Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 99-- Kegusaran Anya


__ADS_3

Elvira yang baru kembali ke kantor setelah tadi mengantarkan Dewanti pulang ke rumah, usai pertemuan di tempat Widya. Kini sedang disibukkan dengan tumpukan dokumen yang memerlukan pemeriksaan serta persetujuan darinya.


Tiba-tiba ponselnya berdering yang membuatnya harus mengalihkan perhatian dari dokumen yang saat ini sedang diperiksanya.


Dilihatnya sebuah nomor telepon asing yang tidak pernah tersimpan di kontaknya, Elvira merasa malas untuk menjawabnya. Namun setelah beberapa detik layar ponselnya dipadamkan, kini panggilan dari nomor yang sama kembali masuk.


“Halo,” jawab Elvira dengan malas.


“Perlu berapa kali memanggil agar kamu menjawabnya.” Suara seorang perempuan yang familiar jelas terdengar di seberang sana.


“Anya?!” Mata Elvira sudah membulat mengenali suara tersebut, perasaannya mulai tidak nyaman seketika.


“Bagaimana pertemuan antar keluarga tadi? Pasti mengharukan ya? Pertemuan antar keluarga untuk membina hubungan yang baik, oh, manis sekali.”


“Bukan urusan kamu!” pekik Elvira.


“Tapi sepertinya ibu kamu belum tahu apa-apa ya tentangku?”


“Apa maksud kamu?”


“Ya aku pikir aku belum memberitahunya tentangku, aku yakin hal yang satu ini harusnya tidak boleh terlewat kan. Bukan kah harusnya ibu Widya juga tahu kalau suami kamu akan memiliki anak dariku? Aku jadi penasaran bagaimana tanggapannya.”


“Apa yang kamu pikirkan?!” sergah Elvira yang saat ini sudah sangat geram dengannya.


Dalam benaknya juga menyimpan kekhawatiran bagaimana jika seandainya Widya mengetahui perihal Anya, Widya pasti akan sangat marah dan sedih.


Belum lagi saat ini Widya dan Dewanti sudah membina hubungan yang baik sebagai keluarga, Elvira tak bisa membayangkan jika Widya tahu semuanya.


Entah apa yang akan terjadi, ia tidak ingin persoalan ini jadi semakin runyam. Ia bahkan tidak tega untuk memberitahu Widya mengenai yang sudah terjadi dengannya selama ini.


“Kamu tahu kan apa yang menjadi mau ku? Aku hanya ingin membuat kesepakatan.”


“Kesepakatan apa?”


“Kamu sendiri pasti tahu apa yang harus kamu lakukan.” Anya langsung mematikan sambungan telepon setelah puas membuat perasaan Elvira jadi gelisah.


Sedangkan saat ini, Elvira yang mulai gusar kembali meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar.


...๑๑๑...


Elvira baru pulang ke rumah dengan wajah tampak lesu dan terlihat penuh beban pikiran. Ia hanya berjalan dengan pandangan hampa sembari terus terlihat melamun, hal itu dilihat oleh Dewanti duduk di sebuah sofa ruangan; sepertinya sedang menunggunya.


“Elvira!” panggil Dewanti, seketika Elvira mengerjap tersadar dari lamunannya.


Ia mencari sumber suara dan saat menengok ke samping sudah ada sambutan seutas senyuman Dewanti dari kejauhan.

__ADS_1


“Sini, Sayang.”


“Iya, Oma."


Elvira segera berjalan kesana dan langsung diarahkan Dewanti untuk duduk di sampingnya.


“Kamu pasti cukup lelah ya baru pulang dari kantor?” tanya Dewanti penuh perhatian. “Banyak pekerjaan ya?”


“Mm, tidak juga, Oma.” Elvira langsung memasang senyum simpul.


“Sayang, terima kasih ya karena telah mau kembali ke keluarga ini,” ucap Dewanti lega sembari memegang kedua tangannya.


“Iya Oma, terima kasih juga karena Oma sangat menyayangiku seperti ini.”


“Elvira, Oma mohon. Kamu terima semua hak kamu ya, Oma tidak ingin saham sebanyak ini jatuh ke tangan orang yang salah. Sayang, Daffin sudah memilih kamu dan Oma rasa kamu memang sudah seharusnya mendapatkannya.”


Dewanti segera mengambil sebuah dokumen yang ada di atas meja dan menyerahkannya kepada Elvira.


Elvira menyambutnya dan masih tampak memikirkan sesuatu. Ia yakin inilah yang sedang diincar Anya selama ini. Detik berikutnya Elvira mengambil pena dan menandatangani dokumen tersebut di atas meja.


“Aku melakukan ini untuk Oma.” Elvira berujar.


“Iya sayang, tapi mengenai perempuan itu ....” Dewanti menahan ucapannya tampak bingung ketika mengingat tentang Anya.


“Tapi Elvira.”


