Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 73-- Misi Lain


__ADS_3

Elvira tampak sedang duduk di sebuah sofa yang terletak di lobby utama kantornya yang biasa digunakan untuk tamu.


Hari ini ia sedang menunggu kedatangan Nevan dan Sakti yang berjanji menjemputnya untuk pergi ke tempat perbaikan kalung karena menurut informasi dari Nevan, kalungnya hari ini sudah bisa diambil.


Sembari menunggu, Elvira tampak sedang memandangi sebuah kertas yang terdiri dari beberapa rangkap itu yang saat ini sedang dipegangnya.


“Dara!” panggil Elvira tiba-tiba saat kebetulan melihat Dara yang hendak melintas di dekatnya. Perempuan itu segera menghampirinya.


“Iya Bu?”


“Duduk,” titah Elvira yang langsung dituruti Dara.


“Ini formulir pendaftaran seleksi beasiswa untuk mahasiswa baru.” Elvira menyerahkan formulir yang tadi ada di tangannya dan disambut oleh Dara.


“Kampus Universitas Arkatama, Bu?” Dara berdecak kagum saat membaca nama perguruan tinggi tersebut.


“Iya, saya rasa kamu harus mencoba mengikuti seleksinya. Saya mau kamu kuliah tahun ini,” harap Elvira.


“Tapi Bu, bagaimana nanti dengan pekerjaan saya?”


“Tidak akan ada masalah, kamu bisa kuliah sambil bekerja. Teman-teman kamu disini juga banyak melakukan hal yang sama, tidak sedikit dari mereka yang berhasil mendapatkan beasiswa itu. Lagi pula kerja di yayasan ini, waktunya bisa lebih menyesuaikan.” Elvira menjelaskan.


Ia bisa melihat binar kebahagiaan terpancar dari wajah perempuan muda di depannya saat ini.


“Mulai sekarang belajar lah lebih giat, karena tes seleksinya tidak akan mudah.”


“Iya. Terima kasih ya, Bu.”


Tiba-tiba kini sudah ada kehadiran Nevan dan Sakti yang baru datang dan langsung menemui mereka.


“Siang, Pak,” sapa Dara kepada keduanya.


“Apa ini? Formulir seleksi beasiswa?” tanya Sakti yang langsung tertarik melihat kertas yang ada di tangan Dara dan diiyakan oleh perempuan itu.


“Wah, kamu harus mengikutinya. Banyak lulusan terbaik dari sana yang bisa langsung bekerjaan di perusahaanArkatama grup,” ujar Sakti.


“Beneran, Pak?” tanya Dara sangat bersemangat.


“Iya lah, kamu tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan. Arkatama grup punya banyak cabang yang tersebar di mana-mana yang siap menerima lulusan dari kampusnya sendiri. Asal, kamu harus berprestasi.” Sakti yang kini duduk di sampingnya menjelaskan panjang lebar.


“Iya sih, saya dulu sempat bercita-cita ingin jadi pekerja kantoran,” kata Dara sambil melirik Elvira.


“Cita-cita kamu terlalu sederhana.” Nevan yang kini tahu-tahu sudah ikut duduk bersama menyahuti.

__ADS_1


“Ya, masa saya harus bercita-cita jadi presiden, Pak? Atau jadi pemimpin tertinggi Arkatama grup seperti Bapak? Kan tidak mungkin. Tapi saya sepertinya lebih senang bekerja dengan Ibu Elvira, sih. Bekerja disini sangat menyenangkan dan menambah banyak pengalaman.”


“Tapi tetap saja kamu harus mengikuti seleksi ini,” saran Sakti.


“Iya, Pak. Siap. Oh ya, saya sampai lupa. Mau saya buatkan minuman apa?” tanya Dara kepada kedua pria itu melirik mereka secara bergantian.


“Tidak usah,” sahut Nevan.


“Saya mau es cappucino, ada kan?” ujar Sakti.


“Ada, Pak. Tunggu sebentar ya. Bu Elvira mau minum juga?”


“Tidak,” jawab Elvira singkat sembari kini terlihat sibuk dengan ponselnya membalas pesan dari seseorang.


“Aku minum sebentar dulu ya, haus,” kata Sakti minta sedikit waktu sebelum akan mengantar mereka nanti.


Setelah Dara segera pergi melipir ke area pantry untuk membuatkan minuman, tiba-tiba mereka kedatangan tamu lagi. Seorang perempuan yang tampak familiar membuat mereka menatapnya dengan seksama.


Elvira menyunggingkan senyum pada sudut bibirnya. Sebenarnya dari tadi saat ia mengetahui Sakti akan ikut ke sini, ia langsung memancing Olla agar mau berkunjung ke kantornya di jam yang sama.


Baru menit sebelumnya Elvira merasa puas dalam hati saat Olla mengirim pesan kepadanya mengatakan jika ia sudah di depan kantor baru turun dari mobil.


“Ra?” Olla memandang Elvira dengan tatapan protes setelah ia bertatap mata dengan Sakti.


