Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 59-- Meraih Maaf Oma


__ADS_3

Dewanti mendapati Imam yang baru datang dan terlihat mengeluarkan banyak tas belanjaan dari bagasi mobil.


“Apa ini Pak Imam?” tanya Dewanti.


“Ini belanjaan milik Nyonya Elvira. Tadi saya baru menemaninya belanja, katanya ini untuk anak-anak di panti asuhan, Nyonya,” jawab Imam yang menghentikan sementara aktivitasnya saat menyadari keberadaan Dewanti.


“Lalu kenapa Pak Imam pulang sendirian? Kemana Elvira?”


“Maaf, Nyonya. Sebenarnya tadi saat hendak pulang, kami bertemu Nyonya Meisya, dan Nyonya Meisya menyuruh saya pulang lebih dulu meninggalkan Nyonya Elvira di sana.”


“Begitu kah? Ya sudah, bawa masuk saja semuanya,” titah Dewanti lalu ia segera kembali masuk ke dalam rumah.


“Baik, Nyonya.”


Dewanti tampak terdiam sebentar, ia memikirkan entah apa yang diperbuat Meisya lagi terhadap Elvira.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Meisya dan Anya baru pulang ke rumah sambil menenteng tas belanjaan sambil terlihat memasang wajah penuh kebahagiaan.


“Apa perempuan itu belum juga pulang ke rumah?” tanya Meisya tiba-tiba mengingat Elvira.


“Sepertinya belum sih, Bu,” jawab Anya melihat-lihat sekitar, ia tadi juga tidak melihat ada mobil Elvira di depan.


“Bagus lah, biar dia tidak bisa pulang sekalian. Kamu lihat kan bagaimana tidak berdayanya dia saat tidak memiliki benda-benda ini?”


Meisya memperlihatkan lagi ponsel dan dompet milik Elvira, lalu meletakkan di atas meja seraya mereka langsung duduk berdua di sebuah sofa.


“Bisa-bisanya dia malah enak-enakkan menikmati hidupnya. Sekali-kali dia harus diberi pelajaran seperti ini agar dia tahu kalau hidupnya hanya bisa bergantung dengan keluarga ini.” Meisya berucap dengan nada sinis sambil memandangi kedua benda di atas meja tersebut.


Tiba-tiba pandangan sinisnya langsung lenyap saat menyadari di depannya kini ada Dewanti yang baru datang dan sepertinya Dewanti sudah mendengar perkataannya tadi.


“Apa-apaan ini, Meisya? Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Elvira?” tanya Dewanti.


“Ma, aku hanya memberinya pelajaran. Masa tadi aku ketemu di mall dia malah asyik belanja menghambur-hamburkan uang. Dia bahkan sudah berpacaran lagi dengan pria lain di luar sana. Mama sekarang tahu kan bagaimana kelakuan buruknya?”


“Keterlaluan kamu! Apa kamu memikirkan bagaimana dia di luar sana sekarang?”


“Ya biarkan saja lah, Ma. Dia punya kaki, dia bisa jalan kaki atau naik taksi mungkin.”


Dewanti lalu mengambil ponsel dan dompet tersebut.


“Kamu sudah kelewatan, bukan kah Mama sudah peringatkan kamu untuk tidak mengganggu dan menyentuhnya!” omel Dewanti tampak marah.


“Ma, Mama lupa apa yang sudah dilakukannya? Apa belum cukup buktinya?”


“Terlepas dari kesalahannya, kamu seharusnya tidak perlu melakukan ini kepadanya!”


“Mama kenapa sih selalu saja membela Elvira sampai segitunya? Kelakuan dia yang sudah keterlaluan.”


“Mama tidak sama seperti kamu. Kebencian kamu sudah menutup mata dan hati kamu sehingga kamu sampai kapan pun tidak bisa melihat yang mana benar dan salah, karena kebencian kamu juga kamu akan terus mencari celah kesalahannya!”


“Ma!” protes Meisya yang langsung berdiri dari duduknya.


Dewanti langsung mengalihkan perhatiannya memeriksa ponselnya yang sedang dipegangnya berdering. Ia langsung menjawab panggilan tersebut yang merupakan dari Nevan.


Wajahnya menunjukkan rasa lega setelah mendapat informasi mengenai Elvira dari Nevan.


Dewanti memandang sebentar dengan raut kemarahan pada Meisya, lalu segera melangkah pergi meninggalkannya bahkan tanpa memberinya berucap sedikitpun untuk melawan lagi.


Meisya terlihat sangat kesal karena pembelaan dari Dewanti, betapa pun ia mencari celah kesalahan Elvira tetapi semuanya seakan tidak berguna di mata Dewanti.


“Bu, tenang lah.” Anya mencoba menenangkannya.


“Bagaimana saya bisa tenang?!” geram Meisya yang masih dalam kekesalannya.

