
Sang dokter menunjukkan raut wajah turut bersimpati. “Kami mohon maaf karena tidak bisa menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungan ibu Anya,” ucapnya dengan sesal.
Memicu reaksi kaget dari semua yang mendengarkannya, tak terkecuali Elvira. Ia lalu saling memandang dengan Nevan, Elvira memegang lengannya erat. Sedangkan Nevan mengusap tangannya, ia memahami perasaan Elvira yang ikut bersedih.
“Lalu bagaimana dengan keadaan putri saya?” tanya Rani dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Ibu Anya masih belum sadarkan diri.” Dokter itu menghela napas. “Sebenarnya, ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan,” ungkap dokter.
Nampaknya Rani dan keluarganya sudah bersiap mendengar penjelasannya, tentang segala kemungkinan yang terjadi.
“Dikarenakan adanya komplikasi pendarahan hebat saat operasi, kami terpaksa harus mengambil tindakan pengangkatan rahim. Karena bila tidak ditangani dengan segera, kondisi ini bisa mengancam jiwa pasien.”
“Apa?!” Rani semakin lesu mendengar semua penjelasan dokter, ia menangis memendam duka dalam dekapan sang suami.
Sedangkan Gio hanya bisa terdiam, meski ia tampaknya bisa tenang, tapi pikiran dan hatinya juga sedang tidak baik-baik saja.
“Pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan untuk masa pemulihan, dan kami akan memantau kondisinya secara berkala.” Usai menuturkan semuanya, dokter segera permisi meninggalkan tempat.
Elvira segera menghampiri Rani, ia memegang tangan wanita itu memberinya dukungan moril. Sedangkan Rani hanya bisa larut dalam isak tangis, seakan tidak bisa berkata-kata lagi. Apa yang ia ketahui hari ini, sangat membuatnya terpuruk.
“Mengingat apa yang telah dilakukan putri Ibu, kami rasanya sudah tidak punya muka lagi di hadapan Nak Elvira. Memang terkesan tidak tahu diri, tapi bisa kah Ibu minta Nak Elvira memaafkan kami?” pinta Rani di sela tangisnya.
“Iya, Bu.”
“Mulai sekarang, Ibu janji, Ibu akan menjaga putri Ibu dengan baik. Ibu tidak akan membiarkan dia mengganggu kamu dan keluarga kamu lagi. Kami tidak akan lagi memunculkan diri di depan keluarga kalian. Kalau perlu kami akan pergi jauh,” ujar Rani lirih.
“Ibu tidak perlu melakukan itu,” sahut Elvira.
“Ibu janji, Nak. Memberi jarak di antara kita, itu yang terbaik. Nak Elvira tidak perlu khawatir lagi.” Rani memegang tangan Elvira dan menatapnya nanar. “Maafkan Ibu ya. Ibu tidak akan pernah melupakan semua kebaikan kamu, juga tidak akan pernah melupakan semua perbuatan Anya terhadap kamu.”
Elvira hanya bisa terdiam, ucapan yang bermakna seolah perpisahan untuknya itu, rasanya menimbulkan rasa kesedihan tersendiri di hatinya.
Saat Rani melepas tangannya, Elvira merasa belum rela, namun ia tidak bisa melakukan apapun selain hanya menerima keputusan Rani.
Pintu ruang operasi segera terbuka. Rombongan para perawat yang membawa ranjang rawat dengan Anya yang masih terpejam, segera keluar, mengalihkan perhatian mereka.
Tanpa memedulikannya lagi, Rani beserta keluarganya segera ikut mengiring menuju ruang rawat untuk Anya.
...✤✤✤...
__ADS_1
Di perjalanan, Elvira melempar pandangan ke luar jendela mobil. Pikirannya masih mengambang, entah mengapa sejak meninggalkan rumah sakit beberapa saat yang lalu, ia merasa ada yang mengganjal di hatinya.
Elvira pun tidak mengerti, mendapati kenyataan setelah ini akan semakin berjarak dengan Rani, membuatnya merasakan sedih yang teramat dalam.
“Kamu tidak apa-apa?” Suara dari Nevan yang duduk di sampingnya, segera menyadarkannya.
Ia segera menoleh dan berkata, “Aku tidak apa-apa.”
“Aku tidak menyangka dia sampai berani melakukan hal itu kepada kamu. Entah apa yang akan terjadi jika seandainya Anya berhasil mencelakai kamu.”
“Nevan, aku benar-benar tidak kenapa-napa. Untungnya aku bisa melindungi diri.”
“Syukurlah. Emm, apa kamu masih tidak ingin memberitahu oma sama mama?” tanya Nevan.
“Kita akan cari waktu nanti, untuk memberitahu mereka.”