“Tidak apa-apa, Oma. Anggap saja ini bentuk terima kasih ku kepadanya karena telah menyelamatkan nyawaku waktu itu, walaupun dengan ini mungkin tidak sebanding dengan semua pengorbanannya.”


“Elvira, sudah ya. Kamu tidak perlu menyimpan perasaan seperti ini terus, yang sudah terjadi bukan karena kesalahan kamu. Kita harus ikhlas menerima semuanya.”


“Iya, Oma.”


...✿✿✿...


Setelah selesai bicara dengan Dewanti, Elvira saat ini sedang berada di depan pintu sebuah ruangan. Ia mengetuk beberapa kali hingga terdengar suara seseorang di dalamnya memberi izin untuk masuk.


Elvira segera membuka pintu dan masuk. Di dalamnya sudah ada Anya yang tampak sedang duduk bersantai di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel.


“Kamu?” Anya tersentak lalu melepas ponselnya melihat siapa yang saat ini masuk ke kamarnya.


Elvira menambah beberapa langkahnya untuk lebih mendekat ke arah Anya.


“Berani sekali masuk ke sini.” Anya berbicara seolah melupakan siapa dia di rumah ini.


“Kamu lupa statusku di rumah ini? Atau sengaja melupa?” tanya Elvira.

__ADS_1


Anya tersenyum sinis lalu memandang Elvira dengan tatapan menantang.


“Bagaimana? Kamu sudah memikirkan kesepakatan yang ku inginkan? Kamu pasti sangat tahu, kalau aku ingin mendapat tempat di rumah ini.”


“Kamu ingin dapat tempat disini? Tentu saja, atas izinku. Kamu akan tinggal disini sampai kamu melahirkan dan anak kamu, aku akan memberinya bagian dari hak ku dan akan menganggapnya sebagai anakku.”


“Apa?” Anya langsung berdiri dan mendekat ke arahnya seolah tidak terima.


“Itu bukan sebuah kesepakatan!” Anya menentangnya.


“Bukan kamu yang berhak mengaturku! Tapi kamu yang harus mengikuti kehendak ku!” tegas Elvira.


“Kamu berani macam-macam dengan ku?”


“Kamu kan yang menginginkan hak untuk anak kamu? Oke, akan ku berikan setelah dia lahir. Aku hanya bisa memberikan posisi untuk anak kamu di rumah ini, tapi tidak dengan kamu. Kalau kamu juga menginginkan hak untuk kamu, ini namanya serakah.”


Anya yang merasa tidak terima jika harus menyerahkan anaknya begitu saja, kini langsung mengangkat tangan hendak melayangkan tamparannya. Tapi tangannya langsung ditangkap Elvira dengan sigap yang tak kalah penuh amarah darinya.


“Kamu tidak akan bisa mengancam ku dengan apapun, kini semua saham milik mas Daffin sudah resmi menjadi milikku. Berani kamu macam-macam dengan ku, akan ku pastikan kamu dan anak kamu tidak akan mendapatkan apa-apa. Kebaikan ku tergantung bagaimana sikap kamu!” pungkas Elvira seraya melepas tangan Anya dengan kasar.


Lalu segera meninggalkan Anya yang masih penuh dengan kegusaran.


...✿✿✿...


Anya masuk ke kamar Meisya bahkan tanpa mengetuk dan permisi terlebih dahulu. Hal itu membuat sang pemilik kamar seperti mendapat sebuah kejutan.


Meisya yang tampak sedang duduk di meja riasnya menyisir rambut, langsung menghentikan aktivitasnya. Ia memandang dengan malas melihat sikap Anya yang sepertinya sudah kehilangan rasa sopan dan hormat kepadanya.


“Ada apa?” tanya Meisya judes.


“Apa maksudnya, anak saya akan diserahkan kepada Elvira?” tanya Anya langsung ke intinya.


“Ya memang sudah seharusnya seperti itu. Itu kan anak Daffin, biar Elvira yang akan menjadi ibunya nanti,” jawab Meisya dengan santai.


Detik berikutnya, Meisya lalu bangkit dari duduknya dan berjalan beberapa langkah untuk mendekat kepada Anya.


“Kamu hanya perlu melahirkan anak itu, lalu berikan hak asuh kepada Elvira. Calon pewaris di keluarga ini harus menjadi anak dari menantu sah di keluarga ini,” ujar Meisya lagi.


“Lalu bagaimana dengan saya?”


“Kamu? Apalagi yang kamu inginkan? Kamu hanya akan jadi ibu yang melahirkan anak itu. Orang-orang tidak ada yang boleh mengetahui hal ini. Teruslah berada dibalik bayang-bayang Elvira. Orang-orang hanya mengetahui Elvira yang menjadi menantu sah di keluarga ini, kamu mengerti kan maksud saya? Sadar diri sedikit lah tentang posisi kamu.”


Meisya berucap seakan tidak ada beban, tanpa ia tahu saat ini Anya sudah meradang karena merasa tidak terima penghinaan semacam ini.


Bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2