
Dewanti dan Elvira sudah tiba di sebuah restoran mewah berbintang. Kehadiran mereka langsung disambut dan dilayani dengan istimewa menuju ruang khusus tamu VIP yang sudah dipesan Dewanti.
Setibanya mereka di depan ruangan yang dituju, ternyata sudah ada Hasto dan Gio yang tampak menunggu kedatangan mereka.
“Ibu Dewanti,” sapa Hasto.
“Kalian sudah tiba lebih dulu? Kenapa tidak langsung masuk saja?” tanya Dewanti.
“Maaf Bu, kami berencana menunggu kedatangan Ibu Dewanti dan Ibu Elvira terlebih dahulu,” jawab Hasto.
“Mereka bahkan sudah tiba di sini hampir satu jam yang lalu, Bu,” ujar seorang kepala pelayan yang kini bertugas mengawal dan melayani mereka.
“Ya ampun, kalian sangat disiplin ya. Tenang saja, ini bukan acara formal melainkan hanya jamuan makan biasa.”
Hasto hanya mengiyakan saja, ia bahkan terlihat seperti juru bicaranya Gio yang sejak tadi tampak terdiam saja memperhatikan. Dewanti lalu memperhatikan ke arah pria yang sedang berdiri di samping Hasto itu.
“Kamu pasti Gio kan?” sapa Dewanti sembari tersenyum ramah kepadanya.
“Iya, Bu.”
“Saya tidak menyangka ternyata kamu tampan sekali, saya jadi teringat cucu saya--Nevan yang sekarang masih berada diluar kota untuk pekerjaan.”
“Terima kasih, Bu,” ucap Gio tampak sungkan.
Tidak ingin berlama-lama, Dewanti lalu mengajak mereka semua masuk ke ruangan mewah dan megah tersebut. Untuk beberapa saat waktu mereka habiskan untuk menikmati beragam hidangan dan sesekali Dewanti mengajak mereka untuk mengobrol santai.
Pembawaan Dewanti yang hangat dan bersahaja mampu membuat hati siapa saja jadi mencair walaupun orang-orang selalu segan terhadapnya karena status sosialnya.
“Pak Hasto, sudah lama ya rasanya kita tidak bertemu makan-makan seperti ini.”
“Iya Bu. Oh ya Bu Dewanti, saya mohon maaf waktu pemakaman pak Daffin, kehadiran saya hanya bisa diwakilkan karena waktu itu kebetulan saya sedang dinas di luar daerah,” sahut Hasto.
“Tidak apa-apa, abdi negara seperti kalian pasti memiliki banyak sekali tugas pekerjaan.”
“Iya Bu.”
__ADS_1
“Oh ya Gio, saya mau mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menolong cucu saya, Elvira. Dia cucu perempuan satu-satunya yang saya miliki dan sangat saya sayangi. Saya selalu takut jika ada orang yang ingin menyakitinya,” ucap Dewanti sembari sesekali ia memandang ke arah Elvira dengan penuh kasih sayang.
Pandangannya mendapat balasan dari Elvira yang merasa terharu. Hal itu selalu sukses membuat Elvira merasa beruntung karena mendapat kasih sayang darinya.
“Sama-sama, Bu. Terima kasih juga untuk jamuan makannya. Suatu kehormatan untuk saya bisa bertemu seperti ini dengan Ibu Dewanti,” balas Gio berucap dengan sangat sopan dan terdengar sedikit grogi.
Dewanti memandangnya sambil senyum. “Saya ada sesuatu untuk kamu.”
Dewanti lalu menyerahkan sebuah kotak kecil bentuk persegi berwarna hitam kepada Gio.
Sedangkan Gio merasa ragu untuk menerimanya, melainkan ia hanya memandang saja ke sudut benda tersebut. Sebuah benda yang pastinya berisi sesuatu di dalamnya yang tidak bisa ia tebak.
“Buka lah, ini sebagai bentuk ucapan terima kasih saya kepada kamu.”
Mengikuti arahan Dewanti dan mendapat persetujuan dari Hasto berupa anggukan setuju, Gio segera membukanya. Matanya terbelalak begitu menemui sebuah kunci mobil di dalamnya.
Sedangkan Hasto yang di sampingnya tak kalah terkejutnya karena dilihat dari merk dan desain sepertinya adalah sebuah mobil dengan harga yang sangat mahal.
“Kamu benar-benar beruntung, itu kan merk mobil mahal,” bisik Hasto yang berdecak kagum memandangi benda tersebut dan membayangkan bentuk mobilnya.
