
Nevan yang baru turun dari kamarnya setelah beristirahat melihat dari kejauhan ada Elvira yang sedang berjalan menuju ke arah dapur. Ia lalu penasaran dan mengikutinya.
“Kamu beristirahat lah dulu, aku akan memasak makanan yang lezat untuk kalian,” ujar Elvira begitu mengetahui kehadiran Nevan. Ia menyaksikan Elvira bersiap sambil dibantu oleh beberapa orang asisten rumah tangga.
“Apa ada yang kamu perlukan?” tanya Elvira lagi melihat Nevan yang berdiam diri saja.
“Tidak ada.”
Elvira hanya melayangkan sebuah senyuman simpul. Ia segera berpaling dari Nevan dan menguncir rambutnya yang masih terurai sontak membuat Nevan mendelik melihat leher jenjang kakak iparnya itu yang terlihat tampak mempesona baginya.
Karena selama ini ia hanya melihat Elvira selalu menggeraikan rambut panjangnya, melihat Elvira seperti itu tentu terasa sangat berbeda dan sangat menarik perhatiannya.
Hal itu membuatnya berdesir lama kelamaan ia tidak akan sanggup jika terus disuguhkan oleh pesona kakak iparnya sendiri.
Apalagi mengingat kembali pada malam itu Nevan yang tidak bisa mengendalikan diri melihat pesona Elvira yang berdiri dekat di hadapannya hingga ia langsung mencuri bibirnya.
Bagaimanapun juga ia adalah laki-laki normal yang bisa saja sewaktu-waktu terpikat oleh kecantikan seorang wanita seperti Elvira ditambah mereka sering bertatap muka meski terhalangi benteng besar yaitu status kekerabatan sebagai ipar.
Nevan segera tersadar dari lamunannya saat mulai merasakan bahaya pada perasaannya sendiri, ia pun segera mebuyarkan semua rasa kekagumannya dan merasa harus segera menghindarkan pandangan dari Elvira.
...----------------...
Sampai pada waktu makanan sudah tersaji semua di atas meja makan, mereka berkumpul untuk makan malam bersama.
Hal ini juga turut mengundang perhatian Meisya dan Anya untuk ikut bergabung karena ada Nevan dan Sakti yang turut hadir. Suasana makan malam mereka tercipta seperti biasa seolah ketegangan yang pernah terjadi berlalu begitu saja.
“Seperti ini dong, sering-sering datang ke sini untuk makan bersama,” kata Meisya saat ia mengambil kursi untuk duduk di samping putranya itu.
“Iya, Ma.”
“Kamu menginap kan?” tanya Meisya lagi.
“Tidak, Ma,” jawab Nevan.
“Kamu selalu saja begitu,” celetuk Meisya sebal.
“Biarkan saja Nevan di apartemennya, biar dia tidak melihat kelakuan mamanya di rumah ini,” sahut Dewanti.
“Mama!” tegur Meisya.
“Kamu lupa, bagaimana bisa kamu bertindak gegabah sebelum mencari tahu kebenarannya,” gerutu Dewanti.
“Mama, Oma, sudah ya. Jangan berdebat, aku mau menikmati makan ku dengan tenang.” Nevan bersuara merasa tidak ingin tahu lebih tentang persoalan mereka.
Sementara Elvira memegang tangan Dewanti mencoba menenangkannya karena sepertinya Dewanti masih sangat marah terhadap Meisya.
“Oma, lupakan saja masalah kemarin ya,” pinta Elvira dengan suara pelan karena kebetulan ia duduk berdekatan dengan Dewanti.
“Sayang, Oma sudah mengecek rekaman cctv di area kolam renang, Oma sudah tahu semua kebenarannya,” balas Dewanti yang tampak hanya berbicara kepadanya, lalu ia menatap sebentar ke arah Anya yang nampak duduk tenang.
“Sudah, tidak apa-apa, jangan di bahas lagi.”
Melihat keadaan tampak tidak mengasyikan, Sakti segera berdehem berinisiatif untuk kembali mencairkan suasana.
“Ehm, saya sangat menyukai ini, makanannya semuanya sangat enak. Boleh saya menambah lagi?” ujarnya.
“Tentu boleh, nikmati makanan kamu,” sahut Dewanti.
