Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 84-- Tamu Penyusup


__ADS_3

Hari kembali berganti, tapi Anya masih terus saja kepikiran tentang Asty. Ia merasa harus segera menemui perempuan itu untuk memperingatkannya.


Saat itu di gedung sebuah fakultas, Asty tampak mengobrol dengan Melody. Beberapa saat sebelumnya mereka tidak sengaja berpapasan lagi, dan Asty penasaran karena ia merasa belum pernah melihat Melody berada di fakultas yang sama dengannya.


Saat satu hari sebelumnya tidak sengaja bertemu dengannya, Asty belum sempat berkenalan dengannya karena ia saat itu sedang terburu pergi.


Ternyata setelah perkenalan singkat mereka, rupanya ditarik satu kesimpulan jika ternyata Melody yang merupakan dosen baru, turut mengajar di fakultas yang sama.


“Senang berkenalan dengan kamu, Ibu Melody. Perkenalkan, saya Asty.”


Asty memperkenalkan diri, seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Perempuan itu langsung menyambut tangannya.


“Senang berkenalan dengan Ibu Asty, mohon bantuannya ya. Soalnya saya masih baru di sini,” sahut Melody.


“Tentu saja. Kalau perlu sesuatu atau ada hal yang ingin ditanyakan, ruangan saya ada di kantor fakultas lantai tiga.”


“Iya Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Ada kelas soalnya,” pamit Melody dengan ramah.


Ia lalu berjalan santai sembari membawa beberapa rangkap buku di tangannya. Melody melihat-lihat ke sekeliling dan sesekali ia mendapat sapaan hangat dari para mahasiswa mau pun mahasiswi yang kebetulan turut melintas berpapasan dengannya.


Melody tersenyum senang merasa bagaimana rasanya menjalani kehidupan normal serta mendapat perlakuan hormat dan hangat dari orang-orang dengan memanipulasi sikapnya di depan orang lain.


...☘️☘️☘️...


Sementara itu, Asty yang tengah berjalan sendiri hendak menuju ruangannya tiba-tiba dicegat oleh Anya. Tatapan kemarahan dari Asty masih belum bisa Anya artikan karena apa, biasanya Asty selalu menyapanya lebih dulu dengan hormat dan ramah.


“Ada apa, Bu Anya?” tanya Asty yang sebisa mungkin bersikap biasa saja menutupi rasa marahnya.


“Entah apa pun hubungan kamu dengan Elvira, saya yakin waktu itu kamu sudah mendengar semua pengakuan saya dan hal itu sepertinya harus membuat kamu jadi turut mengetahui apa yang terjadi di keluarga Arkatama. Saya hanya memperingatkan, apa pun yang kamu lihat dan kamu dengar waktu itu. Anggap saja kamu buta dan tuli, anggap saja kamu sama sekali tidak mengetahuinya. Kamu mengerti kan maksud saya?” tanya Anya yang lebih terdengar seperti mengancamnya.


“Mengapa kamu melakukan ini kepadanya?” Asty bersuara di tengah pertahanan rasa amarahnya. Ia benar-benar tidak menyangka Anya bisa melakukan semua ini terhadap Elvira.


“Menurut kamu, apa saya harus menjawabnya? Semua yang saya lakukan sama sekali bukan urusan kamu.”


“Sebagai sesama perempuan, kenapa bisa kamu berbuat seperti ini terhadapnya. Kenapa kamu tega sekali.”


“Saya tidak perlu pendapat kamu ya. Pokoknya saya tidak mau kalau sampai ada orang lain lagi yang mendengar hal ini. Ya bukan apa-apa sih, ini kan menyangkut reputasi keluarga Arkatama. Elvira juga paham kok bagaimana dia harus bersikap demi menjaga nama baik keluarga suaminya.”


Puas memperingatkan, Anya pun segera berlalu pergi meninggalkan Asty yang masih tidak kuasa menahan kesedihannya setiap kali mengingat apa yang telah terjadi kepada adiknya.


Di sisi lain, Anya yang dari tadi berlalu darinya kini tiba-tiba kembali menengok ke arah Asty yang tampak masih terpaku kesedihan yang mendalam, hal itu membuat Anya menyimpan tanya dan menduga mereka pasti memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat.


Tapi Anya merasa dugaannya masih samar karena setahunya Elvira tidak memiliki keluarga lain selain keluarga Arkatama. Apa pun itu, kegelisahannya masih belum juga sirna sehingga Anya masih terus berpikir untuk mengendalikan perempuan yang saat ini dipandangnya.

__ADS_1


“Aku tidak akan membiarkan dia berani macam-macam,” gumam Anya, kemudian meneruskan langkahnya.


...☘️☘️☘️...


Beberapa saat kemudian, Anya sudah tiba di depan toko kue Bu Widya dan ia kembali mengingat sepertinya pernah melihat tempat ini. Sejak bertemu lagi dengan Asty, ia tidak bisa membuang begitu saja pikiran-pikiran terhadap Asty.


Berbekal informasi yang ia dapatkan dari pusat informasi di kampus, ia berhasil mendapatkan data tentang Asty.


“Bukannya ini tempat kemarin yang mereka berdua datangi? Jadi, ini kediamannya Asty?” tanya  yang terheran sendiri.


Tanpa pikir panjang, ia segera masuk ke dalam dan di sambut kalimat selamat datang dari salah seorang karyawan toko yang menyambutnya dengan ramah. Anya segera menghampirinya berlagak seperti pembeli walau ia sempat harus mengantri sebentar.


