
Keduanya tiba di depan makam Daffin. Elvira memperhatikan Anya yang tampak berdiam diri saja memandang ke arah tulisan nama yang tertulis di atas pusara.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Elvira.
Namun Anya masih bungkam apalagi pikirannya masih mengingat tentang pernyataan dari Elvira sebelumnya yang membuat batinnya gusar saat ini.
Sia-sia saja rasanya perjuangannya jika pada akhirnya ia tidak bisa mendapatkan apa yang harus menjadi hak anaknya.
“Kamu pernah mengatakan bukan kah kamu sangat tulus mencintai Mas Daffin? Apa itu sebuah kebohongan? Sekarang saat berada di makamnya, apa yang kamu pikirkan? Bisakah kamu menangisinya dengan tulus?”
Pertanyaan Elvira membuat Anya menoleh ke arahnya.
“Kenapa tidak bisa? Lihat kan, kamu bahkan tidak bisa bersedih bahkan saat berada di sini. Kamu tidak bisa mencintainya seperti aku mencintainya. Kamu hanya menyimpan dendam kepadanya karena mas Daffin tidak bisa membalas cinta kamu, dan sekarang kamu menimpakan semuanya kepadaku!”
Elvira menambah langkahnya satu langkah lagi lebih dekat dengan Anya seraya masih mendapati tatapan kemarahan dari Anya.
“Apa yang ku katakan tadi salah? Tidak ada yang bisa kamu lakukan karena mas Daffin sudah tiada. Melihat tatapan kamu, aku tidak bisa melihat sesuatu selain hanya dipenuhi rasa dendam.”
“Ya! Aku memang dendam karena tidak bisa memilikinya dan semua itu karena kamu! Aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan kamu hidup tenang dengan cinta dan harta yang sudah Daffin berikan!”
Anya lalu mendekat sambil menatap Elvira dengan tatapan tajam dan memegang kedua bahunya, detik berikutnya ia langsung mendorong Elvira dengan kasar hingga Elvira terjatuh dan terduduk di samping makam Daffin yang dihiasi rerumputan hijau halus itu.
Anya membusungkan dada karena kini bisa berdiri di hadapan Elvira yang masih belum beranjak dari duduknya.
Menyadari perlakuan Anya yang tiba-tiba berani seperti ini membuat Elvira balas menatapnya dengan sorotan mata yang tajam.
“Kamu berharap aku bisa bersikap baik terhadap kamu? Tidak akan! Akan ku rebut semua yang menjadi milik kamu yang harusnya menjadi milikku! Kenapa? Kamu terkejut karena aku bisa melakukan ini kepada kamu? Kita sedang tidak berada di rumah, di sini tidak ada yang melihat kita!” Anya lalu melirik ke arah tangan Elvira yang sudah mengepal dengan kuat.
“Kamu berpikir mau balas mendorongku seperti yang ku lakukan tadi? Ayo, lakukan lah!” tantang Anya.
Namun Elvira tiba-tiba melirik ke arah pusara makam suaminya dan membuatnya seketika langsung meredamkan amarahnya yang sempat menggebu.
__ADS_1
Ia memang marah karena Anya berani menyentuh fisik dan mendorongnya, akan tetapi Elvira berpikir tidak akan bisa turut membalas perlakuannya tersebut.
Bukan karena ia mengaku kalah, ia hanya merasa jika ia melakukan hal serupa lalu apa bedanya ia dengannya.Sementara saat ini ia melihat Anya hanya dipenuhi oleh api dendam.
“Lihat betapa lemahnya diri kamu! Kamu tidak akan bisa membalas ku kecuali kamu tega menyakiti seorang perempuan yang sedang mengandung!”
“Menyedihkan, bagaimana bisa suamiku harus memiliki anak dari perempuan seperti kamu.” Elvira bersuara dengan lirih menyesalkan hal itu.
“Kamu yang memilih bertahan untuk Daffin, maka kamu yang harus mendapatkan kebencian dariku!” lalu Anya langsung pergi meninggalkannya begitu saja.
Sementara Elvira yang masih dalam posisinya kini menitikkan air mata kesedihan atas semua yang harus ia alami, ia lalu menatap batu nisan Daffin lagi.
“Aku tidak akan menyalahkan kamu atas apa yang menimpa diriku. Kalau pun ini karma untukku karena dulu aku telah menyia-nyiakan kasih sayang kamu, aku akan menerimanya. Dulu, aku yang memilih untuk hidup bersama kamu, dan kini aku harus menerima semua takdir yang telah ku pilih,” lirih Elvira yang terisak.
