Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 74-- Karena Cemburu


__ADS_3

Sakti menatap wajak Olla yang masih berpaling darinya.


“La,” panggil Sakti lagi untuk yang kedua kalinya, namun sepertinya tetap tidak mendapat tanggapan.


“Aku minta maaf kalau selama ini setelah pertengkaran kita waktu itu, aku tidak menghubungi kamu lagi. Aku benar-benar minta maaf,” ucap Sakti dengan penuh penyesalan,.


Masih saja tidak mendapat jawaban apa pun karena perempuan di sampingnya saat ini memilih bungkam.


Sakti menghela napas sejenak menenangkan diri, sepertinya ia memang sudah seharusnya menjelaskan saja semuanya.


“Sebenarnya setelah terakhir bertemu kamu waktu itu, papa aku sakit hingga akhirnya meninggal, La. Papa saat itu sudah lama bekerja untuk pak Wirawan, papanya Nevan. Setelah kepergian papa, keluarga mereka lah yang keluarga kami. Pak Wirawan mengirim ku ke luar negeri beberapa tahun untuk belajar bersama putra pertamanya, mendiang Daffin. Karena kebaikan keluarga mereka, aku tidak memikirkan apa-apa lagi selain mengabdikan hidupku untuk bekerja dengan mereka.”


Sakti menceritakannya dengan panjang lebar dan langsung mendapat perhatian dari Olla.


Terlihat raut kesedihan di wajahnya saat mengetahui cerita Sakti yang saat itu telah kehilangan sang papa. Olla merasa menyesal karena ia sudah membenci dan menuduhnya macam-macam.


“Maaf karena aku melupakan tentang kamu. Aku juga tidak menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir ini dengan bersenang-senang, melainkan hanya belajar dan sibuk bekerja. Sesekali aku pernah memikirkan kamu, aku berharap agar kamu selalu hidup bahagia dan melupakanku. Aku selalu berharap agar kamu bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku,” tutur Sakti lagi membuat Olla tak kuasa menahan kesedihan.


Saat ini matanya sudah berkaca-kaca tidak terima kalimat perkataan Sakti yang terakhir tadi yang seolah mengisyaratkan jika Sakti sudah melepasnya sepenuhnya dari kehidupan Sakti.


Tiba-tiba bunyi dering dari ponsel milik Sakti memecah suasana, Sakti segera memeriksanya dan ia mendapati sebuah panggilan dari nomor orang kantor yang tidak memungkinkan untuk ia tolak.


Sedangkan Olla yang masih sibuk menata hatinya segera membuang muka lagi sembari menyeka air mata di pelupuk matanya yang hampir jatuh.


"Halo, ya ada apa?" jawab Sakti, lalu ia mendengarkan perkataan dari seseorang di seberang telepon.


“Pak Nevan sedang keluar. Letakkan saja berkasnya di atas meja sekretaris, saya mungkin sebentar lagi akan kembali ke kantor,” kata Sakti yang berbicara dengan wibawanya.


Sementara kini Olla sudah terlihat bergegas untuk menuju pintu keluar kantor tersebut, Sakti merasa tidak bisa untuk menahannya karena ia masih mendengarkan perkataan lawan bicara via telepon.


“Loh, ibu Olla sudah pulang?” tanya Dara yang kebetulan melintas di sekitar sana dan ia melihat Olla sudah tidak ada lagi di tempat, sedangkan Sakti yang saat ini sudah menutup telepon hanya terdiam dan tampak murung.


“Saya akan langsung kembali ke kantor,” pamit Sakti lalu ia segera beranjak pergi begitu saja meninggalkan Dara sendiri yang menyimpan tanda tanya dalam kepalanya, apa yang sebenarnya baru terjadi.


...🍃🍃🍃...


Di sebuah toko perhiasan yang juga memiliki jasa untuk perbaikan perhiasan, saat ini Elvira sudah tampak sangat bersemangat bisa melihat kembali kalungnya yang telah selesai diperbaiki.


