
Gio baru selesai memarkirkan mobilnya di salah satu halaman gedung. Seorang pria sudah menyambut kedatangannya, begitu ia sudah memasuki sebuah ruangan.
Pria itu memperhatikan Gio yang tampak serius, melihat isi dokumen yang diberikan kepadanya.
“Kita cukup banyak kehilangan informasi karena buronan ini harus tewas. Benar kan, saya pikir kita belum sepenuhnya berhasil mengungkap kasus ini.”
Pria itu lalu menunjuk ke sebuah foto pria yang ada di lembaran dokumen. “Dia mungkin bukan target utama kita yang sesungguhnya. Selongsong peluru yang ditemukan di lokasi itu jelas berasal senjata yang ditembakkan seseorang dari jarak jauh. Saya yakin, dia memang sudah diincar sejak awal.”
Gio mencerna sejenak perkataan dari rekannya. Ia menatapnya, sepemikiran. “Bisa jadi seseorang sedang beberes diluar sana. Mungkin saja, jaringan mereka sebenarnya lebih besar dari dugaan kita.”
“Dia menghubungi seseorang sebelum kejadian. Nomor telepon tersebut bahkan tidak bisa dilacak, sepertinya memang ada seseorang yang mengawasinya.”
“Kita mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu lagi untuk mengungkap kasus ini. Terima kasih, saya akan mengkaji ini bersama tim,” ucap Gio.
Rekannya itu menepuk pundaknya, memberi sokongan semangat.
...🍁🍁🍁...
Elvira baru menghentikan laju mobilnya, setelah menepi di sebuah bahu jalan. Akhirnya ia memutuskan untuk memenuhi permintaan Anya yang ingin menemuinya, dengan mengiringi arah lokasi yang diberikan Anya.
Di depan, kini sudah ada Anya yang berdiri, tampaknya sudah menantikan kedatangannya. Elvira mengedarkan pandangan ke beberapa arah sekitar. Sejauh penglihatan, tampak sepi.
Elvira melihat sekilas pelang yang berisikan informasi nama jalan. Tidak jauh dari lokasinya, terdapat sebuah taman kota.
Entah hal apalagi yang ingin dibahas oleh perempuan itu, Elvira hanya berpikir mungkin ia akan lebih tegas lagi menghadapi sikapnya.
Elvira segera keluar dari mobil, ia menemui Anya yang sudah menyambutnya dengan wajah penuh keangkuhan.
“Mau membahas apalagi?” tanya Elvira.
Seutas senyuman tersungging dari wajah Anya, Elvira belum dapat mengartikannya. Yang pastinya, ia masih menantikan jawaban dari pertanyaannya.
Anya meraih tangannya, Elvira sedikit tersentak, namun ia menyadari genggaman tangan itu menguat. Elvira lantas berusaha melepaskan tangannya, namun Anya bersikeras menggenggamnya.
“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan!” pinta Elvira dengan suara yang memekik di kesunyian tempat.
“Ikut saja! Kita perlu tempat yang lebih nyaman untuk bicara berdua.”
Genggaman perempuan itu semakin menguat, dan menjadi tarikan bagi Elvira untuk mengikuti arah langkah Anya.
__ADS_1
Anya membawa langkah mereka hingga tiba di area tengah-tengah taman. Elvira memperhatikan sekitar, tempat ini dihiasi beberapa rumput pagar yang berbaris. Taman yang cukup indah, namun sepi, tampaknya hanya ada mereka berdua disini.
Anya melepaskan tangan Elvira dengan kasar. Sorot matanya langsung berubah, lebih tajam dan menusuk. Elvira sudah tidak asing lagi dengan tatapan itu terhadapnya.
“Aku sudah muak! Bukan kah sudah ku peringatkan agar kamu menjauhi keluargaku?!” sentak Anya.
Elvira menaikkan alis, merasa heran dengan pernyataan itu.
“Kenapa? Kamu pikir aku tidak tahu apa yang baru saja kamu lakukan?! Untuk apa kamu masih menemui keluarga ku?” tanya Anya menginterogasinya.
Elvira membalas tatapannya dengan berani. “Apa lagi? Karena aku jelas memiliki hubungan baik dengan mereka,” jawab Elvira sekenanya.
“Hubungan baik? Kamu ingin membalas ku?” tuduhnya.
“Membalas?” Elvira merasa geli mendengar kata itu. Ia tampak memikirkan sesuatu sejenak, lalu menatap Anya lagi. “Kamu merasa takut, kalau-kalau aku berhasil masuk ke keluarga kamu? Kamu marah dan kesal, saat orang lain akan megambil sesuatu yang kamu miliki. Bagaimana rasanya?” tanya Elvira.
“Kamu!” Anya menahan sejuta rasa kesalnya, menatap wajah yang ada di depannya saat ini.
“Kamu sendiri yang meninggalkan keluarga kamu, demi merebut milik orang lain. Kalau kamu marah dan tidak terima saat ada orang yang masuk ke keluarga kamu, setidaknya kamu kembali saja pada keluarga kamu lagi.” Elvira menyarankannya.