Nevan mengangguk, mengikuti saja keinginannya.
“Oh ya, sepertinya aku mau di antar ke rumah Ibu aja. Hari ini rasanya ingin menginap disana, tidak apa-apa kan Sakti mengantar kesana?” tanya Elvira kepada Sakti yang sedang di depan menyetir.
“Tentu saja, Bu. Kemana pun Ibu Elvira mau,” sahut Sakti.
“Aku sudah suruh orang untuk membawakan mobil kamu, nanti biar dia antar kan saja ke alamat Ibu kamu,” kata Nevan.
“Ya ampun, kalian memang bisa selalu diandalkan, terima kasih ya,” ucap Elvira pada Nevan, kali ini dibarengi senyuman di wajahnya.
Nevan membalas tatapannya, seutas senyuman turut tersungging di wajahnya. Ia merasa sangat lega melihat keadaan Elvira dalam keadaan baik-baik saja.
Tak terbayang baginya jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Elvira, Nevan mungkin tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Entah karena naluri melindungi seorang anggota keluarganya, atau kah sebenarnya panggilan dari hati terdalamnya, ia sangat ingin melindungi perempuan yang saat ini ada di dekatnya.
Tanpa mereka sadari, Sakti ternyata mengintip dari spion dalam mobil, dua orang sedang bertemu mata penuh makna. Ia menyadari tatapan bosnya itu rupanya terlihat sangat berbeda, sedangkan ia sendiri jadinya merasa asing.
“Ehhhmmm.” Suara deheman dari Sakti segera melenyapkan suasana menenangkan itu.
...✤✤✤...
Asty tercengang mendengar semua penuturan dari Elvira, yang menceritakan keseluruhan cerita tentang hari ini.
__ADS_1
Mereka sengaja bicara berdua saat di dalam kamar, karena lagi-lagi Elvira tidak melibatkan ibunya dalam hal ini. Tak terbayang bagaimana reaksi Widya jika mengetahui semuanya.
“Benar-benar ya, perempuan itu! Kakak tidak habis pikir dengan kelakuannya, sampai berani mau mencelakai kamu,” gerutu Asty. “Kenapa juga kamu masih memaafkannya? Bagaimana kalau saat itu Anya tidak celaka, apa coba yang akan ia lakukan pada kamu? Kakak tidak bisa bayangkan.”
“Aku juga berada dalam situasi yang serba salah, Kak. Aku memang marah karena perbuatannya selama ini, tapi satu sisi aku juga tidak mungkin membalasnya, kan?”
“Untung saja kamu tidak kenapa-napa.”
“Tapi apa yang sekarang menimpa Anya, sebagai sesama perempuan aku juga prihatin. Dia bahkan harus kehilangan bayinya sekaligus rahimnya.”
“Itulah balasan baginya, karma, karena perbuatannya terhadap kamu, ” celetuk Asty.
“Kak, jangan bicara begitu. Aku juga tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya. Aku berpikir, jika bukan karena kesalahanku pada mas Daffin, mungkin saja Anya juga bisa menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi keluarganya.”
“Apa yang kamu pikirkan, Elvira? Masih saja menyalahkan diri kamu sendiri? Anya mengalami semua ini juga karena kesalahannya, yang dulu menjalin hubungan dengan suami kamu. Mereka berdua jelas dengan sadar berselingkuh di belakang kamu. Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri.”
Elvira hanya mengangguk, tampaknya masih memikirkan perkataan kakaknya. “Aku sudah mengikhlaskan semuanya, Kak.”
Asty membelai kepalanya. “Kakak salut sama kamu, kakak tidak menyangka kalau kamu memiliki hati yang sangat lapang. Kakak selalu mendoakan dan mengharapkan semua kebahagiaan untuk kamu.”
“Iya, Kak.”
“Elvira, kamu pantas mendapatkan kebahagiaan kamu. Kakak tidak mau kamu terus hidup terbelenggu dengan perasaan bersalah lagi. Mulai sekarang, pikirkan lah tentang diri kamu sendiri. Lupakan semua hal yang pernah menyakiti kamu.”
Elvira mengangguk setuju.
“Kakak tidak akan membiarkan lagi, siapapun menyakiti kamu.” Kedua kakak adik itu lalu berpelukan dengan penuh kasih sayang, Elvira merasa seperti menemukan lembaran baru dalam hidupnya setelah ini.
...✤✤✤...
Keesokan harinya.
Di depan ruang rawat adiknya, Gio tampak merenung. Ia menunduk, memandang lantai yang ia pijak.
Tak berselang lama, kehadiran seseorang di dekatnya, membuatnya mengangkat kepala. Matanya membulat melihat siapa yang datang.
Bersambung ...
__ADS_1