“Tidak apa-apa, mereka tamu ku juga,” kata Elvira yang menyadari kepala Olla saat ini penuh tanda tanya melihat kedua pria itu sudah ada di sini.


Hari ini ia merasa ditipu oleh Elvira yang pasti dengan sengaja pengatur pertemuan ini untuknya dan Sakti.


“La, aku sebenarnya lagi memerlukan mitra kerja sama dengan sebuah bank. Aku berpikir akan mengajukan proposal kerja sama ke tempat kantor kamu, bagaimana?” tanya Elvira yang membuka pembicaraan soal pekerjaan.


“Kamu kan bisa langsung mengirimnya ke kantorku. Apa masih perlu menyuruhku datang ke sini? Apa mungkin sudah lupa sama alamatnya?”celetuk Olla yang sudah kesal dengannya.


“Mana mungkin aku lupa sama tempat asal ku dulu bekerja. Aku hanya meminta bantuan kamu.” Elvira berdalih.


Sedangkan Nevan dan Sakti terlihat masih menyimak, tiba-tiba Dara sudah kembali dengan membawakan minuman untuk Sakti.


“Silahkan .... Wah, Bu Elvira ada tamu lagi?” tanya Dara yang melihat kehadiran Olla di tengah mereka.


“Iya, dia teman saya. Namanya Ibu Olla, kamu harus mengingatnya. Minta tolong ya buatkan satu lagi minuman untuknya, dia suka jus alpukat,” pinta Elvira yang langsung diiyakan oleh Dara.


“Apa sebenarnya pekerjaan kamu? Hampir semuanya kamu kerjakan.” Sakti kini angkat bicara sembari berusaha menenangkan dirinya karena rasanya sedang tidak karuan saat berada di dekat mantannya seperti ini.


“Saya sebenarnya suka mengerjakan semuanya, Pak. Kalau ada yang perlu saya kerjakan, akan saya lakukan,” jawab Dara, lalu ia segera permisi.

__ADS_1


“Nevan, bukan kah harusnya kita pergi sekarang? Kamu sudah janjian kan sama pemilik tokonya kalau kita akan mengambil kalung ku sekarang?” tanya Elvira kepada Nevan dengan tatapan memberi kode untuk segera pergi meninggalkan Olla dan Sakti.


“Oh, iya. Sekarang,” sahut Nevan yang langsung mengerti.


“La, aku akan keluar sebentar. Kalian tunggu di sini saja ya,” pamit Elvira sembari bangkit dari duduknya.


“Loh, kok kamu pergi sekarang?” protes Olla tidak mau ditinggal.


“Sebentar saja, kalian mengobrol saja di sini ya.”


“Aku akan mengantar kalian.” Sakti berucap menyela pembicaraan.


“Tidak perlu, kamu kan katanya mau minum dulu. Tunggu lah di sini,” titah Nevan.


“Ayo.” Elvira bergegas menarik tangan Nevan membawanya segera pergi meninggalkan mereka.


“Elvira!” panggil Olla menyerukan namanya setengah berteriak.


“Nanti aku akan telpon kamu!” Elvira menyahut dari kejauhan.


Sedangkan Olla dan Sakti seolah tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah kepergian mereka melainkan akhirnya dengan terpaksa membiarkan Elvira dan Nevan segera berlalu pergi.


Hanya tinggal berdua seperti ini membuat suasana seketika menjadi hening, apalagi Sakti sesekali mencuri pandang ke arah Olla yang kini membuang muka dengan raut ketidaknyamanan jelas tergambar di wajah cantiknya.


Olla masih merasa sangat kesal dengan Elvira karena tiba-tiba saja membuatnya bertemu dengan Sakti di saat ia belum siap untuk bertemu dengannya lagi seperti ini, akan tetapi ia tidak bisa juga lari dari kenyataan saat ini.


Menurutnya memang benar kata Elvira bahwa ia harus menyelesaikan persoalan dengan Sakti agar ia mendapat penjelasan sesuatu yang selama ini sangat menyiksa batinnya.


Cukup lama mereka menghabiskan waktu saling terdiam namun masih enggan untuk meninggalkan satu sama lain, Dara lalu segera kembali lagi membawakan minuman untuk Olla.


“Loh, bu Elvira sama pak Nevan kemana?” tanya Dara memecah keheningan.


“Mereka baru saja pergi,” jawab Sakti.


“Oh, begitu ya. Ya sudah, silahkan dinikmati minumannya. Kalau ada perlu apa-apa, jangan sungkan panggil saya ya, Bu Olla,” kata Dara sembari menyapa Olla lagi dengan senyum ramah dan segera mendapat seutas senyum simpul dari Olla.


Setelah memastikan Dara sudah meninggalkan memberi waktu untuk mereka berdua, Sakti mengumpulkan segenap keberanian hendak memulai pembicaraannya bersama Olla. Bagaimana pun juga ia berpikir harus menjelaskan sesuatu kepada Olla.


“La.” Sakti memanggil nama sapaannya namun sepertinya tidak mendapat tanggapan dari yang punya nama.


 


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2