Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 77-- Tamu Hari Ini


__ADS_3

Elvira memasang wajah malas saat melihat kehadiran Nevan yang hari ini tiba-tiba ke ruangannya.


“Aku ... minta maaf,” ucap Nevan yang masih menyesalkan perbuatannya terhadap Elvira kemarin.


Elvira melipat tangan di dada, lalu menatapnya dengan dingin. “Pergilah," ujarnya.


“Benar-benar marah ya? Aku minta maaf.”


“Sudah lah, aku sibuk.” Elvira segera mengambil sebuah map yang ada di atas mejanya lalu segera beranjak pergi.


Nevan malah mengejutkannya dengan tiba-tiba saja berlutut di hadapannya membuat langkahnya terhenti.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Tolong maafkan aku,” ucap Nevan lagi masih dengan beribu sesal.


Ia merasa sangat takut melihat wajah Elvira yang sepertinya serius marah padanya, ia bahkan rela menghilangkan wibawanya saat ini demi meraih maaf Elvira.


“Berdiri!” pinta Elvira, namun tak dilakukan oleh pria itu. Elvira merasa Nevan sudah berlebihan.


“Kalau aku berdiri, berarti kamu memaafkan ku kan?”


“Kamu menghalangi jalan ku, aku harus pergi ke ruang rapat sekarang,” ujar Elvira.


Nevan meraih tangannya lalu menatapnya penuh harap. “Maaf kan aku ya, aku harusnya tidak meninggalkan kamu di jalan waktu itu.”


“Iya, iya. Sudah. Cepat berdiri.”


Seseorang tiba-tiba mengetuk pintu dan langsung membukanya, Dara masuk dengan santai seperti biasanya jika ia mendapat arahan untuk diminta ke ruangan Elvira. Namun ia matanya seketika mendelik melihat pemandangan di depannya.


Sekilas dalam penglihatannya, ia melihat Nevan layaknya seorang pria yang sedang berlutut melamar seorang perempuan.


Sedangkan Nevan yang masih belum sempat berdiri kini langsung melepas tangan Elvira.


“Aduh, lutut ku terasa sakit,” ujar Nevan berdalih, pura-pura memegangi lututnya seraya menyembunyikan raut wajah yang saat ini menyimpan rasa malu.


Ia segera bangkit dan mencoba meningkatkan wibawanya lagi. Ia melirik sekilas ke arah Elvira, jatuh sudah rasanya harga dirinya karena kakak iparnya yang kini merajai hatinya.


“Ehm, maaf Bu. Ibu tadi memanggil saya?” tanya Dara memastikan karena ia tadi mendapat pesan tersebut dari seorang rekan kerjanya.


“Iya, tolong bawa kan kertas yang ada di atas meja itu ke ruang rapat ya,” titah Elvira yang langsung dikerjakan Dara.


Nevan menghembus napas kasar begitu Dara sudah kembali meninggalkan ruangan.


Elvira menatapnya merasa tidak bersalah. “Aku tidak meminta kamu melakukannya.”


“Tapi kamu memaafkan ku, kan? Hari ini mau jalan-jalan? Aku tahu suasana hati kamu pasti sedang tidak baik.”


“Aku harus rapat sekarang.”


“Setelah selesai rapat, aku akan menunggu kamu. Mau pergi ke suatu tempat? Aku yang bayar.”


“Menunggu ku selesai rapat? Kamu punya banyak waktu luang?” tanya Elvira tidak percaya.


“Aku akan meluangkan waktu ku hari ini, ada Sakti yang masih bisa diandalkan di kantor.”


“Dasar.” Elvira melengos ke arahnya lalu segera berlalu tanpa memberi jawaban yang pasti.


“Aku serius, pergilah bersama ku hari ini.”


Elvira yang terlanjur melangkah berhenti sejenak, ia menoleh ke arah Nevan yang sedang menunggu jawabannya. “Aku ingin makan es krim,” ujarnya, yang langsung mendapat balasan senyum penuh semangat dari Nevan.


...🌼🌼🌼...


Nevan yang memutuskan untuk menunggu Elvira yang masih rapat, kini terlihat gusar sendiri karena sebenarnya ia tidak terbiasa menunggu. Berkali-kali ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, namun rasanya waktu bergerak lambat.


Sesekali ia melirik ke arah sebuah pintu ruangan yang berlabel meeting room, namun tampaknya belum ada tanda-tanda Elvira keluar ruangan.


Beberapa saat berlalu, Nevan dikejutkan dengan kedatangan Gio yang sepertinya ingin menemui Elvira.


Nevan langsung berdiri dari duduknya menyambut kehadiran pria itu dengan tatapan dingin. “Mau apa lagi kamu?”


“Sudah jelas, aku ingin bertemu dengan Elvira,” jawab Gio santai.

__ADS_1


“Aku rasa tidak ada yang perlu dibahas lagi ‘kan dengan kakak ipar ku?”


“Urusanku bertemu dengan Elvira, aku rasa itu bukan urusan kamu.” Gio membalas tatapan dingin itu.