“Silahkan, Bu.”


“Maaf saya mau tanya, apa benar ini tempat kediamannya Asty Prastika?”


“Oh, iya benar, Bu. Ini toko kue milik ibunya mbak Asty. Ada yang bisa saya bantu?”ujar seorang perempuan muda yang memakai seragam kerja toko.


“Saya mau bertemu dengan ibunya, ibu Widya kan?” tanya Anya yang melihat nama serta logo toko.


“Ibu Widya ...”


Perempuan itu terlihat mengedarkan pandangannya ke beberapa arah mencoba mencari-cari keberadaan sang pemilik tempat tersebut yang biasa selalu ada hampir setiap hari disini.


Setelah menemukan keberadaan Widya yang baru datang ke area toko, perempuan itu langsung mengarahkan Anya.


“Oke, kalau begitu saya mau pesan ini.” Anya melihat-lihat daftar menu dan ia memilih yang akan dipesannya dalam jumlah yang cukup banyak agar kedatangannya tidak menimbulkan kecurigaan.


“Baik Bu, ditunggu ya.”


“Iya, saya akan menemui ibu Widya dulu.”


Tanpa ingin membuang waktu, Anya segera menghampirinya. Ia disambut dengan ramah oleh Widya yang segera mempersilakannya duduk di salah satu kursi khusus pelanggan toko setelah mendengar jika Anya ingin menemuinya.


“Ada apa ya?” tanya Widya.


“Kenal kan, Bu. Saya Anya, temannya Asty,” ungkap Anya berdalih.


“Oh temannya Asty?”


“Iya Bu. Nah saya kan sering dapat rekomendasi dari Asty mengenai kue-kue yang ada di toko ini. Jadi saya merasa berminat untuk membelinya, tapi saya jadinya sangat penasaran ingin bertemu dengan ibu langsung.”Anya tidak kehabisan cara untuk membuat dirinya bisa lebih akrab dengan Widya.


“Oh begitu, Asty memang ada sih pernah beberapa kali membawa teman-temannya ke sini. Tapi Ibu baru melihat kamu sepertinya.”

__ADS_1


“Kebetulan saya berbeda kantor dengan Asty, Bu. Jadi saya jarang sekali bisa ikut kumpul.”


“Oh iya, tidak apa-apa.”


“Mm ... Bu. Maaf sebelumnya, tapi apa saya boleh numpang ke toilet?”


“Oh, boleh. Kamu tinggal jalan lurus ke arah sana ya, nanti ada di sebelah kiri,” kata Widya sambil menunjuk ke sebuah arah.


“Permisi dulu ya, Bu,” pamit Anya.


Tanpa merasa curiga apa pun, Widya membiarkan saja perempuan itu segera berjalan ke arah belakang menuju bagian dapur.


Sedangkan Anya yang saat ini berdalih hendak ke toilet malah melihat-lihat tempat ini, ia jadinya merasa sangat penasaran tentang Asty yang bisa mengenal dan terlihat dekat dengan Elvira.


Bagaikan menjawab dari kecurigaannya, tanpa sengaja matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja panjang yang berdiri di salah satu sudut ruangan yang mengarah ke dapur.


Foto tersebut terpajang rapi di antara beberapa bingkai foto serta benda-benda hiasan meja lainnya.


Dalam bingkainya menampilkan dua orang perempuan berusia remaja dirangkul oleh seorang pria paruh baya yang tampak gagah dalam balutan keceriaan di wajah mereka.


Tanpa ingin menghilangkan rasa penasarannya, Anya mengambil foto tersebut mengamatinya lebih dekat dan benar saja ia merasa mengenali seseorang, yaitu wajah salah satu perempuan tersebut sangat mirip dengan Elvira walau Anya tidak tahu pasti kebenarannya.


Saat Anya kembali mengedarkan pandangannya ke berbagai sisi ruangan, ia melihat sebuah tangga yang mengarah ke lantai dua bangunan tersebut.


Seakan sudah hanyut dalam rasa penasarannya, Anya langsung saja menaiki anak tangga tersebut, ia tak ubahnya seperti penyusup dan berjalan mengendap-endap namun tanpa ragu segera sampai di lantai atas.


Dilihatnya di lantai ini semua benda perabotan tersusun rapi dan terlihat nyaman, Anya bisa menduga jika tempat ini dibuat sebagai ruang privasi bagi mereka.


Di salah satu dinding ruangan yang bernuansa modern ini, Anya terbelalak saat melihat banyak koleksi foto-foto keluarga mereka.


Hal yang paling membuatnya terkejut adalah terdapat foto-foto kebersamaan Asty dan Elvira, mulai mereka kecil, beranjak dewasa, hingga foto wajah Elvira yang paling jelas terlihat adalah saat Asty dan Widya tampak menemaninya berfoto ketika Elvira dengan cantik memakai toga di hari kelulusan sarjananya.


Melihatnya membuat Anya menyimpulkan jika ternyata memang benar Asty dan Elvira adalah kakak adik dan Elvira adalah anak pemilik toko kue ini.


“Jadi Elvira masih memiliki keluarga yang selama ini dia rahasiakan dari keluarga Arkatama? Pintar juga dia menyembunyikan identitas keluarganya, apa karena dulu takut tidak akan diterima keluarganya Daffin karena keluarganya hanya orang biasa? Apa pun itu, yang pastinya ini adalah informasi berharga.” Anya menggumam senang dalam hatinya.


 


Bersambung ...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2