Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 62-- Berkunjung Ke Perusahaan


__ADS_3

Saat itu di kediamannya, Melody yang baru pulang dengan menenteng banyak tas belanjaan, langsung mendapat reaksi omelan dari Hannah--sang mama.


Merasa malas melihat wajah Hannah yang siap menyerangnya dengan banyak celotehan, Melody langsung melepas tentengan belanjaannya. Ia segera duduk di sofa sembari memainkan gawai.


“Ya ampun Melody! Selain bermalas-malasan, apa hanya ini yang bisa kamu lakukan?!” celetuk Hannah dengan matanya yang melotot, ke arah putrinya itu.


“Terus Mama mau aku melakukan apa lagi? Memang hanya ini hal yang paling aku senangi. Jalan-jalan, berbelanja, dan tiduran di rumah,” jawab Melody dengan santai.


“Ya minimal kamu mau lah bantuin Mama di perusahaan, Mama sudah sekolahin kamu tinggi-tinggi sampai keluar negeri. Lalu untuk apa kalau bukan membantu mengurus perusahaan papa kamu!” omel Hannah.


“Mama kan tahu dari dulu aku tidak pernah tertarik mengurus perusahaan, aku hanya ingin menjalani hidup dengan santai dan tanpa beban! Aku tidak suka memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang.”


“Melody! Kalau kamu seperti ini terus, kapan kamu akan berubah sih?!Mau sampai kapan kamu seperti ini terus? Bantu lah Mama, keuangan perusahaan kita sekarang mengalami penurunan,” curhat Hannah yang kini duduk di samping putrinya dengan wajah penuh beban.


Melihat raut wajah mamanya, membuat Melody sedikit bersimpati.


“Terus, Mama mau aku membantu apa? Selain mengurus perusahaan ya! Aku tidak mau!”


“Ya paling tidak kamu jangan terlalu boros,lah. Terus, kamu tidak bosan apa tanpa kegiatan seperti ini? Mama mau kamu bergaul dengan teman-teman kamu seperti dulu, setidaknya kamu ada kegiatan biar kamu tidak merasa bosan,” saran Hannah.


“Iya sih, apalagi sering berada di rumah seperti ini melihat pria tua itu. Benar-benar membuatku bosan,” ujar Melody yang tiba-tiba melihat di sebuah sudut ruangan ada Tora yang sedang duduk di kursi roda ditemani seorang asisten rumah tangga yang membantunya makan.


Melody melengos kesal sembari meletakkan ponselnya di atas meja. Dulu ia masih bisa menghormati Tora, waktu Tora masih berjaya dan terus bisa memenuhi keinginannya. Namun sekarang saat melihatnya dalam keadaan lemah seperti itu, Melody merasa tidak memerlukannya lagi.


Sejak kepulangannya dari rumah sakit, kondisi Tora sudah tidak bisa normal lagi seperti dahulu, setelah dinyatakan dokter mengalami stroke. Jangan kan berjalan, untuk berucap saja ia rasanya mengalami kesusahan.


“Bagaimana pun dia kan tetap papa tiri kamu, dia dulu juga sangat sayang sama kamu seperti dia menyayangi Suci.”


“Ma, aku tidak pernah mau berbagi kasih sayang dengannya! Jelas sekali lah pria itu sangat menyayangi putri kandungnya yang sudah tiada itu. Aku rasa juga aku sepertinya tidak terlalu membutuhkan sosok papa dalam hidupku, apalagi kalau tahu sekarang perusahaannya mulai bangkrut.”


“Melody!” Suara Hannah memekik, sang punya nama yang mendengarnya sedikit tersentak.


“Sudah lah, Mama tenang saja. Aku akan memikirkan untuk mencari kegiatan, Mama puas sekarang?”


“Iya, tapi ingat, jangan boros lagi. Barang-barang bermerek kamu kan sudah sangat banyak, kita harus sedikit berhemat saat ini.” Hannah mengingatkannya.


“Iya, Ma. Harusnya aku tetap memacari pria kaya saja biar tidak perlu memikirkan harus berhemat,” ketus Melody kesal.


