
Kedua orang pria saling berbisik melempar komunikasi jika Elvira yang mereka perhatikan saat ini bisa menjadi sasaran empuk untuk aksi mereka yang silau akan sesuatu yang nampak berharga.
Keduanya memandang penuh seringai ke arah tas Elvira yang tampak menggiurkan saat mereka membayangkan isinya, ditambah lagi penampilan Elvira yang sangat meyakinkan, terutama kalung berlian yang dipakainya.
“Jadi bagaimana? Kamu bisa membantuku untuk bertemu dengannya?” tanya Gio.
“Bisa saja,” jawab Elvira singkat.
“Tadinya aku pernah menemui ibu Meisya yang merupakan atasan dari adikku, tapi sepertinya aura wibawanya sangat berbeda dan aku lebih sedikit takut dengan tatapannya. Apa kamu putrinya?”
“Dia, mama mertuaku,” ungkap Elvira.
“Oh ya?” Gio merasa terkejut karena ia merasa tidak mengetahui apa pun tentang keluarga itu.
Mengetahui ternyata Elvira adalah seorang yang sudah bersuami seperti mematahkan hatinya. Entah karena dengan ini ia merasa harus pandai menjaga jarak, atau kah sebenarnya ia mulai menaksir dengan kecantikan serta sikap Elvira yang mengingatkannya dengan mendiang kekasihnya.
“Aku permisi sebentar, mau menambah minuman baru.” Gio langsung pergi menghampiri sang pemilik tempat tersebut.
Sementara kedua pria mencurigakan itu masih terus memantau, kini mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tersebut memeriksa pengunjung lain yang hanya di isi oleh dua pasangan muda mudi yang asyik sendiri.
Situasi tempat hening seperti ini merupakan keuntungan tersendiri bagi mereka memuaskan keinginan merampas harta milik Elvira, apalagi saat ini Elvira terlihat sendirian.
Setelah sejenak mengatur strategi, tanpa pikir panjang lagi dua orang pria tidak dikenal itu segera menghampiri Elvira, sontak membuat Elvira terkejut saat salah satu di antara mereka menodongkan senjata tajam ke arahnya.
Sedangkan satu orang lainnya sudah mengeluarkan pistol dan mengancam para pengunjung lain untuk tetap diam di tempat, agar mereka dengan leluasa melancarkan aksi.
Dua pasang muda mudi itu langsung meringkuk ketakutan sembari mengangkat tangan karena melihat senjata api yang diacungkan. Aksi kedua orang tersebut langsung memecah ketentraman mereka.
“Cepat serahkan tas itu!” pinta orang itu menatap tajam dengan nada bentakan membuat Elvira panik bercampur takut. Ia pun lantas menyerah saja memberikan tasnya meski dengan perasaan berat.
Saat itu Gio yang baru mengetahui kejadian itu langsung hendak menghampiri Elvira, akan tetapi ia langsung dihadang oleh si pria yang kini mengarahkan pistol tepat di depannya; memaksa Gio harus mengangkat kedua tangannya.
Sedangkan satunya kini meraih leher Elvira serta mengunci dengan lengannya sembari terus mengacungkan benda tajam itu di dekat wajahnya, sontak mata Elvira terbelalak sempurna semakin dipenuhi rasa ketakutan melihat ujung benda tajam itu begitu dekat dengannya.
“Aku sudah menyerahkan tasku!” berontak Elvira ditengah ketakutannya, namun kekuatan lengan pria itu jauh lebih kuat.
“Serahkan juga semua perhiasan kamu!” pintanya lagi.
Pria itu tidak sabar, lalu menggunakan satu tangannya yang masih memegang pisau merampas kalung Elvira hingga rantai kalungnya terputus.
Tanpa Elvira duga pria itu turut merampas antingnya dengan kasar hingga membuatnya menjerit kesakitan. “Sakit tahu!” Elvira kesal bercampur marah, namun ia tidak berdaya.
“Makanya! Cepat serahkan semuanya sebelum saya ambil paksa!”
“Oke!” Elvira melepaskan anting satunya lagi dan menyerahkannya.
“Cincin juga!”
