
“Suster, apa operasinya sudah selesai? Bagaimana putri saya?” tanya Rani.
“Mohon maaf sebelumnya Ibu, pasien masih dalam penanganan. Kami ingin menginformasikan bahwa kami masih memerlukan tambahan darah bagi pasien, karena terjadi banyak pendarahan selama operasi. Kebetulan stok darah golongan O negatif di rumah sakit kami sedang kosong, dan darah yang sudah didonorkan oleh Pak Gio juga belum mampu mencukupi kebutuhan darah yang diperlukan.” Perawat itu menjelaskan panjang lebar.
Rani tampak bertambah lesu setelah mendengarnya, ia menatap suaminya dengan nanar menyedihkan keadaan.
“Bagaimana ini? Kami bukan orang tua kandungnya, kami berdua juga tidak memiliki golongan darah yang sama dengan putri kami,” kata Arga yang turut cemas.
“Kami sudah mencoba menghubungi beberapa rumah sakit, rupanya stok darah O negatif di tempat mereka kebetulan juga sedang kosong.” Perawat itu melanjutkan penjelasannya.
“Iya, Suster. Nanti biar saya menghubungi rekan-rekan saya,” ujar Gio.
“Baik, Pak. Dimohon cepat ya, karena kita perlu tambahan darah segera. Saya permisi dulu.” Perawat itu berpamitan.
“Tunggu, Suster,” tahan Elvira, perawat itu langsung mengarahkan perhatian padanya. “Golongan darah saya O negatif, suster bisa ambil darah saya saja.”
“Benarkah?”
Elvira mengangguk, ia sudah menyadari pandangan tak percaya dari Gio.
“Kalau begitu, mari ikut saya,” ajak perawat.
“Kamu tidak perlu melakukan ini,” tahan Gio. Segenap rasa bersalahnya tak terbendung lagi di hadapan Elvira.
“Tidak apa-apa, ini sedang dalam keadaan darurat," kata Elvira. "Ayo cepat, Suster," ajak Elvira.
"Mari, Bu."
Elvira segera meninggalkannya untuk mengikuti arahan perawat, meski tanpa minta persetujuan Gio lebih lanjut.
Tampaknya Gio juga tidak bisa melarang niat baiknya, apalagi dalam situasi terdesak seperti ini. Ia tertegun memandangi punggung Elvira yang semakin menjauh, namun segera tersadar saat Arga menepuk pundaknya.
“Dia perempuan yang berhati baik,” ujar Arga, yang turut memandang ke arah Elvira.
“Aku akan tetap mencoba menghubungi kawan-kawan di kantor, kalau-kalau masih diperlukan tambahan darah lagi.” Gio segera sedikit menjauh sembari menggunakan ponselnya.
...𖠁𖠁𖠁...
Nevan yang didampingi Sakti terlihat bergegas memasuki sebuah ruangan, mengejutkan Elvira yang sedang beristirahat di sebuah ranjang rawat.
Ia tahu Nevan mungkin akan agak panik, saat ia tadi memberitahu soal keberadaannya di rumah sakit ini.
“Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?” Nevan menanyai penuh perasaan khawatir.
Sebenarnya juga dibarengi rasa penasaran, karena Elvira tadi belum menjelaskan apapun di telepon.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja.”
“Tangan kamu?” tanya Nevan lagi, saat ia melihat di lengan Elvira ada plester kecil.
“Ini habis donor darah,” jawabnya.
“Kamu bilang akan menjelaskannya setelah aku tiba. Sekarang aku sudah disini, jelaskan apa yang terjadi.”
Elvira menghela napas, ia nampaknya masih memikirkan kata-kata untuk memulai menceritakan semua yang terjadi.
Sedangkan Nevan dan Sakti tampaknya sudah sangat siap mendengarkan.
...𖠁𖠁𖠁...
“Apa?!” Rani sangat terkejut saat baru mendengar penuturan Gio, tentang semua yang terjadi pada Anya, serta semua perbuatan Anya kepada Elvira.
Tak kalah terkejutnya, Arga pun turut bereaksi serupa.
Pernyataan yang disampaikan Gio rasanya bagai sambaran petir yang menggelegar pada jantung Rani, dalam sekejap Rani merasakan sebak di dadanya.
Rani langsung merasa syok, ia sama sekali tidak menyangka kenapa Anya bisa sampai berbuat seperti itu.
Rani bahkan hampir tumbang, beruntung ada tangan Arga yang menahan tubuhnya, dan langsung mendekapnya.
Rani sudah terisak, tak kuasa lagi menahan air matanya. Satu sisi ia juga sangat tersayat rasanya, mengingat saat ini kondisi Anya yang bertaruh nyawa di ruang operasi. Segala rasa sedih serta penyesalan menyeruak dalam batinnya.
