
Meisya masih berpikir tidak harus sepeduli itu dengan Anya karena masih ada kemarahan dalam hatinya, namun ia juga tidak menutup mata jika ia harus tetap baik kepada Anya karena anak dalam kandungannya tersebut.
Setelah mengurus biaya administrasi Anya di klinik tersebut, Meisya berlalu pergi tanpa ingin memedulikannya lagi.
“Dody, karena rencana kunjungan sudah saya batalkan, kita ke kantor pak Roni saja sekarang,” titah Meisya kepada supirnya.
“Baik, Bu.”
Ia merasa harus memeriksa sesuatu. Walaupun rencana ini sudah ada terniat di benaknya beberapa waktu lalu, akan tetapi karena masih sibuk dengan urusan pekerjaan ia jadinya harus mencari waktu luang untuk urusan yang satu ini.
Beberapa saat kemudian, Meisya sudah tiba di kantor firma hukum untuk menemui pak Roni.
Meisya perlu memeriksa beberapa hal terkait kepemilikan saham perusahaan milik putranya, Daffin. Ia pun juga meminta pendapat kepada Roni mengenai rencananya yang menginginkan menantunya pergi dari rumah.
“Bu Meisya jangan gegabah dalam mengambil keputusan untuk mengusir bu Elvira, bagaimanapun juga dia adalah istri sah dari pak Daffin. Coba lihat ini dulu.”
Roni menyerahkan lembaran dokumen yang berisi tentang catatan jumlah kepemilikan saham yang dimiliki Daffin dan Nevan di perusahaan mereka dimana Daffin memiliki jumlah yang lebih banyak.
“Apa? Daffin memiliki 30% saham Arkatama grup?” Meisya mengerutkan alis saat kembali memeriksa data tersebut.
“Dalam kurun waktu dua tahun ini pak Daffin berhasil membeli saham dari beberapa pemilik saham lainnya dan mengakuisisinya, Bu, yang membuatnya menjadi pemegang saham terbesar kedua setelah ibu Dewanti.”
“Lihat ini juga.”
Roni menyerahkan selembar surat pernyataan yang telah di tanda tangani sendiri oleh Daffin sebelum peristiwa yang akhirnya merenggut nyawanya tersebut.
“Apa ini?!” Mata Meisya terbelalak sempurna saat membaca isinya yang menyatakan jika Daffin telah menyerahkan seluruh saham miliknya kepada Elvira.
“Bu Meisya tahu kan apa artinya? Sebagai istri sah dari pak Daffin, bu Elvira dipastikan akan mendapatkan semua jumlah saham tersebut saat dia melakukan klaimnya dan itu berlaku secara hukum karena pak Daffin sendiri yang dengan sadar menyerahkannya.”
“Apa?” Meisya merasa habis tenaga setelah mendengar penjelasan dari Roni.
Muncul penyesalan yang teramat besar dalam benaknya, kalau saja ia mengetahui hal ini lebih awal.
Ia pasti tidak akan membiarkan Daffin melakukan semua ini. Hal ini sungguh menyakitkan bagi Meisya karena menurutnya putranya itu sudah dibutakan oleh cinta sehingga sanggup menyerahkan sesuatu yang bahkan sangat berharga, belum lagi satu hal masih selalu disesalinya adalah cara kepergian Daffin yang membuatnya tidak bisa terima dengan semua ini.
“Jadi apa aku tidak bisa mengusirnya?”
Pria yang lebih muda dari Meisya itu mengangguk mengiyakan.
“Saat proses pemindahan saham atas nama bu Elvira sudah dilegalkan, bu Meisya bisa saja menyuruhnya untuk tidak tinggal di rumah karena rumah itu bukan hak pak Daffin sepenuhnya, tapi dengan catatan Bu Meisya harus menerima jumlah saham itu jatuh ke tangannya. Ini yang sudah disiapkan pak Daffin untuknya. Bu Elvira bisa menuntut haknya melalui jalur hukum.”
“Jadi ini tujuan dia menikahi putraku?”
“Coba lihat ini juga.”
Roni memberikan satu dokumen lagi kepada Meisya yang membuat mata Meisya terbelalak lagi saat melihatnya.