“Baik lah, lakukan saja.”


“Mama mau menantang ku?”


“Terserah kamu lah.” Hannah berucap, masa bodoh dengan kehidupan percintaan putrinya itu.


Setelah meninggalkan Melody, Hannah lalu menemui suaminya itu. Ternyata pria itu sedang memandang pilu ke arah sebuah foto, yang terpajang rapi di sudut meja.


Sebuah bingkai foto, yang menampilkan wajah dari mendiang istrinya serta putrinya yang sangat dicintainya. Terlihat dalam foto itu, mendiang Suci yang masih berusia remaja.


Hannah merasa kesal, ia merasa suaminya masih belum bisa melupakan kedua orang tersebut. Meski dulu kehadirannya di tengah keterpurukan Tora yang saat itu baru kehilangan istrinya, mampu membuat rona kebahagiaan bagi hidup Tora.


Nyatanya Hannah juga tak lantas mampu, mendapatkan hati dan cinta suaminya seutuhnya.


Seiring waktu kehidupan pernikahan mereka berjalan, Tora selalu saja masih suka mengenang Mega, mendiang istrinya. Ia terkadang suka membandingkan Hannah dengan sosok Mega yang bersahaja, berhati lemah lembut, serta selalu membanggakan Mega yang merupakan wanita cerdas yang mampu memimpin perusahaan mereka kala itu.


...🌿🌿🌿...


Elvira terlihat suntuk berada di ruangannya. Dilihatnya kini di samping dinding salah satu sudut ruangannya, sudah tersusun banyak tas belanjaan yang waktu itu ia beli, setelah tadi sebelumnya meminta Imam untuk mengantarkannya kemari.


Elvira berpikir untuk menyerahkan nanti saja, saat acara kunjungan mereka ke panti asuhan Rani, sudah ditetapkan tanggalnya.


Tiba-tiba tanpa sengaja matanya melirik ke arah sebuah dinding, yang memperlihatkan sebuah lukisan yang diberikan Nevan waktu itu. Ia lalu teringat makna tentang lukisan tersebut, yang waktu dibeberkan oleh Nevan.


“Benar, entah dalam keadaan sedih atau pun senang, aku bertindak atau hanya berdiam diri saja seperti ini, waktu akan terus berjalan dan memaksaku terus bergerak,” gumamnya sendiri.

__ADS_1


Mengingat tentang Nevan, Elvira jadi teringat sesuatu dan membuatnya menepuk jidatnya sendiri saat mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan benar saja, sebuah kartu kredit milik Nevan masih saja setia berada bersamanya.


Elvira berpikir beberapa hari ini ia mungkin terlalu sibuk, sampai lupa mengembalikan kartu milik Nevan tersebut. Padahal hari ini itu Nevan sudah menolongnya, bahkan ia sampai rela menyerahkan salah satu barang mahal miliknya.


Elvira tersenyum sebentar, saat mengingat sosok pria itu. Detik selanjutnya ia segera mengambil tasnya, dan segera pergi dengan mobilnya.


...----------------...


Beberapa saat kemudian, Elvira menghela napas sejenak saat baru tiba di depan gedung kantor ini lagi. Terakhir kali ia mendatangi suaminya waktu itu kesini, mereka dalam keadaan mengalami konflik batin.


Tidak ada yang berubah dari gedung ini, melainkan hanya suasana yang kini masih saja ramai, oleh orang-orang yang sibuk berlalu lalang. Mereka melakukan aktivitas masing-masing, di bawah langit yang tampak ceria hari ini.


Elvira segera masuk dengan menenteng sebuah goodie bag berisi bingkisan yang dibawanya, seperti biasa ia mendapat sambutan dari beberapa orang.


Elvira menolak untuk ditemani ataupun dikawal, hingga akhirnya ia sudah tiba di ruangan Nevan.


“Siang,” sapa Elvira dari kejauhan arah pintu ruangan, namun terdengar jelas dalam pendengaran Nevan dan Sakti.


“Bu Elvira?” Sakti yang terbelalak melihat siapa yang mengunjungi mereka hari ini, langsung gelabakan menyambut kedatangannya.