Namun tampaknya setiap kalimat yang dilontarkannya, hanya akan membangkitkan amarah dari Anya.
“Apa? Kamu memintaku berhenti? Itu tidak akan pernah terjadi! Aku sudah sejauh ini, aku tidak akan pernah berhenti membuat kekacauan dalam hidup kamu!” sergah Anya.
Matanya sudah dipenuhi kebencian, sudut matanya mulai berair menahan segenap rasa yang merebak.
Setiap kali menatap Elvira, selalu saja membangkitkan rasa kebenciannya. Terutama tentang bayangan Daffin yang begitu mencintai Elvira, sampai detik ini Anya masih saja, belum bisa melupakan rasa dendamnya.
Anya mengingat bagaimana orang-orang berpihak pada Elvira, bahkan keluarganya sendiri kini menyambut kehadiran Elvira dengan tangan terbuka.
Sedangkan dirinya, kini nasibnya di keluarga Arkatama sudah sangat terpojok. Meisya yang merupakan satu-satunya tumpuan untuknya bertahan di keluarga Arkatama, kini juga tampaknya tidak bisa lagi ia andalkan.
Anya tidak bisa terima dengan semua ini, ia tidak ingin usahanya sejauh ini sia-sia begitu saja. Menyerah, sama saja ia akan tunduk dengan Elvira.
“Setidaknya, kamu harusnya masih memikirkan kata-kata yang pernah ku ucapkan.” Elvira menatap mata Anya penuh keberanian. “Kamu tidak akan memiliki tempat di keluarga Arkatama. Tapi aku berbaik hati, aku akan menerima dan merawat anak kamu.”
Elvira berpaling seraya melangkahkan kakinya. Namun Elvira tersentak, karena tiba-tiba Anya menahan tangannya.
Genggaman itu segera menariknya dengan kuat, Anya yang dipenuhi amarah langsung mendorongnya, hingga Elvira terjatuh tepat di hadapannya.
__ADS_1
Mendapat perlakuan kasar dari Anya, Elvira terpancing emosi. Ia berniat segera bangkit, namun Anya langsung mendekatinya.
Sebilah pisau yang tiba-tiba di arahkan Anya tepat di depan wajahnya, seketika membuat Elvira membeku.
Elvira terperangah, melihat benda tajam itu. Ia menatap Anya tidak percaya, karena berani melakukan hal yang bahkan tak terduga olehnya.
Sedangkan Anya memandangnya dengan sinis, seringai kemenangan tersungging di bibirnya, merasa saat ini berhasil menguasai Elvira.
“Apa yang kamu lakukan?!” tanya Elvira.
Tersirat dari matanya, sangat takut dengan benda tajam itu. Perlakuan Anya benar-benar menempatkan Elvira dalam situasi bahaya. Sedikit saja ia berontak, kemungkinan Anya akan berani melukainya.
“Menurut kamu, apa yang akan aku lakukan?” Anya melempar kembali pertanyaan. “Kamu lihat? Benda ini bahkan mampu meruntuhkan kesombongan siapapun, termasuk kamu, Elvira.”
Anya tertawa kecil melihat tatapan mata Elvira yang penuh kekesalan, betapa tak berdayanya perempuan itu kini dalam ancaman Anya.
“Apa kamu mau kita akhiri saja semua ini? Lagipula, aku juga sudah sangat bosan. Menurut kamu, akhir seperti apa yang kamu inginkan?” tanya Anya.
“Berhentilah,” pinta Elvira terdengar lirih.
“Kenapa aku tidak memikirkan ini lebih dulu ya. Semua ini akan berakhir, jika kamu sebaiknya juga tiada seperti Daffin. Sepertinya, ini adalah tingkat kepuasan yang selama ini aku inginkan. Melihat kamu tiada dalam genggamanku!” Anya tertawa lepas.
Segenap rasa senang bercampur kebencian mendalam, tergambar jelas di wajahnya.
Ia tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain hasrat untuk melenyapkan Elvira. Pikiran-pikiran dendam yang tersimpan dari masalah lalu seolah bangkit, menyelimuti diri dan mengisi relung jiwa Anya.
Tanpa pikir panjang, Anya memegang leher Elvira dengan satu tangannya lagi masih memegang pisau, siap untuk menikam benda dengan bilah tajam itu di hadapan wajah Elvira.
Sontak Elvira langsung memegangi tangan Anya, mengadu kekuatan untuk melepas jeratan tangan Anya yang mencekik lehernya.
Elvira semakin berdegup, karena tangan Anya terasa sangat kuat. Ia dapat merasakan gairah dendam dalam diri perempuan itu semakin menguasainya.
“Apa kamu sudah kehilangan akal? Anya! Sadarlah!” pekik Elvira, suaranya bercampur setengah ketakutan.
Masih terus mencoba melepaskan jeratan tangan Anya darinya.
“Tidak ada yang bisa menyelamatkan kamu di tempat ini!” sentak Anya. Ia mengambil ancang-ancang, mengangkat pisau sedikit tinggi. “Pergilah untuk selamanya!”
Bersambung ...
__ADS_1