Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 85-- Rencana Sang Perusak (Lagi)


__ADS_3

“Apa yang kamu lakukan disini?” Suara teguran Widya membuat Anya terkesiap saat mendengarnya.


Widya yang baru berada di sekitar sana merasa terkejut karena mendapati Anya sudah berada di tempat ini sembari memandangi beberapa bingkai foto yang terpajang rapi di dinding. Ia lalu memandang ke arah Anya dengan perasaan heran dan agak curiga.


Anya yang merasa dikejutkan oleh kehadiran Widya yang tiba-tiba memergokinya kini tertegun sejenak sembari memikirkan cara memberi alasan untuk mengelabui Widya, namun ia berusaha semaksimal mungkin untuk tetap bisa tenang.


“Maaf, Bu. Tadi saat saya hendak ke toilet, ternyata ada orang yang sedang menggunakannya.  Mungkin salah satu karyawan di sini. Saat melihat ada tangga mengarah ke lantai atas, saya langsung menaikinya, saya pikir akan mencari toilet di sekitar sini.” Anya menjelaskan.


Sedangkan Widya yang melihat tadi Anya menunjuk ke sebuah arah memang merasa tidak harus curiga berlebihan, karena tidak jauh dari mereka saat ini memang ada lagi pintu toilet khusus di lantai atas ini.


Walaupun sebenarnya tempat ini khusus bagi keluarga mereka, tapi Widya akhirnya memilih mengabaikan saja segala kekeliruannya.


“Maaf ya, Bu. Saya sudah lancang masuk ke sini,” ucap Anya terlihat menyesal memasang wajah polosnya. “Habisnya saya benar-benar kebelet.”


“Tidak apa-apa.”


“Maaf juga karena tadi saya sempat tertarik melihat foto-foto ini, ini foto-foto Asty lucu-lucu sekali ya. Apa ini foto adiknya?” tanya Anya menunjuk ke arah foto dengan wajah Elvira.


Merasa tidak ingin menanggapi, Widya terlihat hanya memasang senyum singkat. Hal itu membuat Anya merasa tidak nyaman sendiri karena telah menyinggung soal keluarga mereka, ia berpikir takutnya Widya malah curiga kepadanya.


“Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Bu. Terima kasih sudah mengizinkan saya tadi,” ucap Anya berpamitan.


Widya mengiyakan saja merasa tidak ingin menanggapinya lebih lanjut sehingga Anya segera beranjak melangkah untuk mengambil pesanannya serta melakukan pembayaran di meja terlebih dahulu.


Namun baru beberapa langkah ia meninggalkan Widya, Anya mendapati ponselnya berbunyi dan mengharuskannya segera menerima telepon tersebut.


“Halo ... Iya ada apa, Pak? ... Apa? Ibu masuk rumah sakit? ... Ya sudah, aku akan kesana sekarang ya, Pak.”


Wajah Anya langsung berubah panik sesaat setelah menerima telepon dari Arga dan hal itu turut menarik perhatian Widya.


“Ada terjadi sesuatu?” tanya Widya.


“Ibu saya masuk rumah sakit, saya harus segera pergi sekarang. Terima kasih ya Bu dan maaf soal tadi,” ucapnya. Lalu segera berpamitan dan nampaknya membuat Widya turut bersimpati.


...ꔛꔛꔛ...


Anya tampak tergesa menyusuri lorong sebuah rumah sakit masih dengan membawa tentengan tas belanja dari toko kue. Ia menyimpan kecemasan terhadap keadaan Rani yang saat ini pun belum ia ketahui bagaimana kondisi sebenarnya.


Tak berselang lama, Anya sudah tiba di depan sebuah ruang rawat dan di sana sudah ada Arga dan Gio yang datang lebih awal darinya.


“Sayang,” sapa Rani yang kini terbaring lemah di ranjang rawat.

__ADS_1


“Ibu kenapa? Ibu sakit apa?” tanya Anya yang masih cemas.


“Ibu tadi tiba-tiba jatuh pingsan, jadi langsung Bapak bawa saja. Untung sekarang sudah siuman.” Arga membantu menjelaskan.


“Terus apa kata dokter?”


“Tekanan darah ibu tiba-tiba menurun drastis, jadi sepertinya harus mendapat perawatan dulu di sini. Apalagi badannya juga panas,” jawab Arga.


“Ya ampun, kok bisa tiba-tiba, sih. Ibu jangan sampai kelelahan ya.”


“Ibu tidak apa-apa, Anya. Mungkin hanya perlu istirahat saja,” pungkas Rani.


“Ya sudah, Ibu istirahat saja ya sekarang.”


