Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 72-- Kunjungan


__ADS_3

“Ra! Kamu kerasukan atau kenapa?” tegur Olla.


Elvira buru-buru mengambil minumannya dan segera meminumnya dengan tidak sabar. Ia merasa agak malu karena sempat mengalihkan perhatian orang-orang di sekitar.


“Aku tiba-tiba saja teringat sesuatu yang membuatku trauma!” ungkap Elvira.


“Maksudnya?”


“I-iya, adalah pokoknya. Aku benci mengingatnya karena itu dapat membuat jantungku berdetak lebih cepat! Bahaya kan?”


“Ih, kok ngeri ya. Terus apa hubungannya? Aku kan tadi bertanya mengenai Nevan?” selidik Olla lagi yang belum puas menginterogasinya.


“Olla, sudah. Jangan membahasnya lagi! Dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri dan dia juga begitu sebaliknya. Akan jauh lebih baik baginya jika dia sudah memiliki seseorang dalam hidupnya.”


“Loh kenapa?”


“Ya, bagus. Biar ada yang bisa menjaga hatinya. Kalau perlu, dia sebaiknya segera menikah karena dia sering menggangguku dan suka membuatku kesal!” ketus Elvira.


“Oh ya?” Olla mengernyit menatapnya dengan penuh kecurigaan.


“Kenapa menatapku seperti itu?”


“Mm, hati kamu benar-benar kokoh. Aku jadi penasaran pria mana nanti yang akan sanggup menaklukkan hati kamu lagi.”


“Apa yang kamu pikirkan?”


“Ra, seiring berjalannya waktu. Kamu pasti akan segera melupakan mendiang suami kamu, kan? Kamu masih muda, aku masih mau melihat kamu menikah lagi nantinya dan aku harus melihat kamu bahagia dengan pasangan kamu. Kamu tidak berpikir akan sendiri selamanya kan?”


“Entah lah. Menjalani kehidupanku sekarang saja terasa rumit, “ ungkap Elvira.


“Rumit bagaimana?”


“Banyak hal yang harus ku urus sekarang,” pungkas Elvira.


...🍃🍃🍃...


Di kediaman keluarga Arkatama.


Sepulang dari kafe, Elvira yang sudah bergantian pakaian tidur menyempatkan waktu untuk duduk bersama Dewanti di sebuah ruangan sembari menonton sebuah tayangan televisi.


Ia menceritakan kepada Dewanti tentang apa yang dialaminya hari ini dan membuat Dewanti merasa sangat khawatir akan keadaannya saat ini selepas kejadian itu.


“Tapi kamu tidak kenapa-kenapa kan sayang? Ya ampun, kamu pasti sangat ketakutan ya saat itu.”


“Untungnya aku tidak apa-apa, Oma.”


Elvira tetap bertekad tidak akan memberitahu Dewanti mengenai luka di bagian telinganya karena ia tahu Dewanti pasti akan sangat panik saat mengetahuinya.


“Maaf ya Oma, kalung pemberian Oma harus rusak karena aku tidak bisa menjaganya. Tapi Nevan sudah membantu mengantarnya ke tempat perbaikan.”


“Tidak apa-apa, Sayang. Terus siapa orang yang telah menolong kamu itu?” tanya Dewanti penasaran.


“Dia pria yang ternyata anggota polisi, Oma.”

__ADS_1


“Oh ya? Oma ingin bertemu dengannya, Oma mau berterima kasih kepadanya karena sudah menolong kamu,” pinta Dewanti tiba-tiba.


Diluar dugaan Elvira ternyata Dewanti malah ingin bertemu dengan Gio. Elvira sudah sedemikian rupa merangkai kata menceritakan kejadian tersebut tanpa ketahuan jika ia memang dengan sengaja ke tempat itu untuk menemui Gio.


“Apa itu perlu, Oma? Aku sudah berterima kasih kok kepadanya,” bantah Elvira dengan halus.


“Dia tidak tahu betapa berjasanya dia, pokoknya kamu cari tahu tentang dia ya. Oma ingin memberinya hadiah.”


“Iya Oma.” Elvira terpaksa mengiyakan saja.


