Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 91-- Pengakuan


__ADS_3

Elvira menghela napas sejenak, pernyataannya baru saja tentu saja dipikir sebuah pembelaan dari kebohongannya selama ini. Elvira memandang lagi ke arah Widya yang saat ini hanya terdiam.


Bagaikan sudah terlanjur basah, ya mandi sekalian. Elvira merasa terbantu karena Anya sudah repot-repot menyiapkan momen ini untuknya meski ia tahu tujuan perempuan itu sebenarnya ingin merusak acara malam ini.


“Dia ... adalah ibu yang selama ini membesarkan ku.” Elvira melanjutkan perkataannya yang belum terselesaikan.


Pernyataan itu ternyata langsung mendapat reaksi dari Widya yang kini tertegun menatapnya. Elvira menyadari tatapan penuh tanya itu.


“Ya, Bu. Aku sudah tahu semuanya, aku mendengar semua penuturan Ibu waktu itu.” Elvira berucap seolah paham dengan pertanyaan yang ada di benak Widya saat ini.


“Elvira, apa yang terjadi?” Dewanti menanyainya tak kuasa menyimpan rasa penasaran.


“Maaf kan aku, Oma. Aku menyimpan kebohongan tentang keluargaku selama ini. Saat itu aku baru tahu kalau ternyata ibu Widya yang selama ini ku pikir ibu kandungku ternyata bukan lah wanita yang melahirkan ku.” Elvira menahan perkataannya karena matanya sudah berkaca-kaca mengingat hal itu.


“Mengetahui asal usul ku yang lahir dari hasil hubungan gelap ayahku bersama wanita lain membuat hatiku sangat hancur,” ungkapnya, ia hanya bisa tertunduk menahan sesak di dada saat menceritakannya.


“Di tengah rasa putus asanya hidupku, mas Daffin datang menawarkan segala kebahagiaan. Tapi aku tidak sanggup mengungkapkan tentang keluargaku. Saat itu aku hanya berpikir untuk bisa pergi dari keluarga ku sendiri yang selama ini menganggap kehadiran ku sebagai duri dalam hidup mereka. Aku hanya selalu takut jika keberadaan anak haram sepertiku tidak bisa diterima orang-orang. Aku benar-benar minta maaf karena telah membohongi kalian.” Elvira tak kuasa lagi menahan air matanya sembari menuturkan semuanya penuh dengan penyesalan.


Elvira lalu memandang pilu ke arah Widya.


“Tapi diluar dari itu semua. Aku meninggalkan Ibu bukan karena aku benci, aku hanya tidak sanggup membayangkan penderitaan Ibu saat melihatku. Ibu harus tahu, mau bagaimanapun perlakuan Ibu terhadapku selama ini, aku tetap selalu menyayangi Ibu ... maaf kan aku,” ucap Elvira mengungkapkan perasaannya terhadap Widya yang saat ini hanya bisa tertegun sembari menahan air matanya.


“Apa?! Jadi selama ini kamu telah menipu kami semua?!” Meisya langsung bangkit dari kursinya.


Lalu dengan perasaan marah segera menghampirinya. Elvira yang menyadari tatapan itu langsung turut beranjak dari kursinya dan menghadap Meisya penuh dengan rasa pasrah.


“Maaf kan aku, Ma,” ucap Elvira lirih.


Plakk....


Sebuah tamparan keras langsung Meisya layangkan di pipinya dengan penuh amarah mengagetkan semua orang yang ada di ruangan, tentu saja terasa sangat perih bahkan mungkin akan menyisakan rona merah di pipi Elvira yang kini hanya bisa terdiam menerimanya.


“Keterlaluan kamu! Beraninya kamu membohongi kami! Kamu menipu putraku, kamu sudah merenggut semua miliknya bahkan nyawanya!” pekik Meisya penuh dendam.


“Meisya!” tegur Dewanti yang hendak turut berdiri.


Namun tertahan karena tiba-tiba Dewanti tak mampu lagi berucap karena saat ini merasakan sesak dan sakit di dadanya, sontak membuatnya memegangi dadanya. Sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.


“Oma!” teriak Nevan yang langsung bergegas menghampirinya diiringi Sakti.


Melihat keadaan Dewanti yang sukses membuat semuanya panik, tanpa pikir lagi kedua pria itu pun segera membawanya keluar dari ruangan menuju rumah sakit.


“Lihat semua yang telah kamu lakukan! Aku tidak akan mengampuni kamu kalau terjadi sesuatu pada oma!” Meisya memperingatkannya, lalu segera mengajak Anya untuk turut bergegas ke rumah sakit.


...༄༄༄...


Acara makan malam berantakan, kekacauan yang telah terjadi kini hanya tersisa keheningan setelah momen kehangatan lenyap seketika.

__ADS_1


Semuanya meninggalkan ruangan membawa Dewanti, tersisa Elvira dan Widya saling berdiam diri dalam satu tempat.


Elvira kembali duduk dengan lesu, sedangkan Widya terlihat masih bergulat dengan perasaannya yang turut tak karuan.


Elvira menutupi wajahnya menangis penuh penyesalan yang mendalam. Meski ia merasa sudah puas mengungkapkan semua rahasianya selama ini, namun di sisi lain pikirannya juga tidak bisa terlepas dari rasa takut dan khawatir terhadap keadaan Dewanti.


Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya dan mengusap dengan penuh kelembutan. Elvira langsung memegang tangan itu dan menggenggamnya dengan erat.


“Maaf kan Ibu,” ucap Widya dengan lirih.


Betapa ia tak kuasa menahan kesedihan saat menyadari bahwa Elvira ternyata sudah mengetahui semua rahasia yang selama ini harusnya ia simpan rapat.