Sehingga terciptanya ketegangan yang tidak bisa dijelaskan saat dua pasang mata itu beradu pandang.


Elvira yang saat itu baru keluar dari ruang rapat dikejutkan sudah ada pria yang sepertinya sedang menunggunya.


Keduanya langsung mengalihkan pandangan terhadapnya saat menyadari keberadaan Elvira, dua pasang itu sama-sama memandang perempuan di depan mereka saat ini.


“Bisa bicara sebentar?” tanya Gio.


“Iya.” Elvira lalu mengarahkan agar masuk ke ruangannya.


“Tapi ....” Nevan terlihat menentang.


Akan tetapi Elvira langsung menahannya. “Tunggu lah, sebentar saja,” pintanya.


...🍂🍂🍂...


Sesampainya di ruang kerjanya, Elvira mempersilahkan tamunya itu duduk seraya ia juga turut duduk di sofa. Elvira sepertinya enggan menanyainya lebih dulu mengenai maksud kedatangannya.


Sementara Gio sejenak masih memikirkan merangkai kata untuk memulai pembicaraan setelah sebelumnya banyak menghabiskan waktu hampir semalaman untuk merenungkan yang telah terjadi.


“Aku benar-benar minta maaf atas apa yang sudah ku katakan sebelumnya. Maaf karena telah menuduh keluarga kamu,” ucap Gio dengan penuh sesal.


Sedangkan Elvira masih terlihat mendengarkan dan menyimak perkataannya sepertinya masih belum mau menanggapi apa pun.


“Aku sudah mendengar pengakuan dari adikku. Aku tidak tahu kata apalagi yang harus ku ucapkan selain kata maaf. Entah kata apa yang pantas ditujukan kepadanya karena telah menghancurkan hidup kamu. Aku telah gagal dalam menjaga dan mendidik adikku,” lanjut Gio masih dengan raut penyesalan yang mendalam di wajahnya.


Hal itu membuat Elvira menyaksikan sendiri bagaimana tulusnya luapan kasih sayang dari seorang kakak kepada adiknya.


“Tidak apa-apa, bukan salah kamu,” sahut Elvira yang telah memaafkannya.


“Aku tidak tahu lagi bagaimana cara mengatasinya, dia tidak seperti adikku yang dulu ku kenal. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi dengannya ... Elvira, aku pasti akan membuatnya berlutut di hadapan kamu.”


“Kamu tidak perlu melakukannya, dia tidak akan suka melakukannya.”


“Kenapa dia bisa sampai berbuat serendah itu? Lalu dimana suami kamu sekarang? Biarkan aku menemuinya, bagaimana dia bisa membawa wanita selingkuhannya untuk tinggal serumah dengan kamu? Apa dia tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan kamu?” Pria macam apa dia?!” tanya Gio yang sepertinya belum tahu banyak tentang kehidupan Elvira.


“Kamu pernah bertemu dengan ku di area pemakaman, menurut kamu makam siapa yang ku kunjungi di sana? .... Makam suamiku, ada di sana.” Elvira berkata sembari menahan air matanya karena mengingat mendiang suaminya.


“Apa?” tanya Gio memastikan lagi.


“Dia sudah meninggal belum lama ini.”


Elvira tidak bisa menyembunyikan kesedihannya apalagi jika ia harus mengingat tentang suaminya itu. Sedangkan Gio tampaknya dibuat tidak bisa berkata-kata melainkan hanya bisa turut bersimpati, keduanya saling terdiam untuk sejenak.


Tiba-tiba terdengar bunyi telepon dari ponsel milik Gio yang mengharuskannya segera menjawabnya.


“Halo, iya Bu? .... Iya, kalau begitu aku akan segera ke sana,” ujar Gio berbicara dengan seseorang via telepon.


Elvira membiarkannya saja ingin tahu tentang urusannya.


“Aku harus pergi sekarang. Tapi aku janji, aku akan membuat Anya berlutut dan meminta maaf kepada kamu.”


Gio segera pamit, ia tampak bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Setibanya di depan saat bertemu Nevan yang masi terlihat gusar disana, Gio memilih bersikap acuh tak acuh.


Baru saja langkahnya berada di depan pintu utama kantor, Gio tidak sengaja berpapasan dengan Olla yang langsung mengenalinya.


“Kak Gio?” sapa Olla penuh tanda tanya karena mereka bisa kebetulan bertemu di sini.


“Olla? Kamu di sini?” tanya Gio yang tidak kalah terkejutnya.


“Kak Gio sedang apa di sini?”


“Aku baru bertemu Ibu Elvira,” jawab Gio.


“Oh ya ampun, aku juga mau bertemu dengan Elvira. Jadi Kak Gio juga mengenal Elvira?”


“Iya.”


“Kok bisa ya, dia teman dekat aku, Kak,” ungkap Olla.

__ADS_1


“Oh ya?” Gio mengangguk sejenak. “ Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamitnya, Olla memperhatikan sepertinya ia sedang tergesa-gesa.


Olla pun langsung melangkah masuk dan ia bertemu dengan Elvira yang sepertinya bersiap hendak pergi keluar, Olla memperhatikannya yang membawa tas.