Ia jadinya merasa menyesal kenapa tadi harus menceritakan kejadian ini kalau tahu reaksi Dewanti yang ternyata meminta bertemu dengan Gio.


“Oh ya, Oma. Tadi ada seorang petinggi polisi yang menitip salam untuk Oma, aku bertemu dengannya saat di kantor polisi. Kalau melihat nama yang ada di seragamnya, namanya Bapak Hasto Prawira.”


“Oh, Pak Hasto? Jelas Oma mengenalnya sejak dulu. Elvira, apa mungkin seorang yang kamu maksud tadi adalah salah satu bawahannya Pak Hasto?”


“Mm, iya Oma.”


“Bagus lah kalau begitu. Nanti biar Oma yang menghubungi pak Hasto untuk bertemu dengan, kamu tahu siapa nama pria itu?” tanya Dewanti tiba-tiba.


“Namanya Gio, Oma.”


“Nah, itu. Nanti Oma akan minta bantuan pak Hasto untuk bisa bertemu dengannya. Oma juga sudah lama rasanya tidak bertemu pak Hasto, sekalian nanti Oma juga ingin bertemu dengannya,” pungkas Dewanti yang tidak bisa mendapat sanggahan lagi dari Elvira.


...🍃🍃🍃...


Hari ini Elvira dan para karyawannya kini tengah melakukan kunjungan ke panti asuhan Pelita Bunda milik ibu Rani.


Mereka sudah dibantu oleh beberapa orang pengurus panti  di sana untuk mendekorasi sebuah aula pertemuan sedemikian rupa agar menarik perhatian dan bisa menyenangkan anak-anak di sini.


Ini adalah bentuk program kerja ke sekian kalinya yang Elvira dan para karyawannya lakukan selama masa kepengurusannya dan ia bertekad akan tetap terus melakukan hal seperti ini sesuai keinginan dari Dewanti.


“Nak Elvira,” sapa Rani yang kini menemuinya.


Kebetulan Rani melihat Elvira tersenyum sendiri saat memandangi wajah anak-anak yang tengah bergembira saat bermain di sebuah halaman belakang panti asuhan tersebut.


“Eh Ibu.”


“Ibu sangat tidak menyangka Nak Elvira ini ternyata ketua yayasan Mentari Kasih yang sekarang ya. Suatu kehormatan bagi Ibu bisa bertemu kamu secara langsung, tapi kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu adalah anggota keluarga Arkatama?”


Elvira hanya melempar senyum simpul saat menanggapi pertanyaan dari Rani, baginya, ia tidak perlu memberitahu siapa dirinya yang sebenarnya. Semenjak mengalami peristiwa menyakitkan dalam hidupnya, orientasi hidup Elvira seakan ikut berubah.


Jika dulu ia berusaha sendiri agar orang-orang mengenalinya, namun sekarang tujuan hidupnya hanyalah menjalani hidup sebaik mungkin dengan banyak menebar kebaikan dan kebahagiaan untuk orang lain, hal itu secara langsung juga memberikan kebahagiaan tersendiri untuknya untuk tetap bertahan menghadapi segala permasalahan dalam hidupnya.


Pandangannya tiba-tiba teralihkan merasa tertarik saat melihat sebuah bangunan di area belakang rumah ini yang sepertinya belum terselesaikan.


“Maaf Bu, saya jadi penasaran dengan bangunan di sana. Itu untuk apa ya?” tanya Elvira dan Rani mengikuti arah pandangannya.


“Oh, itu. Sebenarnya itu tadinya mau Ibu bikin rumah baca yang lebih luas, soalnya perpustakaan di dalam terlalu sempit dan tempatnya sudah tidak cukup lagi untuk menampung koleksi buku-buku yang ada. Kasian anak-anak juga harus berdempetan kalau lagi mencari buku di sana.” Rani menjelaskan.


“Oh begitu, kira-kira masih lama ya selesainya?” tanya Elvira lagi penasaran.


“Hm, sebenarnya pembangunannya sementara terpaksa harus terhenti, Nak. Karena jumlah dana dari para donatur belum cukup untuk melanjutkan.”

__ADS_1


“Mm ... Saya bisa bantu, Bu.”


“Benar kah, Nak Elvira?” tanya Rani memastikan terlihat bersemangat.


