Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 28-- Acara Perusahaan (Lanjutan)


__ADS_3

Elvira langsung memasang muka malas saat melihat Anya kini hadir menemaninya. Dari kejauhan mereka terlihat layaknya dua orang yang sedang mengobrol biasa dan menikmati minum bersama.


 “Menyedihkan sekali saat melihat kamu menyendiri di sini.” Sapaan Anya terdengar seperti ledekan.


“Lebih menyedihkan lagi melihat kehadiran orang asing seperti kamu di tengah keluargaku,” sahut Elvira yang langsung memasang wajah dingin.


“Sebentar lagi kita juga akan jadi keluarga,” tutur Anya membuat Elvira mengerutkan dahi.


“Apa maksud kamu?”


“Bagaimana jika kehadiranku ternyata bisa melengkapi kamu?” ledek Anya lagi.


“Apa sebenarnya yang kamu pikirkan?!” tanya Elvira marah.


“Aku hanya mau melengkapi kamu Elvira, karena aku memiliki sesuatu yang tidak kamu miliki, yaitu anak. Aku rasa dengan ini kita akan memiliki posisi dan hak yang sama,” pungkas Anya.


“Berhenti membual, Anya!”


“Kenapa? Kamu mulai takut dengan kehadiranku yang mungkin akan menyandingkan posisiku denganmu? Atau bahkan bisa melempar kamu keluar dari keluarga Arkatama.”


Elvira benar-benar merasa terganggu dengan kehadiran Anya yang seakan membawa ancaman pada kehidupannya. Apapun itu, Elvira merasa jika Anya sepertinya akan merencanakan sesuatu terhadapnya dan keluarganya.


“Kita lihat saja tanggal mainnya,” ujar Anya lalu ia segera meninggalkan Elvira yang masih dengan kebingungannya.


Elvira memijat dahinya yang mulai terasa pusing karena tekanan pikirannya. Belum cukup puas hatinya tersayat karena kehadiran Anya di hidup Daffin, kini perempuan itu kembali datang mengganggunya.


Ia merasa suasana hatinya langsung berubah menjadi sangat tidak baik. Lalu ia melihat ada Sakti yang sedang lewat.


“Sakti,” panggil Elvira.


“Iya, Bu.” Sakti langsung menghampirinya.


“Kamu bisa mengantarku pulang?”


“Mm saya ...”


“Tidak bisa,” Nevan yang tiba-tiba datang langsung menyahut.


“Kamu tidak bisa asal perintah Sakti seperti itu tanpa seizin ku karena sekarang Sakti bekerja untukku,” lanjutnya.


“Apa-apaan lagi ini. Nevan, aku sedang malas berdebat. Tolong jangan membuatku kesal ....” Elvira lalu menahan ucapannya saat melihat dasi yang dikirimkannya untuk Nevan ternyata dipakainya malam ini.


“Kalau kamu mau memerintah Sakti, itu harus seizin ku,” tegas Nevan.


“Lalu, apa sekarang kamu mengizinkan, Pak CEO yang terhormat?” tanya Elvira dengan lembut untuk  menghormatinya, meski terkesan terpaksa karena ia masih menahan kekesalannya.


“Hmm, tidak,” sahut Nevan dengan wajah datar.


“Ya ampun.” Elvira kembali kesal.


“Oke, kalau begitu aku akan pulang sendiri.” Elvira lalu melipir dari mereka untuk segera meninggalkan tempat tersebut.


“Loh.”


Nevan terheran dengan sikap Elvira, ia pun dan Sakti saling memandang untuk beberapa detik. Lalu mereka sama-sama melihat Elvira menerobos keramaian pesta sepertinya sedang mencari jalan untuk keluar.


“Dia sedang serius,” ujar Sakti panik.


Nevan pun segera mengejarnya, sedangkan Sakti juga hendak turut mengejar akan tetapi terburu dipanggil oleh Meisya. Ia tidak ada pilihan lain selain menghampiri Meisya yang memintanya untuk melakukan sesuatu terhadap tamu-tamunya.


