
Dewanti langsung berdiri dari posisi duduknya seraya bereaksi marah. “Meisya! Apa-apaan kamu?!”
“Mulai sekarang Mama harus bisa menerima kehadiran Anya di rumah ini.”
“Meisya kamu sadar apa yang kamu lakukan ini?”
“Sekarang dia akan menjadi bagian dari keluarga kita, Ma. Dia mengandung anak Daffin."
"Apa?!"
"Kalau Mama tidak percaya, Mama bisa tanyakan langsung kepada Elvira perihal kebenarannya.”
“Tidak bisa!”
“Kenapa tidak bisa, Ma? Dia juga berhak menjadi bagian keluarga kita sama seperti Elvira.” Meisya terus mendebatnya.
“Jangan sama kan dia dengan Elvira. Mereka tidak akan pernah bisa disamakan! Elvira jelas menantu yang sah di rumah ini.” Dewanti menegaskan.
“Tapi Anya juga memiliki anak dari Daffin dan aku yakin Mama juga tidak akan bisa menolaknya. Anggap saja ini sebagai pengganti kesedihan Mama karena Elvira tidak bisa mempertahankan anak dalam kandungannya.”
“Keterlaluan kamu Meisya!” Terlihat jelas sekali ekspresi kemarahan dan rasa tidak terima dari wajah Dewanti.
“Oma, maafkan saya.” Anya langsung berinisiatif untuk berlutut di depan Dewanti melerai perdebatan dua wanita itu.
“Kamu, bagaimana bisa kamu melakukan ini?! Di mana kamu meletakkan kehormatan kamu!”Dewanti memakinya dengan penuh amarah.
“Semua terjadi karena kesalahan saya yang mau menerima rayuan pak Daffin kala itu hingga terjadinya perbuatan terlarang itu, Oma. Tolong maafkan saya,” sesal Anya
Sementara Dewanti tiba-tiba membeku masih menahan amarahnya.
“Mulai sekarang Mama harus bisa menerima kehadiran Anya sebagaimana Mama dulu menerima kehadiran Elvira di keluarga kita,” pungkas Meisya.
Lalu ia menarik Anya agar lekas berdiri. Sedangkan kini Elvira turut berdiri dan menatap nanar ke arah Anya yang saat ini memasang wajah sendunya, namun Elvira masih bisa melihat kepalsuannya.
“Bu Elvira.” Anya tiba-tiba saja memeluknya namun Elvira tidak bereaksi apapun selain menyimpan kebencian.
“Tolong maafkan saya, tolong terima kehadiran saya di sini, bukankah kita akan bisa saling melengkapi dan saling menguatkan setelah kepergian pak Daffin,” tutur Anya terdengar tulus, namun terdengar penuh kepalsuan di telinga Elvira.
Elvira lalu melepas pelukannya, melihat Anya menunjukkan sikap sopan seperti ini membuatnya tidak bisa terang-terangan menunjukkan sikap penolakan dan kebenciannya apalagi di depan Dewanti.
“Ayo saya tunjukkan kamar kamu,” ajak Meisya tiba-tiba kepada Anya.
Segera mereka pergi berlalu membiarkan Dewanti dan Elvira dalam keadaan mematung.
“Elvira,” lirih Dewanti yang kini mendekatinya.
Ia sangat mengerti bagaimana hancurnya perasaan Elvira menghadapi semua ini.
“Sayang, kamu baik-baik saja? Oma tahu betapa beratnya bagi kamu menerima semua ini.”
__ADS_1
“Yang dikatakan mama Meisya benar, Oma.”
“Sayang.” Oma memegang tangan Elvira merasakan betapa pilu hatinya.
“Oma, aku mau ke kamar dulu ya,” pamit Elvira, lalu ia segera pergi menuju kamarnya.
...----------------...
Setibanya di kamar, Elvira yang seakan tak bisa berkata-kata membuatnya bingung harus bereaksi seperti apa selain merasa kekecewaan yang sangat mendalam.
Ia ingin sekali menyalahkan Daffin karena telah mengkhianatinya, tapi di satu sisi ia juga tak hentinya memaki diri sendiri karena semua mungkin saja berawal dari kesalahannya hingga suaminya berbuat seperti itu.
Elvira menatap ke arah tempat tidur mewah yang sering ia tiduri bersama Daffin.
Ia menitikkan air matanya lagi setelah mengingat semua itu yang kini tidak bisa lagi terulang, bahkan sebelum Daffin pergi untuk selamanya hubungan pernikahan mereka sudah tidak harmonis seperti sebelumnya.
