
Saat itu Nevan yang sedang berada di ruangannya, terlihat masih saja belum bisa tenang.
Meski ia sudah berusaha untuk tidak memikirkan tentang Elvira, tapi nuraninya justru masih saja terpikirkan. Hal itu membuatnya sangat resah, apalagi saat ini Nevan belum mendapat penjelasan apa-apa, tentang foto-foto Elvira yang telah dikirimkan oleh Meisya.
Nevan lalu menekan sebuah tombol pada telepon, yang terletak di atas meja kerjanya, untuk menghubungi seseorang.
“Sakti, ke ruangan ku sekarang,” perintahnya.
Tidak lama kemudian, Sakti langsung masuk ke ruangannya. Siap menerima perintah selanjutnya. Nevan meminta bantuannya,untuk menghubungi seseorang, dan mengatur janji temu untuknya hari ini juga.
...----------------...
Di sebuah kafe.
Raldy melempar senyum, begitu melihat siapa yang sudah menunggunya di sebuah meja. Seorang Nevan, pria yang dalam penglihatannya penuh dengan wibawa, kini sedang duduk menanti kehadirannya.
“Duduk lah,” titah Nevan, tanpa menghilangkan wibawanya.
“Aku merasa sangat terhormat, karena seorang Bapak Nevan Arkatama yang sibuk, harus meluangkan waktunya untuk bertemu denganku,” ujar Raldy basa basi dengan pembawaannya yang terkesan santai.
“Terus terang saja, apa hubungan kamu sebenarnya dengan kakak ipar ku?” celetuk Nevan.
“Ya ampun, kamu repot-repot ingin bertemu denganku hanya untuk menanyakan itu?”
“Lihat ini.”
Nevan memperlihatkan foto-foto di ponsel kepadanya. Raldy terperangah, ia tidak menyangka jika sepertinya ada seseorang yang membuntuti Elvira, saat bertemu dengannya waktu itu.
“Kamu tahu, karena ini, bisa menimbulkan salah paham dan tuduhan untuknya. Aku hanya perlu penjelasan langsung dari kamu, apa kamu masih mendekatinya? Apa hubungan kalian sebenarnya?” tanya Nevan lagi.
Lebih tepatnya, sepertinya sedang mewakili perasaan pribadinya, karena ia merasa sangat terganggu jika ada pria lain ada di hidup Elvira.
“Dia sudah seperti adik bagiku, benda itu adalah hadiah dariku untuknya karena dulu aku pernah membelikan untuknya untuk menyatakan perasaanku. Tapi setelah dia memutuskan untuk memilih menikah dengan kakak kamu, aku sudah tidak memiliki kesempatan lagi hingga kini akhirnya aku sudah bisa menemukan seseorang lagi dalam hidupku.” Raldy menjelaskan.
Nevan masih diam, hanya menyimaknya.
“Jangan berpikiran macam-macam, aku sekarang sudah mempunyai calon tunangan yang nantinya akan ku nikahi.”
“Oh ya?” Nevan mulai merasa lega, karena tudingannya ternyata salah.
“Iya, tapi aku senang. Ternyata Elvira memiliki adik ipar yang sangat peduli kepadanya seperti kamu. Aku yakin setelah sepeninggal suaminya, kamu yang paling sibuk menjaganya.”
“Aku?”
“Iya, kamu pasti tahu betul bagaimana dia menghadapi masa-masa terpuruknya. Aku yakin kamu akan bisa menjaganya dengan baik.”
__ADS_1
...☘️☘️☘️...
Asty yang baru keluar dari gedung fakultas tempatnya mengajar, kini terlihat bersemangat, karena melihat sudah ada Raldy yang menjemputnya pulang.
Asty melambaikan tangan dari kejauhan, segera mendapat balasan dari pria yang selama ini sangat dicintainya itu.
“Pergi sekarang?” tanya Raldy, begitu Asty sudah menghampirinya.
“Iya.”
Raldy mengalihkan perhatiannya saat melihat Meisya bersama Anya terlihat melintas di sekitar sana.
“Bu Meisya,” sapa Raldy.
Meski tidak terlalu mengenal secara langsung, akan tetapi Raldy merasa pernah beberapa kali bertemu dengan Meisya sewaktu di rumah sakit, saat Meisya datang bersama Dewanti.
Raldy hanya merasa perlu untuk menyapanya, walau sebenarnya ia lebih akrab dengan Dewanti.
“Dokter?” Meisya yang turut merasa mengenalinya, kini menghampirinya.