“Kamu habis belanja?” tanya Arga yang melihat tangan Anya masih menenteng belanjaannya tadi.


“Iya, Pak. Tadi kebetulan aku di toko kue, ini buat Ibu sama Bapak.”


Anya kemudian meletakkannya di sebuah meja. Ia melirik sebentar ke arah kakaknya yang tampak berdiam diri saja.


Anya duduk sebentar di samping ranjang rawat dan memegang tangan Rani, teringat akan kasih sayang dari Rani yang selama ini sangat tulus kepadanya. “Ibu cepat sembuh ya.”


...ꔛꔛꔛ...


“Tidak apa-apa, Anya. Ibu juga mau tidur saja rasanya, kepalanya Ibu pusing,” jawab Rani.


“Nanti aku akan ke sini lagi jenguk Ibu.”


“Iya, Sayang.”


Anya segera berpamitan. Namun sebelum ia keluar dari ruang rawat, Anya meminta Gio untuk bicara diluar dan Gio mengikut saja.


“Kak,” panggil Anya mencoba memulai pembicaraan ketika mereka sudah berada diluar ruangan.


“Apa lagi?” sahut Gio terkesan dingin terhadapnya.


“Aku titip ibu ya. Kakak kan lihat sendiri bagaimana kondisi ibu, aku harap Kakak tidak akan memberitahu semuanya soal aku.”


Gio masih terdiam merasa tidak ingin menanggapi perkataannya, Anya merasa sedikit sedih karena perubahan sikap kakaknya itu.


“Kak, aku mohon. Kehamilanku terus berjalan. Seiring berjalannya waktu, perutku akan membesar dan aku tidak akan bisa lagi menemui ibu sama bapak dalam kondisiku seperti itu. Tolong jaga mereka, dan aku akan baik-baik saja dengan hidupku.”

__ADS_1


Merasa masih tidak mendapat tanggapan dari Gio, Anya pun dengan berat hati akhirnya berlalu saja pergi meninggalkannya meski kepergiannya dilepas dengan tatapan dingin sisa kemarahan dari Gio.


...ꔛꔛꔛ...


Di kediaman keluarga Arkatama.


Dewanti masuk ke kamar Elvira dan melihat saat ini Elvira tengah bersiap karena malam ini Dewanti mengajaknya pergi bersama makan malam di luar.


“Oma?” sapa Elvira.


“Sudah siap? Kita pergi sekarang?” ajak Dewanti.


“Iya Oma.” Elvira segera mengambil tasnya lalu ikut berjalan menggiring Dewanti.


Saat langkah kaki mereka baru tiba di teras depan rumah, Meisya tiba-tiba menghampiri merasa penasaran karena Dewanti dan Elvira tampak rapi pergi bersama bahkan tanpa mengajaknya.


“Mama mau ke mana? Rapi sekali,” tanya Meisya basa basi.


“Mama ada acara di luar, kamu tidak perlu ikut,” jawab Dewanti.


“Ya ampun, terserah lah. Aku juga tidak akan ikut, apalagi harus pergi bersamanya.” Meisya berujar sembari memandang sinis ke arah Elvira.


Meisya yang kini melengos kesal pun akhirnya langsung kembali masuk ke dalam rumah.


“Bagaimana lagi aku harus mengatasinya,” gumam Dewanti dalam hati yang semakin heran dengan perubahan sikap Meisya yang dirasanya semakin menjadi-jadi.


“Sayang, biarkan saja dia. Ayo kita pergi sekarang,” ajak Dewanti begitu melihat Imam sudah membukakan pintu mobil untuk mereka.


Sementara itu di dalam rumah, Meisya duduk menyandarkan diri dengan perasaan yang masih kesal.


Sejauh ini hubungannya yang terasa sudah tidak harmonis dengan Dewanti masih belum teratasi karena Meisya yang tetap memilih enggan meluluhkan hatinya untuk Elvira.


Anya yang memandangnya dari kejauhan di sebuah sudut ruangan turut melihat Dewanti yang pergi bersama Elvira.


Melihat bagaimana reaksi kekesalan dari wajah Meisya membuat Anya tersenyum senang. Ia sudah memiliki sebuah informasi tentang Elvira yang bisa dijadikannya sebagai senjata untuk mendapat kesepakatan dengan Meisya.


“Bisa-bisanya Elvira telah membohongi keluarga ini. Lihat saja nanti saat rahasianya terbongkar, aku yakin oma dan ibu Meisya akan sangat marah. Hal itu pasti akan langsung membuatnya terusir dari keluarga ini. Langkahku akan semakin mudah meraih tujuanku,” gumamnya.


Lalu ia segera pergi mengalihkan pandangan dari Meisya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2