__ADS_1


“Saya yakin kok, Oma juga sebenarnya masih menyimpan kemarahan terhadap Elvira karena bukti yang telah kita berikan. Setidaknya hal itu akan mampu menggoyahkan sedikit kepercayaan Oma kepadanya.”


“Saya tidak tahu bagaimana perempuan itu bisa mengambil hati Mama mertua saya.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Elvira yang baru pulang saat hari sudah gelap langsung disambut oleh Mirah yang melihat kedatangannya.


“Nyonya Elvira baru pulang?”


“Iya, Bi. Tadi ada pekerjaan yang lumayan banyak untuk diselesaikan hari ini juga,” jawab Elvira dengan ramah.


“Nyonya sudah makan?”


“Sudah, Bi. Ya sudah, saya mau ke kamar dulu ya, mau mandi.”


“Nyonya, sebentar. Tadi Bibi dapat pesan dari Nyonya besar, katanya nanti kalau Nyonya Elvira sudah pulang, temui Nyonya besar di pendopo halaman belakang.”


“Oh, iya Bi, terima kasih ya.”


Elvira segera meninggalkan Mirah untuk pergi ke kamarnya.


Setelah sejenak berhenti memikirkan masalah di rumah ini karena tadi ia sibuk dengan pekerjaan di kantor, kini Elvira baru teringat kembali jika masalah ia saat ini tidak kalah pentingnya.


...----------------...


Setelah sudah mandi dan berganti pakaian, Elvira menghampiri Dewanti yang tampak duduk sendiri di sebuah kursi.


“Duduk lah,” titah Dewanti yang menyambutnya terlebih dahulu bahkan sebelum Elvira menyapanya.


“Iya, Oma.” Elvira langsung turut duduk bersamanya, masih dengan perasaan gugup karena ia tahu Dewanti telah menyimpan kemarahan padanya.


“Ini milik kamu.” Dewanti menyerahkan ponsel dan dompet miliknya yang sudah Dewanti ambil dari Meisya. Elvira menyambutnya dengan sungkan.


“Mama mertua kamu memang sudah keterlaluan. Lain kali kalau dia melakukan hal seperti ini lagi terhadap kamu, kamu harus bisa melawan. Walaupun kamu menghormatinya, tapi kamu berhak menolak karena ini adalah milik kamu, hak kamu. Elvira, jangan biarkan orang lain merampas milik kamu.”


“Iya sayang. Oma sebenarnya tidak marah, Oma hanya takut jika perasaan kamu sudah berubah terhadap Daffin secepat ini sedangkan Oma merasa kita baru saja kehilangannya.”


“Tidak seperti itu Oma. Aku akui foto itu memang benar, Oma. Tapi sebenarnya tidak seperti kelihatannya, aku memang mengenal dr. Raaldy sudah lama tetapi aku tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Oma harus percaya kalau tidak ada laki-laki lain dalam hidupku selain mas Daffin." Elvira menuturkan.


Ia menghela napas sejenak menjeda penuturannya. "Memang dulu dr. Raldy pernah menyimpan perasaan terhadapku sebelum aku menikah dengan mas Daffin, tapi itu sudah lama Oma. Mengenai gelang yang diberikannya, dia hanya memberinya sebagai hadiah. Nanti aku akan mengembalikannya saja.”


“Sayang, Oma percaya sama kamu. Kalau memang itu pemberian dia, tidak apa-apa, kamu tidak perlu mengembalikannya. Oma juga tidak melarang kalau kamu mau berteman dengan laki-laki lain selama kamu bisa menjaga martabat dan kehormatan kamu. Oma juga tidak menampik jika suatu saat nanti kamu pasti juga ingin mendapatkan kebahagiaan kamu sendiri saat hati kamu sudah siap melupakan Daffin.”


“Oma jangan berpikiran seperti itu, aku janji hal ini tidak akan pernah terjadi lagi. Oma harus tahu kalau aku tidak akan pernah melupakan mas Daffin dan semua yang telah dia berikan kepadaku. Karena dia juga, aku bisa bertemu sama Oma yang sangat baik kepadaku juga menyayangiku. Hidup dengan cinta dari mas Daffin dan bisa berada di sisi Oma seperti ini sudah membuatku sangat bahagia, aku tidak menginginkan apa-apa llag."


Elvira mengungkapkan perasaannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Oma juga senang ada kamu di sisi Oma.”


Melihat senyuman yang terpancar dari wajah Dewanti saat menatapnya seperti ini membuat Elvira merasa lega karena ia sempat merasa takut akan sikap diam dari Dewanti seperti kemarin.


Tetapi merasakan betapa kasih sayang dari Dewanti yang mampu membuatnya bertahan menjalani hari-harinya membuat Elvira bertekad jika ia tidak akan pernah lagi mengecewakan Dewanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Esoknya, Elvira menghampiri Dewanti yang sedang duduk membaca koran di sebuah ruangan seperti yang hampir setiap hari ia lakukan.


