Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 52-- Sang Mantan


__ADS_3

Nevan yang baru memasuki sebuah gedung yang sudah ramai di datangi pengunjung lain mendapati Melody yang melambaikan tangannya dari kejauhan. Mereka pun saling berjalan untuk menemukan titik tengah pertemuan.


“Aku senang kamu datang,” sapa Melody.


“Bagaimana kamu bisa menemukan acara ini?” tanya Nevan heran.


Saat ini mereka sedang berada di sebuah tempat dimana sedang ada pameran lukisan oleh pelukis yang karyanya disukai dan dikagumi oleh Nevan selama ini.


Karena itu saat ia mendapat pesan dari Melody yang memberitahukan tentang acara ini, ia tanpa ragu segera mendatanginya.


“Kamu ya, mentang-mentang sibuk sekarang. Kamu mana ada waktu untuk mencaritahu kapan acara seperti ini berlangsung, kecuali mendapat undangannya, iya kan?”


“Iya sih.”


“Iya kan? Karena memang aku yang paling tahu tentang hal yang kamu sukai. Aku sebenarnya dapat informasi dari salah satu teman juga. Oh ya, hari ini mau ketemu sama Daniel kan?” tanya Melody menyebut nama sang pelukis yang merupakan dari negeri asing tersebut.


Nevan mengangguk sembari melihat-lihat di sekitarnya sudah banyak poster sosok pelukis yang terkenal itu.


Dulu waktu mereka masih bersama, mereka sering pergi ke acara-acara seperti ini dan ia cukup terkesan dengan Melody yang masih mengingat tentang kesukaannya yang satu ini.


Nevan terlihat sangat antusias untuk melihat-lihat semua lukisan yang terpajang di dinding maupun di etalase.


“Ngomong-ngomong, melihat kamu berpakaian kantoran seperti ini rasanya agak berbeda ya,” ungkap Melody sembari berdecak kagum memandangi Nevan yang sangat tampan dan berwibawa di matanya.


“Aku harus meninggalkan pekerjaanku di Amerika untuk mengurus perusahaan sepeninggal kakakku.”


“Kamu hebat, aku bangga sama kamu deh. Oh iya, aku baru tahu kabar tentang kepergian kakak kamu. Aku juga dengar jika dia sudah menikah ya.”


“Iya, dua tahun yang lalu.”


“Ya ampun, istrinya pasti sangat sedih dan merasa kehilangan, padahal mereka terhitung baru saja menikah loh.”


“Iya,” jawab Nevan singkat.


Ia lalu berhenti di depan sebuah lukisan yang menarik perhatiannya dan mematung sebentar memandanginya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah selesai menghadiri acara pameran tersebut, Nevan dan Melody sudah keluar dan mereka berdiri di depan loby utama gedung karena Nevan menunggu Sakti untuk menjemputnya.


“Kamu pulang sendiri?” tanya Nevan.


“Aku sama supir, kok.”


“Oh, baik lah. Aku harus pergi sekarang karena setelah ini ada kerjaan lagi," pamit Nevan saat melihat Sakti sudah tiba menjemputnya di depan gedung.


Mereka pun berpisah di sana, namun Melody masih memandangi Nevan yang telah masuk ke dalam mobil dan mobil tersebut segera melaju membawanya pergi.


“Astaga, aku tidak pernah berniat untuk meninggalkan kamu waktu itu,” gumam Melody yang merasa penuh sesal mengingat hubungan mereka yang sekarang sudah berakhir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di perjalanan, Sakti mengintip Nevan dari kaca spion dalam mobil.


“Aku baru melihatnya,” sindir Sakti yang tadi sempat melihat Melody saat bersama Nevan. Ia sejauh ini tak kuasa menyimpan rasa penasaran.


“Siapa?”


“Jadi tadi ada urusan mendadak karena mau jalan dengan seseorang?” goda Sakti.


“Bukan siapa-siapa, aku juga sudah tidak memiliki hubungan lagi dengannya,” ungkap Nevan keceplosan.