__ADS_1
“Rasanya saya ingin memakan semuanya, Oma,” kata Sakti lagi meski terdengar garing.
“Ngomong-ngomong, makanannya sedikit berbeda. Tapi ini enak, apa ini memesan?” tanya Meisya ke arah Mirah yang berdiri tidak jauh darinya.
“Tidak, Nyonya. Sebenarnya ini Nyonya Elvira yang memasaknya,” jawab Mirah.
“Apa?” Meisya terkejut bukan main, namun ia seakan tidak bisa berkata-kata melainkan hanya memilih berdiam diri karena sudah terlanjur memujinya.
“Anya, apa kamu sudah selesai makannya? Setelah ini, antar berkas yang tadi saya minta ke kamar saya,” Meisya berdalih karena ia sudah sangat ingin meninggalkan ruangan ini.
“Iya, Bu,” sahut Anya.
“Tunggu!” tahan Dewanti membuat Meisya memasang wajah malas.
“Ma, aku sedang tidak ingin berdebat.”
“Mama tidak akan mengajak kamu untuk berdebat, Mama mau kalian berdua minta maaf kepada Elvira.”
“Ma, apa-apaan ini?” Meisya tampak tidak terima.
“Terutama kamu, Anya.” Dewanti sudah berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah mereka.
“Aku? Memangnya ada apa Oma?” tanya Anya berlagak tidak tahu menahu.
“Minta maaf kepada Elvira sekarang atas perbuatan kamu kemarin,” titah Dewanti.
“Sebenarnya apa yang terjadi Oma?” Nevan penasaran jadinya.
“Apa perlu saya jelaskan kepada mereka di sini tentang perbuatan kamu terhadap Elvira?” tanya Dewanti kepada Anya tanpa menghiraukan pertanyaan dari Nevan.
“Oma aku tidak melakukan apapun.” Anya masih berusaha membela diri.
“Ma, jelas-jelas Elvira yang sudah mendorong Anya sampai ia jatuh dan kesakitan, beruntung tidak terjadi apa-apa pada janin dalam perutnya.”
Meisya angkat suara membela Anya, ia selalu suka jika memojokkan Elvira.
“Kamu pikir Mama seperti kamu, Meisya? Mau Mama perlihatkan buktinya jika perempuan ini sendirilah yang menjatuhkan dirinya dan ia menimpakan semua kesalahan kepada Elvira. Kamu malah percaya begitu saja sampai-sampai mau menampar menantu kamu sendiri.”
“Apa?” Nevan langsung berdiri dari kursinya.
“Ma?” Nevan lalu menatap mamanya meminta penjelasan.
Sementara Elvira tidak menyangka jika Dewanti sangat peduli dan membelanya seperti ini, padahal ia sudah memintanya untuk tidak membahas masalah ini apalagi saat ini ada Nevan.
Sebenarnya mengenai masalah rekaman cctv itu, ia sudah mengetahuinya karena sebelumnya Elvira sudah meminta Imam untuk memeriksa ke ruang keamanan di rumah ini dan Imam sudah mengirimkan bukti hasil rekamannya ke ponselnya.
Ternyata, Dewanti yang juga sepemikiran dengan Elvira turut melakukan hal yang sama tanpa memberitahu Elvira sebelumnya.
Elvira sudah berencana untuk mengungkapnya saat tidak ada Nevan, Elvira juga sebenarnya tidak mau mempermalukan Meisya di depan putranya sendiri. Tapi ia kalah cepat dari Dewanti yang terburu untuk membahas lagi masalah ini di depan semuanya.
Berbeda dari Elvira yang masih mau melindungi Meisya dari perasaan malu terhadap putranya, Dewanti justru berpikir sesekali akan membuat Meisya malu di hadapan Nevan untuk memberinya pelajaran karena selama ini selalu saja ingin dipandang sebagai seorang yang paling benar dan tanpa cela serta tidak mau mengakui kesalahannya.
“Mama percaya dengan omongan Anya, Nevan. Karena menurut Mama perbuatan Elvira itu sangat keterlaluan karena dia hendak menyakiti seorang yang sedang hamil.”
Meisya berusaha menjelaskan kepada Nevan karena selama ini di keluarga mereka sangat menjunjung etika dan melakukan perlakuan kasar secara fisik jelas sangat dilarang, itu peraturan mutlak sejak dulu di keluarga ini.