...----------------...


Sementara itu Elvira terus melangkah dengan cepat menembus keramaian di tengah pesta untuk menemukan pintu keluar, ia seolah tidak peduli lagi dengan ribetnya gaun panjang yang dipakainya serta sepatu haknya tinggi. Ia sudah terbiasa untuk berjalan dengan cepat.


“Dia pikir aku sedang bercanda? Huh! Kenapa semua orang tampak menyebalkan!” gerutu Elvira sambil terus berjalan.


Di saat suasana hati nya yang sedang rusak seperti ini, ia hanya berpikir untuk menepi dari keramaian.


Saat sudah keluar dari tempat acara, tiba-tiba ia tidak sengaja menabrak tubuh seseorang di tengah pelariannya.


“Maaf, saya tidak sengaja,“ ucap Elvira.

__ADS_1


Ia segera beranjank pergi akan tetapi tangannya langsung ditangkap oleh orang itu.


Elvira kembali memperhatikannya dan ternyata adalah seorang pria paruh baya, ia berpakaian rapi dan nampaknya merupakan salah satu tamu acara tersebut.


“Hai, kamu sepertinya sedang buru-buru,mau kemana? Boleh saya menemani kamu?” sapanya dengan sopan.


“Ee, bisa tolong lepaskan tangan saya?” pinta Elvira dengan baik-baik karena ia merasa sangat risih.


Apalagi menyadari cara pria tersebut memandangnya membuatnya merasa semakin tidak nyaman lagipula sepertinya pria itu tidak mengenalnya.


“Kamu mau kemana? Masa wanita secantik kamu  sendirian saja. Saya temani ya.”


“Eh, tidak usah,” tolak Elvira.


Nevan yang akhirnya menemukan keberadaan Elvira melihat itu dari kejauhan langsung berlari ke arahnya, ia merasa sangat khawatir.


“Kamu disini?” tanya Nevan.


Melihat Nevan. Pria itu langsung melepaskan tangan Elvira. Elvira merasa lega karena kehadiran Nevan.


“Eh, Pak Nevan.” Pria itu menyapa dengan penuh rasa hormat.


Nevan merasa malas menanggapi akhirnya memilih mengacuhkannya. Lalu ia segera menggandeng tangan Elvira dan berjalan menjauh dari pria tersebut.


“Nevan, sudah ku bilang aku bisa pulang sendiri.” Elvira melepas tangannya dari Nevan.


“Kamu kenapa sih? Acaranya masih belum selesai.”


“Aku bingung harus bagaimana menjelaskannya, intinya suasana hatiku benar-benar sedang rusak. Aku perlu menenangkan diri.”


Elvira berusaha menjelaskan sembari mencoba menenangkan dirinya yang saat ini sedang resah.


“Iya, tapi karena apa? Apa karena perkataan ku tadi?”


“Hmm, kamu memang terkadang menyebalkan, tapi sebenarnya bukan karena itu. Kamu tahu kan perempuan itu datang juga ke acara ini? Dia sekarang bekerja untuk mama.”


“Oh itu. Terus, kenapa malah kamu yang menjauh?”


“Bagaimana ya menjelaskannya, dia membuatku kesal dan marah entah tingkah ataupun perkataannya. Aku juga tidak mengerti kenapa dia masih saja mau menggangguku.”


“Apa yang akan kamu lakukan?”


“Aku akan mengenalkan siapa kamu kepada semua orang. Ikut lah ke dalam. Ayo.”


Mereka pun segera memasuki tempat acara, Nevan mengajak Elvira untuk ikut dengannya berbincang dengan beberapa tamu penting lainnya sekalian memperkenalkannya kepada mereka.


Terdengar suara dari seorang pembawa acara yang sedang menyambut para tamu memecah keramaian pesta.