“Maksudnya? Dia mantan kamu?” Sakti tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.

__ADS_1


“Begitulah.”


“Astaga, dia cantik loh. Kamu mau mencari yang bagaimana lagi?”


“Diam lah.” Nevan mulai malas menanggapi.


Sakti hanya tersenyum mengejeknya, namun detik berikutnya ia terkejut karena sebuah mobil di depannya kini berhenti mendadak.


Hal itu sontak turut membuat Sakti menginjak rem dengan kuat untuk menghindari kemungkinan tabrakan. Beruntung saat ini mereka sudah memasuki jalan yang agak lengang dan bukan jalur utama.


“Ada apa?” tanya Nevan yang turut terkejut.


“Siapa lagi yang bawa mobil seperti itu?! Akan ku periksa dulu.”


Masih dengan perasaan kesal Sakti lalu turun dari mobil dan berjalan ke depan.


Ia bersumpah akan memaki orang tersebut karena perbuatannya itu bisa membahayakan orang yang berkendara dibelakangnya.


Namun langkah Sakti tiba-tiba terhenti saat melihat seorang perempuan sudah turun dari mobil tersebut membelakanginya sambil terlihat panik seperti mencari-cari sesuatu di bawah kolong mobilnya.


“Ya ampun, apa tadi aku menabraknya ya? Tapi itu sepertinya hewan kecil yang menyeberang jalan, tapi kok tidak ada ya? Tapi syukurlah kalau ia selamat.” Perempuan berbaju kerja kantoran tersebut tampak kebingungan sendiri.


“Permisi,” sapa Sakti membuat perempuan itu detik berikutnya berbalik badan menghadap kepadanya.


“Olla?” Mata Sakti terbelalak saat melihat wajah perempuan yang tidak asing baginya.


“Kamu?”


Perempuan bernama Olla itu turut mengingat kembali saat-saat mereka masih bersama waktu dulu hingga memunculkan kembali rasa kebencian yang mendalam terhadap pria di hadapannya saat ini.


“Olla?” Sakti memanggil namanya dengan lirih karena teringat momen terakhir mereka bertemu dulu yang terasa menyesakkan dadanya saat ini.


Sementara itu Nevan masih memantaunya dari kejauhan dan belum mengetahui apa yang terjadi karena ia merasa Sakti lama sekali di sana.


Detik berikutnya Olla langsung melayangkan sebuah tamparan keras ke wajah Sakti diikuti perasaan penuh amarah.


Lalu ia bergegas masuk kembali ke mobilnya dan segera menginjak pedal gas.


...----------------...


Nevan yang menyaksikan kejadian itu sangat terkejut dibarengi rasa penasaran.


“Apa yang terjadi?” tanya Nevan begitu Sakti sudah kembali masuk ke mobil.


Sakti terlihat masih memegangi pipinya karena baru saja mendapat tamparan kebencian dari mantannya.


“Kamu ditampar perempuan itu?” tanya Nevan lagi terdengar meledeknya.


“Kenapa bisa tiba-tiba bertemu lagi dengannya,” gumam Sakti, lalu ia kembali menjalankan mobil.


“Kamu mengenalnya?”


“Dia mantan pacarku,” ungkap Sakti.


“Astaga, kamu pasti melakukan kesalahan besar sampai dia menampar kamu seperti itu,” tebak Nevan.


“Sebenarnya kami sudah lama putus, dia adik kelas yang ku pacari waktu sekolah. Tapi tak ku sangka dia rupanya masih menyimpan dendam terhadapku.”


“Jangan-jangan kamu yang menyakiti hatinya.”


“Yah, karena pertengkaran waktu itu sangat menumbuhkan emosi, kami sudah sepakat untuk putus.”


“Terus?” Nevan masih penasaran.

__ADS_1


“Sampai saat ini tidak pernah berhubungan lagi. Tapi aku mungkin salah juga sih, aku tidak pernah lagi menghubungi atau mencari kabar tentangnya.”