Ia rasanya seperti memasuki sebuah tempat di mana ia terjebak di dalamnya seakan tidak bisa lagi untuk keluar dari sana dan itulah takdir yang harus ia jalani.
...----------------...
Saat ini air hujan mengguyur mampu membuat rambut dan pakaiannya mulai basah. Ia segera mencoba bangkit untuk mencari tempat berteduh.
Baru hendak beranjak dari tempatnya saat ini, langkah kaki Elvira tertahan karena tiba-tiba saja ada seseorang yang datang entah dari arah mana memberinya sedikit tempat berteduh dari payung hitam yang sedang dibawanya.
Elvira mendelikkan matanya menyadari jika yang ada di hadapannya sekarang adalah Gio.
“Bagaimana bisa kamu pergi berziarah di hari yang mendung, tapi tidak bersedia payung?” celetuk Gio. Elvira terlihat diam tidak ingin menanggapinya.
“Ayo pergi ke tempat peristirahatan untuk berteduh,” ajak Gio.
Elvira lalu mengikut saja menggiring Gio berjalan dalam naungan payung yang sama.
Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah tempat peristirahatan khusus untuk peziarah dan sudah ada beberapa orang lain yang berteduh di sana, ada beberapa bangku yang tersedia dan mereka duduk di salah satunya sembari memperhatikan hujan yang sepertinya belum juga mau berhenti turun.
__ADS_1
“Kamu mengunjungi makam siapa?” tanya Gio tetapi Elvira masih enggan untuk menjawab pertanyaannya.
“Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini, kamu pasti termasuk yang jarang berkunjung ke area pemakaman ini karena aku baru melihat kamu.”
“Oh ya?” Elvira tiba-tiba bersuara dengan singkat namun sudah mampu membuat Gio tersenyum tipis.
“Aku termasuk yang sering datang ke sini untuk mengunjungi seseorang, dia sudah lama pergi meninggalkanku terlebih dahulu. Dia, seseorang yang sangat berarti bagiku.”
Elvira masih dalam diamnya menyimak curahan hati dari pria ini yang terdengar lirih karena Elvira pun turut merasakan bagaimana rasanya telah kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupnya.
Terlihat Gio sedang mengambil dan memeriksa ponselnya, detik berikutnya ia sepertinya sedang menjawab panggilan seseorang.
“Baik, saya akan segera ke sana,” ujar Gio setelah beberapa saat mendengarkan penjelasan dari seberang sambungan telepon.
Ia lalu memperhatikan curah hujan yang rupanya belum juga ada tanda-tanda mau berhenti, namun sepertinya Gio sedang dalam situasi terdesak karena harus menjalankan tugasnya kembali.
Di satu sisi ia sudah mendapati wajah Elvira yang tampak sendu, Gio memperhatikan sebentar wajah cantik yang saat pertama kali bertemu dengannya waktu itu dipenuhi dengan keangkuhan kini malah terlihat jauh berbeda.
“Aku akan pergi sekarang, kamu pakai saja payung ini. Tapi, aku tidak memberikannya secara cuma-cuma. Kalau takdir mempertemukan kita lagi, aku akan mengambil lagi payung milikku.”
“Tapi.” Elvira mencoba menolak akan tetapi Gio sepertinya tidak memberinya kesempatan untuk bicara.
“Ini amanah, jaga payungku dengan baik karena ini salah satu barang ku yang sangat berharga. Anggap saja ini sebagai rasa simpati ku untuk perempuan cantik yang sedang bersedih.”
Setelah menyampaikan perkataannya, Gio segera berlari berusaha menerobos derasnya hujan untuk menghampiri mobilnya yang terparkir tidak jauh dari area peristirahatan mereka saat ini.
Sedangkan Elvira tidak sempat untuk menahannya melainkan hanya melengos kesal sambil menatap ke arah payung yang ditinggalkan oleh pria yang masih terasa asing baginya itu.
“Itu cuma payung biasa, apa pentingnya? Di toko pun banyak orang yang jual,” gerutu Elvira sebal karena Gio terkesan memaksanya untuk menjaga kan payung tersebut.
Namun detik berikutnya ia melirik lagi ke arah benda tersebut dan berpikir jika saat ini akan sangat berguna untuk membantunya bisa segera meninggalkan tempat ini untuk menuju mobilnya.
__ADS_1
Bersambung...