
Elvira memperhatikan Mirah yang saat ini menangisi dirinya, yang akan meninggalkan rumah ini. Hubungan baik yang terjalin di antara mereka sejauh ini, membuat Mirah merasa berat untuk melepas kepergian Elvira, yang selama ini selalu bersikap baik dan sopan terhadapnya.
Meski Mirah hanya memiliki status sebagai asisten rumah tangga di rumah ini, namun Elvira selalu memperlakukannya dengan baik.
“Bi, sudah. Jangan menangis,” pinta Elvira yang tidak segan memeluknya sebentar untuk menenangkannya.
Sementara saat ini tanpa disadarinya, Nevan yang baru pulang ke rumah tidak sengaja melihatnya,dari arah pintu kamar yang memang sedang terbuka.
“Tapi, bagaimana Nyonya Elvira akan pergi dari rumah seperti ini. Bibi tidak tega, Bibi tadi dengan jelas melihat bagaimana perlakuan nyonya Meisya dan ibu Anya terhadap Nyonya Elvira. Menurut Bibi mereka sudah sangat keterlaluan mengusir Nyonya Elvira dari rumah ini.”
“Sudah, tidak apa-apa. Maaf kan saya ya kalau selama berada di sini ada perkataan maupun perlakuan saya yang mungkin menyakiti Bibi,” ucap Elvira yang kini sudah melepas pelukannya.
“Nyonya Elvira memperlakukan Bibi dengan sangat baik. Bibi mohon, jangan pergi.”
“Bi, saya titip oma ya. Tolong jaga oma dengan baik.”
Elvira lalu menghela napas berusaha menahan air matanya yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata. Diliriknya di sampingnya kini sudah ada sebuah koper miliknya, semuanya sudah tersimpan rapi dan siap dibawa pergi.
Ia memandangi sebentar ke arah fotonya bersama Daffin, hari ini ia benar-benar merasa harus melepaskan semuanya.
Dilihatnya saat ini di jari manis tangannya, yang masih terpasang cincin pernikahan yang diberikan Daffin dulu. Bila sejauh ini ia masih enggan melepasnya, tapi saat ini ia akhirnya melepasnya dengan penuh kerelaan lalu meletakkannya di atas nakas.
Baru saja Elvira hendak melepas kalung berlian pemberian dari Dewanti, ia dikejutkan oleh kedatangan Nevan, yang sepertinya tidak sabar lagi ingin masuk ke ruangan tersebut.
“Tuan,” sapa Mirah seraya menyeka sisa air mata di pipinya.
“Bibi boleh keluar,” titah Nevan, yang segera dituruti oleh wanita paruh baya itu.
Elvira melihat dengan jelas raut kemarahan di wajah Nevan saat ini. Pria itu sepertinya masih menahan diri ingin berucap, sembari membiarkan Mirah berjalan keluar kamar.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya dengan tatapan dingin.
“Melepaskan semuanya. Setelah apa yang ku lakukan kepada kalian, aku benar-benar minta maaf, Nevan. Sama seperti kamu, oma mungkin juga sangat kecewa terhadapku. Aku masuk dalam keluarga ini dengan membawa kebohongan, biarkan aku menebusnya dengan pergi dari sini,” sesal Elvira.
Namun tampaknya Nevan masih diam, mendengarkan tanpa ingin menanggapi. Satu sisi ia merasa lega, karena telah menemukan keberadaan Elvira di rumah. Di sisi lain, hatinya merasa tidak rela mendengar pernyataan kakak iparnya itu.
“Terima kasih atas semuanya, aku harus pergi sekarang.”
Elvira merasa tidak tahan berlama-lama menghadapinya, lalu memutuskan untuk menarik kopernya. Akan tetapi langsung ditahan oleh Nevan yang memegangi lengannya.
“Apa kamu pikir dengan pergi bisa menyelesaikan masalah?” tanya Nevan membuat Elvira bungkam.
__ADS_1
“Apa kamu tidak pernah belajar? Dari dulu! Kamu selalu saja ingin berlari dari masalah yang sedang kamu hadapi. Lalu apa hasilnya? Masalahnya tidak pernah selesai 'kan sampai kamu sendiri yang menghadapinya. Lalu kamu pikir dengan saat ini memilih pergi, apa keadaan akan lebih membaik?” tanya Nevan lagi, terdengar seperti sebuah omelan bagi Elvira yang masih memilih bungkam.
“Apa kamu pikir oma akan baik-baik saja dengan itu?” tanya Nevan lagi masih menunjukkan wajah galaknya.
Elvira yang mendengar Nevan memarahinya seperti ini membuatnya hanya bisa terus merasa bersalah.
“Kamu ikut aku sekarang!” Nevan langsung menarik tangannya bahkan tanpa meminta persetujuan.
Nevan memaksanya masuk ke mobil, Elvira hanya bisa berpasrah menerima perlakuannya. Ia dapat melihat jelas raut kemarahan dari wajah Nevan, yang sepertinya belum juga padam.
...❁❁❁...
Dari sepanjang perjalanan, hingga kini sudah tiba di rumah sakit, Nevan tampak masih irit bicara. Setelah turun dari mobil, Nevan menarik tangannya seperti enggan melepasnya sedetik pun. Hingga akhirnya ia membawa Elvira sampai di sebuah ruangan, tempat Dewanti di rawat.