“Itu yang membuat dia jadi dendam. Kamu tidak pernah lagi menghubunginya, mungkin saja dia masih ingin bersama kamu waktu itu.”


Sakti lalu terdiam memikirkan perkataan Nevan, ia pikir Nevan ada benarnya juga jika semua ini mungkin saja sebagian besar salahnya karena setelah putus, Sakti tidak pernah menghubunginya lagi meski kadang ia masih suka memikirkan Olla.


Sakti merasa ada sesal di hatinya karena selama ini ia sudah menjadi pria yang pengecut, tapi ia selalu berharap agar Olla sudah bisa menemukan orang lain selagi ia memilih fokus untuk bekerja dengan keluarga Arkatama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu sebuah mobil turut melaju di jalanan. Olla masih fokus menyetir mobilnya meski hatinya sedang bergejolak setelah bertemu lagi dengan orang yang selama ini sangat ia benci karena semenjak mereka putus, ia belum juga bisa melupakannya.


Meski saat itu mereka masih usia remaja dan mungkin saja masih labil, tapi Olla masih saja tetap merasakan hal yang sama sejak ia jatuh cinta dengan Sakti.


Ia pikir setelah pertengkaran itu, Sakti akan tetap mau menghubunginya untuk membujuknya.


Tapi ternyata semua tidak sesuai kehendak Olla yang juga memiliki gengsi yang tinggi sehingga ia juga tidak berpikir untuk menghubunginya lebih dulu.


“Menyebalkan! Bagaimana bisa ketemu dia tiba-tiba sih,” gerutunya.


Olla lalu mendengus kesal sambil meremas setiran mobilnya, setelah pertemuan tadi ia mungkin akan kembali susah melupakannya walaupun ia cukup puas karena tadi sudah melampiaskan amarahnya pada Sakti.


Beberapa saat kemudian, Olla sudah tiba di parkiran halaman sebuah kantor kepolisian. Ia segera masuk ke ruangan seseorang yang tampaknya sudah menunggu kedatangannya.


“Papa,” sapa Olla saat menemui pria paruh baya yang berseragam pangkat tinggi di ruangan tersebut.


“Olla, Sayang. Sini masuk,” balas papanya.


“Ini berkas Papa yang Papa minta.”


Olla meletakkan map coklat yang tadi dibawanya di atas meja yang memiliki papan nama Hasto Prawira, sang pemilik kuasa meja tersebut.


“Maaf ya Papa dadakan minta kamu harus ke rumah dinas dulu mencarikan berkas ini. Ini sangat penting soalnya.”


“Tidak apa-apa, Pa. Kebetulan tadi aku lagi izin keluar juga.”


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk. Setelah dipersilahkan oleh Hasto, seorang pria tanpa seragam polisi masuk sembari memberi hormat untuknya.


“Gio, ini berkas yang harus kamu periksa.” Hasto menyerahkan map tersebut kepadanya.


“Kak Gio sudah kembali?” tanya Olla.


“Dia baru menyelesaikan sebuah kasus besar di luar kota, sekarang dia akan menyelesaikan lagi kasus-kasus di sini; tempat asalnya.” Hasto membantu menjelaskan kepada putrinya.


Karena sebelumnya Olla sudah sering bertemu dengan Gio, mereka pun tampaknya sudah akrab karena Gio merupakan salah satu bawahan Hasto yang paling dekat Olla dan sudah dianggap seperti kakak sendiri oleh Olla.


 “Oh ya Sayang, kamu habis ini mau kemana lagi?” tanya Hasto.


“Mungkin aku langsung kembali ke kantor saja, Pa.”


“Ya sudah, hati-hati ya Sayang. Jangan ngebut.”


“Iya, Pa.”


Lalu Olla segera berpamitan dan ia kembali menyapa Gio saat hendak keluar dari ruangan.


“Senang melihat Kak Gio lagi. Jangan lupa main ke rumah, Mama pasti senang banget ketemu Kakak lagi.”


“Siap,” sahut Gio singkat membalasnya dibarengi sebuah senyum simpul.


 


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2