“Terima lah pemberian dari saya. Tenang saja, ini bukan untuk apa-apa. Saya benar-benar ingin berterima kasih,” timpal Dewanti.
Pria itu segera meletakkan kembali benda tersebut ke kotak asalnya dan meletakkan kembali ke depan Dewanti.
“Kenapa?” tanya Dewanti terheran.
“Terima saja,” saran Elvira yang baru ikut bersuara.
“Sekali lagi saya minta maaf, saya benar-benar tidak bisa menerimanya. Saya ikhlas menolong Ibu Elvira waktu itu,” tolak Gio dengan halus.
Gio merasa bersalah soal Elvira yang harus mengalami kejadian tersebut karena waktu itu ia yang memilih tempat pertemuan mereka di sana.
Di sisi lain ia juga merasa bersalah karena harus menyembunyikan sebuah fakta tentang dirinya di depan Dewanti. Fakta yang mungkin akan menghancurkan keakraban ini.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi sebagai gantinya, kalau kamu perlu sesuatu atau bantuan apa pun, jangan sungkan untuk menghubungi saya. Saya akan bantu sebisa saya,” kata Dewanti yang sangat terkesan dengan sikap yang ditunjukkan Gio di depannya.
__ADS_1
Dewanti hanya memandangnya dengan senyuman sembari berpendapat tentangnya dalam hati, sepertinya pria ini berperangai baik dan tidak silau dengan kekayaan.
“Kalau tidak ke saya, kamu juga boleh menghubungi Elvira. Dia akan senang hati membantu, iya kan Sayang?” timpal Dewanti yang kini meminta pendapat Elvira.
“Iya ... Kalau kamu perlu apa-apa, kamu bisa menghubungi saya,” ujar Elvira.
“Iya. Terima kasih, Bu,” ucap Gio.
Acara pertemuan mereka pun diakhiri dengan Hasto dan Gio yang kini mengantarkan Dewanti dan Elvira untuk masuk ke mobil yang sudah menunggu di depan bangunan restoran tersebut.
Setelah mobil mereka sudah meninggalkan tempat tersebut, Hasto lalu menepuk pundak Gio sembari masih memperhatikan mobil mewah itu melaju meninggalkan area halaman restoran.
"Setelah kepergian suaminya, mungkin banyak pria yang akan mengincar bu Elvira. Secara, dia sangat cantik. Tidak mungkin kamu tidak tertarik dengannya, apalagi saat bertemu langsung seperti tadi,” tebak Hasto yang memandang curiga kepada Gio.
Sedangkan Gio hanya membalasnya dengan senyum simpul yang Hasto pun tidak dapat mengartikannya.
Jika berada diluar dinas seperti ini, mereka bahkan tidak terlihat seperti atasan dan bawahan melainkan seperti bapak dan anak.
“Makanya, ibu Dewanti sepertinya lebih waspada dan selalu mengkhawatirkannya. Tapi tidak sembarang pria bisa mendekatinya, sepertinya kamu mulai dapat lampu hijau dari ibu Dewanti,” lanjut Hasto.
“Dia tidak akan mau dengan orang seperti saya,” sahut Gio.
“Kalau begitu, dekati saja putri saya, Olla. Sejauh ini dia tidak terlihat punya pacar, padahal saya sangat menginginkan dia segera menikah. Saya mengizinkan kamu untuk mendekatinya. Sudah waktunya kamu mengikhlaskan mendiang Suci dan hidup lah untuk kebahagiaan kamu sendiri.”
“Olla sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, Ndan. Kalau pun sudah waktunya, saya yakin pasti akan menemukan orang yang tepat entah siapa pun itu.”
“Ya sudah lah, tidak apa-apa.Tapi terus terang sebagai orang tua, saya juga sangat mengkhawatirkan putri saya. Saya ingin dia mendapatkan pria yang baik dan bisa melindungi, seperti kamu.”
“Saya akan melindunginya layaknya seorang kakak.”
“Siapa pun pria yang berani mendekatinya, minimal harus memiliki kemampuan seperti kamu. Kemampuan bela diri kamu masih yang terbaik sejauh ini.” Hasto memandangnya dengan rasa bangga.
“Oh ya, bagaimana keadaan ibu kamu?” tanya Hasto.
“Ibu masih harus dirawat, harapannya semoga besok sudah bisa pulang ke rumah.”
__ADS_1
Bersambung ...