Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 35-- Menata Hati


__ADS_3

Malam harinya, Elvira dan Dewanti sudah siap di meja makan untuk menyantap makan malam bersama.


Tiba-tiba Meisya dan Anya datang mengejutkan mereka. Keduanya lalu ikut duduk bersama seolah tak memperhatikan tatapan dari Dewanti yang sepertinya selalu terganggu dengan kehadiran Anya.


Meski Elvira menunjukkan sikap biasa saja, akan tetapi lain halnya dengan Dewanti yang secara terang-terangan masih sangat sulit menerima Anya.


“Ayo makan malam bersama,” ucap Meisya.


“Iya, Ma,” sahut Elvira sambil tersenyum simpul ke arahnya, ia senang melihat sikap Meisya seperti ini.


Namun seperti biasa sikap Meisya selalu dingin dan tidak peduli dengan keberadaannya. Tapi bagaimanapun juga merasa ia memang pantas mendapatkannya dan tetap bersikap baik kepada mertuanya itu.


“Kamu harus makan banyak untuk kesehatan kandungan kamu,” ujar Elvira kepada Anya.


Ia tidak segan mengambilkan beberapa lauk yang terdiri sayuran dan meletakkan di piring Anya.


Sedangkan Anya memperhatikan dengan heran, ia takjub melihat Elvira masih bisa bersikap baik dan santai kepadanya setelah pembicaraan mereka tadi sore di kamar Elvira.


“Terima kasih, ternyata kamu sangat perhatian ya.” Anya menyambut kebaikan Elvira dengan ramah. Keduanya terlihat akrab seperti tidak ada konflik di antara mereka.


“Tentu lah Elvira harus perhatian, karena Anya sedang mengandung anak Daffin. Bahkan dia sendiri saja tidak bisa menjaga kandungannya,” sindir Meisya.


“Meisya! Jaga ucapan kamu!” tegur Dewanti.


Elvira terdiam sejenak mencerna sindiran Meisya kepadanya yang tentu saja mampu membuat darahnya hampir mendidih. Tapi detik berikutnya ia memberikan senyum simpul walau dengan kesan terpaksa.


“Maaf kan aku ya, Ma. Aku harusnya bisa lebih berhati-hati,” ucap Elvira penuh sesal.


Meisya menyadari tatapan Dewanti ke arahnya yang penuh arti kemarahan. Sejauh ini hubungannya dengan ibu mertuanya itu mulai merenggang karena perubahan sikap Meisya yang dirasa arogan oleh Dewanti, sementara Meisya menganggap Dewanti yang berubah karena terlalu membela dan berpihak kepada Elvira.


“Mulai sekarang aku akan lebih perhatian kepada Anya,” ujar Elvira lagi yang masih dalam kepura-puraannya menerima Anya.


“Elvira, apa yang kamu lakukan? Bagaimana bisa kamu menerimanya begitu saja? Kamu lupa apa yang sudah dia lakukan?” protes Dewanti.


“Aku tidak apa-apa, Oma. Lagi pula, semuanya sudah terjadi, setidaknya kita harus tetap bersikap baik kan karena dia sedang mengandung.”


“Tapi Sayang.”


“Oma, tidak apa-apa.” Elvira memberi senyuman kepada Dewanti mengisyaratkan jika ia baik-baik saja.


Sebenarnya Elvira hanya ingin terus menunjukkan sikapnya yang kuat dan tak tergoyahkan sedikit pun dengan kehadiran Anya.


Elvira tahu jika ia bersikap lemah hanya akan membuat Anya merasa menang dan jadi besar kepala. Ia juga tidak ingin Dewanti terlalu mengkhawatirkannya.


“Aku senang kamu akhirnya mau menerimaku dan anak ini, bukankah kamu juga bisa menjadi ibu dari anak ini? Dia pasti sangat senang karena juga memiliki seorang ibu seperti kamu, Elvira,” kata Anya.


“Iya,” jawab Elvira singkat dengan senyum palsu.


“Baguslah, anggap saja kamu juga yang akan jadi ibu dari anak itu,” pungkas Meisya.


Lalu mereka kembali menyantap makan malam dengan keheningan, sementara Anya di sela makannya masih saja memperhatikan ke arah Elvira yang duduk berseberangan dengannya. Anya merasa cukup sulit untuk membaca hati perempuan satu ini.


“Kita akan lihat seberapa lama kamu bersembunyi di balik sikap seperti ini,” gumam Anya dalam hatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Meisya masuk ke kamar Anya dan sukses mengejutkan Anya yang sedang bersantai di tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya.


“Bu Meisya.” Anya langsung berdiri menghampirinya.


“Saya membawa kamu ke rumah ini bukan hanya untuk bersantai, apa kamu menjalankan tugas kamu dengan baik? Kenapa Elvira masih bisa terlihat biasa saja? Bukan kah sudah saya katakan dengan kehadiran kamu di rumah ini harus bisa membuatnya tidak nyaman lagi berada di rumah ini?” Meisya menggerutu melemparinya pertanyaan.


“Iya Bu Meisya, saya tahu. Saya juga yakin sebenarnya dia hampir frustasi karena menerima keadaan ini. Dia tidak akan semudah itu mengalah, bersabarlah sedikit.”


“Satu-satunya alasan terbesar Elvira masih bertahan di rumah ini hanyalah kebaikan dari mama mertua saya. Rebut perhatian dan kasih sayangnya, kalau perlu buat mama mertua saya membencinya,” titah Meisya.


Meisya pun segera keluar dari kamar Anya, sementara Anya masih mencerna perkataan dari Meisya tadi.


