Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 14-- Menyimpan Rahasia


__ADS_3

Suara riuh tepuk tangan diiringi kilatan cahaya dari banyak kamera menggema di sebuah aula pertemuan sebuah gedung setelah Elvira baru saja mengakhiri pidatonya.


Hari ini merupakan hari pelantikannya sebagai ketua yayasan Mentari Kasih yang baru, sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan yang didirikan secara mandiri oleh Dewanti.


Dewanti yang berada di sampingnya tersenyum bangga melihatnya, ia langsung menjabat tangan Elvira dan mereka berfoto bersama dengan beberapa orang lainnya menandai telah berakhirnya konferensi pers.


Kehidupan Elvira yang mulanya hanya dari kalangan biasa seolah sekejap berubah setelah menyandang gelar nyonya Daffin Arkatama hingga mampu membuat banyak perempuan ingin berada di posisinya.


Sejauh ini, ia menjalankan perannya dengan baik sebagai menantu di keluarga terpandang dengan rantai bisnis terbesar yang tersebar ke seluruh penjuru negeri itu.


Orang-orang banyak mengenalnya melalui akun sosial medianya dan banyak yang mengaguminya karena ia sering membagikan momen saat melakukan kegiatan sosial di masyarakat.


...----------------...


Selepas acara, Elvira dan Dewanti segera pulang ke rumah. Kini di ruang tamu sudah ada Meisya yang menghentakkan gelas minumannya dengan kasar di atas meja, detik berikutnya ia langsung berdiri untuk menyambut kedatangan mereka.


“Mama?” sapa Elvira kepada Meisya.


“Aku sudah melihat beritanya, bisa-bisanya Mama melakukan ini tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu,” sergah Meisya kepada Dewanti terdengar kesal tanpa memedulikan sapaan menantunya.


“Kenapa Mama harus meminta pendapat kamu dahulu?”


“Ma, yayasan sosial milik Mama itu bukanlah yayasan yang kecil dan baru kemarin sore. Bagaimana Mama bisa mempercayakan dia untuk mengelolanya?”


Meisya nampak tidak terima karena Dewanti terkesan buru-buru menyerahkan kepercayaan itu kepada Elvira, terlihat dari caranya memandang kepada menantunya itu dengan tatapan tidak suka seperti yang biasa ia lakukan setiap kali bertemu Elvira.


“Memangnya kenapa? Mama percaya Elvira bisa mengelolanya dengan baik. Selama ini dia sudah membantu Mama sebagai pengurus dan hasil kerjanya memuaskan. Terus apa kamu mau juga mengambil alih? Mama sudah mempercayakan kamu untuk mengelola Arkatama Foundation yang jauh lebih besar, kamu tidak akan mampu mengambil alih keduanya. Kamu harusnya senang karena Elvira mau membantu,” tutur Dewanti panjang lebar.


Menyandang status sebagai menantu keluarga Arkatama di generasi lebih dulu memposisikan Meisya berada di jajaran petinggi di Universitas Arkatama, sebuah perguruan tinggi swasta dikelola oleh yayasan yang berada dalam naungan Arkatama grup.


“Apa? Aku harus senang? Apa jadinya jika sebuah yayasan besar diambil alih oleh orang biasa seperti dia?”


“Meisya! Jaga bicara kamu!”


“Oma,” tahan Elvira menyudahi.


“Kamu selalu saja mengulangi dan terus mengulangi sikap kamu terhadap Elvira seperti ini, bagaimanapun dia juga menantu kamu dan menjadi bagian dari keluarga ini.” Dewanti menegaskan.


Meisya lalu memberi tatapan dingin ke arah Elvira.


“Asal kamu tahu, sampai kapanpun kamu hanyalah orang asing bagiku di keluarga ini. Kamu harus sadar diri apa seorang seperti kamu pantas berada di sini. Kamu harus ingat siapa yang membawa kamu hingga sampai pada titik ini. Kalau bukan karena putraku yang membawa kamu ke keluarga ini, kamu hanyalah orang biasa yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kami.”


“Meisya! Cukup!” Dewanti melerainya.


“Apa pantas orang yang berpendidikan dan terpandang seperti kamu melakukan ini kepada menantu kamu sendiri? Apa aku harus menegaskan kembali jika Elvira sekarang sudah jadi bagian keluarga kita? Dan itu artinya dia juga sejajar dengan kamu.”


“Ma, bagaimana bisa Mama mensejajarkan aku dengannya? Dari mana dia berasal, itulah statusnya yang sebenarnya. Orang sepertinya bagaimana bisa mendapatkan hati Daffin, aku bahkan meragukan apakah dia benar-benar mencintai Daffin atau hanya pura-pura agar bisa masuk ke keluarga kita.”


Meisya lalu memandang lagi ke arah Elvira yang terdiam saja mendengar perkataannya.


