
Nevan bergegas masuk ke ruang rawat Dewanti setelah tadi sebelumnya ia buru-buru pergi ke rumah sakit saat menerima kabar dari Meisya tentang Dewanti.
“Oma!”
Nevan langsung menghampiri Dewanti yang kini sudah dalam keadaan sepenuhnya sadar, bahkan ia sudah bisa duduk bersandar di ranjang rawatnya setelah keadaannya tadi sempat diperiksa dokter sebentar.
“Sayang,” sapa Dewanti memberi senyuman sedikit meruntuhkan raut kecemasan di wajah cucunya itu.
“Bagaimana keadaan Oma sekarang?”
“Oma sudah merasa jauh lebih baik,” jawab Dewanti.
“Beruntung Mama cepat datang saat oma tiba-tiba bangun,” sahut Meisya.
Nevan baru menyadari sesuatu, ia mengedarkan bola matanya ke berbagai sisi ruangan seperti mencari seseorang yang sejak tadi ia datang belum melihatnya.
“Dimana kak Elvira?” tanya Nevan.
“Elvira? Dia tidak ada disini, bahkan saat Mama datang tidak ada siapa-siapa disini, Nevan,” jawab Meisya sesuka hatinya.
“Tadi malam aku membawanya kemari.”
“Ya pasti dia sudah pergi lah. Biarkan saja dia, kamu lupa apa yang sudah dia lakukan terhadap kita? Dia sudah membohongi keluarga kita selama ini,” celetuk Meisya mengingatkan kembali kesalahan Elvira.
“Ya sudah, Mama mau ke kantor dulu. Kalau kamu juga harus ke kantor, setidaknya minta tolong sama Sakti untuk menjaga oma.”
Setelah berpamitan, Meisya lalu pergi bersama Anya yang saat ini terus berusaha mencari perhatian Dewanti.
“Nevan, dimana Elvira sekarang?” tanya Dewanti.
“Aku tidak tahu oma. Tadi malam aku benar-benar meninggalkannya disini, aku pikir dia akan menjaga oma.”
“Kalau kamu membawanya kemari tadi malam, berarti yang Oma lihat tadi kemungkinan memang Elvira. Tadi saat Oma baru bangun, samar-samar melihat Elvira ada di dekat Oma, meski rasanya seperti mimpi,” jelas Dewanti.
“Oh ya?”
“Kemungkinan dia pergi setelah kedatangan Meisya,” terka Dewanti.
“Iya Oma, mungkin saja.”
“Nevan, Oma tidak marah dengan Elvira. Seberapa pun kamu mungkin turut marah dan kecewa dengannya karena hal ini, tapi Oma tahu dia tidak seburuk itu, Nevan. Oma juga percaya jika dia tidak bermaksud menipu keluarga kita, dia bahkan tidak mau menandatangani surat kepemilikan saham atas namanya.”
Sedangkan saat ini Nevan masih terdiam mendengarkan Dewanti menyampaikan isi hatinya.
“Oma sangat ingin bertemu dengannya. Dimana dia sekarang, kenapa dia tidak kesini? Nevan, coba kamu hubungi dia,” pinta Dewanti.
“Iya, Oma.”
Nevan segera mengambil ponsel lalu menghubungi nomor telepon Elvira.
“Nomor teleponnya tidak aktif, Oma.”
“Ya ampun, apa Meisya melakukan sesuatu terhadapnya?” tanya Dewanti tiba-tiba.
Hal itu membuat Nevan merasa ragu untuk menjawabnya karena pada saat itu ia mendengar dengan jelas pembicaraan Mirah dan Elvira yang membuat Nevan telah mengetahui jika Meisya yang mengusir Elvira dari rumah.
“Tidak apa-apa, Sayang. Kalau kamu mengetahui sesuatu, ceritakan saja kepada Oma.”
Nevan mengangguk paham dan akhirnya ia menceritakan saja kepada Dewanti yang sudah terjadi di rumah.
__ADS_1
...✾✾✾...
Widya menghampiri Elvira yang sedang duduk di tepian tempat tidur sebuah kamar di rumahnya sambil membawakan segelas minuman hangat untuknya.
Melihat wajah putrinya itu tampak sendu sejak kedatangannya beberapa saat yang lalu ke rumah ini, Widya lalu membelai dahinya yang ternyata terasa hangat karena tadi Elvira sempat mengatakan jika ia merasa tidak enak badan.
