Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 57-- Masalah Lagi


__ADS_3

Meisya turut terkejut karena bertemu menantunya. “Kamu di sini?”


Detik berikutnya wanita itu melihat mobil yang dikemudikan oleh Imam sudah berhenti di depan Elvira.


Pria itu segera turun mengambil tas belanjaan yang ada di tangan Elvira untuk meletakkannya di bagasi mobil.


Alangkah terkejutnya Meisya saat melihat bagasi mobil tersebut sudah penuh sekali dengan banyak tas belanjaan dari berbagai macam merek.


Hal itu tentu saja membuat amarahnya kembali memuncak karena mengira Elvira masih bisa bersenang-senang dengan belanjaan yang sangat banyak.


“Astaga, aku benar-benar sudah muak dengan kelakuan kamu. Apa yang kamu perbuat terhadap putraku sudah keterlaluan. Bisa-bisanya kamu bersama pria lain, lalu hari ini juga pergi berbelanja menghamburkan uang putraku sesuka kamu, apa kamu tidak pernah memikirkan bagaimana putraku? Bagaimana dia yang membawa kamu hingga kamu bisa seperti sekarang!”


Meisya menghardiknya dan kesalahpahamannya hari ini kembali membuat Elvira semakin tersudut hingga apapun yang dilakukannya selalu dianggap salah.


“Ma, tidak seperti itu. Aku belanja untuk keperluan anak-anak panti.” Elvira mencoba menjelaskan, namun sepertinya Meisya tidak akan pernah bisa mempercayai pembelaan Elvira.


“Pak Imam, kamu pulang sekarang bawa semua belanjaannya ke rumah!” perintah Meisya namun pria itu terlihat bingung karena ia hari ini bertugas untuk Elvira.


“Tidak apa-apa, Pak. Pulang saja lebih dulu,” pinta Elvira. Imam langsung menurut saja dan segera membawa pergi mobilnya.


“Sini!” Meisya merebut tas milik Elvira.


“Ma!” Elvira mencoba protes melihat Meisya mengambil dompet dan ponselnya.


Ia hanya menyisakan tas itu dengan beberapa barang lain yang Meisya rasa tidak perlu ia ambil. Meisya menyerahkan kembali tas tersebut dengan kasar kepadanya dan ia bermaksud memberi pelajaran kepada menantunya itu.


“Kamu mau tahu bagaimana kamu yang sebenarnya tanpa cinta dan harta dari putraku? Tanpa ini--" Meisya menunjukkan barang-barang berharga milik Elvira yang kini ia sita. "Kamu hanyalah cangkang kosong yang tidak ada apa-apanya.”


Lalu Meisya dan Anya segera meninggalkannya untuk masuk ke dalam mall tersebut.


Sementara Elvira hanya berdecih kesal karena Meisya memperlakukannya seperti ini. Sekarang, ia merasa bingung harus bagaimana di saat barang-barang berharga dan terasa penting baginya sudah diambil.

__ADS_1


Meisya benar-benar membuatnya merasa jadi gelandangan hari ini, apalagi tanpa ponselnya ia bingung harus bagaimana. Ia tidak habis pikir jika Meisya bertindak sejauh ini untuk menghukumnya.


Elvira coba melihat-lihat di sekitar area mall untuk mencari taksi yang kosong akan tetapi ia tidak menemukannya hingga akhirnya ia memaksakan diri untuk berjalan kaki saja.


...----------------...


Beberapa saat kemudian, Elvira sudah membawa kakinya cukup jauh berjalan hingga kini ia tiba di area khusus pejalan kaki di tepi jalan raya yang sedang dipadati aktivitas lalu lintas.


“Mama Meisya memang keterlaluan. Baiklah, dulu aku juga sanggup berjalan jauh seperti ini.” Elvira menggerutu sendiri sembari terus berjalan walau kakinya sudah mulai terasa lelah dan agak sakit karena ia sedang memakai sepatu hak.


Tapi dari tadi ia perhatikan, belum juga ada terlihat taksi kosong yang melintas di sekitar sini.


Beruntung di cuaca yang terik saat ini tidak membuatnya kepanasan karena di area jalan ini masih banyak dihiasi oleh pepohonan rindang yang dapat menghalau sinar matahari yang menyengat.