“Olla? Kok datang tidak mengabari?” Elvira tampak terkejut dengan kedatangan tamu yang satu ini lagi, ia melirik  sebentar ke arah Nevan yang masih setia menunggu.


“Memangnya harus ya? Ngomong-ngomong, kamu mau keluar?” tanya Olla penasaran. Elvira mengangguk mengiyakan.


Olla segera meraih tangannya dan memegangnya dengan erat. “Ra! Please, aku mau ngomong sebentar.” Olla memasang wajah memelas berharap permintaannya dikabulkan.


“Apa aku harus menunggu lagi?” Nevan yang kini sudah berdiri dari duduknya menghampiri mereka.


“Sebentar saja, ya,” pinta Elvira terdengar memohon.


Kalau saja ia tidak sedang dalam rangka meraih maaf Elvira, mungkin kekesalan Nevan sudah meledak di depannya.


“Sebentar saja.” Elvira mengulangi perkataannya, lalu segera pergi bersama Olla ke ruangannya.


...🍂🍂🍂...


"Elvira! Aku sangat menyesal!” ungkap Olla membuat Elvira mendelik heran penuh tanya. Ia menatap wajah Olla yang sedang gelisah.


“Menyesal?” Elvira mengulangi.


“Iya, aku benar-benar menyesal telah menuduh Sakti yang macam-macam.”


“Memangnya kenapa?”


“Elvira, kamu harus tahu yang sebenarnya.”


Olla menghela napas pendek sejenak kemudian langsung bercerita persis yang seperti Sakti jelaskan kemarin dan alasannya yang sebenarnya tidak menghubungi dan mencari Olla lagi.


Olla benar-benar sambil merasa sedih saat menceritakan bagaimana Sakti berucap seperti sudah bisa melepaskannya dari hidup Sakti. Elvira turut memberi perhatian penuh saat mendengarkan penuturan dari Olla.


“Kalau seperti ini, bagaimana aku bisa melupakannya kalau sekarang perasaanku dipenuhi rasa penyesalan karena selama ini telah membenci dia? Aku jadinya merasa bersalah karena dulu tidak berada di sampingnya saat dia kehilangan papanya. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk berhadapan dengannya lagi, mana waktu itu aku pernah menamparnya.”


“Ya ampun.” Elvira turut merasa sedih dan menyesal karena turut menuduh Sakti macam-macam.


“Ra, selama ini kan kamu sering bersamanya, apa dia terlihat punya seseorang gitu?” tanya Olla.


“Hmm, dia kurang terbuka sih masalah pribadi.”


Lalu Olla memeriksa ponselnya dan sudah terdapat banyak rentetan pesan yang membuatnya kesal sendiri melihatnya.


“Pak Robert nih, selalu saja kalau lagi ada hal mendesak suka meneror ku dengan pesan-pesan yang dikirimnya,” gerutu Olla membicarakan seorang manajer di kantornya.


“Memang tidak pernah berubah ya dari dulu.” Elvira menimpali mengingat tentang sosok atasannya waktu bekerja dulu.


“Pak Robert juga suka menanyakan kamu nih, soalnya aku ada cerita baru bertemu kamu. Nanti main ke kantor dong,” pinta Olla, Elvira hanya mengiyakan saja.


“Kalau begitu aku pergi sekarang,” pamit Olla.


...🍂🍂🍂...


Elvira menemui wajah Nevan yang tampak kesal, hari ini Elvira benar-benar menguji kesabarannya.


“Jadi pergi sekarang?” tanya Elvira.


Selang beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di sebuah tempat sekitar pinggiran kanal dengan perairan yang tenang.


Keduanya saat ini menikmati es krim sambil merasakan terpaan angin segar yang berhembus lembut di tengah hari di bawah rindangnya pepohonan yang menghiasi bantaran aliran sungai ini.


Tampak di depan sana yang terpisahkan aliran sungai, terpampang pemandangan kota dengan arus lalu lintas ramai seperti biasanya, beberapa transportasi air yang beraktivitas di sungai pun tak luput dari perhatian mereka.  


“Tempat disini jauh lebih menenangkan, bukan?” tanya Elvira sembari menengok Nevan yang berada di sampingnya. “Hari ini jangan membahas apapun, aku ingin menikmati momen ini.”


Nevan mengangguk setuju. Ia memperhatikan untaian senyuman terukir di wajah Elvira, betapa cerianya perempuan itu hari ini yang terlihat sangat bahagia menikmati es krim di tangannya.


Bahkan saat Elvira sudah mengalihkan pandangan darinya, Nevan masih saja terpikat untuk terus memandanginya.


Entah sudah seberapa jauh perasaan ketertarikan itu merasuk dalam relung hatinya, yang ia tahu perempuan di depannya saat ini membuatnya tak bisa berpaling.


Namun saat mengingat kembali batasan yang ada di antara mereka, apalagi setelah apa yang dialami Elvira sejauh ini karena perbuatan kakaknya membuat Nevan merasa ada jarak yang terbentang di antara mereka.

__ADS_1


 


Bersambung ...


__ADS_2