Meski selama ini ia merasa membenci kehadiran Elvira, namun ia juga tak menampik kadang kala ada kebersamaan mereka yang membuat hatinya sedikit luluh.


Selama ini Widya hanya menginginkan Elvira bisa hidup dengan bahagia bersama keluarga barunya ini, akan tetapi melihat apa yang baru saja terjadi dan bagaimana nasib Elvira setelah ini, Widya tidak sanggup menahan kesedihannya.


“Kalau saja Ibu tidak datang ke tempat ini.” Widya menyesalkan yang telah terjadi.


“Semuanya bukan salah Ibu. Aku memang berniat memberitahu mereka, namun sepertinya takdir memintaku harus mengungkapnya di sini.”


“Elvira.” Widya lalu membelai wajahnya dan mengusapkan air mata yang telah membasahi pipinya.


“Kamu adalah putri Ibu, tidak peduli kamu lahir dari rahim siapa. Maaf kan Ibu ya atas sikap Ibu selama ini terhadap kamu. Karena sikap Ibu, kamu akhirnya memilih jalan hidup sendiri hingga kamu harus mengalami semua ini,” ucap Widya penuh sesal karena merasa selama ini ia telah menyia-nyiakannya. Apalagi saat ini ia sudah bisa berdamai dengan masa lalunya.


Tanpa ingin berkata, Elvira langsung memeluk pinggang Widya yang masih berdiri di samping kursinya. Tangan Widya langsung mengusap rambutnya.


“Kamu tidak apa-apa kalau harus melepaskan semua ini?” tanya Widya yang kini kembali membelai wajahnya.


Elvira mengangguk. “Aku masih punya Ibu dan kak Asty.”


...༄༄༄...


Elvira berjalan sambil menggandeng Widya di depan bangunan restoran tersebut. Melihat sebuah taksi yang melintas di depan jalan, Elvira langsung memberhentikannya.


“Ibu pulang saja dulu ya,” pinta Elvira yang mengantarnya sampai di depan mobil taksi.


“Lalu bagaimana dengan kamu?”


“Aku harus melihat keadaan oma terlebih dahulu, Bu. Oma adalah orang yang sejauh ini paling menyayangiku, terus terang aku sangat takut jika terjadi sesuatu pada oma. Apalagi ini semua gara-gara aku.”


“Kamu jaga diri kamu ya, kalau begitu Ibu pergi dulu,” pamit Widya yang kini masuk ke mobil.


...༄༄༄...


Sementara itu di sebuah ruang VIP rumah sakit.


Nevan dan Sakti masih tampak berdiri terpaku melihat Dewanti yang saat ini terbaring di ranjang rawat dengan selang oksigen yang terpasang di alat pernapasannya setelah mendapat penanganan dari dokter.

__ADS_1


Sedangkan Meisya dan Anya kini turut berada dalam ruangan terlihat duduk sembari sesekali memperhatikan ke arah Dewanti.


Nevan mengusap wajahnya dengan kasar mengingat kembali keterangan yang disampaikan oleh dokter yang menangani Dewanti tadi yang mengatakan jika Dewanti mengalami serangan jantung, beruntung saja keadaannya masih bisa tertolong.


Dokter juga memperingatkannya untuk tetap menjaga kondisi Dewanti agar menghindarkan dari hal-hal yang mampu memicu kemungkinan terjadi serangan jantung lagi kepadanya, karena itu sangat tidak akan baik bagi jantungnya.


“Nevan, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sakti terdengar linglung meratap kondisi Dewanti saat ini.


Ia masih merasa terkejut dan tidak percaya apa yang baru saja terjadi setelah acara makan malam yang harusnya menjadi momen bahagia keluarga malah berujung seperti ini.


“Entah lah,” jawab Nevan singkat turut merasakan hal yang sama.


“Nevan, Mama pulang dulu ya,” pamit Meisya tiba-tiba yang diiringi Anya di belakangnya bagai perangko.


“Iya, Ma.”


“Jagain Oma, ya,” pinta Meisya terdengar lirih.


...༄༄༄...


Saat sudah berjalan di sebuah lorong, Meisya dan Anya tiba-tiba bertemu dengan Elvira yang sepertinya hendak menuju ruang rawat Dewanti.


Elvira tahu mereka pasti akan membawa Dewanti ke rumah sakit ini karena ini adalah rumah sakit terbaik dan sudah menjadi langganan keluarga mereka.


“Masih berani kamu menunjukkan diri disini?!” celetuk Meisya.


“Ma, bagaimana keadaan oma? Aku ingin melihat oma.”


“Oma tidak akan pernah mau bertemu kamu. Kamu tahu apa yang terjadi dengan oma? Oma kena serangan jantung, dan itu gara-gara kamu!”


“Apa? Oma,” lirih Elvira yang kini hendak langsung berlari mencari ruangannya namun seketika ditahan oleh Meisya dengan meraih lengannya.


“Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu menemui oma!” larang Meisya.


“Tapi, Ma. Aku ingi melihat keadaan oma. Aku mohon.” Elvira mencoba berontak akan tetapi Meisya enggan melepaskannya.


“Tidak akan! Kamu tahu betapa kamu sudah mengecewakan oma! Sekarang kamu ikut!”


Meisya lalu melirik Anya memberinya kode sehingga perempuan itu segera meraih satu lengan Elvira lagi membuatnya terkunci oleh keduanya. Mereka segera membawanya paksa pergi dari sana.


“Ma, aku mohon.” Elvira terus memohon sembari berontak. Namun dirasa percuma karena ia tidak bisa melepaskan diri dari dua kekuatan tangan mereka yang enggan membiarkannya lolos.


“Diam!”


 


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2