“Sepertinya kalung ini edisi terbatas, saya baru pertama kali melihatnya. Pasti harganya mahal sekali,” ujar sang pemilik toko yang merupakan seorang wanita paruh baya itu.


Elvira hanya memberi senyum simpul untuk menanggapinya, ia masih terfokus memeriksa setiap detail kalung tersebut yang ternyata sudah diperbaiki dengan sempurna sehingga Elvira puas dengan hasilnya.


“Mau aku bantu pakai kan?” Nevan menawarkan bantuan.


“Boleh.”


Lalu Nevan segera membantu memakaikan kalung tersebut sehingga kini sudah terpasang cantik di leher Elvira.


“Ini pemberian oma yang paling spesial, aku akan terus memakainya,” kata Elvira sambil tersenyum melihat pantulan dirinya di sebuah cermin kecil yang ada di atas lemari etalase.


Tiba-tiba pandangannya terpusat pada sepasang anting bentuk menjuntai yang sangat cantik dalam penglihatannya.


“Luka di telinga kamu bagaimana?” tanya Nevan.


“Masih belum sembuh total, sih. Ini saja sementara aku tidak memakai anting dulu,” jawab Elvira lalu kembali memandangi perhiasan yang dilihatnya tadi.

__ADS_1


“Kamu menginginkannya?” tanya Nevan yang mendapati arah pandangan Elvira.


“Menurut kamu bagus apa tidak?”


“Bu, yang itu,” pinta Nevan langsung tanpa menjawab pertanyaan Elvira.


Ia mengisyaratkan jika ia ingin minta diambilkan anting tersebut untuk diperlihatkan langsung di depan Elvira.


“Aku akan membelikannya untuk kamu,” kata Nevan lagi yang kali ini tampaknya bersikap manis kepadanya.


“Serius?”


Tanpa pikir panjang, Nevan langsung memproses pembayaran beserta upah perbaikan kalungnya. Elvira lalu memandangnya sembari berdecak kagum seolah ia sedang terpesona kepadanya.


“Perempuan manapun diluar sana pasti akan sangat senang jika pergi dengan kamu ke tempat seperti ini,” pujinya.


“Apa an sih?” ketus Nevan merasa risih mendapat tatapan seperti itu dari Elvira.


...🍃🍃🍃...


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berada kembali dalam mobil yang sedang melaju di kepadatan jalan raya kota.


“Nevan, terima kasih ya antingnya,” ucap Elvira yang masih suka memandangi benda tersebut yang masih belum bisa ia pakai.


“Sama-sama,” jawab Nevan datar di sampingnya masih fokus menyetir.


“Andai aku bisa memakainya sekarang. Gara-gara orang itu sih main rampas saja sampai telingaku terluka,” gerutu Elvira sebal mengingat kembali momen itu.


“Apa perlu ke dokter saja?”


“Tidak perlu.”


“Tidak kenapa-kenapa, sih. Takutnya ada yang memata-matai ku lagi seperti waktu itu.”


“Tapi yang ini lebih parah dari seorang yang sekedar memata-matai,” sanggah Nevan.


“Iya, tapi kan untungnya Gio seorang anggota polisi dan dia bisa menolongku. Kalau kamu melihatnya saat itu berkelahi melawan orang-orang itu, dia benar-benar hebat.”


“Oh ya?”


“Iya, tadinya aku agak trauma dengan seorang yang membawa senjata. Tapi ternyata ada juga ya pria dengan senjata tapi malah melindungi, contohnya seorang polisi.”


Elvira terus memujinya sembari terlihat menyimpan kekaguman membuat Nevan resah sendiri melihatnya dan kupingnya seakan terasa panas saat mendengar Elvira memuji pria lain saat bersamanya.


“Kamu tidak lupa kan kalau dia adalah kakaknya Anya?” Nevan kembali mengingatkannya.


“Mana mungkin aku lupa, tapi sepertinya dia belum mengetahui apa-apa.”