Sejak awal ia memang sudah mengetahui jika Meisya sangat tidak menyukai Elvira, Anya juga mengetahui jika keberadaannya hanya dimanfaatkan oleh Meisya untuk membuat Elvira keluar dari rumah ini.


Akan tetapi ia tidak ada jalan lain lagi untuk masuk ke dalam keluarga ini selain mengikuti keinginan Meisya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini Nevan keluar dari kantornya dengan menyetir mobilnya sendiri, di perjalanan ia mencoba menghubungi nomor Elvira.


“Ya? Ada apa?” terdengar suara Elvira di seberang telepon yang menjawab panggilannya.


“Kamu di mana sekarang?”


“Aku di kantor.”


“Aku dalam perjalanan ke sana,” ujar Nevan.


“Kamu mau ke sini?”


Tidak lama kemudian, Nevan sudah tiba di ruangan kantor Elvira.


“Kamu datang sendirian? Ada apa?” tanya Elvira begitu Nevan sudah duduk di sofa.


“Iya, aku sendiri. Soal ajakan ku waktu itu, aku serius ingin mengajak kamu makan siang bareng.”


“Oh, soal itu, dalam rangka apa?”


“Dokumen yang kamu berikan waktu itu, itu membantu sekali memudahkan pekerjaanku.”


“Bagus lah kalau itu bisa membantu.”


“Jadi, mereka menemui kamu langsung?” tanya Nevan penasaran.


“Iya. Aku rasa hanya terjadi sedikit kesalahpahaman saja di antara kalian. Mereka pikir kamu tidak akan memberi mereka kesempatan lagi karena mereka sudah di blacklist mas Daffin.”


“Aku harus profesional, aku tidak ada masalah dengan mereka. Karena sekarang perusahaan aku yang pegang kendali, jadi aku bebas kan mengambil keputusan? Masalah mereka hanya sama kamu.”


“Kebetulan masalah sudah terselesaikan. Jadi kamu serius mau mengajakku makan? Sampai repot-repot kesini,” tanya Elvira lagi memastikan.


“Iya, aku benar-benar ingin berterima kasih, aku sedang berbaik hati sekarang.”


Elvira tersenyum mendengarnya, sejauh ini hubungannya dengan Nevan sudah lebih akrab dari sebelumnya. “Oke, kita ke Castle Restaurant.”


Elvira lalu mengambil tasnya dengan semangat setelah menyebutkan nama restoran yang terkenal paling mewah dan mahal tersebut.

__ADS_1


“Oke, siapa takut. Kita ke sana.” Nevan setuju.


“Aku mau kita ke lantai yang paling atas,” pinta Elvira lagi menantangnya karena harga pelayanan tertinggi ada di lantai itu. “Hari ini kamu akan mengeluarkan cukup banyak uang untuk satu jam sesi makan.”


“Iya.”


...----------------...


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di restoran tersebut. Sesuai permintaan Elvira mereka berdua mendapatkan meja di lantai teratas yang merupakan khusus area tamu VIP ekslusif, karena tempatnya yang didesain sangat megah serta mendapat pelayanan khusus untuk orang-orang berduit.


“Kamu kenapa memutuskan untuk menerima Anya?” tanya Nevan tiba-tiba saat mereka sembari menikmati hidangan.


“Aku? Menerimanya? Lebih tepatnya berpasrah karena ini sudah terjadi, bagaimanapun aku harus tetap menerima anak itu kan? Aku akan menerimanya dengan caraku sendiri.”


“Aku tidak yakin kamu bisa semudah ini menerima kehadirannya setelah apa yang dia lakukan, pasti sangat menyakitkan bagi perasaan kamu.”


“Aku hanya mencoba menerima kenyataan, entah ini takdir atau karma untukku, aku harus menjalaninya. Kamu sudah melihatku lemah dan terpuruk berkali-kali, kali ini aku hanya ingin menunjukkan sisiku yang kuat.” Elvira tertawa kecil meledek dirinya sendiri.


“Baiklah, jadilah perempuan paling kuat yang pernah ku temui.”


“Nevan, kamu akan menemuinya dalam diriku,” kata Elvira penuh percaya diri.


“Iya, iya. Lakukan sesukamu.”


“Oh ya, kamu sibuk hari ini?” tanya Elvira.


“Aku ada rapat setelah ini.”


“Mm ya sudah, kita berpisah di sini ya.”


“Memangnya kamu mau ke mana?” tanya Nevan penasaran.


“Aku tiba-tiba ingin pergi ke suatu tempat setelah ini.”


“Biar ku antar.”


“Tempatnya agak jauh dari sini, kamu tidak akan bisa rapat jika mengantarku.”


“Tidak masalah, aku akan mengantar kamu. Aku akan batalkan rapat hari ini.”Nevan tetap bersikeras ingin mengantarnya.


Elvira tertawa kecil melihat Nevan yang tampak antusias, sikapnya sekarang bahkan terlihat jauh lebih hangat dari sebelum-sebelumnya.


“Kamu serius?” Elvira mendelik tak percaya.


“Iya.”


“Oke, jangan salahkan aku ya kamu membatalkan rapat hari ini,” ujar Elvira bersemangat, sedangkan Nevan hanya tersenyum melihatnya yang tampak bahagia.


...----------------...


Beberapa saat kemudian.


Nevan tertegun melihat sebuah tempat yang ada di hadapannya saat ini. Detik berikutnya ia mendelik ke arah Elvira yang ada di sampingnya.


“Aku membatalkan agenda rapat hari ini hanya untuk pergi ke tempat ini?” Suara Nevan terdengar penuh sesal.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2