Sedangkan Nevan yang mengetahui kedatangan Elvira tanpa pemberitahuan, segera menghentikan aktivitas pada komputernya.


Kehadiran perempuan itu mampu membuat keduanya, dengan sigap melepas pekerjaan mereka seketika. Hanya untuk menyambut kedatangannya, menganggap yang datang kali ini adalah tamu yang sangat penting dan disegani.


“Bu Elvira, silahkan.” Sakti mengiringinya dan segera membereskan beberapa tumpukan dokumen, yang saat ini hampir memenuhi meja tamu.


“Kalian sedang sibuk bekerja? Apa kedatanganku mengganggu?” tanya Elvira, yang melihat kini Nevan sudah turut menyambutnya.


“Tidak,” jawab keduanya kompak.


Elvira melirik lagi tumpukan dokumen tersebut dan tahu jika mereka berbohong.


“Tidak apa-apa, lanjutkan saja. Jangan terlalu berlebihan menyambut ku, aku hanya ingin main sebentar saja. Kalian sudah makan siang?”


“Ya ampun, ini sudah lewat jam makan siang loh! Harusnya tadi aku membawakan kalian makan siang. Tapi aku hanya membawakan minuman dan camilan untuk kalian, kalau begitu aku akan pesankan kalian makan siang sekarang.”


Elvira segera mengambil ponselnya untuk membuka sebuah aplikasi pesan antar makanan.


“Di sekitar gedung ini ada banyak sekali jenis tempat makan yang bisa didatangi,” ujar Sakti memberi kode, barangkali Elvira akan mengajak mereka keluar makan siang bersama.


“Aku tahu kalian sedang sibuk, kalau harus keluar perlu waktu banyak." Tampaknya perempuan itu tidak peka. "Jadi akan ku pesankan saja. Kalian mau makan apa?” tanya Elvira.


Namun ia mendapati Nevan dan Sakti, tampak saling memandang. Keduanya seakan berbicara melewati mata mereka, entah apa yang sedang mereka isyaratkan.


“Aku hanya berkunjung sebentar, mau mengembalikan kartu kredit kamu.” Elvira lalu menyerahkan kartu tersebut kepada Nevan dan Nevan langsung menyambutnya.


“Maaf ya aku baru saja ingat mengembalikannya, dan terima kasih untuk waktu itu,” ucap Elvira dengan tulus.


Nevan mengiyakan sembari duduk di sofa, kini diikuti oleh Elvira yang memberinya sebuah hadiah.


“Apa ini?” tanya Nevan begitu menyambut sebuah kotak kecil yang terlihat elegan dari tangan Elvira.


“Ini untuk mengganti jam tangan kamu waktu itu,” ujar Elvira.


Ia bersemangat melihat reaksi antusias Nevan, saat membuka dan melihat isinya. Ternyata sebuah jam tangan mewah.


Sebelumnya, Elvira sengaja mampir ke sebuah toko jam tangan bermerek pria untuk membelikannya.


“Wah, wah.” Sakti berdecak kagum saat melihatnya.


Memang tidak sama persis dengan jam tangan Nevan yang harus melayang waktu itu. Akan tetapi yang ini justru lebih bagus, sepertinya terlihat lebih mahal.


“Tidak perlu terkagum seperti itu, aku membelinya memakai kartu kredit kamu,” kata Elvira.

__ADS_1


Sontak menarik perhatian keduanya, hingga sukses membuat wajah Nevan terlihat kesal seketika.


“Aku hanya bercanda!” gurau Elvira yang membuat Sakti tertawa.


Sementara Nevan yang masih tidak bisa berkata-kata, hanya melengos kesal dibuatnya. Ia merasa sudah sangat ingin terharu, tapi Elvira malah tiba-tiba membuatnya kesal.


“Maaf ya, habisnya wajah kamu sangat serius seperti itu. Kamu pasti tegang karena sedang banyak pekerjaan ya,” tebak Elvira yang sepertinya enggan ditanggapi oleh Nevan.


“Aku jadi iri, kamu sering dapat hadiah dari Bu Elvira,” kata Sakti tiba-tiba terdengar cemburu.