“Jangan terlalu dekat dengannya. Kamu kan tahu bagaimana perlakuan Anya ke kamu, dia mungkin bisa saja akan menyakiti kamu kalau tahu kamu mulai mengetahui tentang keluarganya.”


“Tapi aku rasa kakaknya harus mengetahui semuanya. Aku akan menemuinya lagi nanti,” pungkas Elvira.


“Jadi kamu berniat mau menemuinya lagi?”


“Iya.”

__ADS_1


“Untuk apa?” tanya Nevan terdengar protes.


“Sudah lah, kamu tidak perlu tahu lebih jauh. Lebih baik kamu tidak usah mencampuri urusanku,” pungkas Elvira.


Bagaimanapun juga ia tidak ingin adik iparnya itu turut repot-repot memikirkan permasalahannya. Namun tidak demikian bagi Nevan, perkataan Elvira tadi rasanya sungguh telah mematahkan hatinya yang merasa ingin terus menemani Elvira dalam segala hal.


Ia juga tidak mengerti dengan perasaannya yang kian hari semakin tersiksa karena ada suatu perasaan yang tak biasa untuk kakak iparnya itu.


Ditambah lagi mendengar Elvira yang tadi memuji pria lain saat bersamanya sungguh membuat api cemburu semakin menguasainya, hingga rasa kesal dan marah langsung menyeruak begitu saja terhadap Elvira yang sepertinya tidak pernah menyadari ketulusannya.


Tiba-tiba Nevan langsung membanting setir menepikan mobilnya yang segera berhenti di sebuah bahu jalan yang tampak sepi.


“Loh, kenapa berhenti disini?” tanya Elvira.


“Turun!” pinta Nevan membuat Elvira mengangkat alis saat menoleh ke arahnya.


Ia tidak mengerti perubahan sikap Nevan yang mendadak dingin terhadapnya.


“Kamu pulang lah sendiri, aku tiba-tiba ada urusan.” Titah Nevan yang kedua ini membuat Elvira semakin terheran.


“Apa? Kamu menurunkan ku disini?” tanya Elvira tidak percaya.


“Kamu tidak mendengar perkataan ku? Turun lah, kamu bisa naik taksi saja.”


Elvira hanya melongo menatapnya, detik berikutnya ia memejamkan mata sebentar menahan gejolak amarah yang mulai muncul.


“Aku buru-buru,” ujar Nevan mendesak Elvira.


Akhirnya Elvira segera melepas seat belt sembari memandangnya kesal, lalu segera turun dan membiarkan mobil Nevan segera melaju meninggalkannya sendirian di tepi jalan.


“Menyebalkan!” umpat Elvira kesal.


...🍃🍃🍃...


Nevan yang kini sudah melajukan mobilnya meninggalkan Elvira tampaknya sedang gelisah. Ia merutuki diri karena telah melakukan kesalahan besar terhadap Elvira, bagaimana ia bisa meninggalkan perempuan itu sendirian di jalan.


Kini ia yakin dengan sikap gegabahnya pasti akan menyisakan kemarahan di hati Elvira.


Betapa pun ia pikirkan, ia masih tidak bisa melepaskan Elvira dari rasa khawatir. Kini perasaan sesal itu membuncah, membuatnya segera membanting setir untuk memutar balik.


Namun beberapa saat kemudian saat sudah tiba di titik ia meninggalkan Elvira tadi, perempuan itu kini sudah tidak terlihat lagi. Nevan mengusap wajahnya dengan kasar betapa ia menyesalkan kelakuannya.


Nevan mengambil ponsel lalu menghubungi nomor telepon Elvira, terdengar beberapa kali bunyi nada sebelum mendapat jawaban. Nevan yang sempat cemas kini akhirnya bisa sedikit lebih lega.


“Kamu dimana? Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Nevan begitu panggilan terhubung.


“Aku tidak akan memaafkan kamu untuk ini,” celetuk Elvira yang kini sudah berada dalam sebuah taksi, lalu ia segera mengakhiri telepon.


 


Bersambung ...


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2