“Kamu bukanlah siapa-siapa, kamu harusnya sadar dan tahu di mana tempat kamu semestinya.” Meisya berucap lagi tanpa memedulikan perasaan Elvira sedikit pun.


Sedangkan Elvira masih membeku hanya mendengarkan saja karena ia merasa harus tetap menghormati Meisya.


Puas memaki menantu yang memang selama ini tidak pernah disukainya itu, Meisya segera mengambil tas mahalnya yang terletak di atas meja lalu segera berlalu pergi dengan perasaan penuh kobaran amarah.


“Sayang, kamu jangan dengarkan perkataan mama Meisya tadi ya. Ya ampun, Oma juga tidak mengerti kenapa dia masih saja bersikap seperti itu.”


“Aku tidak apa-apa, Oma.”

__ADS_1


“Ini yang membuat Oma suka kagum sama kamu, kesabaran kamu menghadapi mama mertua kamu. Dia hanya belum bisa mengenal kamu lebih jauh, tolong jangan dimasukkan ke dalam hati ya perkataannya tadi.”


Elvira mengangguk sembari memberi seutas senyuman kepada Dewanti.


“Ya sudah. Oma tinggal ke kamar dulu ya, kamu juga istirahat.”


“Iya, Oma.”


Sejak memutuskan untuk masuk ke dalam keluarga ini, Elvira seakan sudah terbiasa mendengar perkataan kasar dan makian dari mertuanya.


Saat mendengarkan Meisya bicara, dalam diamnya pun ia tetap merasakan sesak di dadanya karena tutur kata yang terlontar sangat menyakitkan ketika Meisya selalu menyinggung masalah tentang status sosialnya yang dulu jauh berbeda dengan keluarga ini.


Seperti kata pepatah tak ada gading yang tak retak, potret kehidupannya yang dilihat orang sempurna dan menyenangkan selama ini sebenarnya juga ada duri di dalamnya yaitu kebencian dari mama mertuanya.


...----------------...


Di gedung kantor Arkatama grup.


Anya menemui Daffin di ruangannya bahkan tanpa perlu meminta izin lagi. Daffin yang menyadari hal itu langsung berdiri dari kursi kebesarannya dan segera menghadapi kedatangan Anya.


“Sudah ku katakan jangan menemuiku jika tidak ada hal yang penting mengenai pekerjaan.” Daffin langsung bereaksi marah karena tindakan Anya.


“Kali ini aku akan mengatakan sesuatu yang jauh lebih penting!”


“Kamu membuatku muak! Bukan kah sudah ku peringatkan jangan sesekali menemui keluargaku terutama istriku, kenapa kamu malah menemuinya dan memberitahunya?”


“Dia yang menaruh curiga padaku dan aku hanya memberi jawaban dari kecurigaannya.”


“Kamu keterlaluan Anya! Karena kamu, aku hampir saja kehilangan cintanya! Bisakah kamu berhenti menggangguku! Cukup lakukan pekerjaan kamu dalam batasan kamu.”


“Apakah aku sudah sebegitunya tidak berarti lagi bagi kamu? Setelah semua yang kamu dapatkan dariku kini kamu membuang ku sesukamu! Hah?”


“Kesalahan bagi kamu, tapi tidak bagiku! Sekarang aku hamil anak kamu, Daffin!” ungkap Anya dengan nada kekecewaan terhadapnya.


“Apa?!” Daffin membelalakkan matanya karena sangat terkejut mendengarnya.


“Iya, aku hamil, dan itu anak kamu!”


Anya mengatakannya dengan penuh kepiluan karena ia juga masih tidak bisa menerima keadaannya saat ini walaupun ia menyadari jika hal ini terjadi karena kesalahannya bersama Daffin.


Sedangkan Daffin yang merasa lututnya mulai lemah kini duduk di sebuah sofa yang ada di ruangannya, ia jelas sekali terlihat sangat tertekan sembari mengusap wajahnya dengan kasar menyesalkan sesuatu yang telah terjadi.


“Tidak mungkin,” lirihnya dengan penuh rasa penyesalan yang langsung menyeruak di dadanya.


“Daffin.” Anya langsung bersimpuh di hadapannya sambil memegang lututnya.


“Tolong terima anak ini dan jangan tinggalkan aku. Aku mohon,” pinta Anya memohon kepadanya kali ini dengan nada suara yang jauh lebih tenang.


“Kamu mau aku menerima anak itu?” tanya Daffin mengulangi.


“Iya, aku bersumpah jika dia memang anak kamu. Aku hanya berhubungan dengan kamu.” Anya mencoba meyakinkan.


Sedangkan Daffin tampak terdiam sejenak berpikir keras.


“Aku mungkin masih bisa menerima anak itu, tapi bukan berarti aku akan kembali kepada kamu. Asal kamu tahu, seluruh hati dan cintaku hanya untuk Elvira. Ku peringatkan sekali lagi, jangan pernah mendekati keluargaku dan rahasiakan ini dari istriku. Kalau kamu berani menemui istriku lagi, jangan salahkan aku jika aku akan bertindak diluar dugaan!” ancam Daffin.


