Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 71-- Gejolak Perasaan Elvira


__ADS_3

Malam itu sepulang dari kantornya, Elvira baru tiba di sebuah kafe bertingkat di pusat kota.


Saat ini ia akan meluangkan waktunya dan ia sudah janjian untuk bertemu dengan Olla yang sejak kemarin terus menerornya untuk meminta bertemu.


Tiba di lantai dasar kafe tersebut, Elvira mendapati Olla yang sudah sampai lebih dulu dan tampak menunggunya.


Melihat kedatangan Elvira, Olla langsung menariknya untuk segera duduk dan ia sudah memesankan banyak sekali makanan untuk mereka berdua.


“Kamu tidak boleh pergi sebelum menghabiskan semua ini!” titah Olla tidak menerima segala macam bentuk bantahan dari Elvira.


“Ya ampun, sebanyak ini?” Elvira mendelik heran melihat banyak menu makanan dan minuman yang sudah memenuhi meja.


“Harus habis! Aku tidak mau tahu pokoknya!” paksa Olla.


“Oke, siapa takut!” Elvira meladeni tantangannya.


“Dasar orang sibuk! Mentang-mentang ya sekarang, jadinya susah banget diajak ketemuan. Tidak tahu apa ada temannya yang lagi kangen berat setelah lebih dua tahun ditinggal kabur,” sindir Olla sembari memperhatikan Elvira meminum sebuah jus.


“Iya, iya. Maaf. Mau bagaimana lagi? Aku memang banyak kerjaan.” Elvira membela diri.


“Sudah jadi orang kaya malah tambah sibuk, bagaimana sih?” protes Olla.


“Dulu aku tidak sesibuk ini sebenarnya. Entah kenapa sekarang aku lebih suka menyibukkan diri. Bete kalau banyak waktu luang, aku malah jadinya banyak pikiran,” jelas Elvira.


“Ya, aku paham sih. Kamu pasti sudah banyak melewati hari-hari yang berat kan?” tebak Olla yang tahu tentang kesedihan Elvira setelah ditinggal suaminya untuk selamanya.


“Betul sekali. Hari ini saja terasa berat karena tadi aku hampir dalam bahaya, La!”


“Apa yang terjadi?” Olla tampak penasaran.


“Tadi aku ditodong orang pakai pisau! Tajam lagi! Ampun deh, aku hampir mati ketakutan rasanya.”


“Masa sih?”


“Telinga aku saja sampai terluka karena orang itu merampas antingku dengan kasar, nih lihat!” Elvira memperlihatkan bagian telinganya yang tengah ditempel plester medis setelah diobati oleh Dara tadi.


“Ya ampun , Ra! Sumpah ih, parah banget. Kayaknya para perempuan seperti kita harus menguasai ilmu bela diri deh.” Olla berargumen.


“Harusnya,” timpal Elvira.


Lalu mereka terdiam sejenak untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.


“Ra, kok bisa ya secara kebetulan begini setelah kita dipertemukan lagi, ternyata kamu selama ini malah cukup dekat dengan pria menyebalkan itu,” kata Olla tiba-tiba teringat Sakti, Elvira sudah menduga arah pembicaraannya ini.


“Entah lah. Apa perlu aku buat dia berlutut di hadapan kamu?” tanya Elvira seakan dengan gampangnya ia bisa melakukan hal itu untuk Olla.


“Apaan sih! Aku semakin galau, tau! Aku selama ini sudah berusaha banget untuk melupakannya, eh malah bertemu dengannya lagi. Tidak sengaja lagi, dua kali loh! Ternyata dia bekerja untuk perusahaan keluarga kamu? Dulunya asisten pribadi suami kamu kan? Kamu bayangkan saja, deh,” gerutu Olla sebal dengan keadaan.


“Begini deh, kamu pilih salah satu. Aku akan mempertemukan kalian lagi, aku akan menyuruh Sakti minta maaf sama kamu dan menyelesaikan urusan kalian yang mungkin belum selesai. Setelahnya, kamu sendiri yang putuskan. Mau lanjut memikirkannya? Atau melupakannya,” saran Elvira.


Bagaimana pun juga ia berniat untuk membantu temannya ini menyelesaikan urusannya, walaupun Elvira sendiri memiliki masalah tersendiri dalam hidupnya yang lebih rumit.


Saat ini ia melihat wajah Olla yang tampak bingung masih perlu berpikir keras atas saran yang telah diberikan oleh Elvira.