Ia lalu memanggil nama Nevan untuk maju ke depan memberikan sambutan yang sudah dinantikan oleh para hadirin.


Nevan dengan gagahnya segera maju dan menyampaikan sepatah dua patah kata atas penobatannya sebagai CEO baru di perusahaan raksasa Arkatama grup.


Riuh tepuk tangan pun tak hentinya diberikan para tamu untuk Nevan. Dalam sambutan singkatnya tersebut, ia sedikit menyinggung tentang sosok Daffin yang luar biasa dan selalu menjadi panutannya.


Ia juga berharap agar bisa kepemimpinannya nanti sebaik kakaknya.


“Berbicara mengenai kak Daffin tak lengkap rasanya jika saya tidak mengucapkan terima kasih kepada kakak ipar saya, Kak Elvira yang telah senantiasa mendampingi kak Daffin dalam hal apapun. Terima kasih ya Kak selalu berada disisi kak Daffin dan tetap setia mencintainya,” ucap Nevan kepada Elvira dalam penggalan sambutannya.


Elvira merasa terharu karena ternyata banyak tamu hadirin yang memperhatikan ke arahnya dan memberinya tepuk tangan.


Nevan merasa puas karena ia berhasil menunjukkan keberadaan Elvira kepada orang-orang agar Anya sadar diri jika ia tidak akan bisa menggantikan posisi Elvira di keluarga Arkatama.


“Nevan apa-apaan sih kenapa jadi bawa-bawa Elvira segala. Dia tidak tahu saja apa yang direncanakan oleh kakak iparnya itu. Makin dia dipuji orang, makin besar kepala nanti jadinya,” protes Meisya yang hanya mendapat tanggapan datar dari Anya yang berada di sebelahnya.


Sedangkan Dewanti hanya memandang cucunya itu dengan penuh rasa bangga. Meskipun Daffin sudah tiada, Dewanti yang sudah merelakan kepergiannya itu selalu saja merasa jika terdapat sosok Daffin dalam diri Nevan. Karena itu jika sedang memandang Nevan, ia jadi teringat akan Daffin.


“Kamu tidak perlu melakukan itu,” kata Elvira begitu Nevan menghampirinya lagi setelah selesai berbicara di depan orang-orang.


“Kamu harusnya tidak perlu takut akan ancaman apapun dari perempuan itu, dia tidak akan bisa menggantikan posisi kamu. Lagipula tadi aku hanya mau berterima kasih sama kamu, aku tahu perasaan kamu tulus terhadap kak Daffin. Sekarang, kalau kamu benar-benar mencintainya, kamu hanya perlu meneruskan hidup dan menjalaninya dengan baik.”


“Makasih ya,” ucap Elvira.

__ADS_1


“Sama-sama, kakak ipar,” balas Nevan tersenyum kepadanya.


“Ngomong-ngomong, dasi itu terlihat cocok untuk kamu.”


“Oh ya? Mm, seseorang memberikannya kepadaku, jadi aku pikir aku akan memakainya malam ini.”


“Sangat keren saat kamu yang memakainya.” Elvira melemparinya dengan senyum simpul.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anya masih setia mendampingi Meisya yang sibuk bepergian karena pekerjaan. Selain bekerja di kantor, Meisya juga banyak bepergian untuk menghadiri undangan di luar kantor ataupun mengisi acara lain.


Termasuk kegiatan hari ini, Meisya sedang menghadiri salah satu acara seminar di kampusnya dan ia juga menyampaikan sambutan singkat dengan penuh wibawa sehingga membuat banyak orang mengaguminya.


Seperti bisa menjadi panutan yang baik, setiap ucapannya pun dinilai sangat bermakna oleh banyak orang.


Anya yang turut menyaksikannya berbicara saja terkagum kepadanya, lebih tepatnya ia mengagumi cara Meisya memanipulasi dirinya sendiri agar terlihat sangat mengagumkan di mata orang lain tanpa orang tahu bagaimana sisi diri Meisya yang lainnya.