“Kalian benar-benar serakah ya! Aku tidak akan memberikannya, ini adalah cincin kawin pemberian dari suamiku!” bantah Elvira.
__ADS_1
“Berikan!” bentaknya lagi membuat nyali Elvira langsung lenyap seketika, ia meraba cincinnya mencoba melepaskan perlahan dengan penuh rasa tidak rela.
Sementara Gio yang masih merasa terancam senjata tersebut kini sudah menyadari jika pistol yang digunakan orang ini, ternyata hanyalah sebuah replika yang sekilas terlihat hampir mirip dengan aslinya namun tidak ada peluru aslinya.
Gio tersenyum sinis menerka mereka pasti melakukan ini hanya untuk menakuti serta mengancam para korbannya. Sudut matanya sesekali melirik ke arah Elvira yang sudah sangat ketakutan tidak bisa berkutik dalam kuncian orang itu.
Ia tidak tahan lagi dan langsung melancarkan serangan mendadak dimulai dengan menangkap tangan pria itu lalu memelintirnya dalam sekejap lalu menjatuhkannya.
Sedangkan teman pria itu kini merasa marah karena merasa ada yang menantang mereka, ia melepaskan Elvira begitu saja lalu bergegas menghampiri Gio dan menyerangnya menggunakan pisau yang masih melekat di tangan.
Gio yang sepertinya sudah siap menerima serangan dengan sigap menepis setiap pergerakan lawan yang mengancamnya. Ia meraih tangan pria itu lalu menolak ke sembarang arah sembari melayangkan tendangan ke salah satu titik lemah pada tubuh lawan.
Pertarungan antara dua orang yang melibatkan senjata tajam tersebut membuat yang lainnya bergidik takut, ditambah lagi saat ini pria yang tadi sempat dijatuhkan kini sudah bergabung dengan rekannya.
Gio terpaksa harus meladeni perlawanan mereka dengan tangan kosongnya hingga terjadi kembali perkelahian adu ketangkasan yang menciptakan situasi menegangkan, gerakan tangan dan kakinya tidak bisa berhenti karena sibuk melawan serangan pukulan kedua orang tersebut secara bergantian.
Elvira yang masih bergelut dengan ketakutannya mencoba mengambil ponsel hendak menelpon polisi meminta bantuan, akan tetapi pergerakannya tiba-tiba tertahan karena sang pemilik tempat tersebut kini menarik membawanya menepi ke sebuah sudut.
“Neng, tidak apa-apa kan?” tanya ibu itu yang sudah membawanya ke area tergolong aman untuk bersembunyi.
Braakkkk.
Sebuah suara berasal dari sesuatu yang terbanting keras mengejutkan mereka karena saat ini Gio sudah berhasil melumpuhkan salah satunya.
Namun ia masih harus meladeni satu orang lagi yang masih belum menyerah menyerangnya dengan pisau, Gio menangkis beberapa kali hingga akhirnya meraih tangannya dan memelintir dengan kuat sehingga benda tajam tersebut sudah terlepas dari pegangan.
Tidak perlu waktu lama, Gio sudah berhasil melumpuhkannya dan segera membekuk kedua pria tersebut yang kini tampak terkulai tidak berdaya oleh pukulan dan tendangan yang diberikannya.
Ia lalu mengambil ponsel untuk menghubungi sebuah nomor telepon dan memberi informasi tentang kejadian ini.
Setelahnya, orang-orang sudah menghampiri untuk melihat keadaan dua pria tersebut yang membuat mereka akhirnya bisa bernapas lega.
“Maaf ya Bu, tempat makan Ibu harus berantakan seperti ini,” sesal Gio saat menghadap wanita paruh baya tersebut.
“Tidak apa-apa, Nak Gio. Tapi tadi Nak Gio sangat keren melawan para penjahat ini,” puji wanita paruh baya tersebut yang sepertinya sudah akrab dengan Gio.
Ia lalu memperhatikan Elvira yang sepertinya syok karena masih menyimpan rasa takut atas kejadian yang menimpanya tadi. “Kamu setelah ini ikut ke kantor polisi ya untuk memberikan keterangan.”
...----------------...