Dalam tangisnya, Rani menyadari kehadiran dari Elvira yang tiba-tiba sudah menghampirinya ditemani Nevan dan Sakti.
Rani mengusap air mata yang membuat matanya sembab, ia melepaskan diri dari dekapan suaminya.
Dengan langkah gemetar, Rani perlahan membawa diri berjalan mendekat kepada Elvira. Ia memandang wajah itu dengan nanar, lalu detik berikutnya langsung tertunduk menahan rasa malu.
“Ibu,” sapa Elvira.
Di benaknya penuh tanya melihat tingkah Rani, entah apa yang sudah terjadi.
Sedangkan Nevan dan Sakti yang sudah mendengar penjelasan Elvira, tampaknya lebih memilih diam saja.
Rani kembali terisak, lalu memberanikan diri menghadap ke Elvira. Pandangannya penuh rasa bersalah. Elvira segera memeluknya, mencoba menenangkan.
“Anya pasti akan baik-baik saja, Bu,” ujar Elvira menenangkannya. “Kita berdoa saja ya.”
Rani melepas pelukannya, masih dalam keadaan tak mampu berkata-kata. Kemudian tiba-tiba berlutut di kaki Elvira, mengejutkan semua orang yang menyaksikannya.
“Apa yang Ibu lakukan?” Elvira yang dalam keadaan terkejut, kini menyentuh kedua pundak Rani, memintanya kembali bangkit. Namun tubuh wanita itu enggan melakukannya.
__ADS_1
“Nak Elvira, tolong ampuni semua perbuatan Anya.” Rani berucap dengan suara yang sudah serak, sembari menyatukan kedua telapak tangan di hadapan Elvira, melakukan permohonan.
Sedangkan Elvira membulatkan mata tak percaya dengan yang ia lihat saat ini, ia tidak menyangka Rani akan sampai melakukan hal ini.
“Ibu tidak perlu melakukan ini,” kata Elvira dengan lemah lembut. “Ibu berdiri sekarang ya.”
Elvira kembali menyentuh kedua pundak wanita itu, lalu agak sedikit memaksa membawanya untuk kembali berdiri, karena wanita itu tak kunjung bergerak dari posisinya.
Hingga akhirnya Rani mau menurut berdiri, ia sungguh menyimpan sejuta rasa malu berhadapan dengan Elvira.
Tak kuasa membayangkan bagaimana semua perbuatan, yang dilakukan oleh Anya selama ini terhadap Elvira.
“Bagaimana bisa kami menunjukkan lagi wajah di hadapan Nak Elvira, atas semua perbuatan yang Anya lakukan terhadap Nak Elvira. Ibu sangat malu, dan tidak tahu harus melakukan apa lagi, selain hanya mohon pengampunan untuk Anya.”
“Tidak apa-apa, Bu.”
“Maaf kan Ibu, Nak Elvira. Maaf kan Ibu yang selama ini tidak bisa mendidik dan menjaga putri Ibu dengan baik.” Rani tampaknya tak kuasa membendung air mata sekaligus penyesalannya.
Elvira tidak tega melihatnya, ia benar-benar melihat sebuah ketulusan dari hati seorang ibu untuk untuknya.
“Sudah, Bu.” Elvira mencoba menenangkannya. “Tidak apa-apa. Yang terpenting sekarang adalah kondisi Anya.”
Meski memiliki rasa kebencian dan kekecewaan terhadap Anya, namun hati nurani Elvira tampaknya masih mampu mengalahkan egonya.
Mengetahui keadaan Anya yang sedang kritis di ruangan operasi, turut membangkitkan rasa simpatinya.
“Kamu bahkan rela mendonorkan darah kamu untuknya, padahal kamu tahu kalau dia hampir saja membuat kamu celaka,” lirih Rani. “Bagaimana kami akan menanggung semua ini? Semua kebaikan yang telah kamu berikan, dan semua kejahatan yang dilakukan oleh Anya.”
“Saya sudah ikhlas, Bu. Tidak apa-apa.”
Rani hendak berucap lagi, namun ia langsung menahannya, karena menyadari pintu ruangan operasi terbuka.
Seorang dokter terlihat baru keluar dari ruangan, dan langsung menemui mereka. Semuanya tampak antusias ingin mendengar keterangannya, terutama pihak keluarga.
“Keluarga pasien?” tanya dokter begitu Gio beserta Rani dan Arga mendekat.
“Bagaimana operasinya? Bagaimana keadaan putri saya, Dok?” tanya Rani penuh rasa ingin tahu.
Namun seketika wajah mereka muram, melihat semburat kesedihan yang ditunjukkan oleh sang dokter.
Dokter perempuan itu menatap ke arah mereka, tampaknya masih menyusun kata-kata untuk menyampaikan sesuatu.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin ...” ujar dokter itu, lalu menjeda perkataannya dan menghela napas sejenak.
Bersambung...
__ADS_1