Betapa rasa penyesalan itu kini merasuk hingga membuat terasa sesak di dada. Namun, penyesalan hanya tinggal penyesalan yang akan tersimpan selamanya di hati Elvira.
Kini ia hanya bisa mengumpulkan segenap kekuatan untuk menjalani kisah kehidupannya yang harus dijalani tanpa ada Daffin lagi di sisinya.
“Bagaimana aku akan menghadapi semua ini?”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, Nevan yang baru datang ke rumah sepulang kerja terkejut melihat Dewanti yang tampak gelisah sendiri di kamarnya, ia lalu menghampirinya karena penasaran.
“Nevan.” Dewanti memegang tangan cucunya itu dan menceritakan semua yang baru saja terjadi di rumah ini.
Nevan ikut terkejut saat mengetahui tentang Anya yang ternyata akan tinggal di rumah ini dan ia sangat menyayangkan sikap Meisya yang telah membawa perempuan itu.
“Oma sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi mama kamu, Nevan. Apa dia tidak memikirkan bagaimana perasaan Elvira?”
“Ya sudah, Oma tenang ya. Sekarang kak Elvira dimana?” tanya Nevan.
“Tadi dia bilang mau ke kamarnya dan sejak tadi dia tidak ingin diganggu. Setelah itu Oma tidak tahu lagi.”
“Oma istirahat saja ya, biar aku lihat dulu keadaannya.”
Setelah itu Nevan langsung menuju kamar Elvira, ia mengetuk pintu kamar untuk memastikan keberadaan Elvira.
Akan tetapi beberapa kali Nevan mengetuk tidak ada jawaban, akhirnya membuatnya berinisiatif untuk membuka pintu tersebut.
Ternyata pintunya tidak dikunci, tetapi Nevan tidak menemukan keberadaan Elvira di kamarnya.
“Permisi, Tuan.” Suara Mirah tiba-tiba mengejutkannya.
“Bi, dimana kak Elvira?”
“Tadi terakhir ketemu Bibi katanya mau keluar dulu.”
__ADS_1
“Keluar? Ini sudah malam loh.”
“Nyonya Elvira pergi sekitar kurang lebih dua jam yang lalu.”
“Apa?”
Nevan lalu buru-buru mengambil ponsel dan menghubungi nomor Elvira, akan tetapi panggilan teleponnya tidak dijawab hingga Nevan terus mengulanginya beberapa kali.
...----------------...
Sementara itu di dalam mobilnya, Elvira sedang menyandarkan kepalanya pada setiran. Entah sudah berapa lama ia berada di dalam mobilnya yang saat ini dalam keadaan terparkir di sebuah tempat.
Elvira mendengar suara getaran dari ponsel miliknya yang membuatnya merasa sangat terganggu.
Ia lalu mengangkat wajah dan mendapati keadaan di sekitarnya sudah tampak sepi, padahal beberapa saat yang lalu saat ia memberhentikan mobilnya di area tersebut masih ada terdapat beberapa orang yang mengunjungi tempat ini.
Elvira menatap ke arah depan jalan yang buntu di mana hanya ada sebuah aliran sungai yang tenang mengaliri sepanjang jalan.
Beruntungnya di sekitar sini masih terdapat penerangan jalan walau sepertinya tidak terlalu sering dilalui orang.
Terlihat dari kejauhan, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan ke jalan seberang. Samar-samar terlihat arus lalu lintas di jembatan tersebut masih ramai, tapi di titik lokasi Elvira saat ini malah sudah sepi.
Ia lalu kembali melirik ponselnya yang masih tak hentinya bergetar karena ada berkali-kali panggilan telepon dari Nevan. Elvira lalu memutuskan untuk menjawabnya.
“Ya, halo.”
“Kamu dimana?” tanya Nevan di seberang telepon terdengar cemas.
“Aku, di mana ya ini? Aku tidak tahu,” jawab Elvira polos.
“Apa kamu bercanda?” Suara Nevan terdengar marah bercampur panik.
“Astaga aku benar-benar tidak tahu dimana ini, tadi aku sembarang saja membawa mobilku ke tempat ini.” Elvira juga mulai panik.
“Kirim kan lokasi kamu, aku akan ke sana sekarang.”
Elvira mengiyakan saja dan segera mengirim lokasinya saat ini melalui ponsel.
“Aku pasti sudah sangat frustasi.” Elvira memaki dirinya sendiri.
...----------------...
Beberapa saat kemudian, sebuah sorotan lampu dari mobil yang baru datang mengalihkan perhatian Elvira.
Bersambung ...
__ADS_1