Sedangkan Elvira yang masih menunggu jawaban Olla hanya bisa sambil menikmati makanannya dengan lahap membuat Olla kesal sendiri, karena bisa-bisanya Elvira seperti menikmati hidup dengan santai seolah tanpa beban.


Tanpa Olla ketahui, di kepala Elvira pun kini masih bersarang banyak masalah, hanya saja ia terbiasa menyimpannya sendiri.

__ADS_1


...----------------...


Di kafe yang sama, di tempat berbeda yakni kini di sebuah lantai atas bangunan tersebut sudah ada Nevan yang terlihat mengobrol bersama dengan Melody karena sebelumnya Melody meminta waktunya untuk bertemu.


Sesuai dalih dari Melody, kalau ia masih ingin terus menjalin hubungan yang baik dengan Nevan meskipun kini hanya sebatas teman biasa.


“Nevan, aku sebenarnya sudah diterima loh jadi tenaga pengajar di kampus Arkatama,” ungkap Melody bersemangat.


“Oh ya?”


“Iya, aku pikir aku sepertinya tidak akan kembali lagi ke Paris. Jadi aku ingin meniti karir di sini sekarang, lebih dekat dengan mama. Secara sekarang papa lagi sakit,” curhat Melody.


“Ya tidak apa-apa, kamu kan lulusan salah satu kampus di Paris. Pihak kampus di sini tidak mungkin akan mengabaikan kamu begitu saja. Apalagi kamu mungkin punya keahlian tersendiri sebagai lulusan sana.”


“Hmm, kamu ya. Aku anggap itu sebagai pujian.”


“Ya terserah kamu mau menganggapnya sebagai pujian atau tidak. Anggap saja itu sebagai penyemangat kamu untuk meniti karir kamu disini.”


Mendengar perkataan menenangkan dari Nevan membuat Melody jadi terharu. Hal itu lantas membuatnya tiba-tiba memegang tangan Nevan, yang saat ini terletak di atas meja karena tadi ia sempat memegangi gelas minumannya.


“Nevan, terima kasih ya. Kamu baik banget, masih mau berteman denganku dan mau meluangkan waktu berharga kamu untuk menemuiku seperti ini. Aku benar-benar merasa senang memiliki teman seperti kamu,” ungkap Melody terdengar tulus.


Sementara Nevan hanya mengiyakan saja sembari terfokus melihat ke arah tangannya yang saat ini ditimpa tangan Melody.


Namun Nevan justru malah lebih terfokus melihat ke arah jam tangan yang ada di pergelangan tangannya, yang merupakan pemberian dari Elvira.


Ia merasa senang karena mengingat betapa ia lagi senang-senangnya memakai pemberian dari kakak iparnya itu.


...----------------...


Di lantai dasar kafe, Elvira masih sesekali memperhatikan Olla yang berpikir keras sejak tadi.


“Kamu lapar apa doyan?” tanya Olla tiba-tiba.


“Dua-duanya,” jawab Elvira.


“Kamu tidak takut gendut apa? Badan kamu sudah sangat bagus,” omel Olla.


“Kan kamu yang mengatakan aku harus menghabiskan semuanya, kapan lagi aku bisa menghabiskan uang kamu.”


“Iya sih, aku baru gajian, tau. Makanya mau traktir kamu sepuasnya. Besok-besok, siap-siap saja aku akan memoroti uang kamu, Ibu Elvira Arkatama yang terhormat.”


Mendengar perkataan Olla membuat Elvira terkekeh, ia teramat terharu karena setelah sekian lama baru kali ini merasakan bagaimana bahagianya ia kembali memiliki seorang teman yang satu frekuensi.


“Malah ketawa lagi, cengar-cengir, menyebalkan!”


“Jadi bagaimana? Mau bertemu dengan Sakti lagi apa tidak? Nanti bakal menyesal loh, kalau aku carikan perempuan lain untuknya,” goda Elvira.


“Elvira! Kamu memang sangat menyebalkan ya!” celetuk Olla sangat kesal tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.


“Sakti suka main ke kantorku, di sana banyak perempuan muda yang cantik-cantik, mungkin beberapa di antara mereka sudah mengenal Sakti dengan dekat.”


“Ra! Aku tabok pakai gelas, mau?”


Elvira tertawa melihat ekspresi kecemburuan dari wajah Olla. “Ya sudah, putuskan mulai sekarang. Biar masalah kalian selesai. Kalau pun seandainya sudah tidak bisa bersama, setidaknya kalian tidak akan saling terkait lagi.”