“Itu adalah daftar kepemilikan properti yang dimiliki pak Daffin atas namanya sendiri.”
“Aku bahkan tidak tahu jika putraku memiliki banyak sekali properti,” ungkap Meisya sembari melihat daftar panjang tersebut.
__ADS_1
“Pak Daffin sudah menyiapkan daftar ini untuk istrinya dan akan diberikan di setiap hari jadi pernikahan mereka sebagai hadiah, meskipun pak Daffin sudah tiada selama Bu Elvira masih menyandang status sebagai istrinya, dia akan mendapatkan semua ini.”
“Apa?!” Meisya merasa lututnya semakin melemas saat mendengarnya.
“Daffin, kenapa kamu melakukan ini?!” Meisya yang tersulut amarah melempar dokumen tersebut ke atas meja dengan kasar.
Ia lalu memijat dahinya yang mulai menegang karena tekanan pikiran.
“Kenapa dia menyerahkan seluruh miliknya kepada istrinya?!” Meisya sangat tidak terima sembari meninggikan suaranya.
“Adakah caranya untuk membuat Elvira tidak bisa mendapatkan semuanya?” tanya Meisya lagi dengan nada suara mulai turun.
“Hmm, saya tidak yakin. Kecuali bu Elvira sendiri yang membuat pernyataan penolakan karena kerelaannya dan ia pergi dengan sukarela. Atau mungkin saat dia sudah menikah lagi, hadiah yang disiapkan pak Daffin ini tidak akan diberikan lagi kepadanya.”
“Aku tidak bisa terima ini Pak Roni!”
“Tapi ini hak mutlak dari pak Daffin, Bu. Dia hanya memberikan apa yang menjadi miliknya tanpa menyentuh hak yang lainnya. Saran saya mohon tenang kan diri Bu Meisya, jangan sampai gegabah dalam bertindak.”
“Perempuan itu, apa belum cukup dia membuat putraku menderita! Aku tidak akan membiarkannya menguasai harta Daffin setelah merampas nyawa putraku!” tegas Meisya dengan penuh kebencian sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
“Apa dia pernah mengunjungi kamu ke sini baru-baru ini?” tanya Meisya menginterogasinya.
“Tidak ada, Bu.”
“Pak Roni, selama Elvira masih saja berada di rumahku, jangan sekali-kali mengungkit hal ini,” pintanya.
Meisya tidak punya pilihan selain membiarkan saja Elvira berada di rumahnya sementara ia memikirkan cara untuk membuatnya pergi dengan sendirinya tanpa bisa melakukan klaim terhadap sahamnya.
Meisya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Walaupun ia sangat menginginkan kepergian Elvira dari keluarga mereka dan ada banyak hal terlintas di pikirannya untuk menyingkirkan Elvira, akan tetapi Meisya merupakan seorang yang berpendidikan dan bermartabat.
Ia tidak akan berani mengambil tindakan yang berlawanan dengan hukum mengingat reputasinya.
“Aku tidak akan rela jika saham milik Daffin jatuh ke tangannya,” gumam Meisya dalam hati.
Kebenciannya semakin jadi kala ia mengingat bagaimana Elvira yang hanya orang biasa bisa mendapatkan putranya bahkan karena itu Daffin sering melawan dan menentang perkataan Meisya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masih mengingat tentang hal yang baru ia ketahui membuat Meisya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk termenung.
Kebencian di hatinya terhadap Elvira semakin tidak terbendung, ia bahkan tidak sudi untuk sekedar membalas sapaan yang diberikan menantunya itu saat mereka bertemu di rumah.
Saat di kantor, Meisya tampak sering merenung seolah tidak ada hentinya memikirkan sesuatu yang sangat mengganggu dan membuatnya resah.
Bagaimana caranya membuat Elvira tidak bisa mendapatkan semua milik Daffin? Apakah harus benar-benar menyingkirkannya? Meisya menggelengkan kepalanya karena ia tidak mungkin akan melakukan cara kotor untuk memenuhi keinginannya.
