Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 78-- Rencana Gio


__ADS_3

Anya terlihat melamun sendiri di tengah perkumpulan hari ini dengan keluarganya.


Beberapa saat sebelumnya, Rani menghubunginya untuk menyuruhnya ikut makan siang di rumah.


Hari ini Rani kedatangan suaminya yang selama ini harus jarang pulang karena pekerjaannya di luar kota yang agak jauh.


Anya yang sejauh ini sudah jarang mau mengunjungi Rani sejak tinggal di rumah keluarga Arkatama, merasa tidak bisa menolak keinginan ibu angkatnya itu yang mengatakan sangat merindukannya.


Sekalian momennya bertepatan saat ayah angkatnya juga baru datang dalam masa cuti kerja, sehingga mereka bisa menghabiskan waktu bersama.


Sejak beberapa saat yang lalu berada disini dan bertemu dengan Gio ia tampak menjadi pendiam, padahal biasanya ia yang suka mencairkan suasana.


“Wah, beruntung sekali saat ini kita bisa berkumpul semua setelah Gio baru selesai dari tugasnya di luar kota,” ujar Arga di sela menikmati makanannya.


“Iya, Pak.”


“Kalo Anya, kamu bagaimana? Katanya sekarang lagi sibuk-sibuknya kerja ya?” tanya Arga kepada anak perempuannya itu.


“Iya, Pak. Susah sekali dia mencari waktu untuk bertemu seperti ini, ini saja tadi Ibu yang memaksanya datang,” sahut Rani.


Sedangkan Anya yang saat ini memilih irit bicara hanya mengiyakan saja sembari sesekali tersenyum simpul. Apalagi saat ini bertemu dengan kakaknya setelah ketegangan yang terjadi di antara mereka tadi karena Gio sudah mengetahui rahasianya.


Saat ini untuk menatap Gio saja rasanya Anya merasa tidak nyaman, namun ia cukup lega setelah beberapa saat mengobservasi keadaan. Dari sikap dan cara bicara Rani dan Arga kepadanya, sepertinya mereka berdua sama sekali belum mengetahuinya.


Anya juga merasa lega karena ia berpikir Gio pasti tidak akan tega mengungkapkan rahasianya kepada orang tua mereka itu. Hal ini tentu saja membuat Anya sudah bisa mengatasi keluarganya tanpa harus bersusah payah terang-terangan mengungkapkan tentang kehamilannya. Ia pun tetap bertekad pada tujuannya berada di tengah keluarga Arkatama.


“Anya, Sayang. Kamu pasti hidup dengan baik ya selama di tempat atasan kamu? Buktinya sekarang, kamu terlihat agak gemukan. Pasti pola makan kamu di sana baik,” kata Rani dengan senyum bangga memandanginya.


“Oh ya, masa sih, Bu? Apa aku agak gendutan?” tanya Anya heran.


Kini ia sesekali melirik ke arah Gio yang tampak dingin menatapnya masih menyiratkan ada rasa kemarahan kepadanya.


“Iya. Ibu justru sangat senang melihatnya, yang penting kamu bisa menjalani hidup kamu dengan baik dan bahagia. Mereka pasti memperlakukan kamu dengan baik.”


“Iya, Bu.”


“Oh ya Ibu sampai lupa, kamu pasti mengenal Elvira kan? Dia kan menantu di keluarga Arkatama, dia cukup sering kesini dan banyak membantu panti Ibu,” ungkap Rani.


“Maksud Ibu, Elvira sering kesini?” tanya Anya yang merasa sangat terkejut setelah mengetahuinya.


“Iya, dia juga kenal dengan kakak kamu, tanya saja Gio.”


Mendengar hal itu membuat Anya menghela napas sedikit kesal, ia selama ini benar-benar lengah dan masih tidak habis pikir bagaimana bisa-bisanya Elvira diam-diam mendekati dan mencari tahu tentang keluarganya.


Mendengar Rani bercerita sepertinya mempunyai hubungan baik dengan Elvira membuat kemarahan Anya semakin menjadi-jadi, relung hatinya kini hanya dipenuhi dengan amarah dan kebencian.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


Di tempat berbeda, Asty kini baru pulang ke rumah dan menemui Widya yang sedang duduk sendiri menikmati makan siangnya.


“Loh, kamu pulang?” tanya Widya, biasanya Asty lebih sering makan siang diluar di sela jadwalnya mengajar.


“Iya nih, Bu. Setelah ini jadwal kelasku nanti sore, jadi aku memutuskan mau pulang saja dulu ke rumah. Lagi pula, aku ingin makan masakan Ibu.”


“Hm, kamu ini, ayo sini,” ajak Widya, tapi tanpa perlu aba-aba Asty sudah mengambil piring dan siap memasukkan nasi serta lauk ke dalam piringnya.


Bukan hanya sekali mereka makan berdua seperti ini. Tapi setiap melakukannya, Asty sering teringat akan Elvira yang hidup jauh dari mereka.


“Bu,” panggil Asty hendak memulai obrolan.


“Iya, ada apa?”


“Sebenarnya akhir-akhir ini, aku bertemu dengan Elvira, Bu.” Asty tiba-tiba memberitahunya.


“Apa? Kamu bertemu dengannya?”


“Bu, setelah tahu soal Elvira kecelakaan waktu itu, aku benar-benar tidak bisa membiarkannya menjauh lagi. Apalagi mengetahui hal-hal sulit yang dia alami akhir-akhir ini, aku semakin tidak bisa membiarkannya menghadapi kesedihannya sendiri,” ungkap Asty terdengar lirih saat mengingat tentang adiknya itu.


