Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 97-- Kembali Pulang


__ADS_3

Mengarungi jalan penuh rerumputan di tengah rimbun pepohonan, seorang pria terus berlari dengan napas tersengal. Berkali-kali ia menengok ke arah belakang, dua orang polisi yang mengejarnya mulai memacu kecepatan.


Masih dalam kegetiran, ia tidak ingin berputus asa. Ia tidak akan semudah itu menyerahkan dirinya. Sambil terus memacu kecepatan berlari, ia merogoh sebuah ponsel dari dalam kantong celana. Berusaha menghubungi seseorang untuk meminta bantuan.


“Ya.” Terdengar suara serak dari seorang pria di seberang telepon.


“Tolong saya! Markas telah dikepung polisi. Mereka sedang mengejar saya, saya tidak mau tertangkap lagi!” ujarnya berbicara dengan napas yang terengah-engah karena sembari berlari.


“Pergilah ke area taman bermain yang ada di dekat markas. Bantuan akan segera dikirim,” titahnya.


“B-baik.” Pria itu mematikan teleponnya, langsung menuruti saja perintah seorang di seberang telepon tadi.


Namun saat langkah pria itu terhenti, dan mengambil tindakan menawan Elvira. Seseorang yang memantaunya dari kejauhan melalui alat bidik teleskop sebuah senapan runduk, langsung menembakkan satu peluru tepat di kepalanya. Mengakibatkan pria itu tewas seketika.


Seseorang yang berada di sebuah gedung itu, baru menyelesaikan misinya dari tempat yang tidak mudah terjangkau. Ia mengambil ponsel setelahnya, lalu menghubungi seseorang.


“Halo, Bos. Sudah saya bereskan sesuai perintah,” ujarnya.


... ིྀ ིྀ ིྀ...


“Elvira!!” Nevan menepuk-nepuk pipinya karena Elvira belum juga sadarkan diri.


Untuk sejenak ia merasa lega karena tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap Elvira. Gio tadi sudah membantu memeriksanya dan mengatakan jika Elvira hanya pingsan, mungkin karena terlalu syok dan takut. Kini ia sudah membawa Elvira ke tempat yang agak jauh dari lokasi kejadian sesuai arahan Gio.


Perlahan dua kelopak mata perempuan itu mulai berkedip, tidak lama setelahnya ia segera sadar kembali.


“Nevan?” sapanya seraya membawa diri untuk duduk.


“Kamu tampak pucat, mau pergi ke rumah sakit?”


Elvira memijat dahinya yang terasa agak pusing. “Kita pulang saja ya,” ajaknya.


“Elvira,” panggil Olla yang kini berlari menghampiri mereka.

__ADS_1


Sebelumnya ia dan Sakti dikejutkan dengan ramainya mobil beserta anggota polisi di tempat ini. Mereka belum mendapat keterangan apapun mengenai apa yang telah terjadi.


Olla yang merasa sangat khawatir, langsung memeluknya. Sedangkan Elvira hanya berpasrah menyambut pelukannya yang terasa sangat erat sepertinya Olla enggan untuk melepaskannya.


“Ya ampun, Ra. Kamu ke mana saja sih? Nomor telepon tidak bisa dihubungi, kamu bikin orang khawatir deh,” omel Olla.


“La, aku tidak bisa bernapas.” Elvira berusaha melepaskan pelukannya.


“Maaf ya,” ucap Olla yang menyengir sembari melepaskannya. “Tapi kamu tidak apa-apa, kan? Apa yang baru saja terjadi?”


“Aku baik-baik saja. Nanti ku ceritakan detailnya. Sekarang aku rasanya hanya ingin cepat pulang.”


“Ya sudah.”


... ིྀ ིྀ ིྀ...


Begitu tiba di rumah, Elvira menahan Nevan saat mereka sudah diambang pintu.


“Soal kejadian tadi, jangan beritahu oma ya,” pinta Elvira. “Aku tidak mau membuat oma jadi kepikiran.”


“Iya.”


Elvira bergegas menghampiri Dewanti yang tampak duduk sedang menunggunya. Tanpa berkata-kata, dengan seutas senyuman ia langsung memeluk Dewanti dengan erat melepas rindunya beberapa detik.


“Sayang, syukurlah kamu baik-baik saja. Kamu ke mana saja?” tanya Dewanti yang kini sudah melepas pelukannya seraya membelai kedua pipi Elvira.