Ia tidak akan seberani itu mengotori tangannya, apalagi ia membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan kriminal walau keadaan saat ini sangat ingin memaksanya melakukan segala cara untuk menyingkirkan Elvira dari keluarganya.
Meski sangat membencinya, namun Meisya sebenarnya tidak menutup mata melihat sikap dan perlakuan Elvira Selma ini yang selalu menunjukkan rasa hormat terhadapnya.
__ADS_1
Entah itu hanya alibi untuk menutupi wajahnya yang sebenarnya atau kah memang perempuan itu tidak pernah memiliki dendam terhadapnya.
Meisya tidak bisa menebaknya, yang ia tahu ia kini hanya sangat membencinya.
“Ada bagusnya jika dia masih menghargai ku, kebencian ku terhadapnya akan menjadi penderitaan baginya. Akan ku buat rasa bersalah itu tetap merasuk dalam dirinya hingga dia sendiri tidak akan sanggup menahannya.” Meisya menggumam dalam hati dengan penuh dendam.
Meisya lalu melirik Anya yang duduk di meja kerja sepertinya sedang sibuk melakukan pekerjaan. Meisya memikirkan mungkin ia bisa memanfaatkan kehadiran Anya yang sepertinya sangat dibenci oleh Elvira.
“Aku mungkin bisa membuatnya pergi dengan sendirinya jika dia tidak merasa nyaman lagi berada di rumah.” Meisya berbicara sendiri kala memikirkan menantunya.
Lalu Meisya segera berdiri dari kursinya dan menghampiri meja kerja asistennya tersebut.
“Anya, kamu mau saya benar-benar menerima anak kamu itu kan?” tanya Meisya.
“Tentu saja, Bu. Saya sangat mengharapkannya. Saya bersumpah jika anak ini memang anak dari pak Daffin, Bu Meisya tidak perlu ragu jika ini adalah cucu Ibu sendiri,” jawab Anya meyakinkan.
“Asal kamu bisa pastikan bahwa hal ini tidak boleh diketahui orang lain, dan kamu harus melakukan suatu hal untuk saya.”
“Apapun akan saya lakukan untuk Ibu,” ujar Anya.
“Kalau begitu, kamu ikut saya pulang ke rumah,” kata Meisya lalu ia segera bersiap untuk pulang.
Anya hanya menanggapinya dengan wajah terkejut walau sebenarnya dalam hatinya sangat senang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat itu Elvira dan Dewanti sedang menonton siaran langsung di ponsel milik Elvira menyaksikan tayangan Nevan yang sedang diwawancarai oleh sebuah media pada acara talk show bertema generasi muda yang menginspirasi.
Ini pertama kalinya Nevan bersedia diwawancarai dan tampil di depan publik. Elvira dan Dewanti sangat bersemangat ketika melihat banyak sekali komentar positif terhadap Nevan terlebih banyak juga yang memuji ketampanannya.
“Lihat lah cucu Oma, dia tampan sekali. Coba lihat cara dia menjawab setiap pertanyaan persis seperti kakaknya,” puji Dewanti.
“Iya nih.”
“Jangan-jangan Nevan bisa mengalahkan kepopuleran kamu nih,” canda Dewanti.
“Wah, aku punya saingan sekarang, Oma," canda Elvira.
“Iya, tapi kenapa kamu sekarang tidak mengambil pekerjaan seperti dulu lagi? Dulu kan kamu sering sekali tampil di majalah-majalah fashion bermerek dan beberapa promosi klinik kecantikan besar? Orang-orang mungkin banyak mengidolakan kamu, apalagi kamu sekarang terjun ke banyak kegiatan sosial.”
“Aku hanya ingin lebih bersantai saja, lagipula jadi terkenal itu tidak enak, Oma. Sekarang maunya aku fokus kembali mengurus yayasan saja.”
“Oh ya?Apapun keputusan kamu, tetap Oma dukung.”
Suasana keceriaan itu segera buyar begitu kedatangan Meisya dan Anya yang tiba-tiba menghampiri mereka.
“Meisya, ada apa?” tanya Dewanti yang langsung berdiri dari duduknya melihat Anya.
“Mulai hari ini, Anya akan tinggal di rumah ini.”
__ADS_1
Bersambung ...