“Kamu tidur saja dulu, tapi sebelum itu diminum dulu teh nya. Kamu masih suka teh aromatik kan?”
“Iya Bu. Ibu masih ingat saja ternyata.” Elvira segera mengambil gelas tersebut dan meminumnya.
“Kamu yakin tidak mau pergi ke dokter?” tanya Widya memastikan.
Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya lagi untuk mengasihi Elvira karena sudah begitu banyak waktu terbuang yang ia habiskan untuk membencinya selama ini.
“Tidak, Bu. Aku hanya perlu istirahat saja.”
“Ya sudah, Ibu tinggal dulu ya.”
Sebelum meninggalkan Elvira di kamar, Widya memandangnya sejenak. Detik berikutnya ia lalu membelai kepala Elvira dengan penuh kasih sayang.
...✾✾✾...
Hari Berlalu.
Meisya baru saja memasuki sebuah ruangan sesuai petunjuk dari Dewanti. Beberapa saat sebelumnya ketika ia masih di kantor, Dewanti meneleponnya dan menyuruhnya untuk pulang ke rumah.
Ternyata dalam ruangan besar tersebut sudah ada Nevan yang tampak mengobrol dengan Dewanti seperti sudah menunggu kedatangannya.
Dewanti yang bahkan baru saja kembali pulang ke rumah dan sepertinya masih dalam keadaan belum sehat sepenuhnya, tetap memaksakan diri untuk membahas sesuatu dengan Meisya.
“Duduk lah,” titah Dewanti saat menyadari kehadiran Meisya.
“Ada apa, Ma?” tanya Meisya.
“Kenapa kamu mengusir Elvira?” tanya Dewanti tanpa basa basi.
Sejak mendengar cerita tentang perlakuan Meisya terhadap Elvira saat masih di rumah sakit, membuat Dewanti sangat geram kepadanya dan berusaha tetap menahan diri hingga ia benar-benar bisa kembali pulang ke rumah.
“Memang kita seharusnya melakukan itu kan terhadapnya? Ma, apa Mama tidak kecewa? Selama ini dia menipu kita, Ma. Apa kata orang-orang nanti kalau tahu menantu keluarga Arkatama adalah seorang anak haram?”
“Jaga mulut kamu, Meisya!” sergah Dewanti.
“Oma, tenang ya,” pinta Nevan yang masih khawatir akan kondisi Dewanti, apalagi saat ini Dewanti terpancing emosi.
“Memang kenyataan seperti itu kan? Dari awal aku sudah tidak mengizinkan Daffin untuk menikah dengannya. Benar kan apa yang aku takut kan? Dia menutupi tentang dirinya supaya bisa menjadi menantu keluarga ini lalu mendapatkan semua milik Daffin. Ma, kita jelas-jelas telah ditipu! Aku tidak ingin lagi dia berada di rumah ini, ini adalah aib bagi keluarga kita!”
“Lalu perempuan yang kamu bawa ke rumah ini, apa bedanya? Dia juga mengandung anak hasil hubungan gelap dengan Daffin, apa itu bukan aib?” sanggah Dewanti membuat Meisya tiba-tiba tidak bisa berkutik.
“Mama tidak peduli bagaimanapun asal usul Elvira, bagi Mama dia tetaplah anggota keluarga ini dan Mama tidak perlu persetujuan kamu,” sambung Dewanti.
“Tapi, Ma!” Meisya belum menyerah menentangnya. Sedangkan Nevan saat ini hanya mendengarkan perdebatan mereka dalam diamnya.
“Kamu pikir Mama tidak tahu apa yang telah kamu lakukan kepada Elvira? Berikan surat pernyataan itu!” titah Dewanti.
Beberapa saat sebelumnya saat Dewanti baru saja sampai di rumah dari rumah sakit dan saat ia beristirahat di kamarnya, Mirah bersama dua orang asisten rumah tangga lainnya menghadap untuk mengadukan apa yang telah dilakukan oleh Meisya dan Anya kepada Elvira malam itu yang membuat mereka tidak tega melihat Elvira diperlakukan seperti itu.
“Tapi Ma, dia sudah menandatangani surat itu dengan sadar dan rela!”
“Berikan! Atau Mama akan cabut semua hak kamu di yayasan!” ancam Dewanti yang sudah tidak bisa lagi mentolerir kelakuannya.