Bagaimanapun juga ia sangat takut jika Elvira sampai mengetahui kebenaran ini, di sisi lain ia juga mengakui jika ia berbuat kesalahan pada Anya. Ia hanya bisa menyesalkan hal yang ia perbuat hanya karena nafsu sesaat itu.


“Aku tidak akan pernah memberitahu hal ini dengan siapa pun, asal kamu mau menerima anak ini. Asal aku masih bisa melihat kamu, aku tidak peduli jika hati kamu sudah berpaling dariku. Aku akan mencintai kamu sampai kamu mau melihatku lagi.”

__ADS_1


“Sejak awal memang perhatianku tidak pernah untuk kamu, jangan berharap lebih,” tegas Daffin yang menatapnya penuh kemarahan serta rasa penyesalan yang tak terhingga atas apa yang sudah diperbuatnya.


“Setidaknya aku pernah menyenangkan hati kamu walau hanya sesaat, dan aku tidak akan pernah melupakan sedikit perhatian yang telah kamu berikan kepadaku.”


...----------------...


Daffin yang baru pulang ke rumah sudah disambut oleh Elvira dengan senyuman manisnya.


Daffin merasa sangat bersalah kepadanya, apalagi saat ini ia melihat dengan jelas bagaimana perubahan sikap istrinya yang jauh lebih perhatian kepadanya.


Harusnya memang ia merasa sangat senang karena hal inilah yang selalu ia dambakan dari Elvira selama ini.


Namun kenyataan yang baru ia hadapi terasa sangat sulit untuk diterima dan hal itu mampu menguras pikirannya sehingga tampak terjadi perubahan sikap yang tidak seperti biasanya di mata Elvira.


Terlihat jelas sekali jika saat ini suaminya itu seperti memikirkan sesuatu, namun Elvira mencoba memahaminya barangkali Daffin sedang memikirkan masalah pekerjaan.


“Mas, kamu sudah makan?” tanya Elvira.


“Sudah, tadi aku makan bersama Sakti. Aku dengar tadi acara pelantikan kamu berjalan sukses.”


“Iya Mas. Kamu kelihatan lagi capek ya? Apa lagi banyak pekerjaan di kantor?”


“Ya begitu lah, kalau begitu aku mau mandi dulu ya.”


Daffin mencium keningnya lalu segera bersiap menuju kamar mandi.


...----------------...


Setelah sudah mandi dan berpakaian, Daffin lalu menghampiri Elvira yang sedang duduk di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


Melihat kini ada suaminya yang ikut duduk di sampingnya, Elvira pun langsung meletakkan kembali ponselnya ke nakas.


“Sayang, terima kasih ya sudah menerimaku lagi dan selalu berada di sisiku,” ucap Daffin tiba-tiba, kini ia memegang tangan Elvira dengan erat.


“Iya, Mas.”


“Mulai sekarang, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi karena aku milik kamu sepenuhnya. Aku akan berusaha menjadi suami yang terbaik bagi kamu. Maaf karena aku telah mengecewakan kamu.”


“Mas, sudah, tidak perlu membahasnya lagi. Kita kan sudah berjanji untuk memulai semuanya lagi, aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu.”


“Terima kasih ya Sayang.”


Daffin lalu mencium punggung tangan Elvira dengan penuh kasih sayang dan ia terus menggenggam tangan itu dengan erat seakan tidak ingin lagi melepaskannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sejak saat itu, Daffin yang masih berusaha menutupi satu rahasia lagi di belakang Elvira mulai bersikap seperti biasanya dan ia terang-terangan menunjukkan cintanya kepada istrinya bahkan saat di depan anggota keluarga mereka.


Sekilas, kehidupan mereka tampak bahagia tanpa cela sedikit pun. Apalagi Daffin semakin sering memberikan waktu dan perhatiannya kepada Elvira dan tidak tanggung-tanggung selalu memberi berbagai kejutan dengan hadiah-hadiah mewah dan mahal yang diberikannya.


Meski perasaan bersalah sering kali masih mengganjal di hati Daffin, tapi baginya menjalani hari-hari dengan memilki kehidupan pernikahan yang sempurna bersama istrinya seperti inilah yang selalu diinginkannya.


Dimana Elvira sepertinya sudah memberikan hatinya sepenuhnya untuk Daffin dan mereka bahkan sering menghabiskan waktu yang berkualitas untuk berdua.


Begitupun dengan Elvira yang meski ia menyadari masih ada perempuan seperti Anya yang menginginkan suaminya, tapi ia tidak akan membiarkannya atau siapapun memiliki celah untuk mengganggu rumah tangganya lagi.


Bersambung ...


 

__ADS_1


 


__ADS_2