“Wah, dia sepertinya sangat ambisius dan suka diagung-agungkan,” gumam Anya sembari memperhatikannya.


Anya berpikir ia tidak akan salah pilih untuk mendekati Meisya sebagai jalan masuk ke keluarga Arkatama.


Setelah selesai acara saat akan keluar dari gedung, banyak orang yang mengantarnya dan tak hentinya memberikan penghormatan.


Meisya pun dengan ramah berbicara kepada mereka. Mereka bahkan mengantar Meisya hingga ia menghampiri mobilnya.


Saat itu Anya masih terus setia mendampinginya dan merasakan bagaimana pengaruh positif yang berhasil ditebar oleh sosok Meisya kepada orang-orang. Namun karena terlalu lelah, Anya akhirnya sedikit hilang keseimbangan.


Meisya dikejutkan oleh Anya yang mendesis memegangi kepalanya.


“Kamu kenapa Anya?” tanya Meisya.


“Kepala saya pusing banget, Bu,” ujar Anya, lalu detik berikutnya ia sudah jatuh pingsan.


“Anya!” Meisya terlihat panik.


“Dody!” panggil Meisya kepada supirnya yang segera datang.


“Kamu angkat dia, bawa ke mobil!” perintah Meisya.


“Baik, Bu,” sahut Dody.


Meisya tidak punya pilihan lain selain membantu Anya karena ia sedang diperhatikan oleh yang lainnya. Ia harus menunjukkan citra diri yang baik dengan bersikap perhatian kepada asistennya.


“Lebih baik segera kita bawa ke klinik terdekat.”


“Iya, Bu.”


Lalu mereka segera pergi membawa Anya. Di dalam perjalanan Meisya mengeluh kenapa Anya sampai sakit. Karena hal ini, ia harus membatalkan jadwal kunjungan berikutnya.


Tak berselang lama, mobil hitam milik Meisya sudah tiba di depan sebuah klinik yang letaknya tidak jauh dari kampus Universitas Arkatama. Dokter segera memeriksa keadaan Anya dan Meisya merasa terpaksa harus mendampingi.


“Keadaan Bu Anya baik-baik saja, dia mungkin hanya kelelahan karena sedang mengandung. Tetapi bayi dalam kandungannya untungnya dalam keadaan baik-baik saja,” ujar dokter menjelaskan di hadapan Anya yang sudah siuman ditemani Meisya di sebuah ruang pemeriksaan.


“Saya tinggal sebentar ya Bu untuk meresepkan obat,” kata dokter perempuan itu lalu ia segera permisi.


“Maafkan saya ya Bu, saya pikir saya masih bisa bekerja seperti dulu. Ternyata ini karena kondisi saya yang sedang hamil,” ujar Anya.


“Tidak masalah, kamu bisa bekerja di kantor saja dan saya akan beri keringanan untuk kamu sebab kamu sedang mengandung.”


“Makasih ya Bu. Bu Meisya sangat baik terhadap saya, tapi saya tetap ingin ikut bekerja kemanapun Bu Meisya pergi. Saya yakin anak ini pasti suka jika berada di dekat omanya,” kata Anya sambil mengelus perutnya.


“Ya ampun.”


Meisya nampak resah ketika mengingat jika yang ada di dalam kandungan Anya itu adalah calon cucunya.


Kemudian Meisya segera meninggalkan Anya sendiri. Sedangkan Anya tersenyum sinis, ia harus menemukan cara untuk meraih perhatian dari Meisya.


Anya yakin, sekeras-kerasnya hati Meisya pasti akan tetap luluh jika menyangkut perihal calon cucunya yang sedang ia kandung.


“Mama akan lakukan apapun untuk kamu, Nak. Kamu harus mendapatkan apa yang menjadi hak kamu,” gumam Anya sambil terus mengusap perutnya yang masih belum kelihatan buncit.

__ADS_1


Bersambung ...


 


__ADS_2