Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 54-- Awal Kesalahpahaman


__ADS_3

Anya minta izin ke Meisya untuk keluar. Setelah mendapat izin, ia langsung pergi karena sudah janji untuk bertemu dengan Gio di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari panti asuhan milik Rani. Hari ini ia harus memenuhi janjinya kepada Gio untuk bersedia menemuinya lagi.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Gio melihat adiknya di seberang meja tampak murung.


“Aku baik-baik saja, Kak.”


“Kamu bekerja dengan baik?”


“Iya,” jawab Anya lalu ia menikmati minumannya.


“Anya, kamu harus tahu kalau Kakak hanya mengkhawatirkan kamu,” tutur Gio.


“Iya, aku tahu. Kakak jangan lagi deh menemui ku ke rumah mereka seperti tadi malam. Aku tidak mau mereka tahu dan merasa terganggu.”


“Memang apa salahnya jika Kakak hanya ingin menemui kamu? Kakak hanya penasaran bagaimana kamu bisa tinggal dengan mereka? Apa perlakuan mereka baik sama kamu?”


“Iya, mereka memperlakukanku dengan baik. Apalagi aku bisa menikmati pelayanan dan fasilitas rumah mereka yang besar. Tinggal di sana jauh lebih menyenangkan daripada kamar kos ku yang dulu. Pokoknya Kakak jangan lagi menemui ku seperti itu. Aku juga jadinya merasa terganggu."


“Apa yang terjadi dengan kamu sebenarnya?” lirih Gio yang tidak habis pikir melihat adiknya yang sudah berubah.


Bahkan dari cara bicaranya pun kini tidak terdengar sopan dan lemah lembut lagi kepadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, Elvira kembali menemui Rani di panti. Elvira sengaja datang untuk melihat lagi keadaan Delisha setelah kejadian malam itu, anak perempuan itu menyambut kedatangannya dengan hangat.


Elvira membawakan banyak makanan dan jajanan untuk mereka dan anak-anak disana juga turut senang akan kedatangannya.


“Nak Elvira, tidak perlu repot-repot,” ujar Rani.


“Tidak apa-apa, Bu. Melihat mereka ceria seperti itu juga merupakan kebahagiaan tersendiri untuk saya. Tapi, syukurlah kalau Delisha baik-baik saja,” ungkap Elvira.


Ia sangat senang melihat anak-anak itu bisa saling bercengkerama dengan riang meski mereka semua harus menjalani takdir hidup dengan tanpa orang tua.


Rani mengikuti arah pandangan Elvira terhadap Delisha yang sedang tertawa riang.


“Dia di titipkan ke sini sejak baru lahir, ibunya meninggal dunia setelah melahirkannya dan ayahnya tidak diketahui keberadaannya.” Rani menjelaskan sedikit tentang asal usul ia menemukan Delisha.


Mendengar penuturan itu membuat mata Elvira berkaca-kaca karena ia jadi teringat tentang dirinya yang hampir sama dengan anak itu yaitu tidak pernah melihat sosok ibu yang telah melahirkannya.

__ADS_1


“Nak Elvira baik-baik saja?” tanya Rani yang melihatnya kini menjatuhkan air mata dan buru-buru mengusapnya.


“Saya tidak apa-apa, Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Bu.” Elvira segera berpamitan.


Saat ia sudah hendak masuk ke mobilnya, ponselnya berbunyi dan dilihatnya ada panggilan masuk.


“Halo, iya?"


"Elvira, ini aku, Raldy."


"Oh, ada apa, Kak?"


“Kamu lagi di kantor? Aku sedang dalam perjalanan ke sana, ada yang hendak aku bicarakan dengan kamu,” kata Raldy sembari menyetir mobilnya.


“Aku kebetulan sedang di luar, Kak.”


“Kalau begitu kamu di mana sekarang? Biar aku yang ke sana.”


“Oke, aku akan bagikan lokasi ku ke Kakak ya.”


Setelah menutup sambungan telepon, Elvira segera masuk ke mobilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di dalam kafe tersebut masih ada Anya yang duduk sendiri menatap ke arah depannya di mana sudah tidak ada lagi Gio karena sesaat sebelumnya tiba-tiba Gio mendapat panggilan telepon yang mengharuskannya segera pergi.