Apalagi Meisya baru mengetahui, jika pria yang dilihatnya ini adalah yang dituduhnya memiliki hubungan khusus dengan Elvira.
“Bu Meisya apa kabar?” tanya Raldy.
Ia melirik ke arah Asty yang saat ini berada dekat di samping Raldy, keduanya sedang bergandengan tangan dengan mesra.
“Saya menjemput calon tunangan saya, Bu,” jawab Raldy.
“Oh, dia calon tunangan kamu?” tanya Meisya kepada Asty.
Ia merasa mengenal juga dengan Asty, karena sudah pernah beberapa kali bertemu di ruang rapat.
“Iya, Bu,” jawab Asty.
“Oh ya, bagaimana kabar Bu Dewanti?” tanya Raldy tiba-tiba.
“Mama saya, baik kok.”
“Sampaikan salam saya untuk beliau ya, Bu. Kalau begitu, kami permisi dulu ya Bu,” pamit Raldy.
Hingga kedua sejoli itu sudah masuk ke dalam mobil, dan akan segera pergi, Meisya masih terlihat membingung sendiri atas apa yang barusan ia lihat.
“Laki-laki itu, bukan kah dia yang bersama Elvira? Apa? Dia sudah memiliki calon tunangan? Dia bahkan berani menitip salam untuk mama mertua saya setelah berani menemui Elvira diam-diam.”
Meisya bertanya sendiri merasa perlu jawaban, tetapi Anya terlihat hanya terdiam turut terheran. Meisya lalu menolehnya dengan tatapan marah.
__ADS_1
“Bu Meisya, saya yakin dokter itu saat itu benar-benar bersama Elvira. Mungkin saja mereka menjalin hubungan diam-diam di belakang perempuan itu,” ujar Anya mencari pembelaan, namun tampaknya Meisya tidak terlalu memedulikan penjelasannya.
...☘️☘️☘️...
Malamnya, Raldy dan Asty yang masih jalan berdua kini sedang menikmati pemandangan sungai dari sebuah taman yang saat ini mereka kunjungi.
“Tadi, Nevan--adik iparnya Elvira menemuiku, "ungkap Raldy tiba-tiba.
“Oh ya? Menemui kamu untuk apa?” tanya Asty yang tampak penasaran.
“Membahas kesalahpahaman yang terjadi, Nevan mendapat foto-foto saat aku menemui Elvira dan ternyata hal itu menimbulkan kesalahpahaman di keluarga mereka, orang-orang mungkin mengira jika Elvira sudah memiliki pria lain padahal suaminya baru saja meninggal.”
“Terus bagaimana?” jelas sekali wajah Asty sangat mengkhawatirkan adiknya itu.
“Aku sudah menjelaskan semuanya dan sepertinya Nevan percaya. Oh ya, aku juga rasanya jadi lebih tenang karena sepertinya Nevan sangat perhatian kepada Elvira.”
“Oh ya? Aku belum pernah bertemu secara langsung sih dengannya, tapi aku banyak mendengar orang-orang memuji tentang kecerdasan dan ketampanannya. Syukur lah kalau ternyata dia sangat perhatian terhadap Elvira.”
Asty yang saat ini tersenyum senang saat mengingat tentang Elvira tiba-tiba mendapati sebuah tatapan dari Raldy yang membuatnya jadi salah tingkah.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Asty.
“Aku suka melihat senyum kamu.”
“Apa an sih!”
Raldy menggandeng tangannya, sukses membuat dada Asty berdesir. Perasaan yang tidak karuan di hatinya menyeruak begitu saja, ketika bersama pria yang ada di sampingnya saat ini.
“Rasanya aneh saja,” ujar Raldy.
“Aneh kenapa?” tanya Asty yang masih tidak mengerti maksud Raldy.
“Kita bertahun-tahun terbiasa jalan berdua, tapi sekarang dalam keadaan berbeda seperti ini rasanya beda saja. Kenapa aku tidak pernah terpikirkan ini dari dulu kalau ternyata perempuan seperti kamu juga bisa di ajak berkencan.”
“Maksud kamu? Dulu kamu mengira aku bukan perempuan yang bisa di ajak berkencan?”
“Ya, semacam itu lah,” ledek Raldy.
“Kamu ya!”
Sebuah kecupan mesra di keningnya, langsung membuat Asty bungkam. Ia tidak bisa lagi berkata-kata.
Sedangkan Raldy yang telah sukses mencuri keningnya terlihat memandangnya yang saat ini tengah merasakan gejolak rasa di hati.
Bersambung ...
__ADS_1