“Oma,” sapanya membuat Dewanti mengalihkan perhatiannya dari koran yang dibacanya.


“Iya sayang. Kamu belum berangkat ke kantor?”


“Ini mau berangkat. Tapi sepertinya aku mau ke makam Mas Daffin dulu, tiba-tiba saja aku merasa merindukannya.”


“Oh ya, kamu pergi sendiri saja?”

__ADS_1


“Iya Oma.”


“Kenapa pergi sendirian? Apa aku boleh ikut?” tanya Anya yang mencuri dengar pembicaraan mereka.


“Elvira, kamu kan pernah janji kepadaku mau mengantarku pergi ke makam Daffin. Anakku sepertinya saat ini juga sangat merindukan papanya, bagaimana kalau kita pergi bersama?” ajak Anya yang sepertinya sudah bermuka tebal di rumah ini.


“Kamu pergi saja sendiri!” tukas Dewanti yang sebal melihatnya.


“Oma, tidak apa-apa. Lagian kan tempat tujuan kami sama, jadi biar sekalian aku pergi bersamanya.”


“Tapi Elvira,” protes Dewanti yang kini meletakkan korannya di atas meja.


“Tidak apa-apa, Oma.”


“Kamu lihat kan bagaimana cucu saya yang masih bisa bersikap baik terhadap kamu, paling tidak kamu harusnya punya malu dan rasa hormat kepadanya!” celetuk Dewanti kepada Anya.


“Iya, Oma,” sahut Anya meski dalam hatinya menentang keras.


...----------------...


Elvira baru masuk ke mobilnya dan diiringi oleh Anya yang ternyata akan memilih duduk di kursi penumpang belakang. Melihat kelakuan Anya membuat Elvira menatap sinis ke arahnya.


“Kenapa? Berada di kursi ini rasanya sedikit berbeda,” ujar Anya yang sedang berlagak menjadi nyonya.


“Terserah kamu saja, jangan lupa pasang sabuk pengaman.”


Elvira merasa malas menanggapi lebih lanjut, lalu ia segera menginjak pedal gas mobilnya dengan tiba-tiba membuat Anya terkesiap karena tubuhnya hampir terlempar karena belum memakai sabuk pengamannya.


“Kan sudah ku bilang pakai sabuk pengamannya,” ujar Elvira dengan santai.


“Kamu bisa bawa mobil dengan benar tidak sih!” omel Anya.


“Bisa, lebih parah dari ini pun bisa!” tantang Elvira, sedangkan Anya sudah melengos kesal kepadanya.


“Bawa mobilnya dengan benar, kamu lupa kalau aku sedang hamil!”


“Baik, Nyonya,”ujar Elvira terdengar meledeknya.


“Dasar pandai mencari muka!” umpat Anya tiba-tiba.


“Apa?”


“Ya, kamu. Pandai mencari muka di depan Oma Dewanti! Lagian ya, aku heran kenapa Oma masih saja bisa memaafkan kamu.”


“Lalu kenapa?” tantang Elvira.


Menghadapi Anya dengan bersikap lemah hanya akan membuatnya merasa besar kepala, karena itu Elvira harus terang-terangan menunjukkan sikapnya entah apa pun yang dipikirkan oleh Anya tentangnya saat ini.


“Aku akan terus mencari cara membuat oma membenci kamu. Akan ku buat kamu terlempar dari keluarga Arkatama!”


“Kamu tidak akan bisa melakukannya.”


“Kenapa tidak? Tunggu saja saatnya!”


“Aku memiliki 30% saham perusahaan Arkatama grup yang telah diberikan Mas Daffin kepadaku,” ungkap Elvira mampu membuat Anya terbebelak.


Walau sebenarnya Elvira belum juga melakukan klaim terhadap kepemilikan sahamnya tersebut, saat ini ia hanya berpikir ingin menggertak Anya dan menunjukkan tidak akan ada kesempatan bagi Anya untuk mendapatkan yang diincarnya selama ini kecuali melalui Elvira.


“Apa? Tidak mungkin, dasar kamu!” Anya naik pitam.


“Mas Daffin bukan hanya telah mengorbankan nyawanya untukku, tapi dia juga telah menyerahkan semua saham miliknya. Kamu tahu artinya? Tidak akan ada yang tersisa untuk kamu.”


“Keterlaluan! Dasar wanita licik!” hardik Anya yang terdengar biasa saja di telinga Elvira yang sudah kebal dan bersiap apa pun kata-kata menohok yang akan Anya ucapkan kepadanya.


“Aku bisa saja memberikan beberapa persennya untuk anak kamu, jadi bersikap baiklah terhadapku,” pungkas Elvira merasa puas telah berhasil membuat Anya kepanasan sendiri karena merasa perjuangannya langsung dipatahkan oleh Elvira.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2