“Pada kenyataannya, Anya lah yang telah berbohong. Kamu bahkan langsung mempercayainya tanpa tahu kebenarannya,” tukas Dewanti lagi menyahut perkataan Meisya.
__ADS_1
“Benar itu?” tanya Meisya kepada Anya. Namun Anyahanya terdiam saja.
“Mau saya perlihatkan rekaman cctv-nya?” tantang Dewanti kepada Anya.
“Iya, saya mengaku salah, saya melakukan itu karena kesal kepada Elvira yang suka bersikap kasar terhadap saya.” Anya bersuara namun masih berusaha membela diri.
“Apa? Bersikap kasar?” tanya Dewanti enggan percaya.
“Iya, Oma. Dia kelihatannya saja pura-pura baik kepadaku, padahal aslinya dia suka berkata kasar terhadapku dan sering menyakiti perasaanku dengan perkataannya,”
“Minta maaf padanya!” titah Meisya tiba-tiba jengah dengan pembelaan Anya dan membuat Anya tersentak karena terkejut mendengar suara kemarahan dari Meisya terdengar nyaring di telinganya.
“Jangan hanya dia, kamu juga,” perintah Dewanti.
“Aku minta maaf,” ucap Anya kepada Elvira.
Sedangkan Meisya yang merasa tersudut lalu pergi begitu saja karena egonya yang tetap tidak ingin minta maaf kepada menantunya itu. Anya pun juga turut ikut pergi membuat Dewanti semakin geram dengan keduanya.
“Oma, sudah. Dia kan sudah minta maaf. Aku sudah melupakannya.” Elvira yang tadi terdiam melihat kelakuan Anya kini ikut angkat bicara.
“Sayang, kamu dengar kan dia tadi masih bisa menuduh kamu macam-macam?” protes Dewanti.
“Iya, mungkin dia pernah merasa jika aku tidak ramah padanya, Oma.”
“Tidak perlu bersikap ramah terhadapnya! Bagaimana bisa seorang perempuan yang tengah mengandung seperti dia melakukan hal seperti itu.”
“Oma, tidak perlu lagi membahasnya, ya. Terima kasih Oma sudah membelaku seperti ini” ucap Elvira.
“Oma tahu kamu perempuan yang pandai menjaga martabat serta kehormatan diri dan keluarga ini, Oma percaya kamu tidak akan mungkin melakukan hal serendah itu, Elvira,” pungkas Dewanti.
“Iya Oma, sedangkan tenang kan diri Oma ya.”
“Kak Elvira, tolong maafkan atas perlakuan mama ya,” ucap Nevan tiba-tiba yang sejak tadi menahan malu karena kelakuan Meisya.
“Tidak apa-apa, Nevan. Mama Meisya juga seperti mamaku, aku tidak masalah bagaimana perlakuan mama terhadapku,” sahut Elvira yang memberi sebuah senyuman yang menjadi ketenangan untuk Nevan.
...----------------...
Sementara itu di kamar Meisya, Anya sedang menatap takut ke arah Meisya yang menatapnya tajam dengan penuh amarah.
“Bagaimana kamu bisa melakukan hal seperti itu, Anya? Memalukan! Sekarang bagaimana saya harus berhadapan dengan mama mertua saya?!” celetuk Meisya tersulut emosi karena merasa dibohongi oleh Anya.
“Maaf Bu, saya hanya berusaha untuk membuat Oma memarahinya,” jawab Anya polos membela diri.
“Arrghhh! Sekarang Nevan juga turut mengetahui hal ini, kamu tahu betapa malunya saya saat berhadapan dengan putra saya sendiri karena masalah ini?!” Meisya sangat kesal, termasuk terhadap dirinya sendiri yang mudah termakan omongan Anya.
Sedangkan Anya masih tampak serius mendengarkan celotehan Meisya.
“Sekarang kamu perbaiki sikap kamu di depan mama mertua saya,” titah Meisya.
“Iya Bu.”
Anya pun langsung keluar dari kamar Meisya dengan perasaan yang tak kalah kesalnya.
“Huh, bisanya hanya menyalahkan. Dia sendiri sama sekali tidak mau mengakui kesalahannya,” gerutu Anya sebal dengan Meisya saat sudah berada jauh dari kamarnya.
__ADS_1
Bersambung ...