“Bagaimana ya? Aku bingung banget antara benar-benar membencinya, atau malah masih ada rasa sama dia.”

__ADS_1


“Makanya, kalian harus bertemu lagi untuk mencari jawaban dari pertanyaan kamu ini. Kamu jelas-jelas cemburu saat aku mengatakan akan mencarikan perempuan lain untuknya.”


“Tau ah, pusing. Kamu tunggu disini sebentar ya, aku akan pesankan makanan lagi,” ujar Olla yang kini berdiri dari kursinya.


“La! Yang ini saja belum habis!” protes Elvira.


“Sudah! Diam disini! Makin kamu banyak bicara, aku akan makin banyak memesan makanan untuk kamu.”


“Dasar!” ketus Elvira.


Olla segera berlalu pergi darinya untuk menghampiri meja kasir tempat memesan.


Sesampainya disana Olla terlihat sibuk memesan makanan ringan dan minuman tambahan, dan ia terlihat jeli memilih daftar yang ada di menu.


Namun tiba-tiba sebuah aroma wangi maskulin dari seorang pria tercium saat melintas di dekat Olla, dan membuat Olla mengalihkan perhatiannya menengok siapa yang baru saja melewatinya.


Terlihat punggung tegak dari seorang pria yang kini tengah berjalan dengan seorang perempuan, sembari mengobrol tampak akrab, berjalan menuju keluar pintu utama tempat tersebut.


Sesekali pria itu menoleh ke arah teman perempuannya dan terlihat wajah yang sepertinya tidak asing bagi Olla.


Otaknya laku berpikir keras untuk mengingat sesuatu dan tiba-tiba muncul sosok Nevan dalam pikirannya.


Jelas saja Olla mengenali wajah tampan pria itu karena ia sempat sangat grogi, ngeri sendiri melihat tatapan tajamnya saat berhadapan langsung kala itu, menyampaikan permohonan maafnya setelah membuat keributan di kantor Nevan.


“Ada tambahan lagi?” tanya seseorang di meja kasir, membuat Olla harus tetap bertahan pada posisinya. Hingga akhirnya kedua orang yang dilihatnya tadi sudah keluar pintu.


Olla pun bergegas kembali menemui Elvira.


“Ra!” panggil Olla mengejutkan Elvira yang sedang minum hingga ia hampir tersedak dibuatnya.


“Apa?” tanya Elvira heran melihat wajah Olla terlihat panik.


“Tadi kayaknya aku lihat adik ipar kamu, deh.”


“Oh ya? Terus?”


“Ra! Dia sama perempuan, kamu tidak tahu kalau dia ada memiliki pacar mungkin?” selidik Olla.


“Ya mana aku tahu, itu urusan dia.”


“Kamu benar-benar ya!”


“Kenapa sih sampai panik begitu?” Elvira terheran dengan tingkah Olla.


“Jelas panik lah, siapa yang rela pria tampan seperti dia sudah punya pacar.”


“Ya sudah, memangnya kenapa? Terserah dia lah.”


Olla langsung duduk di kursinya dan memandangi Elvira penuh selidik.


“Ra, aku penasaran bagaimana kamu bisa menata hati saat bersama dengan Nevan? Secara selama ini kalian mungkin sering bertemu kan? Masa iya sih, punya adik ipar setampan itu, kamu merasa biasa saja? Apa tidak ada gitu momen-momen kebersamaan yang mungkin membuat kamu berdebar saat bersamanya?” Olla bertanya seperti tidak bisa mengerem rasa penasarannya.


“Olla, apaan sih?!” Elvira merasa tidak nyaman karena Olla melemparinya pertanyaan seperti itu.


Jelas ada lah sesekali Elvira berdebar saat bersama dengan adik iparnya itu, bagaimanapun juga ia tetaplah perempuan normal yang memiliki hasrat kepada pria seperti Nevan.


Elvira bahkan menyadari saat ini jantungnya sedang berdebar karena tiba-tiba teringat momen ketika ia berada di pelukan Nevan, bahkan mereka sudah pernah berciuman.

__ADS_1


“Hwaaa!!!” teriak Elvira tiba-tiba berusaha membuyarkan pikirannya, sontak membuat Olla dan beberapa orang yang ada di sekitar mereka saat ini dibuat terkejut.


Bersambung ...


__ADS_2