Elvira tak ubahnya seperti seorang yang sedang luntang Lantung di tepi jalan apalagi saat ini ia tidak memiliki uang sepeserpun, walau dari semua yang ia kenakan di badan mulai dari dress, sepatu, perhiasan serta tas jika diuangkan ia akan bisa membeli sebuah unit apartemen mewah yang dipasarkan oleh perusahaan keluarganya.


Elvira lalu melirik ke sebuah tas yang dipegangnya saat ini, mungkin kah ia akan menjualnya yang seharga ratusan juta itu untuk mendapatkan uang? Elvira menghela napas dengan kasar betapa saat ini ia sedang terdesak masalah keuangan hanya untuk bisa kembali ke kantornya.


“Arghh, aku hampir kehilangan akal!” rutuknya pada dirinya sendiri yang sangat frustasi karena saat ia masih saja merasa bergantung dengan uang.


Saat ini perutnya sudah mulai bernyanyi karena merasakan lapar dan haus karena sudah berjalan cukup jauh dari area mall hingga sampai ke jalan ini.


Merasa cukup lelah, Elvira pun akhirnya melihat sebuah bangku besi yang menganggur di tepi jalan, ia segera memutuskan pergi ke arah sana namun tiba-tiba tidak sengaja kakinya tersandung dan membuatnya terjatuh dan hanya bisa menggerutu kesal.


Hingga akhirnya ia sudah bangkit dan berhasil untuk duduk sejenak beristirahat di bangku tersebut melepas lelah. Elvira lalu memeriksa bagian kakinya dengan melepas sepatu haknya dan melihat kakinya tampak sedikit memerah akibat tersandung, ia pun memijat di bagian yang terasa sakit.


Saat itu di tengah kepadatan lalu lintas, Nevan sedang melempar pandangan ke arah luar jendela mobilnya yang melintas di jalan tersebut. Nevan langsung mendelik begitu menyadari sepertinya ia melihat sosok Elvira yang sedang duduk di bangku pinggir jalan.


“Kak Elvira?” Nevan masih terus menyorotkan pandangannya ke arah sana bahkan saat mobil yang dikemudikan Sakti sudah melewatinya.


“Ada apa?” tanya Sakti yang menyadari Nevan tampak resah celingak-celinguk sendiri di belakang.

__ADS_1


“Aku sepertinya tadi melihat kak Elvira di pinggir jalan itu.”


“Masa? Mana mungkin lah dia bisa berada di sana, kamu salah lihat mungkin.”


“Tidak mungkin, aku jelas melihatnya, "ujar Nevan.


“Ya ampun, coba kamu telepon dia deh untuk memastikan,” saran Sakti.


Nevan langsung menurutinya dan segera mengambil ponselnya. Setelah beberapa saat, panggilannya tersambung.


“Halo?” jawab suara perempuan tapi Nevan langsung tahu jika itu bukan suara dari kakak iparnya.


“Mama? Kenapa Mama yang menjawab teleponnya?” tanya Nevan.


“Hp Elvira dalam sitaan Mama sekarang, Mama tadi bertemu dia di mall dan Mama menyita semua barang berharga miliknya untuk memberinya pelajaran,” ujar Meisya.


“Maksud Mama? Apa yang Mama lakukan?”


“Nevan, kamu harus tahu kalau Elvira baru saja ketahuan menemui pria lain dan mereka pasti memiliki hubungan khusus dan Oma menduganya sudah berselingkuh selama ini. Tadi ketemu Mama di mall, dia malah berfoya-foya menghamburkan uang dengan banyak belanjaan. Makanya Mama sita saja hp serta dompetnya. Mungkin dia sedang luntang Lantung di jalanan karena tidak memiliki sepeserpun,” jelas Meisya dengan nada mengomel mengingat tentang Elvira.


“Ma, Mama kenapa melakukan itu?”


“Untuk menghukumnya! Mama akan kirimkan bukti foto-foto Elvira kepada kamu biar kamu tidak selalu berpihak kepadanya!” Meisya segera menutup teleponnya.


“Sakti, putar balik ke arah jalan depan mall tadi,” perintah Nevan.


“Memangnya itu benar Bu Elvira ya?” tanya Sakti yang kini langsung menuruti perintah Nevan.


“Sepertinya.” Nevan lalu menerima sebuah pesan berupa foto-foto yang dikirim oleh Meisya kepadanya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2