“Oma, maaf kan aku ya. Aku yang harusnya bersyukur karena Oma baik-baik saja. Bagaimana keadaan Oma sekarang? Nevan tadi dalam perjalanan sudah menceritakan sedikit tentang penyakit jantung Oma.”


“Oma tidak apa-apa, Sayang. Hanya menjalani masa pemulihan saja setelah dari rumah sakit.”


“Maaf kan aku ya Oma, atas semua yang sudah ku lakukan. Aku benar-benar minta maaf dan tidak bermaksud menipu keluarga ini.”


“Oma tidak marah dengan kamu. Sudah, tidak apa-apa. Sekarang Oma bisa merasa lega karena kamu telah kembali pulang ke rumah ini. Elvira, ini juga rumah kamu. Tolong jangan pernah pergi lagi,” pinta Dewanti terdengar lirih.

__ADS_1


“Tapi Oma, aku hanya merasa tidak pantas berada di rumah ini lagi. Aku ke sini hanya untuk menjenguk Oma dan aku pasti akan sesekali datang.”


“Apa yang kamu pikirkan Elvira? Kamu juga cucu Oma, dan Oma mau kamu tetap tinggal di sini ya. Oma mohon, jangan tinggalkan Oma lagi,” pinta Dewanti lagi dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


Saat ini Dewanti sudah memegang kedua tangannya seakan tidak mau melepaskannya, sementara Elvira yang masih terdiam kini memandangi wajah Dewanti yang tampak lesu dan sedih.


Hal itu tentu membuatnya tidak tega melihatnya. Belum lagi mengingat penjelasan Nevan dengan kondisi kesehatan Dewanti yang saat ini sangat perlu untuk diperhatikan.


Elvira lalu menengok ke arah Nevan yang kini masih berdiri tidak jauh dari mereka, Nevan hanya memberikan isyarat sebuah anggukan kepala yang mengartikan jika ia setuju dan mendukung keinginan Dewanti.


“Oma mohon, Elvira. Oma sudah sangat menyayangi kamu, nanti biar Oma menemui ibu Widya untuk meminta izin darinya.”


“Oma tidak perlu melakukan itu.”


“Bagaimanapun juga dia adalah wanita yang selama ini merawat dan membesarkan kamu, Oma juga ingin membangun hubungan kekerabatan dengannya. Oma juga tidak akan melarang jika kamu mengunjungi keluarga kamu di sana kapanpun kamu mau.”


“Iya, Oma. Aku akan tetap tinggal disini bersama Oma ya.” Elvira berucap sembari tersenyum memandangnya yang mampu membuat Dewanti terlihat sangat senang.


Suasana haru diiringi kebahagiaan itu turut dirasakan oleh beberapa orang asisten rumah tangga yang kini memperhatikan mereka dari kejauhan.


Kecuali Meisya yang saat ini berdiri di sebuah sudut ruangan turut menyaksikan momen itu, ia tidak pernah merasa senang melihat kehadiran Elvira di rumah ini. Namun kali ini ia merasa tidak berdaya melawan kehendak Dewanti.Tanpa terlihat yang lainnya, Meisya segera beranjak pergi kembali ke kantor.


... ིྀ ིྀ ིྀ...


Setibanya di kantor, ia selalu dalam keadaan gusar seperti beberapa hari ini karena merasa tidak mampu berbuat apa-apa selain menuruti saja keinginan Dewanti, apalagi Dewanti sudah mengeluarkan peringatan dan ancaman kepadanya.


“Apa yang akan Ibu Meisya lakukan sekarang?” tanya Anya yang kini sudah menghampirinya.


Telah mendengar penuturan dari Meisya sebelumnya tentang pembatalan surat pernyataan tersebut, turut membuat Anya gusar dan penuh amarah karena rencananya hancur berantakan.


“Apalagi yang bisa saya lakukan? Elvira sekarang sudah kembali ke rumah dan pasti akan segera mengklaim semua sahamnya. Saat ini mama mertua saya juga masih sangat marah, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau kamu masih mau mendapatkan tempat di rumah, lebih baik kamu menjaga sikap mulai sekarang.” Perkataan Meisya terdengar putus asa.


Sedangkan Anya kini hanya terdiam mendengarkan perkataannya, ia benar-benar merasa marah dan kecewa, berbagai cara yang dilakukannya seakan tidak bisa menyingkirkan Elvira dari perhatian dan kasih sayang Dewanti.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2