiliki tanggung jawab pekerjaan yang sedang diemban.
Sedangkan Dewanti beberapa hari terakhir terlihat sibuk mengurus kembali perusahaan dengan dibantu oleh Nevan. Elvira yang melihat kedatangan Dewanti yang tiba di rumah setelahnya langsung menyapa Omanya itu.
“Elvira, kamu baru pulang juga?” tanya Dewanti menyapanya balik.
“Iya Oma, Oma sepertinya sangat sibuk ya mengurus perusahaan.”
“Iya sayang, beberapa hari ini Oma menyiapkan pergantian CEO perusahaan kita.”
“Oh ya?”
“Iya, sebenarnya Oma sudah mengadakan Rapat Saham Luar Biasa dan sudah membahas masalah ini dengan dewan direksi beberapa waktu lalu. Oma senang karena hampir semuanya memilih Nevan sebagai CEO baru perusahaan kita. Tapi Kelihatannya dia masih memikirkannya.”
“Oh ya? Tapi aku yakin dia pasti bersedia, karena itu salah satu keinginan dari mendiang mas Daffin.”
“Benar kah?”
“Iya, Oma. Mas Daffin selalu ingin jika Nevan juga ikut mengurus perusahaan. Aku yakin Nevan tidak akan mengecewakan kakaknya.”
“Kamu benar, Elvira.” Lalu Dewanti memegang tangannya.
“Kamu harus kuat ya, kehilangan seorang yang kita cintai memang sangat berat. Tapi, bukan kah hidup harus terus berjalan? Kita harus menata kembali hati dan melanjutkan hidup. Biarkan dia selamanya berada dalam hati kita.”
“Iya Oma.”
“Oma senang sekali memiliki kamu di keluarga ini, tolong jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Oma karena kamu selamanya akan tetap jadi bagian keluarga ini.”
Elvira mengangguk mengiyakan.
Bersambung ...
__ADS_1