“Cukup Asty! Kan Ibu sudah bilang untuk tidak usah menemuinya lagi, biarkan saja dia dengan hidupnya sendiri yang sekarang sudah sangat jauh berbeda dari kita.Tidak usah mengurusi hidupnya, kamu lupa dengan kehadirannya selama ini sudah merebut semua kebahagiaan kamu,” celetuk Widya.


“Berapa kali aku bilang ke Ibu kalau Elvira sama sekali tidak pernah mengambil apapun dalam hidupku, justru dengan kehadirannya membuatku selalu bahagia, Bu. Bagaimana pun juga dia tetap adik aku.”


“Tapi dia anak dari perempuan itu, Asty! Perempuan yang sudah menghancurkan hidup Ibu! Dengan melihat Elvira hanya akan membuat Ibu selalu teringat perempuan itu. Kamu lihat sendiri kan bagaimana Elvira? Apa dia pernah peduli dengan hidup kita? Dia hanya memikirkan hidup dan kebahagiaannya sendiri. Sekarang lebih baik kamu fokus dengan hidup kamu sendiri, kamu kan akan segera bertunangan dengan Raldy.”


Ia benar-benar tidak menyangka putrinya memiliki hati yang begitu tulus memedulikan Elvira. Walaupun kini sebenarnya Widya sudah mulai meredamkan kebenciannya terhadap Elvira, akan tetapi ia tetap saja merasa tidak ingin lagi terkait dengan anak dari suaminya itu.


Ia juga tidak ingin keberadaannya dan Asty akan menimbulkan permasalahan dalam hidup Elvira, yang kini sudah menjadi anggota keluarga terpandang.


Setelah menyelesaikan makannya, Asty segera berpamitan dan ia langsung menghentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas di depan jalan kediamannya. Asty segera naik taksi tersebut.


Di perjalanan, ia yang tadi baru berdebat dengan ibunya kini tiba-tiba teringat akan Elvira. Asty lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya lalu menghubunginya.


“Iya, Kak?” jawab Elvira di seberang telepon.


“Elvira, kamu lagi sibuk?”


“Tidak sih, ada apa?” jawab Elvira yang saat itu masih bersama Nevan, namun saat ini ia sedikit menjauh karena sedang menerima panggilan telepon dari Asty.


“Kakak mau bertemu kamu.”


“Oh ya ampun, aku sampai lupa kalau aku pernah janji sama Kakak kalau kita mau pergi ke kafe yang dulu biasa kita datangi. Ya sudah, Kakak mau bertemunya kapan?” tanya Elvira.


“Kalau sekarang, kamu bisa?”


“Bisa, Kak.” Elvira merasa bersemangat karena ia juga sangat merindukan kakaknya itu.

__ADS_1


“Ya sudah, kita ketemu disana ya. Ini Kakak masih dalam perjalanan sih.”


“Oke. Sampai ketemu.”


Asty sangat semringah setelah menutup teleponnya, akan segera bertemu adiknya lagi membuatnya sangat bersemangat.


Sedangkan Elvira kembali menghampiri Nevan. “Aku harus pergi sekarang, kita berpisah disini ya. Aku akan naik taksi saja,” ujar Elvira.


“Tapi, kamu mau kemana?” tanya Nevan. “Biar aku antar.”


“Tidak perlu. Aku kebetulan ada janji.” Elvira merasa lega karena kebetulan ia melihat ada taksi yang melintas di sekitar sana. “Aku pergi sekarang ya, terima kasih untuk es krimnya,” ucapnya seraya berpamitan.


Nevan selalu kesal dibuatnya dengan sikap Elvira yang seolah punya dunia sendiri, namun ia juga merasa tidak berhak mencampuri kehidupan Elvira meski ia sangat ingin selalu berada disisinya.


Namun saat ini ia hanya bisa memandangi punggung perempuan itu semakin menjauh darinya hingga, tampak dari kejauhan Elvira menghentikan sebuah taksi lalu segera lenyap dari pandangan Nevan setelah mobil itu melaju.


...🍃🍃🍃...


Di kediaman bu Rani.


Setelah selesai makan siang dan sempat menghabiskan waktu sebentar untuk mengobrol kayaknya sebuah keluarga pada umumnya, Anya merasa harus segera berpamitan.


Gio turut berpamitan dan mengatakan di depan orang tua mereka kalau Gio yang akan mengantarkan Anya, sehingga membuat Anya tidak bisa berkutik.


Selama waktu mereka bersama di rumah saat ini, mereka masih bisa menyimpan rapat ketegangan di antara mereka berdua dan berusaha tetap terlihat seperti biasanya. Tanpa membuat sepasang suami istri itu curiga sedikitpun, Anya pun terpaksa mengiyakan saja maunya Gio.


“Ayo masuk!” titah Gio yang agak kasar menyuruhnya masuk ke mobil.


Anya mengikut saja hingga kini Gio sudah mengendalikan setir dan membawa laju mobilnya ke luar dari halaman rumah tersebut.


“Kak, aku setelah ini ada rapat. Kakak yakin mau mengantarku ke kantor?” tanya Anya mencoba akrab kembali dengan kakaknya.


“Kita tidak akan pergi ke kantor kamu,” bantah Gio.


“Loh? Lalu mau kemana?” Perasaan Anya mulai tidak enak.


“Kita akan pergi ke suatu tempat.”


“Iya, tapi mau kemana, Kak?”


Gio merasa enggan menanggapi, kini ia mengambil ponsel dan menghubungi sebuah nomor telepon.


“Kamu di mana? Bisa bertemu sekarang?” tanya Gio setelah mendengar suara jawaban untuk panggilan teleponnya.


 


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2