Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 67-- Acara Universitas


__ADS_3

Elvira memeriksa beberapa barang-barang yang akan dikemas untuk nanti diserahkan ke anak-anak panti. Ia harus memastikan agar tidak ada satu pun yang terlewat.


“Yang ini sudah?” tanya Elvira kepada Dara yang baru menyelesaikan mengemas beberapa barang dalam satu kardus.


“Sudah Bu, beres pokoknya.”


“Oke. Kalau begitu saya tinggal sebentar ya,” pamit Elvira yang hendak ke ruangannya.


Sesampainya di meja kerjanya, Elvira mendapati ponselnya sudah berbunyi dan mendapat sebuah panggilan telepon dari nomor Nevan.


Perasaannya selalu saja tidak karuan saat mendapat telepon dari pria satu ini karena biasanya ada hal yang tidak pernah Elvira duga saat Nevan menghubunginya.


“Iya, halo.” Elvira sudah menempelkan ponsel tersebut pada telinganya.


“Aku tahu kamu sedang tidak sibuk, datanglah kemari,” pinta Nevan yang kali ini terdengar ramah.


“Kata siapa? Aku masih ada yang harus dikerjakan,” elak Elvira.


“Sakti sudah menghubungi staf kamu dan dia mereka mengatakan jika kamu tidak ada acara khusus di kantor.”


“Iya, memang. Tapi aku memang ada hal yang lain ku kerjakan.” Elvira masih kokoh pada pendiriannya.


Sebenarnya ia sembari menanti kedatangan Gio yang mungkin akan segera menemuinya hari ini dan Elvira merasa ia harus mendapatkan suatu informasi tentang Anya.


“Kamu bisa minta para staf kamu mengerjakannya, hanya mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke panti kan? Cepat lah datang ke sini, atau aku akan memberitahu oma kalau kamu berbohong. Kamu tidak tahu apa acara ini penting bagi Mama, setidaknya kamu harus terlihat hadir karena para awak media pasti akan mempertanyakan kehadiran kamu.” Nevan menuturkan panjang lebar.


“Iya. Tapi.”


Terdengar nada panggilan telah berakhir yang membuat Elvira tidak dapat melanjutkan perkataannya karena sambungan telepon sudah terburu diakhiri Nevan.


“Kebiasaan!” Elvira hanya bisa melengos kesal dibuatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah aula pertemuan salah satu gedung Universitas Arkatama. Acara peringatan hari jadi perguruan tinggi itu sedang berlangsung meriah yang sudah dibuka dengan beberapa sambutan petinggi kampus.


Saat ini tengah berlangsung kuliah umum yang disampaikan langsung oleh Nevan selaku pimpinan tertinggi perusahaan Arkatama grup, sang empunya kampus ini.


Semua yang berhadir terdiri dari para undangan berbagai pihak hingga beberapa mahasiswa terpilih, betapa hampir semua dari mereka terpesona melihat ketampanan serta kecerdasan seorang Nevan yang sedang menyampaikan materi dengan pembawaannya yang penuh wibawa.


Keberadaan Nevan di depan para hadirin saat ini seolah mampu menghipnotis mereka untuk tidak ingin melewatkan satu kata pun yang terucap darinya. Tidak sedikit pula para kaum hawa yang bertekad untuk minta tanda tangan serta ingin berfoto bersamanya setelah selesai acara nanti.


Menyaksikan langsung bagaimana pengaruh aura dari Nevan, membuat Dewanti dan Meisya kini memandangnya penuh kekaguman bercampur rasa bangga karena memilikinya di keluarga mereka.

__ADS_1


Meisya sampai berkali-kali dibuat terharu oleh beberapa orang kenalannya yang memuji tentang putranya itu.


Hingga berkhirnya penampilannya, Nevan pun segera turun dari panggung utama sembari diiringi oleh riuhan tepuk tangan yang seolah tidak berhenti untuknya.


Saat Nevan kini sudah kembali lagi ke tempat duduk khusus tamu kehormatan yang berada satu barisan dengan Dewanti, ia dikejutkan dengan kehadiran Elvira yang tiba-tiba saja sudah mengisi sebuah kursi di sampingnya.


Rupanya Elvira baru datang dan memanfaatkan momen sibuk orang-orang yang sedang beramai-ramai terfokus serta memberi tepuk tangan kepada Nevan agar ia bisa masuk ke ruangan ini dengan leluasa tanpa terlihat mencolok.


Beruntung ia segera bertemu Sakti yang akhirnya memberinya tempat duduk di samping Nevan.


“Maaf ya aku datang terlambat, tapi tadi aku sempat menyaksikan penampilan kamu walau sebentar,” ujar Elvira.


“Aku akan bilang ke oma kalau kamu sudah berbohong,” bisik Nevan.