Elvira menutup mulut dengan kedua tangan, saking terkejutnya melihat keadaan Dewanti yang terbaring lemah dengan beberapa selang medis.
“Kamu lihat keadaan oma sekarang? Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja tanpa mau mempertanggungjawabkan semua perbuatan kamu?!”
“Oma,” lirih Elvira yang sangat sedih melihat wanita tua itu terbujur menutup mata dengan rapat.
Ia segera menghampirinya, dan langsung memegangi tangan Dewanti yang terkulai lemah. Sambil menggenggam tangan itu dengan erat, tangisnya pecah seketika. Elvira tiada hentinya mengharap kesembuhan untuknya, karena saat ini dalam pikirannya dipenuhi rasa kekhawatiran yang tidak bisa membuatnya tenang.
“Oma, maaf kan aku,” ucap Elvira seraya mencium tangannya.
...❁❁❁...
Larut dalam keheningan hampir sepanjang malam, berada di samping Dewanti yang belum juga membuka mata. Elvira yang saat ini tertidur dalam keadaan duduk, tiba-tiba terbangun.
Sambil masih mengumpulkan setengah nyawa lagi untuk benar-benar sadar sepenuhnya, ia mengambil ponsel untuk melihat pertanda waktu. Ternyata sudah menunjukkan hampir jam delapan pagi.
Elvira mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan, belum juga nampak ada kehadiran Nevan yang tadi malam meninggalkannya setelah mengantarnya ke ruangan ini.
“Ashh. Kepalaku terasa pusing.” Elvira memijat dahinya. Lalu ia memandang ke arah Dewanti yang masih terpejam. “Oma, cepat sadar kembali ya.”
Elvira membelai tangannya, tiba-tiba Elvira melihat adanya gerakan kecil dari jari jemari Dewanti. Bola mata Elvira langsung membulat, melihatnya seperti mendapat sebuah jawaban dari perkataannya tadi.
Elvira kembali memperhatikan, kini kelopak mata Dewanti turut mulai berkedip ringan. Elvira semakin merasa senang dan lega melihatnya.
“Oma?” panggil Elvira lembut, sayup-sayup terdengar dari telinga Dewanti.
Detik selanjutnya, mata Dewanti perlahan membuka dan terlihatlah samar-samar wajah Elvira dalam indera penglihatannya yang masih belum terbuka sempurna.
__ADS_1
“Oma, aku panggil kan dokter dulu ya.”
Elvira segera berlari keluar dan meminta salah seorang pengawal untuk segera memanggil dokter, karena Dewanti menunjukkan tanda-tanda bangun.
Namun saat ini ia bertemu Meisya dan Anya yang baru datang. Meisya tak kalah terkejutnya melihat Elvira tiba-tiba berada disini.
“Aku pikir kamu sudah meninggalkan rumah dan tidak seharusnya berada disini!” celetuk Meisya.
“Ma, oma sudah sadar.”
“Apa?”
Meisya langsung hendak masuk, tapi ia menahan langkahnya sejenak, lalu menatap Elvira.
“Kenapa kamu masih disini? Bukan kah aku tidak akan mengizinkan kamu untuk menemui oma.”
“Ma, biarkan aku melihat oma. Aku mohon.”
“Tidak akan! Pergi dari sini,” usir Meisya.
“Tapi, Ma.”
Elvira langsung menahan perkataannya, karena kini Anya menangkap tangannya. Anya kemudian menariknya agar segera menjauh dari sana, membiarkan Meisya masuk dengan leluasa ke dalam kamar rawat.
“Ayo,” ajak Anya tersenyum kepadanya.
Akan tetapi kini langsung menarik tangannya, membawanya terus berjalan, hingga sudah jauh dari ruangan Dewanti. Sementara Elvira masih terus berontak, berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Anya yang kuat.
“Lepas kan aku!” bentak Elvira seraya kini benar-benar berhasil melepaskan tangannya.
“Bukan kah sudah ku katakan kalau aku akan merebut semua yang menjadi milik kamu, dan kini terima lah nasib kamu yang sudah terlempar dari keluarga Arkatama.” Anya berucap sembari menunjukkan ekspresi senang penuh kemenangan.
“Jangan pernah berani menyentuh keluargaku, apalagi ibuku!” Guratan kemarahan jelas tergambar dari wajah Elvira saat menatapnya.
“Baiklah. Kalau begitu silakan pulang saja, kembali pada ibu kamu. Lebih bagus lagi tidak menunjukkan diri, di keluarga Arkatama.”
Puas mengatakan kalimat ledekan kepada Elvira yang menurutnya kalah telak, Anya segera berlalu dengan santainya tanpa beban.
Sedangkan Elvira yang masih berkutat dengan rasa marah dan benci terhadap Anya, kini hanya bisa memijat kembali kepalanya yang terasa pusing.
Meski dengan berat hati, Elvira akhirnya memutuskan saja untuk pergi dari rumah sakit. Bagaimanapun juga, ia terus berharap semoga Dewanti segera pulih kembali, walaupun tanpa kehadirannya.
__ADS_1
Bersambung ...