Anya pun segera berdiri dari kursinya lalu pergi ke kasir.


“Es Capuccino satu lagi. Di bungkus saja,” pinta Anya karena ia masih merasa haus.


Terdengar suara lonceng selamat datang saat seseorang membuka pintu utama kafe tersebut dan Anya sangat terkejut melihat Elvira yang datang, Anya tidak ingin bertemu dengannya lalu segera berpaling membelakanginya.


Sembari menunggu pesanannya selesai, Anya sesekali mengintip Elvira yang sudah duduk di salah satu meja yang terletak di pojok ruangan.


Tampaknya Elvira sama sekali tidak menyadari kehadiran Anya di sini, tapi keberadaan Elvira di tempat ini membuat Anya penasaran ingin tahu apa yang dilakukannya.


Tak berselang lama, seorang pria masuk ke kafe dan menghampiri Elvira, mereka terlihat akrab dan duduk berhadapan lalu memesan minuman.


Melihat Elvira yang sedang menemui seorang pria membuat Anya tersenyum sinis melihatnya dan hal ini sangat menarik baginya.

__ADS_1


“Ada apa Kak?” tanya Elvira.


“Kamu sudah dapat kabar dari Asty?” tanya Raldy balik.


“Hm, soal itu. Iya, selamat ya. Aku senang banget mendengarnya.”


“Ada satu hal yang ingin aku katakan sama kamu.”


“Apa Kak?”


Raldy lalu mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya di depan Elvira yang memperlihatkan sebuah gelang membuat Elvira mendelik heran.


“Ini untuk kamu,” ujar Raldy.


“Untuk aku?” Elvira yang masih terheran lalu mengambilnya dan memperhatikan benda tersebut, ia belum dapat mengartikannya.


“Aku hanya ingin mengatakan jika memang benar dulu aku menyimpan perasaan untuk kamu dan belum bisa mengungkapkannya hingga kamu menikah dengan pria lain. Dulu aku membeli gelang itu memang untuk kamu, selama dua tahun ini aku masih menyimpannya. Tapi kini aku ingin memberikannya saja kepada kamu untuk melepaskan kamu dari hatiku dan ingin memulai hubungan dengan kamu sebagai kakak dan adik,” ungkap Raldy.


Sedangkan Elvira tidak menyangka jika ia akan mengatakan hal ini.


“Aku ingin mengatakan semua yang pernah ku rasakan terhadap kamu agar tidak ada perasaan yang mengganjal lagi, aku ingin kamu tahu semuanya. Aku juga ingin kamu tahu kalau saat ini aku benar-benar sudah bisa melepaskan kamu dan akan memulai hubungan dengan kakak kamu. Aku tidak ingin ada kecanggungan.”


“Iya, Kak. Terima kasih ya sudah mau jujur kepadaku. Aku juga mau jujur sama Kakak, sebenarnya aku sudah tahu ini dari kak Asty dua tahun yang lalu. Namun saat itu aku sangat menginginkan agar kalian bisa bersama, kak Asty sebenarnya dari dulu suka sama Kakak. Hanya saja dia tidak pernah mau mengakuinya. Tapi tidak apa-apa, aku akan menerima ini sebagai hadiah karena Kak Raldy akan meminang kakakku. Mulai sekarang, aku akan jadi adik yang baik.”


“Baiklah.”


“Bersikap baik lah terhadap kakakku, jangan pernah menyakiti perasaannya,” pinta Elvira.


“Iya.” Raldy mengiyakan sambil tersenyum ke arahnya dan Elvira pun terlihat membalas senyumannya.


Pemandangan yang manis itu tentu saja tidak akan disia-sia kan oleh Anya yang masih setia menguntit mereka meski ia tidak bisa mendengar jelas apa yang sedang keduanya bicarakan.


Namun beberapa jepretan kamera ponselnya yang jelas sudah menangkap momen yang manis itu.


“Ya ampun, kena kamu sekarang, Elvira.”


Anya tersenyum puas sembari melihat foto-foto yang sudah ia dapatkan, foto yang nampak sangat manis seperti seorang pria yang sedang memberi hadiah perhiasan untuk perempuannya.


 

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2