“Buktinya kan sekarang aku sudah datang ke sini. Aku sudah bilang ke oma kalau kerjaan ku sudah selesai.”


“Oh ya?”


“Iya, tapi ngomong-ngomong, penampilan kamu tadi memang sangat mengagumkan,” puji Elvira kepadanya, tapi sepertinya hanya mendapat tanggapan datar dari yang punya diri.


Keduanya pun langsung kembali memperhatikan ke arah depan panggung yang kini sudah di isi dengan berbagai acara lainnya, sampai akhirnya kemeriahan acara puncak sedang berlangsung dengan menampilkan berbagai macam pagelaran kesenian dan budaya serta keterampilan dari para mahasiswa dan mahasiswi yang terpilih.


Elvira masih terlihat sangat menikmati penampilan yang disuguhkan. Sama seperti hadirin yang lainnya, matanya terpukau oleh kemeriahan acara.


Sampai pada akhirnya Elvira mendapati ponselnya sedang berdering karena ia mendapat panggilan telepon dari nomor kantornya.


Ia segera beranjak dari tempatnya dan segera melipir untuk mencari sebuah tempat menepi menerima panggilan telepon tersebut. Sedangkan melihat Elvira tampak sibuk, Nevan memilih membiarkannya saja.


“Halo, ya ada apa?” tanya Elvira yang sudah menjawab panggilan walau samar-samar masih terdengar suara gemuruh dari aula gedung tersebut.


“Maaf Bu mengganggu, ini ada seseorang yang ingin bertemu dengan Bu Elvira. Katanya sangat penting.” Terdengar suara dari Dara di seberang telepon.


“Siapa?”


Di tempat terpisah kini Dara yang menerima Gio sebagai tamu melihat kembali buku tamu yang tadi sempat diisi Gio.


“Pak Gio Pratama Putra.” Dara lalu melirik lagi ke arah pria yang sedang duduk di seberang meja.


Kemudian ia menoleh kembali ke daftar buku tamu tersebut dan membaca kolom jenis pekerjaan Gio.


“Apa? Pekerjaan, seorang penguntit?” tanya Dara heran yang masih terhubung dengan Elvira via telepon.


“Apa ada yang salah?” tanya Gio balik.

__ADS_1


“Mana ada pekerjaan sebagai seorang penguntit?” protes Dara sebal.


“Ada. Itu pekerjaan ku,” jawab Gio dengan santai.


“Ya ampun, jangan-jangan kamu mau menguntit Bu Elvira?” tuding Dara.


“Aku tidak suka menguntit wanita cantik. Aku lebih suka menguntit para penjahat.” Perkataan Gio yang jujur justru terdengar sebagai gurauan di telinga Dara.


“Dasar aneh!” Dara melengos kesal menanggapinya.


Padahal Gio jelas-jelas memberi kode tentang pekerjaannya yang sebenarnya yang merupakan seorang Intelijen kepolisian, akan tetapi otak Dara yang tidak sampai berpikir ke arah sana.


Tapi sebenarnya Dara cukup terkesan dengan pria berwajah tampan itu karena menurutnya agak sedikit misterius.


“Dara, apa yang kamu bicarakan?” tanya Elvira yang masih menunggu Dara sibuk berbincang dengan tamu tersebut.


“Oh maaf Bu, habisnya tamu kali ini agak aneh. Saya curiga jangan-jangan dia mau mengganggu Bu Elvira. Ibu harus berhati-hati ya,” kata Dara dengan polos.


Sedangkan Elvira merasa malas menanggapi kelakuan Dara karena ia sudah tahu jika tamu itu adalah Gio yang sudah ia kenal sebelumnya.


“Saya masih ada acara. Begini saja, kamu minta nomor telepon dia dan berikan kepada saya. Katakan kepadanya, nanti biar saya yang menghubunginya.”


“Baik Bu.”


Dara lalu menatap Gio setelah menutup teleponnya.


“Saya minta nomor telepon kamu,” ujar Dara.


“Kamu mau nomor telepon ku?” tanya Gio mengulangi.


“Apa masih kurang jelas? Bu Elvira, atasan saya yang memintanya.”


“Atasan kamu? Atau kamu?”


“Benar-benar ya ni orang!” celetuk Dara kesal.


“Aku tidak sembarang memberikan nomor telepon ku kepada orang lain. Berhubung yang meminta bu Elvira sendiri, aku akan berikan. Jangan sampai kamu yang mencurinya.” Gio memperingatkan.


“Iya, dasar sombong!” ketus Dara.


...----------------...


Setelah mengakhiri sambungan telepon, Elvira segera kembali ke aula utama tempat pusat acara berlangsung tersebut.

__ADS_1


Namun ia tiba-tiba berpapasan dengan Meisya dan Anya yang sepertinya baru saja selesai berbincang dengan salah satu tamu.


Bersambung ...


__ADS_2