“Untuk kamu, nanti akan ku traktir makan,” sahut Elvira, yang sukses membuat Sakti sangat senang. Namun mendapat guratan ekspresi kecemburuan dari Nevan.


Ia menunjukkannya dengan menghentakkan kotak kecil tersebut ke atas meja, Elvira dan Sakti tersentak.


“Aku lapar!” Nevan berdalih.


“Tuh kan, aku sampai lupa kalau tadi aku akan memesankan makanan untuk kalian. Untuk sementara makan ini dulu ya sembari menunggu pesanannya.”


Kehadiran Elvira yang tiba-tiba berkunjung kesini, rupanya memberi kebahagiaan sendiri bagi mereka.


Meski Elvira kadang terkesan cuek dan jutek terhadap keduanya, namun tidak ada yang lebih pengertian dan perhatian dari Elvira kepada mereka sejauh ini. Hal itu yang menimbulkan rasa nyaman tersendiri, saat mereka bisa bersama Elvira.


...----------------...


Beberapa saat kemudian, di depan gedung Arkatama, kini sudah ada Olla bersama direkturnya yang sedang berjalan masuk ke lobby utama. Mereka sepertinya baru saja meloloskan diri dari pemeriksaan keamanan, bagi pengunjung kantor.


Hingga akhirnya mereka sudah bisa memasuki lift, karena hari ini ada janji temu dengan Nevan, untuk sebuah kerjasama.


Sementara itu, Elvira yang sudah merasa cukup waktunya untuk berkunjung kesini, segera ingin berpamitan.


“Aku rasa aku akan pergi sekarang ya,” pamit Elvira, setelah memastikan kedua pria yang kini dianggapnya sebagai saudara itu, sudah menyelesaikan makan siang mereka.


“Cepat sekali, kamu bahkan sangat jarang berkunjung kesini,” sahut Nevan yang merasa masih belum rela, jika Elvira akan segera meninggalkan ruangannya.


“Aku sudah dari tadi di sini, lagi pula aku sudah memastikan kalian makan dengan baik. Lain kali jangan sampai telat lagi makannya!” Elvira mengingatkan setengah mengomel, namun terdengar penuh perhatian bagi keduanya.


“Masih ada satu minuman lagi yang belum ku habiskan,” ujar Nevan, ia memperlihatkan sebuah minuman di hadapannya.


“Saya juga,” timpal Sakti.


“Apa kalian harus menungguku memperhatikan dulu, baru akan menghabiskannya? Cepat habiskan! Aku akan pergi sekarang.”


Elvira segera pergi meninggalkan mereka. Keduanya hanya bisa diam menatapnya berjalan menjauh, dan segera menghilang di balik pintu.


“Nevan, kamu sadar tidak sih kalau bu Elvira sekarang jadi lebih suka mengomel?” tanya Sakti.


“Dia memang suka mengomeli ku sejak dulu,” sahut Nevan. Sama seperti Sakti, masih belum mengalihkan pandangannya dari arah pintu.


“Itu karena kamu juga suka mencari gara-gara dengannya! Dia mengalami hari-hari yang mungkin sangat berat, ditambah sekarang kehadiran Anya di rumah yang sepertinya hendak memperkeruh hubungannya dengan mama kamu.”


“Entah lah, kalau bukan karena oma, dia mungkin sudah tidak ingin lagi tinggal di rumah.”


Tiba-tiba ponsel Sakti berbunyi, menghentikan obrolan mereka. Sakti segera menjawabnya, sepertinya panggilan penting.


Sementara itu, Elvira yang kini sudah di depan pintu sebuah lift, masih terlihat menunggu hingga pintunya terbuka.


Namun seketika jantung Elvira seperti tertembak, saking terkejutnya. Ia terkesiap setelah pandangannya bertemu dengan Olla, seketika banyak kenangan bersama mereka terlintas begitu saja.


“Elvira?!” Olla membelalakkan matanya.


“Hwaa!!!”Seketika Elvira langsung berlari, tampaknya mau menghindarinya seraya berteriak seperti orang yang sedang ketakutan setengah mati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2