“Iya, Ibu ajukan saja proposal ke kantor saya ya. Nanti akan saya masukkan ke daftar program kerja saya,” pinta Elvira yang langsung mendapat anggukan kepala dari Rani.


Ia begitu semringah sekaligus terharu karena ia merasa sangat beruntung bisa dipertemukan dengan orang seperti Elvira.


“Nak Elvira. Mau minum teh bersama Ibu?” ajak Bu Rani.


“Boleh, Bu.” Elvira langsung setuju.


Rani mengajaknya ke ruangannya yang biasa ia gunakan untuk mengurus terkait catatan administrasi di panti. Sambil menunggu seseorang yang telah Rani minta membuatkan teh untuk mereka, Elvira terlihat berjalan-jalan di sekitar ruangan tersebut. Sampai akhirnya ia menemukan bingkai berisi foto-foto yang terletak di atas sebuah lemari pajang.


Elvira mengambil sebuah bingkai foto berukuran kecil yang memperlihatkan wajah Anya dan Gio yang berfoto bersama Rani dan seorang pria paruh baya yang tidak Elvira kenali.


“Ini foto anak-anak Ibu, yang ini suami Ibu yang sekarang masih bekerja di luar kota.” Rani menjelaskan setelah menghampiri Elvira yang seperti tertarik melihat foto tersebut.


“Kamu pasti mengenali anak Ibu yang perempuan ini kan? Dia adiknya Gio,” ujar Rani lagi.


“Iya Bu.”


“Nak Elvira, bagaimana anak Ibu disana? Apakah dia baik-baik saja di sana? Apa dia bersikap baik?” tany Rani yang penasaran.


Secara selama ini dia merasa sudah berusaha mendidik anak-anaknya dengan baik dan tentunya dengan curahan kasih sayang, layaknya seorang ibu yang melahirkannya. Untuk itu penting baginya mengetahui bagaimana anak-anaknya mengambil sikap saat bersama orang lain.


Elvira terdiam sejenak berpikir, bagaimana ia akan mengatakan yang sebenarnya, sementara Rani begitu baik.


“Maaf ya Nak Elvira, Ibu banyak bertanya. Yah, namanya juga perasaan seorang Ibu yang selalu mengkhawatirkan anak-anaknya. Ibu berharap dia selalu bisa mengamalkan petuah yang sering Ibu berikan agar selalu bersikap baik terhadap siapa pun.”


Mendengar ungkapan perasaan dari Rani membuat Elvira semakin tidak kuasa untuk mengatakan kelakuan Anya yang sebenarnya, rasa empatinya bergejolak saat melihat betapa seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Elvira tidak akan sanggup mematahkan hati Rani jika harus mengetahui perbuatan Anya.


“Dia bersikap baik, Bu,” jawab Elvira tiba-tiba.


“Benar kah?” seutas senyuman tersungging begitu saja dari bibirnya saat mendengar pernyataan dari Elvira.


“Iya.”


“Anya itu anak yang penurut, dia juga anaknya ceria dan terkadang suka bawel. Terutama sama Ibu, meski kami kadang tinggal berjauhan, tapi dia selalu menyempatkan waktu ke sini menjenguk Ibu dan memberi perhatian kepada Ibu,” tutur Rani mengenang putrinya.


“Iya Bu.” Elvira hanya bisa berkata singkat.


Ia tidak tahu harus bagaimana menanggapinya karena menurutnya apa yang diceritakan oleh Rani berbanding terbalik dengan sikap dan perbuatan Anya terhadapnya.


Elvira merasa benci kepada dirinya sendiri mengapa ia sampai jadi tidak tegaan terhadap seorang yang hatinya baik seperti Rani. Padahal ini kesempatannya untuk membuat keluarga Anya tahu yang sebenarnya.


“Permisi, Bu. Ini tehnya.” Suara dari seorang perempuan yang datang dengan membawakan minuman memecah keheningan.


“Mari Nak Elvira, silahkan,” ajak Bu Rani dan mereka segera duduk bersama.


Elvira segera mencari pembahasan lain mengenai keingintahuannya dengan kegiatan rutin anak-anak disini.


 

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2