__ADS_1
“Iya, baik lah.” Meisya merasa pasrah karena takut dengan ancaman Dewanti, akhirnya ia segera keluar ruangan sebentar.
“Nevan,” panggil Dewanti yang melihat cucunya yang terdiam saja.
“Iya, Oma.”
“Oma mohon, maaf kan Elvira. Oma tahu kamu tidak akan semarah itu dengannya. Tolong bantu Oma, kamu cari dia ya. Tolong bawa dia kembali,” pinta Dewanti penuh harap.
“Iya, Oma. Aku akan cari dan membawanya kembali ke rumah ini. Tapi setelah ini aku masih ada pertemuan penting di kantor, nanti aku akan minta tolong dengan Sakti.”
“Terima kasih, ya Sayang,” ucap Dewanti yang mulai merasa lega, sedangkan Nevan hanya mengangguk mengiyakan.
“Aku yakin dia sedang berada di suatu tempat, semoga dia baik-baik saja.” Nevan mengingat tentang Widya, ia berharap perkiraannya benar jika Elvira pasti pulang ke rumah ibunya. Walaupun ia tidak tahu tempatnya dimana.
Tidak lama kemudian, Meisya kembali datang dengan membawa sebuah map dan menyerahkannya kepada Dewanti dengan penuh rasa keberatan.
Dewanti segera membuka map dan membaca isi surat pernyataan yang tertera tanda tangan Elvira. Tanpa pikir panjang lagi, Dewanti langsung merobeknya membuat Meisya terbelalak tidak percaya melihatnya.
“Surat ini tidak akan berlaku karena Elvira menandatanganinya di bawah tekanan kamu,” ujar Dewanti.
“Ma!” Meisya masih mencoba protes.
“Mama sudah cukup bersabar ya selama ini menghadapi sikap kamu. Kamu makin kesini makin keterlaluan, bukan kah Mama sudah memperingatkan kamu sebelumnya? Mama akan kembali membawa Elvira ke rumah ini dan membuatnya mendapatkan semua haknya. Kalau kamu masih menentangnya, Mama tidak akan main-main dengan ancaman Mama.”
Dewanti kembali memperingatkannya yang membuat Meisya kalah telak dalam perdebatan.
...✾✾✿...
Di kantor yayasan Mentari Kasih.
Kedatangan Olla yang ingin menemui Elvira malah membuatnya terkejut hebat karena sudah ada Sakti disana yang sepertinya tampak sedang mengobrol sesuatu dengan Dara di lobby kantor.
“Bu Olla? Mau mencari ibu Elvira juga ya?” sapa Dara.
“Iya,” jawab Olla singkat.
Bertemu lagi dengan pria yang saat ini sangat ingin ia hindari membuatnya kikuk sendiri seakan tak bisa berkutik. Saat ini jika seandainya ia bisa, ia ingin langsung kabur rasanya menyembunyikan wajahnya yang masih menyimpan rasa malu terhadap Sakti.
“Ya ampun, Pak Sakti juga mencari ibu Elvira. Tapi dari kemarin ibu Elvira belum ada ke kantor.”
“Apa dia tidak memberi kabar?” tanya Sakti kepada Dara.
“Tidak ada, Pak. Saya pikir Bapak lebih tahu dimana ibu Elvira.”
“Kalau saya tahu, mana mungkin saya kesini.”
“Tunggu, memangnya Elvira kemana? Dia tidak memberi kabar? Apa dia tidak ada di rumahnya?” Olla menimpali pertanyaan kepada Dara.
“Sejak kemarin dia pergi dari rumah dan nomor teleponnya tidak bisa di hubungi.” Sakti membantu menjawab.
“Apa? Maksudnya, Elvira menghilang? Apa yang terjadi dengannya?” tanya Olla dengan bola mata yang terbuka lebar mulai merasa panik.
“Kamu bilang kamu teman dekatnya, apa kamu juga tidak tahu apa-apa tentangnya? Apa dia tidak menghubungi kamu? Atau kamu tahu sesuatu tentang keluarganya?” Sakti kini membalikkan lemparan pertanyaan terhadapnya.
Olla tiba-tiba merasa lututnya mulai lemas, apalagi ia baru menyadari betapa selama ini mereka berteman tetapi Olla malah tidak pernah tahu apapun tentang Elvira.
Bersambung ...
__ADS_1