Beberapa saat kemudian, Elvira sudah berada di kantor polisi wilayah hukum terdekat dengan tempat tadi.
Sesuai permintaan Gio ia akan memberikan keterangan mengenai kejadian tadi, walau raut wajahnya masih saja menyimpan sedikit trauma apalagi dalam kejadian ini dirinya yang menjadi korban.
Elvira menenggak botol berisi air putih yang sudah diberikan oleh pihak kepolisian disini untuk sedikit bisa menenangkannya.
“Bu Elvira, terima kasih atas keterangannya. Ini perhiasan milik Bu Elvira.” Seorang pria berseragam polisi menyerahkan sebuah plastik kecil yang berisi semua perhiasan miliknya yang menjadi barang bukti.
“Iya, terima kasih, Pak.” Elvira mengambil kembali miliknya.
__ADS_1
Tidak lama setelahnya, ia melihat Gio menghampirinya. “Kamu baik-baik saja?”
“Iya, aku baik-baik saja,” jawab Elvira.
“Syukurlah.”
“Bu Elvira?” Terdengar suara seorang pria lain menyapanya.
Elvira lalu menoleh sembari mendengar sapaan hormat dari beberapa orang yang menyapa ketika pria paruh baya itu baru memasuki ruangan tersebut.
Elvira merasa tidak mengenalinya, ia memperhatikan sejenak pria yang memakai seragam dinas harian kepolisian itu yang menunjukkan pangkat tingginya di instansi ini. Terlihat dari beberapa brevet tanda kehormatan yang berjajar menghiasi seragamnya, Elvira terfokus pada nametag-nya yang bertuliskan Hasto Prawira, ia merasa asing dengan nama itu.
“Bu Elvira Arkatama, kan? Apa saya tidak salah lihat?” ujar Hasto berusaha mengenalinya.
“Iya, Bapak mengenali saya?” tanya Elvira.
“Bu Elvira mungkin tidak mengenal saya secara langsung, tapi saya cukup mengenal dengan ibu Dewanti Arkatama. Saya pernah melihat Bu Elvira beberapa kali dalam beberapa kesempatan,” ungkap Hasto.
“Oh begitu? Senang bertemu Bapak di sini.”
“Apa terjadi sesuatu? Mengapa Bu Elvira sampai berada di sini?” tanya Hasto mengarah kepada Gio.
Pria itu lalu menjelaskan hal yang tadi telah menimpa Elvira dan membuat Hasto sangat terkejut.
“Ya ampun, kamu mengenal Bu Elvira?” tanya Hasto, karena sesuai penggambaran cerita tadi, Gio juga berada disana dan menangkap kedua orang itu.
“Saya kebetulan sedang berada di sana, Ndan,” jawab Gio berdalih.
“Kalau kamu tahu siapa dia, dia bukan orang sembarangan. Dia adalah menantu keluarga Arkatama yang sangat disegani.” Hasto menjelaskan kepada Gio, lalu ia memastikan lagi keadaan Elvira. “Tapi, Bu Elvira sekarang tidak apa-apa, kan?”
“Iya, saya tidak apa-apa.”
“Bu Elvira tenang saja, kedua orang itu sudah berada dalam tahanan kami.”
“Iya, Pak. Maaf, saya sepertinya harus pergi sekarang,” pamit Elvira karena ia merasa urusannya di sini sudah selesai.
“Baik lah, kalau begitu. Gio, kamu sekarang saya tugaskan untuk mengawal bu Elvira pulang dengan selamat dan aman,” titah Hasto.
“Siap, Ndan.”
“Tidak perlu, Pak. Saya bisa mengemudi sendiri,” tolak Elvira dengan halus.
“Oh jangan, Bu. Biarkan ini sebagai bentuk tanggung jawab kami untuk memastikan Bu Elvira bisa pulang dengan aman.”
“Baik lah.”
“Oh ya, tolong sampaikan salam saya untuk ibu Dewanti,” kata Hasto sebelum melepas kepergian Elvira.
“Iya, Pak. Nanti saya sampaikan.” Elvira segera permisi dan langsung diikuti oleh Gio yang mengiring di belakang.
__ADS_1
Bersambung...